Thursday, February 19, 2026

964. Membersihkan Niat di Zaman Serba Canggih



dalam kitab Hadits Arbain Nawawi (Karya Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi )

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.”

Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qushairi an-Naisaburi di kedua kitab Shahihnya yang merupakan dua kitab paling shahih yang pernah disusun. Shahih al-Bukhari (no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953), Shahih Muslim (no. 1907),

..........

Membersihkan Niat di Zaman Serba Canggih

Hadis pertama dalam karya adalah fondasi seluruh amal:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…”
(HR. dan )

Hadis ini bukan hanya pembuka kitab, tapi pembuka jalan keselamatan. Dalam perspektif tazkiyatul nufus (penyucian jiwa), niat adalah ruh amal. Tanpa niat yang bersih, amal sebesar gunung pun menjadi debu.


1️⃣ Niat di Era Teknologi: Ujian yang Halus

Hari ini kita hidup di zaman:

  • Teknologi super cepat
  • Komunikasi tanpa batas
  • Transportasi lintas benua
  • Kedokteran canggih menyelamatkan nyawa

Namun pertanyaannya:

πŸ‘‰ Untuk siapa semua itu kita gunakan?
πŸ‘‰ Untuk Allah atau untuk popularitas?
πŸ‘‰ Untuk ibadah atau untuk pencitraan?

Allah berfirman:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Teknologi itu netral. Yang menentukan nilainya adalah niat.

πŸ“± Posting dakwah bisa jadi pahala…
πŸ“± Tapi bisa berubah jadi riya' jika hati ingin dipuji.

πŸš— Perjalanan bisa jadi ibadah…
πŸš— Tapi bisa jadi kesombongan jika ingin dipandang kaya.


2️⃣ Hijrah Modern: Dari Dunia Menuju Allah

Rasulullah ο·Ί bersabda:

“Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya…”

Di zaman sekarang, hijrah bukan hanya pindah tempat.

Hijrah itu:

  • Dari konten maksiat ke konten dakwah
  • Dari scroll sia-sia ke dzikir
  • Dari ambisi dunia ke akhirat

Allah berfirman:

“Barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan ia beriman, maka mereka itulah yang usahanya dibalas dengan baik.”
(QS. Al-Isra: 19)


3️⃣ Hadis Qudsi: Rahasia Keikhlasan

Allah berfirman dalam hadis qudsi:

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.”
(HR. Muslim)

Betapa halusnya riya’.
Ia tidak terlihat di wajah.
Ia tersembunyi di dada.

Dalam dunia media sosial:

  • Like bisa jadi racun niat
  • View bisa jadi ujian hati
  • Followers bisa jadi fitnah jiwa

Tazkiyah itu membersihkan “ingin dilihat” menjadi “ingin diridhai”.


4️⃣ Muhasabah di Tengah Kecanggihan

Saudaraku…

Kedokteran makin canggih,
Tapi hati makin sakit.

Transportasi makin cepat,
Tapi menuju Allah makin lambat.

Komunikasi makin luas,
Tapi silaturahmi hati makin sempit.

Rasulullah ο·Ί bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Hati adalah pusat niat.

Jika hati bersih:

  • Bisnis jadi ibadah
  • Teknologi jadi jalan pahala
  • Ilmu kedokteran jadi ladang sedekah

Jika hati kotor:

  • Ibadah jadi riya’
  • Amal jadi transaksi dunia
  • Dakwah jadi panggung pencitraan

5️⃣ Motivasi dan Harapan

Jangan takut hidup di zaman modern.
Takutlah jika hidup tanpa niat yang lurus.

Bayangkan jika:

  • Setiap posting diniatkan dakwah
  • Setiap usaha diniatkan menafkahi keluarga karena Allah
  • Setiap sedekah diniatkan mencari ridha-Nya

Maka seluruh hidup berubah menjadi ibadah.

Inilah makna tazkiyatul nufus: Membersihkan orientasi hidup.

Bukan meninggalkan dunia.
Tapi meluruskan tujuan dunia.


🌿 Muhasabah Pribadi

Tanya pada diri:

  • Mengapa aku bekerja?
  • Mengapa aku berdakwah?
  • Mengapa aku ingin dikenal?
  • Mengapa aku ingin sukses?

Jika jawabannya Allah…
Maka engkau selamat.

Jika jawabannya manusia…
Segeralah bersihkan niat.


🀲 DOA

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari riya’, sum’ah, dan cinta pujian.
Jadikan teknologi di tangan kami sebagai jalan dakwah, bukan jalan maksiat.
Luruskan niat kami dalam bekerja, berdagang, beribadah, dan berdakwah.
Jadikan hijrah kami benar-benar menuju-Mu.
Matikan kami dalam keadaan ikhlas.
Kumpulkan kami bersama orang-orang yang Engkau cintai.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


Terima kasih telah membaca tauziah ini.
Semoga Allah menjaga niat kita semua dan menjadikan hidup kita bernilai di sisi-Nya. 🌿

..........

Tentu, berikut adalah versi bahasa gaul kekinian namun tetap sopan dan santun dari teks tersebut. Substansi tetap terjaga, hanya gaya bahasanya yang dibuat lebih ringan dan relevan dengan keseharian anak muda.


Judul: Ngaca Yuk! Jaga Niat di Era Serba Canggih


Halo, teman-teman! Kita mulai obrolan ini dengan satu pondasi penting banget dalam hidup, yaitu hadis yang jadi patokan pertama semua amal kita:


“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini tuh nggak cuma jadi pembuka buku doang, tapi bener-bener jadi pembuka jalan selamat buat kita. Dalam urusan tazkiyatul nufus atau bersihin jiwa, niat itu ibarat ruh-nya amal. Kalau niatnya aja udah kotor, sebesar dan sebanyak apa pun amal kita, bisa-bisa nilainya hilang kayak debu.


1️⃣ Niat di Zaman Now: Ujian yang Makin Halus


Sobat, kita tuh lagi hidup di zaman yang serba wah:


· Teknologi secepat kilat

· Komunikasi tembus dunia

· Transportasi antar benua cuma hitungan jam

· Dunia kesehatan makin canggih buat selametin nyawa


Tapi yang jadi pertanyaan besar buat diri kita masing-masing:


πŸ‘‰ Buat siapa semua kecanggihan ini kita pake?

πŸ‘‰ Apakah semata-mata karena Allah, atau malah kejar setan yang namanya popularitas?

πŸ‘‰ Niatnya buat ibadah, atau jangan-jangan cuma buat pencitraan doang?


Allah udah jelas banget ngasih tahu di Al-Qur'an:


“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)


Teknologi itu kayak pisau, netral. Yang bikin dia jadi berkah atau bumerang adalah niat kita.


πŸ“± Posting konten dakwah di Instagram atau TikTok bisa jadi ladang pahala…

πŸ“± Tapi bisa berubah jadi riya' dalam sekejap, kalau di dalam hati penginnya dipuji “wah keren banget sih” sama netizen.


πŸš— Naik kendaraan buat mudik atau liburan bisa jadi ibadah…

πŸš— Tapi bisa jadi ajang pamer kemewahan kalau tujuannya cuma biar dilirik dan dianggap anak sultan.


2️⃣ Upgrade Diri (Hijrah) Model Kekinian


Rasulullah ο·Ί bersabda:


“Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya…”


Di era digital kayak gini, hijrah nggak harus pindah domisili, cuy. Upgrade diri itu bisa dimulai dari hal-hal simpel, kayak:


· Mindset shifting dari scroll TikTok yang isinya cuma joget-joget doang, jadi konten yang nambahin wawasan keislaman.

· Switch aktivitas dari buka-buka status WA yang nggak jelas, jadi iseng baca dzikir atau istighfar di handphone.

· Ubah orientasi hidup, dari yang tadinya cuma ngejar pujian dunia doang, jadi mulai mikirin bekal buat di akhirat sana.


Allah berfirman:


“Barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan ia beriman, maka mereka itulah yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)


3️⃣ Bahaya Tersembunyi: Pengen Diliat Orang (Riya’)


Allah berfirman dalam hadis qudsi:


“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR. Muslim)


Kita harus hati-hati banget sama penyakit hati yang satu ini. Riya’ tuh kayak virus yang nggak keliatan. Nggak kelihatan di muka, tapi diam-diam ngerusak hati.


Di dunia media sosial yang penuh dengan angka:


· Like bisa jadi racun yang bikin niat kita melenceng.

· Viewers jadi ujian: apakah kita bikin konten karena Allah atau karena kejar views?

· Jumlah followers bisa jadi fitnah yang bikin kita sombong.


Inti dari tazkiyatul nufus di era now adalah membersihkan keinginan "pengin diliat orang lain" jadi cuma "pengin diridhai sama Allah".


4️⃣ Waktunya Ngaca Diri (Muhasabah) di Tengah Gemerlap Dunia


Saudaraku, renungkan sejenak…


Dunia kesehatan makin maju, tapi hati kita kok makin sering mumet dan gelisah ya?


Kendaraan makin cepet, tapi langkah kaki kita ke masjid atau buat kebaikan kok rasanya makin berat ya?


Gampang banget chat-an sama temen di luar negeri, tapi silaturahmi hati dengan keluarga sendiri kok makin renggang ya?


Rasulullah ο·Ί bersabda:


“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)


Hati adalah raja, pusatnya niat. Kalau hati kita bersih, semua aktivitas duniawi bisa bernilai ukhrawi:


· Bisnis jadi ladang ibadah

· Teknologi jadi jalan ninja kita buat dapet pahala

· Skill yang kita punya, kayak desain grafis atau jadi dokter, bisa jadi ladang sedekah jariyah.


Sebaliknya, kalau hati keruh, bisa-bisa ibadah ritual sekalipun nilainya anjlok gara-gara riya’.


5️⃣ Keep Spirit dan Perbaiki Niat


Nggak usah takut hidup di zaman yang modern dan complicated ini. Yang perlu kita takutin adalah kalau kita menjalaninya tanpa niat yang lurus.


Coba bayangin betapa indahnya kalau:


· Setiap kali kita nge-post sesuatu, kita ingetin diri: "Ini lillah, semoga jadi dakwah."

· Setiap kali kita dagang atau kerja, kita mantepin niat: "Ini buat cari nafkah halal, diniatkan ibadah karena Allah."

· Setiap kali ada rezeki lebih dan kita sedekah, kita lurusin: "Ya Allah, terima kasih udah nitipin rezeki ini, terima kasih udah dikasih kesempatan berbagi."


Otomatis, seluruh detik hidup kita bakal berubah jadi rangkaian ibadah yang nggak ada putusnya. Inilah esensi tazkiyatul nufus: bukan ninggalin dunia, tapi ngelurusin tujuan kita hidup di dunia.


🌿 Catatan buat Diri Sendiri


Yuk, tanya ke dalam hati kita masing-masing:


· Kenapa sih aku kerja segiat ini?

· Kenapa aku suka posting konten dakwah?

· Kenapa sih aku pengin dikenal orang?

· Kenapa aku pengin sukses?


Kalau jawabannya tulus karena Allah… Alhamdulillah, semoga kita istiqomah.


Kalau jawabannya masih nyambung ke "biar dilihatin orang" atau "biar dipuji", ayo, buruan kita lurusin lagi niatnya. Jangan sampe telat.


🀲 DOA


Ya Allah…

Bersihkan hati kami dari penyakit riya', sum'ah, dan cinta akan pujian manusia.

Jadikan segala kecanggihan teknologi di tangan kami ini sebagai ladang dakwah, jangan sampai jadi sarana maksiat.

Luruskan niat kami dalam bekerja, berdagang, beribadah, dan berdakwah.

Jadikan setiap langkah upgrade diri kami benar-benar menuju ridha-Mu.

Jika ajal menjemput, matikanlah kami dalam keadaan ikhlas.

Dan kumpulkan kami kelak bersama orang-orang yang selalu Engkau cintai.


Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


Makasih banyak udah baca dan merenung sama-sama. Semoga Allah selalu jaga niat baik kita dan bikin hidup kita penuh berkah di mata-Nya. 🌿

.....

No comments: