Dalam Kitab Bayanul Mushoffa fi Wasiyatul Musthofa (Syekh Abdul Wahab asy-Sya'roni ).
Bab : Berbuat Baik kepada Setiap Orang
Hai, Ali, berbuat baiklah, meskipun kepada As-Suflah. Ali bertanya: Apa As-Suflah itu, ya, Rasulullah? Beliau menjawab, yaitu: Orang yang jika dinasihati, tidak mau menerimanya, jika dihalau, tidak mau pergi dan tidak peduli dengan apa saja yang dikatakan orang kepadanya.
.....
📖
Karya
🌿 Berbuat Baik, Bahkan kepada As-Suflah
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Sayyidina Ali:
“Wahai Ali, berbuat baiklah, meskipun kepada As-Suflah.”
Ketika Ali bertanya, siapa As-Suflah itu?
Beliau menjawab:
“Orang yang jika dinasihati tidak mau menerima, jika dihalau tidak mau pergi, dan tidak peduli dengan apa pun yang dikatakan kepadanya.”
🌊 1. Perspektif Tasawuf: Mengobati Hati, Bukan Menghukum Orang
Dalam kacamata tazkiyatul nufus, perintah ini bukan tentang mereka — tapi tentang kita.
As-Suflah adalah simbol manusia yang:
- keras kepala,
- sulit dinasihati,
- merasa benar sendiri,
- bahkan menyakiti orang yang ingin menolongnya.
Di zaman sekarang, siapa mereka?
📱 Di media sosial:
Orang yang menyerang, mencaci, menyebar hoaks, merasa paling benar.
🚗 Di jalan raya:
Orang yang arogan, tidak sabar, memotong jalan tanpa peduli keselamatan.
🏥 Dalam dunia kedokteran modern:
Orang yang menolak kebenaran medis karena ego atau teori konspirasi.
📡 Dalam kecanggihan teknologi komunikasi:
Orang yang menggunakan teknologi untuk menyakiti, bukan memperbaiki.
Namun Rasulullah ﷺ tidak berkata: “Jauhi mereka.”
Beliau berkata: “Berbuat baiklah kepada mereka.”
Karena tasawuf mendidik hati agar:
- Tidak membalas keburukan dengan keburukan.
- Tidak mengotori jiwa dengan dendam.
- Tidak membiarkan ego mengalahkan rahmat.
📖 Dalil Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman:
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik…”
(QS. Fussilat: 34)
“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Inilah maqam ihsan: tetap baik meski disakiti.
🌿 Hadis Qudsi
Allah berfirman dalam hadis qudsi:
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”
(HR. Muslim)
Jika orang lain menzalimi kita dengan lisannya,
kita jangan menzalimi hati kita dengan kebencian.
🌙 Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Di era komentar digital dan debat online,
menahan diri adalah jihad yang besar.
🧠 Relevansi di Era Teknologi Modern
Teknologi berkembang pesat:
- Komunikasi semakin cepat.
- Transportasi semakin mudah.
- Kedokteran semakin canggih.
- Informasi tersebar dalam hitungan detik.
Namun…
Hati manusia sering tertinggal.
Kita bisa mengirim pesan dalam 1 detik,
tapi butuh bertahun-tahun untuk memaafkan.
Kita bisa operasi jantung,
tapi sulit mengoperasi kesombongan diri.
Tasawuf mengajarkan:
Yang paling berbahaya bukan virus di udara,
tapi penyakit hati dalam dada.
🔍 Muhasabah Diri
- Apakah kita masih mudah marah di kolom komentar?
- Apakah kita ingin selalu menang dalam debat?
- Apakah kita merasa lebih suci dari orang lain?
- Apakah kita berhenti berbuat baik karena orang lain tidak berubah?
Jika iya… mungkin justru kita sedang diuji.
Karena berbuat baik kepada orang baik itu mudah.
Berbuat baik kepada As-Suflah — itu latihan menuju maqam ihsan.
🌅 Motivasi & Harapan
Jika kita tetap baik meski disakiti:
🌿 Hati menjadi lapang.
🌿 Jiwa menjadi tenang.
🌿 Allah menjadi pembela kita.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Mungkin orang itu tidak berubah…
tapi kita yang berubah menjadi lebih dekat kepada Allah.
🤲 Doa
Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari dendam dan kesombongan.
Jadikan kami hamba yang lembut meski disakiti,
yang sabar meski direndahkan,
yang tetap berbuat baik meski dibalas keburukan.
Ya Allah…
Jika kami menghadapi orang yang keras hatinya,
lembutkan hati kami lebih dahulu.
Jika kami diuji dengan penghinaan,
jadikan itu jalan penghapus dosa kami.
Tanamkan dalam jiwa kami sifat ihsan,
sebagaimana Engkau mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
🌸 Penutup
Berbuat baik kepada orang baik adalah kebiasaan.
Berbuat baik kepada orang yang menyakiti adalah kemuliaan.
Semoga kita termasuk orang yang hatinya dibersihkan oleh Allah,
bukan hanya lisannya yang fasih berdakwah.
Terima kasih telah menyimak tauziah ini.
Semoga Allah memberkahi ilmu dan amal kita. 🌿
Tentu, berikut adalah versi bahasa gaul kekinian yang santun dan santai sesuai permintaan:
Teman, Yuk Tetap Baik Sama "Si Sulit" (As-Suflah)
Konon, Rasulullah ﷺ pernah bilang gini ke Sayyidina Ali:
"Wahai Ali, berbuat baiklah, meskipun sama As-Suflah."
Nah, Ali pun nanya, "As-Suflah itu siapa, ya?"
Dijawablah sama Nabi:
"Yaitu orang yang kalau dinasihatin ogah nerima, kalau diminta pergi susah, dan udah nggak peduli lagi sama apa pun yang diomongin ke dia."
1. Kacamata Spritual: Ini Urusan Hati Kita, Bukan Ngatur Mereka
Kalau dilihat dari sisi pembersihan jiwa, perintah ini tujuannya ke kita, bukan ke mereka.
Si As-Suflah ini kayak simbol manusia yang:
· Keras kepala.
· Susah dibilangin.
· Ngerasa paling bener sendiri.
· Malah nyakitin orang yang mau nolong.
Di zaman now, kira-kira siapa aja, ya?
📱 Di Sosmed:
Si "warganet" yang suka nyerang, ngecak, nyebar hoaks, dan ngerasa paling bener sendiri.
🚗 Di Jalanan:
Pengendara yang arogan, nggak sabaran, suka motong jalur tanpa mikir safety orang lain.
🏥 Di Dunia Kesehatan:
Orang yang nolak kebenaran medis cuma karena ego atau percaya teori konspirasi.
📡 Di Era Teknologi Canggih:
Orang yang make teknologi buat nyakitin, bukan buat memperbaiki keadaan.
Tapi, Rasulullah ﷺ nggak bilang, "Jauhin aja mereka." Beliau malah bilang: "Berbuat baiklah sama mereka."
Kenapa? Soalnya, lewat jalan hati (tasawuf) kita dididik buat:
· Nggak membalas jelek dengan jelek.
· Nggak mau kotori hati sendiri sama dendam.
· Nggak mau ego kita ngalahin sifat welas asih.
📖 Dalil dari Al-Qur'an
Allah Ta'ala berfirman (artinya):
"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik…"
(QS. Fussilat: 34)
"Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."
(QS. Al-Ma'idah: 8)
Nah, ini namanya mencapai level ihsan: tetap baik walau lagi disakiti.
🌿 Hadis Qudsi
Allah berfirman dalam hadis qudsi (artinya):
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi."
(HR. Muslim)
Jadi intinya, kalau orang lain zalim sama kita lewat ucapannya, kita jangan zalim sama hati kita sendiri dengan cara menyimpan kebencian.
🌙 Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda (artinya):
"Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Di zaman yang serba digital dan penuh debat online ini, bisa nahan diri tuh perjuangan banget.
🧠 Plesir di Era Teknologi Canggih
Teknologi makin maju:
· Komunikasi makin cepet.
· Transportasi makin gampang.
· Dunia kedokteran makin canggih.
· Informasi nyebar cuma hitungan detik.
Tapi...
Hati manusia kadang suka keteteran.
Kita bisa kirim pesan dalam 1 detik, tapi butuh tahunan buat memaafkan.
Kita bisa operasi jantung, tapi susah payah buat "ngoperasi" kesombongan diri sendiri.
Ilmu hati (tasawuf) ngajarin kita:
Yang paling bahaya tuh bukan cuma virus di udara, tapi penyakit hati di dalam dada.
🔍 Saatnya Nanya ke Diri Sendiri
· Apa aku masih gampang marah di kolom komentar?
· Apa aku maunya menang terus di setiap debat?
· Apa aku ngerasa lebih suci dari orang lain?
· Apa aku berhenti berbuat baik cuma karena orang lain nggak berubah?
Kalau jawabannya "iya", mungkin… kita lagi diuji.
Karena berbuat baik ke orang baik itu biasa.
Tapi berbuat baik ke "Si Sulit" (As-Suflah) — itu baru latihan buat naik level ke derajat ihsan.
🌅 Motivasi & Harapan
Kalau kita tetap baik meski disakiti:
🌿 Hati jadi lebih lapang.
🌿 Jiwa jadi lebih tenang.
🌿 Allah yang bakal jadi pembela kita.
Allah berfirman (artinya):
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah: 153)
Mungkin orang itu nggak bakal berubah…
tapi yang penting, kita yang berubah jadi lebih dekat sama Allah.
🤲 Doa dari Hati
Ya Allah…
Bersihin hati aku dari dendam dan kesombongan.
Jadikan aku hamba yang lembut meski disakiti,
yang sabar meski direndahkan,
yang tetap berbuat baik meski dibales keburukan.
Ya Allah…
Kalau aku harus berhadapan sama orang yang keras hatinya,
lembutin hati aku duluan, ya.
Kalau aku diuji sama hinaan,
jadikan itu jalan buat hapus dosa-dosa aku.
Tanamkan dalam jiwa aku sifat ihsan,
sebagaimana Engkau mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
🌸 Penutup
Berbuat baik ke orang baik itu udah jadi kebiasaan.
Tapi berbuat baik ke orang yang nyakitin itu adalah kemuliaan.
Semoga kita termasuk orang yang hatinya dibersihkan sama Allah,
bukan cuma yang jago ngomong doang.
Makasih udah nyempetin baca tauziah santai ini.
Semoga Allah berkahi ilmu dan amal kita semua. 🌿
Gimana, lebih santai tapi tetep berisi, kan? 😉
.......

No comments:
Post a Comment