Wednesday, February 18, 2026

962. Ramadan dan Kebangkitan Jiwa yang Tertidur.

 


Kitab Durratun Nashihin
(Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari)

Bab : 1. KEUTAMAAN BULAN RAMADAN.

Diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki bernama Muhammad. Dia tidak pernah melakukan salat sama sekali. Kemudian, ketika masuk bulan Ramadan, dia berdandan dengan mengenakan pakaian yang bagus dan memakai minyak wangi, lalu mengerjakan salat melunasi salat-salatnya dahulu yang telah ditinggalkannya. Maka ia ditanya : “Mengapa Anda melakukan itu?” Dia menjawab : “Ini adalah bulan tobat, rahmat dan berkat. Mudah-mudahan berkat kemurahan-Nya, Allah mengampuni segala dosa-dosaku”. Ketika orang itu meninggal dunia, seseorang bermimpi melihatnya, lalu bertanya kepadanya : “Apa yang telah dilakukan Allah terhadapmu?”. Dia menjawab : “Tuhan telah mengampuni aku berkat pengagunganku terhadap bulan Ramadan”.

........

🌙 Ramadan dan Kebangkitan Jiwa yang Tertidur

Kisah dalam Durratun Nashihin ini sederhana, namun mengguncang batin. Seorang laki-laki bernama Muhammad, yang tidak pernah shalat, tiba-tiba berubah ketika Ramadan datang. Ia mandi, berdandan, memakai wangi-wangian, lalu menunaikan shalat dan mengqadha shalat yang ia tinggalkan. Ketika ditanya, ia menjawab:

“Ini bulan tobat, rahmat dan berkah. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosaku.”

Dalam mimpi setelah wafatnya, ia berkata bahwa Allah mengampuninya karena ia mengagungkan Ramadan.


🕊 Perspektif Tasyawuf: Mengagungkan Waktu = Mengagungkan Allah

Dalam ilmu tazkiyatul nufus, perubahan kecil yang lahir dari pengagungan hati bisa membuka pintu rahmat yang besar. Ramadan bukan sekadar bulan. Ia adalah madrasah jiwa.

Allah berfirman:

"Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām…"
(QS. : 183)

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membersihkan jiwa (tazkiyah).

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. dan )

Para sufi memahami:
Jika ibadah lain diberi pahala, puasa diberi perjumpaan.

Laki-laki dalam kisah itu mungkin belum sempurna amalnya, tetapi ia memiliki ta'zhim (pengagungan). Dan pengagungan itu adalah tanda hidupnya hati.


🔥 Muhasabah di Era Modern

Hari ini kita hidup dalam kecanggihan:

  • Teknologi super cepat
  • Komunikasi tanpa batas
  • Transportasi instan
  • Kedokteran canggih memperpanjang usia

Namun pertanyaannya:
Apakah jiwa kita ikut berkembang?

Kita bisa mengisi baterai ponsel setiap hari,
tetapi berapa kali kita mengisi ruh dengan istighfar?

Kita update aplikasi,
tetapi kapan terakhir kita update taubat?

Ramadan adalah “restart system” jiwa manusia.

Dalam hadis Nabi ﷺ:

“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. )

Laki-laki dalam kisah tadi sadar:
Ia mungkin lalai 11 bulan, tetapi jangan sampai ia lalai di bulan yang Allah muliakan.

Itulah kesadaran ruhani.


🌿 Motivasi Tazkiyah

Ramadan mengajarkan:

  1. Tidak ada kata terlambat untuk taubat.

    “Katakanlah wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka, jangan berputus asa dari rahmat Allah…”
    (QS. : 53)

  2. Allah melihat niat dan pengagungan hati.

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
    (HR. )

  3. Rahmat Allah mendahului murka-Nya.
    Dalam hadis qudsi:

    “Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”
    (HR. )

Ramadan bukan hanya bulan pahala,
ia adalah bulan pelunasan hutang jiwa.


🧎‍♂️ Doa

Ya Allah…
Jika kami termasuk orang yang lalai seperti laki-laki dalam kisah itu,
bangunkan kami sebelum Engkau bangunkan kami di alam kubur.

Ya Allah…
Hidupkan hati kami dengan pengagungan terhadap Ramadan.
Bersihkan jiwa kami dari riya’, ujub, dan kesombongan.

Ya Allah…
Jadikan teknologi di tangan kami sebagai alat kebaikan,
bukan jalan menuju kelalaian.

Ampuni dosa kami yang telah lalu.
Terimalah taubat kami sebelum ajal menjemput.


🌅 Harapan

Kami berharap sebagaimana firman-Mu:

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian…”
(QS. : 133)

Dan sabda Nabi ﷺ:

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari…”
(HR. )

Semoga Ramadan bukan hanya datang dan pergi,
tetapi meninggalkan bekas dalam jiwa.

Semoga kita termasuk orang yang diampuni karena mengagungkan bulan-Nya,
walau amal kita belum sempurna.


🤲 Penutup

Terima kasih atas kesempatan mendengarkan dan merenungi bersama.

Semoga tauziah ini menjadi pengingat bagi saya pribadi terlebih dahulu,
kemudian bagi kita semua.

Mari kita sambut Ramadan bukan dengan sekadar jadwal,
tetapi dengan jiwa yang siap berubah.

Wallahu a’lam.

......

Nah, gue coba bikin versi yang lebih santai tapi tetap sopan dan berisi ya. Semoga pesannya tetap nyampe.


---


Ramadan: Momen "Restart" Jiwa yang Lagi Lemot


Kisah Nyata yang Bikin Merinding


Ada cerita keren dari kitab Durratun Nashihin. Ceritanya simpel, tapi dalem banget artinya. Jadi ada seorang pria namanya Muhammad. Sehari-hari, dia tuh dikenal nggak pernah shalat. Kayaknya udah jauh banget dari agama. Tapi pas Ramadan datang, dia berubah 180 derajat. Dia mandi, berdandan, pakai wewangian, lalu shalat. Nggak cuma shalat wajib, dia juga ngejar shalat-shalat yang dulu ditinggalkan (qadha).


Pas ditanya sama orang-orang, "Bro, kok lo tiba-tiba rajin banget?" Dia jawab singkat, padat, dan menusuk:


"Ini bulan tobat, bulan rahmat dan berkah. Mudah-mudahan Allah ngampunin dosa-dosa aku."


Pas dia meninggal, ada orang yang mimpi ketemu dia. Di alam kubur, Muhammad bilang kalau Allah benar-benar ngampunin dosanya. Alasannya? Karena dia mengagungkan bulan Ramadan. Bukan karena amalnya sempurna, tapi karena hatinya punya rasa ta'zhim (pengagungan) sama waktu yang dimuliakan Allah.


---


Renungan Sufi: Hargai Waktu, Hargai Allah


Dalam ilmu tazkiyatul nufus atau penyucian jiwa, kita belajar satu hal penting. Perubahan kecil yang keluar dari hati yang tulus mengagungkan Allah itu bisa membuka pintu rahmat yang super besar. Ramadan tuh bukan sekadar bulan biasa. Ramadan adalah madrasah atau sekolah buat jiwa kita.


Allah bilang di Al-Qur'an:


"Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām..." (QS. Al-Baqarah: 183)

(Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa...)


Para ulama sufi ngajarin kita, puasa itu bukan cuma nahan laper dan haus. Tapi ini adalah pelatihan buat bersihin jiwa.


Bahkan Allah sendiri bilang dalam Hadis Qudsi:


"Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Coba bayangin, ibadah lain dapat pahala, tapi puasa? Dapatnya langsung sama Dzat yang Maha Membalas. Para sufi menyebutnya sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Allah.


Si Muhammad dalam cerita tadi mungkin amalnya belum sempurna banget, tapi dia punya ta'zhim (pengagungan). Dan itu tandanya hatinya masih hidup.


---


Ngaca Yuk Buat Anak Zaman Now


Hari ini kita hidup di era yang serba canggih. Kita punya:


· Teknologi secepat kilat (internet, AI, medsos)

· Komunikasi tanpa sekat (video call sama orang di belahan dunia mana pun)

· Transportasi makin cepat (naik pesawat keliling dunia dalam hitungan jam)

· Kedokteran makin maju (umur manusia makin panjang)


Tapi pertanyaan besarnya: Apakah jiwa kita ikut maju?


Kita rajin banget ngecas baterai HP tiap hari, bisa beberapa kali. Tapi berapa kali kita "ngecas" ruh kita dengan istighfar atau minta ampun sama Allah?


Kita rajin update aplikasi ke versi terbaru. Tapi kapan terakhir kali kita update taubat? Kapan terakhir kita sadar kalau kita punya banyak salah dan dosa?


Ramadan tuh ibarat tombol "restart system" buat jiwa manusia. Saat semua program hati yang error, lemot, atau penuh virus dosa, kita kasih reset total.


Nabi Muhammad ﷺ bersabda:


"Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim)


Pria dalam kisah tadi itu sadar banget. Dia mungkin lalai selama 11 bulan. Tapi dia mikir, "Jangan sampai aku lalai juga di bulan yang Allah sendiri muliakan." Itulah yang namanya kesadaran ruhani. Kesadaran yang muncul dari hati.


---


Motivasi Jiwa: Nggak Ada Kata Terlambat!


Dari kisah ini, kita bisa petik banyak banget pelajaran:


1. Nggak Ada Kata Terlambat Buat Tobat


Jangan pernah merasa diri kita terlalu hancur, terlalu bejat, terlalu jauh dari Allah. Allah sendiri udah bilang:


"Katakanlah wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka, jangan berputus asa dari rahmat Allah..." (QS. Az-Zumar: 53)


Pintu taubat itu selalu terbuka, apalagi di bulan suci ini.


2. Allah Lihat Isi Hati, Bukan Cuma Penampilan Luar


Mungkin kita shalatnya bolong-bolong, ngajinya belum lancar, sedekahnya pas-pasan. Tapi kalau di hati ini ada niat tulus dan rasa agung sama Ramadan, Allah itu Maha Melihat. Nabi ﷺ bersabda:


"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)


3. Rahmat Allah Itu Lebih Besar dari Segalanya


Allah itu Maha Pengasih. Dalam Hadis Qudsi, Allah bilang:


"Rahmat-Ku mendahului murka-Ku." (HR. Muslim)


Artinya? Allah tuh lebih pengen ngasih ampun daripada ngasih siksa. Ramadan ini adalah momen di mana rahmat itu turun dengan derasnya. Ini bukan cuma bulan pahala, tapi ini bulan pelunasan utang jiwa kita.


---


Doa yang Bisa Kita Panjatkan


Ya Allah...

Kalaupun aku selama ini termasuk orang yang lalai kayak si Muhammad di awal cerita, tolong bangunkan hati aku. Bangunkan aku sebelum njenengan membangunkan aku di alam kubur nanti.


Ya Allah...

Hidupkan hati aku dengan rasa pengagungan yang dalam kepada bulan Ramadan ini. Bersihkan jiwa aku dari riya' (pamer), ujub (bangga diri), dan sombong.


Ya Allah...

Jadikan semua teknologi canggih yang ada di tanganku ini sebagai alat buat nyari kebaikan, jangan sampai malah jadi jalan buat lalai dari mengingat-Mu.


Ampuni semua dosa aku yang udah lewat. Terima taubat aku, sebelum ajal benar-benar menjemput.


---


Harapan di Penghujung


Kita semua berharap, seperti firman Allah:


"Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian..." (QS. Ali Imran: 133)


Dan juga seperti sabda Nabi ﷺ:


"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari..." (HR. Muslim)


Mudah-mudahan Ramadan tahun ini nggak cuma lewat begitu aja. Jangan sampai kita cuma dapet lapar dan haus doang. Tapi semoga Ramadan ini ninggalin bekas yang dalam di hati kita.


Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diampuni, bukan karena amal kita sempurna, tapi karena kita punya rasa pengagungan di hati terhadap bulan-Nya yang mulia ini.


---


Penutup Santai


Makasih ya, njenengan udah mau dengerin dan merenung bareng. Tulisan ini sejatinya adalah pengingat buat aku pribadi dulu, baru buat kita semua.


Yuk kita sambut Ramadan ini nggak cuma dengan nyiapin menu buka puasa atau daftar drakor yang mau ditonton. Tapi sambut dia dengan jiwa yang siap berubah. Siap di-restart. Siap jadi lebih baik.


Wallahu a'lam bish-shawabi. (Allah lebih tahu kebenaran sesungguhnya).

.....

No comments: