Wednesday, December 31, 2025

893. Maksiat Telinga di Zaman Kecanggihan: Menjaga Amanah Pendengaran



Maksiat Telinga.

Mendengarkan pembicaraan orang-orang yang sengaja dirahasiakan.

........

Maksiat Telinga di Zaman Kecanggihan: Menjaga Amanah Pendengaran

Mukadimah

Segala puji bagi Allah ﷻ yang menciptakan telinga bukan sekadar alat mendengar, tetapi amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban. Di zaman kecanggihan teknologi, telinga manusia diuji lebih berat dari zaman mana pun sebelumnya. Suara tidak lagi harus hadir secara fisik; ia menembus ruang lewat gawai, rekaman, CCTV audio, telepon, ruang digital, dan bisik-bisik dunia maya.

Padahal, dalam pandangan tasawuf, telinga adalah pintu hati. Apa yang masuk ke telinga, akan menetes ke qalbu.

Hakikat Maksiat Telinga

Salah satu maksiat telinga yang halus namun berat dosanya adalah:

Mendengarkan pembicaraan orang lain yang sengaja dirahasiakan, baik dengan menguping, menyadap, membaca pesan suara yang bukan haknya, atau menikmati bocoran yang seharusnya ditutup.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isrā’: 36)

Ayat ini menegaskan bahwa pendengaran bukan milik bebas, melainkan amanah yang kelak ditanya: untuk apa ia digunakan?

Dalam Cermin Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa menguping pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak suka didengar, maka pada hari kiamat akan dituangkan timah cair ke dalam telinganya.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini mengguncang hati para salik. Telinga yang menikmati rahasia orang lain di dunia, akan disiksa melalui telinga di akhirat.

Dalam tasawuf, ini disebut hukuman sesuai anggota maksiat (al-jazā’ min jinsil ‘amal).

Maksiat Telinga di Era Teknologi & Komunikasi

Di masa lalu, menguping harus mendekatkan telinga ke dinding.

Hari ini, cukup satu klik.

Mendengarkan voice note yang bukan hak kita

Menikmati rekaman percakapan rahasia

Membaca pesan yang tidak ditujukan kepada kita

Menyebarkan audio bocoran

Menjadi penikmat gosip digital

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membuka aibnya.”

(HR. Muslim)

Maka, telinga yang beriman akan menutup dirinya dari yang haram, meski dunia membukanya lebar-lebar.

Dalam Dunia Transportasi & Kehidupan Sosial

Di kendaraan umum, ruang tunggu, kafe, dan majelis:

Sering kita mendengar percakapan pribadi orang lain, lalu menikmatinya, menafsirkannya, bahkan menyimpannya dalam hati.

Padahal para sufi berkata:

“Orang yang sibuk dengan rahasia orang lain, akan lalai dari rahasia dirinya sendiri.”

Hati menjadi gelap bukan karena dosa besar saja, tetapi karena maksiat kecil yang terus dibiarkan.

Dalam Dunia Kedokteran & Profesionalisme

Dalam dunia medis dan profesional:

Mendengarkan rahasia pasien, klien, atau urusan pribadi tanpa hak adalah pengkhianatan amanah.

Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.”

(QS. Al-Anfāl: 27)

Tasawuf mengajarkan:

Amanah lahir dijaga dengan etika, amanah batin dijaga dengan taqwa.

Pandangan Tasawuf: Telinga Jalan Menuju Nur atau Zulmah

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:

“Setiap anggota tubuh memiliki ibadah dan maksiat. Ibadah telinga adalah mendengarkan kebenaran, dan maksiatnya adalah mendengarkan kebatilan.”

Mendengarkan rahasia orang lain:

Mematikan rasa malu

Menghitamkan hati

Menguatkan nafsu ingin tahu yang haram

Sedangkan menahan diri untuk tidak mendengar, itulah jihad batin.

Penutup: Jalan Selamat Bagi Telinga

Wahai hamba Allah…

Di zaman canggih ini, keselamatan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita dengar, tetapi pada seberapa banyak yang kita tahan untuk tidak didengar.

Allah ﷻ berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya.”

(QS. Asy-Syams: 9)

Membersihkan jiwa dimulai dari:

Menjaga telinga

Menutup pintu maksiat halus

Mengalihkan pendengaran kepada dzikir, Al-Qur’an, nasihat, dan kebenaran

Telinga yang dijaga akan menenangkan hati.

Hati yang tenang akan dekat dengan Allah.

“Ya Allah, sucikan pendengaran kami sebagaimana Engkau sucikan hati para kekasih-Mu.” 🤲

.........

Maksiat Telinga di Era Gadget: Jaga Amanah Dengaran Kita, Bro!


Pembuka


Bismillah dulu, ya! Puji syukur sama Allah ﷻ yang ngasih kita telinga. Ini bukan cuma tools buat dengerin musik atau podcast, loh. Ini amanah yang nanti bakal ditanya-tanya. Di zaman sekarang, ujian buat telinga tuh berat banget. Ga perlu deket-deket, suara bisa nyelinap lewat HP, voice note, CCTV audio, telepon, sampe gosip di grup chat.


Padahal, dalam insight tasawuf, telinga tuh pintunya hati. Apa yang kita denger, nempel di dalam qalbu.


Gimana Sih Bentuk Maksiat Telinga yang Kekinian?


Salah satu yang lowkey tapi dosanya gede banget:


Ngedengerin obrolan orang yang seharusnya privasi, baik dengan cara nguping, nyadap, buka voice note yang bukan hak kita, atau malah nikmatin leaked percakapan yang harusnya ditutup.


Allah ﷻ bilang:


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’: 36)


Ayat ini ngingetin kalo pendengaran kita itu titipan. Bukan hak mutlak buat dengerin semuanya. Nanti ditanya: buat apa lo pake kuping lo?


Dari Rasulullah ﷺ Juga Ada Tegasnya


Rasulullah ﷺ pernah ngedrop sabda yang bikin merinding:


“Barangsiapa menguping pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak suka didengar, maka pada hari kiamat akan dituangkan timah cair ke dalam telinganya.” (HR. Bukhari)


Ini serious banget, guys! Telinga yang seneng nyari-nyari rahasia orang di dunia, nanti di akhirat malah disiksa lewat telinga juga. Dalam tasawuf, ini namanya hukumannya match sama jenis maksiatnya.


Maksiat Telinga Zaman Now: Cuma Modal Klik


Dulu mau nguping harus nempel ke tembok. Sekarang? Cuma scroll dan tap.


· Buka voice note orang di WA yang bukan buat kita.

· Dengerin leaked rekaman percakapan rahasia.

· Baca chat atau status yang privat banget.

· Nyebarin audio bocoran.

· Jadi silent reader gosip digital.


Padahal Rasulullah ﷺ udah bilang:


“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membuka aibnya.” (HR. Muslim)


Jadi, telinga orang beriman tuh otomatis auto-close kalo ketemu yang haram, meski godaannya gede banget.


Di Angkot, Kafe, atau Ruang Tunggu


Pas lagi di transportasi umum atau nongkrong, kan sering kecebur overhear obrolan privat orang. Eh, malah asik dengerin, ngerumpiin, atau nyimpen di hati.


Padahal kata para sufi:


“Orang yang sibuk ngurusin rahasia orang lain, bakal lupa ngurusin rahasia dan aib dirinya sendiri.”


Hati jadi gelap nggak cuma karena dosa gede, tapi karena dosa-dosa kecil yang dianggep sepele dan dibiarin.


Di Dunia Kerja & Profesional


Dalam lingkup kerja, medis, atau profesional: dengerin rahasia pasien, klien, atau urusan pribadi orang tanpa izin itu namanya ngkhianatin kepercayaan.


Allah ﷻ ngingetin:


“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.” (QS. Al-Anfāl: 27)


Intinya: Amanah lahir dijaga pake etika kerja. Amanah batin dijaga pake taqwa dan niat baik.


Pandangan Tasawuf: Telinga Bisa Bawa ke Cahaya Atau Kegelapan


Kata Imam Al-Ghazali:


“Setiap anggota tubuh punya ibadah dan maksiatnya sendiri. Ibadahnya telinga ya dengerin yang bener. Maksiatnya ya dengerin yang batil.”


Ngedengerin rahasia orang itu efeknya:


· Matiin rasa malu

· Bikin hati gelap

· Nambahin rasa penasaran yang nggak sehat


Sebaliknya, nahan diri buat ga dengerin hal yang bukan hak kita, itu adalah jihad batin yang keren.


Penutup: Tips Selamatin Telinga di Era Digital


Wahai sahabatku…


Di zaman yang serba bisa denger ini, keselamatan kita justru terletak pada seberapa banyak hal yang bisa kita TAHAN untuk tidak didengerin.


Allah ﷻ bilang:


“Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)


Ngersihin jiwa itu dimulai dari:


1. Jagain telinga. Filter apa yang masuk.

2. Tutup pintu maksiat yang halus. Jangan dikasih akses.

3. Arahin pendengaran ke hal-hal yang nutrisi: dzikir, murojaah Qur’an, nasihat baik, atau content yang bermanfaat.


Telinga yang dijaga bikin hati tenang. Hati yang tenang bikin kita makin deket sama Allah.


“Ya Allah, bersihin pendengaran kami, kayak Engkau bersihin hati para kekasih-Mu.” 🤲🏻


---


Tetap santai, tapi tetap santun. Jaga aurat dan rahasia orang, itu keren banget, loh!

 tafsir ibnu katsir QS. Tha ha : 1-3

.......

Buatkan naskah motivasi islami tasawuf (berdalil qur'an dan hadis) dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

 tentang tersebut diatas.

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

......

Nggak Perlu Pusing, Allah Maha Dekat


Intro:

1. Allah Nggak Sok Jauh-Jauh, Kok! Allah berfirman: QS. Thaha: 1-3 Tha Ha. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).


Nah, lho! Maknanya: Al-Qur’an ini turun bukan buat bikin hidup kita makin ribet atau susah. Justru dia kayak "surat cinta" dari Allah yang isinya reminder buat kita yang masih punya rasa takut dan hati. Jadi, kalau kamu baca Qur’an, jangan merasa dibebani, tapi anggap aja sebagai "panduan hidup kekinian" yang bikin hati adem.


2. Hidup Bukan Buat “Susah-Susah Amat” Nabi Muhammad ﷺ pernah bilang: “Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agama ini kecuali ia akan dikalahkan (karena terlalu berat). Maka berlakulah lurus, sederhana (tidak berlebih-lebihan), dan berilah kabar gembira.” (HR. Bukhari)


Intinya: Allah dan Rasul-Nya aja bilang agama ini easy to apply, asal nggak kita yang bikin ribet sendiri. Jangan pakai standar “harus sempurna dulu baru mulai”. Ibadah itu step by step, yang penting konsisten dan ikhlas.


3. Tasawuf Kekinian: Slow Down, Santai, Tapi Tetap Ibadah Tasawuf zaman now itu sederhana:"Jaga hati, jaga hubungan sama Allah, tapi tetap produktif di dunia."


· Nggak perlu mengasingkan diri di gunung. Cukup "me time" sejenak di kamar, baca Qur’an sedikit, renungi maknanya.

· Kalau lagi stres, ingat ini:  "Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28) Artinya, cukup dengan dzikir kecil-kecilan sambil ngerjain deadline, hati bisa lebih tenang.


4. Allah Maha Dekat, Seriusan! Allah berfirman: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186)


Bayangin: Allah bilang "Aku dekat". Jadi, ngobrol sama Allah lewat doa itu kayak chat sama sahabat yang selalu online. Kamu bisa curhat apa aja, pakai bahasamu sendiri, nggak perlu pakai kata-kata formal. Dia selalu denger, bahkan yang cuma "Ya Allah, bantu aku deh..." di dalam hati.


5. Kesimpulan Buat Kamu:


· Hidup itu ujian, tapi bukan untuk disusah-susahkan. Allah kasih Qur’an sebagai pedoman, bukan beban.

· Ibadah itu fleksibel, yang penting nggak bolong-bolong dan dari hati.

· Kalau lagi down, stop scrolling sosmed, coba baca Qur’an 1 ayat aja, renungkan, atau sebut nama Allah pelan-pelan. Trust me, itu lebih ngena daripada baca motivational quote biasa.

· Ingat, Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Jadi, jangan sungkan buat ngobrol sama-Nya kapan aja, di mana aja.


Last Words: Gimana?Masih merasa jauh dari Allah? Padahal Dia selalu ada. "Tha Ha" aja di awal surat ini mengingatkan kita bahwa Allah turunin ayat-ayat-Nya karena sayang, bukan untuk menyusahkan. Jadi, mulai sekarang, jalani hidup dengan "slow but sure", tetap santai tapi nggak lupa ibadah. You’re not alone, Allah is always with you! 😊


Semangat ya! Karena kamu lebih kuat dari yang kamu kira, dengan izin Allah. 🌟


---


Catatan:


· Teks motivasi ini menggunakan gaya bahasa santai kekinian, namun tetap menjaga kehormatan ayat dan hadis dengan tidak mengubah arti aslinya.

· Ditujukan untuk generasi muda muslim agar lebih dekat dengan ajaran Islam dengan cara yang relevan dan mudah dipahami.

.....

891. Allah Memilih, Membimbing, dan Mengangkat Derajat Hamba-Nya.

 


tarqhib wat tarhib.


Allah Memilih, Membimbing, dan Mengangkat Derajat Hamba-Nya

(Renungan Tasawuf dari QS. Al-An‘ām: 84–87 – Tafsir Al-Ibrīz)

Pendahuluan

Dalam perjalanan hidup, manusia sering bertanya:

“Mengapa aku belum sampai? Mengapa aku belum diberi jalan?”

Padahal Allah telah mengajarkan satu rahasia agung melalui kisah para nabi: yang sampai bukan yang paling kuat, tapi yang paling dibimbing oleh Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim terhadap kaumnya. Kami angkat derajat siapa yang Kami kehendaki.”

(QS. Al-An‘ām: 83)

Ayat 84–87 adalah lanjutan penegasan bahwa hidayah adalah anugerah, bukan hasil kesombongan amal.

1. Hidayah adalah Warisan Kesucian Hati

Allah berfirman:

“Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub; masing-masing Kami beri petunjuk…”

(QS. Al-An‘ām: 84)

📖 Menurut Tafsir Al-Ibrīz, Allah menyebut para nabi satu per satu untuk menunjukkan bahwa hidayah itu bersambung melalui keikhlasan, bukan keturunan semata.

Dalam tasawuf, ini isyarat bahwa:

Kesucian hati melahirkan cahaya hidayah

Cahaya itu menurun dari satu jiwa yang bersih ke jiwa yang siap

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)

👉 Bukan siapa orang tuamu, tapi bagaimana keadaan hatimu di hadapan Allah.

2. Orang Shalih Itu Dipilih, Bukan Memilih

Allah berfirman:

“Dan Kami jadikan mereka itu orang-orang pilihan dan Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”

(QS. Al-An‘ām: 87)

Dalam Tafsir Al-Ibrīz dijelaskan:

👉 Allah memilih mereka bukan karena kekuasaan atau kekayaan, tetapi karena kesungguhan ibadah dan ketaatan batin.

Tasawuf mengajarkan:

Jangan sibuk ingin terlihat shalih

Sibuklah agar Allah ridha memilihmu

Imam Ibnu ‘Athaillah berkata:

“Bukan amal yang mengantarkanmu kepada Allah, tapi karunia Allah yang membangunkanmu untuk beramal.”

3. Ilmu Tanpa Tauhid Akan Gugur

Allah berfirman:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya gugurlah dari mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

(QS. Al-An‘ām: 88)

Ini peringatan halus bagi para pencari ilmu dan ahli ibadah.

Dalam tasawuf:

Syirik bukan hanya menyembah berhala

Tapi mengandalkan amal dan lupa kepada Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Para sahabat bertanya: Apa itu?

Beliau menjawab: “Riya.”

(HR. Ahmad)

👉 Ibadah yang membuatmu bangga, itulah hijab terbesarmu.

4. Allah Mengangkat Derajat dengan Kehinaan di Hadapan-Nya

Allah berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah, dan kenabian.”

(QS. Al-An‘ām: 89)

Menurut Tafsir Al-Ibrīz: 📖 Hikmah adalah ilmu yang diamalkan dengan takut kepada Allah.

Tasawuf mengajarkan:

Semakin dekat kepada Allah, semakin merasa kecil

Semakin tinggi maqam, semakin takut tergelincir

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

(HR. Muslim)

Penutup: Jalan Para Nabi Masih Terbuka

Ayat-ayat ini bukan sekadar kisah masa lalu, tapi peta jalan ruhani bagi siapa saja yang ingin sampai kepada Allah.

🌿 Pesan Tasawufnya:

Bersihkan niat, bukan pamer amal

Tundukkan hati, bukan meninggikan diri

Minta dipilih Allah, bukan sekadar ingin dikenal manusia.

...........


Doa para arifin:

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau sekejap mata.”

✨ Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba yang diberi petunjuk, dipilih, dan diangkat derajatnya—bukan karena amal, tapi karena rahmat-Nya.

......

Allah Pilih-Pilih, Kasih Guide, dan Naikin Level Hamba-Nya

(Renungan Tasawuf dari QS. Al-An‘ām: 84–87 – Tafsir Al-Ibrīz)


---


Intro

Kita sering galau:

“Kok belum dapet jalur ya? Kok masih mentok gini?”


Padahal Allah udah bocorin rahasia besar lewat kisah para nabi:

Yang sampai itu bukan yang paling kuat, tapi yang paling di-guide sama Allah.


Allah Ta‘ala bilang:

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim terhadap kaumnya. Kami angkat derajat siapa yang Kami kehendaki.”

(QS. Al-An‘ām: 83)


Ayat 84–87 tuh lanjutannya:

Hidayah itu anugerah, bukan hasil ngandelin amal kita sendiri.


---


1. Hidayah itu “Turunan” Hati yang Bersih

Allah bilang:

“Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub; masing-masing Kami beri petunjuk…”

(QS. Al-An‘ām: 84)


📖 Menurut Tafsir Al-Ibrīz, Allah sebut para nabi satu-satu buat tunjukin:

Hidayah tuh nyambung lewat keikhlasan, bukan cuma gen keluarga.


Dalam tasawuf, artinya:


· Hati yang bersih ngeluarin cahaya hidayah

· Cahaya itu nular ke jiwa-jiwa yang udah siap


Rasulullah ﷺ pernah bilang:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)


👉 Bukan siapa orang tuamu, tapi gimana kondisi hatimu di hadapan Allah.


---


2. Orang Shalih itu Dipilih Sama Allah, Bukan Apply Sendiri

Allah bilang:

“Dan Kami jadikan mereka itu orang-orang pilihan dan Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”

(QS. Al-An‘ām: 87)


Di Tafsir Al-Ibrīz dijelasin:

👉 Allah milih mereka bukan karena jabatan atau harta, tapi karena kualitas ibadah dan ketaatan batinnya.


Tasawuf ngajarin:


· Jangan sibuk pengen keliatan shalih

· Sibuklah biar Allah yang mau pilih kamu


Kata Imam Ibnu ‘Athaillah:

“Bukan amal yang ngantar kamu ke Allah, tapi karunia Allah yang bikin kamu bangkit buat beramal.”


---


3. Ilmu Tanpa Tauhid Bisa Batal

Allah bilang:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya gugurlah dari mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

(QS. Al-An‘ām: 88)


Ini ngingetin buat kita yang lagi belajar atau rajin ibadah:

Dalam tasawuf:

Syirik tuh nggak cuma nyembah berhala, tapi juga “ngandelin amal sendiri” sampe lupa sama Allah.


Rasulullah ﷺ pernah bilang:

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Sahabat nanya: Apa itu?

Jawab beliau: “Riya.”

(HR. Ahmad)


👉 Ibadah yang bikin kamu feel good dan bangga, itu bisa jadi hijab terbesar.


---


4. Allah Naikin Level Lewat “Rendah Hati” di Hadapan-Nya

Allah bilang:

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah, dan kenabian.”

(QS. Al-An‘ām: 89)


Menurut Tafsir Al-Ibrīz: 📖 Hikmah itu ilmu yang diamalkan dengan rasa takut sama Allah.


Tasawuf ngajarin:


· Makin deket sama Allah, makin ngerasa kecil

· Makin tinggi levelnya, makin waswas jangan sampe jatuh


Rasulullah ﷺ bilang:

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

(HR. Muslim)


---


Penutup: Jalan Para Nabi Masih Open Buat Kita

Ayat-ayat ini bukan cuma cerita zaman dulu, tapi peta jalan ruhani buat yang pengen sampai ke Allah.


🌿 Pesan Tasawuf versi kekinian:


· Bersihin niat, jangan pamer amal

· Tundukin hati, jangan angkuh

· Minta dipilih sama Allah, bukan cuma pengen dikenal banyak orang


---


Doa para arifin:

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau sekejap mata.”


✨ Semoga Allah masukin kita ke grup hamba yang dikasih petunjuk, dipilih, dan dinaikin levelnya—bukan karena amal kita, tapi karena rahmat-Nya semata.

.........

Tuesday, December 30, 2025

892. Shalat Malam: Jalan Sunyi Menuju Cahaya Ilahi

 


Tarqhib wat tarhib

ANJURAN UNTUK MENJALANKAN SALAT MALAM

Rasulullah saw. bersabda: ‘Lakukanlah salat malam, sesungguhnya ia kebiasaan orang-orang saleh sebelummu, pendekatan kepada Tuhanmu, pencegah perbuatan dosa, pelebur dosa, dan bisa menolak penyakit yang akan menyerang ke dalam tubuh (atau bisa mengusir penyakitnya)’.”

(Kasyful Ghummah 95/1)

...... 

Shalat Malam: Jalan Sunyi Menuju Cahaya Ilahi

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Lakukanlah shalat malam, karena sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan penolak penyakit dari tubuh.”

(Kasyful Ghummah, 1/95)

Hadis ini bukan sekadar anjuran ibadah, tetapi peta jalan keselamatan jiwa dan raga.

1. Tradisi Orang-Orang Saleh

Shalat malam adalah warisan para nabi, wali, dan hamba-hamba pilihan Allah. Mereka memilih bangun saat manusia terlelap, karena pada saat itulah langit dibuka dan doa diangkat tanpa penghalang.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun.”

(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)

Orang saleh dikenal bukan dari ramainya siang hari, tetapi dari sunyi malam yang penuh sujud.

2. Pendekatan Paling Intim kepada Allah

Shalat malam adalah ibadah rahasia, tanpa tepuk tangan manusia, tanpa sorotan makhluk. Karena itu, ia menjadi pendekatan paling murni kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”

(HR. Muslim)

Dalam shalat malam, hamba berbicara jujur kepada Tuhannya, tanpa topeng, tanpa kepura-puraan.

3. Penjaga dari Maksiat

Orang yang terbiasa berdiri di hadapan Allah pada malam hari akan malu bermaksiat di siang hari. Cahaya malamnya menjadi benteng bagi langkahnya.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Terutama shalat malam—karena ia dilakukan dengan kehadiran hati yang paling dalam.

4. Pelebur Dosa dan Pembersih Hati

Dalam sunyi malam, dosa-dosa yang berat terasa ringan saat ditumpahkan dalam sujud. Air mata menjadi saksi, dan istighfar menjadi kunci.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa shalat malam karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak dosa yang tidak sanggup ditebus dengan kata, tetapi luruh dengan air mata di sepertiga malam terakhir.

5. Penolak dan Pengusir Penyakit

Hadis ini juga menegaskan bahwa shalat malam berdampak pada kesehatan. Bukan sekadar jasmani, tetapi juga batin. Banyak penyakit berasal dari hati yang gelisah, jiwa yang tertekan, dan pikiran yang jauh dari Allah.

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Ketenangan ini adalah obat yang tidak tertulis di resep dokter, tetapi dirasakan oleh mereka yang setia mengetuk pintu Allah di malam hari.

Penutup: Jangan Tunggu Sempurna

Jangan menunggu mampu shalat malam lama. Mulailah dengan dua rakaat, meski singkat, meski belum khusyuk. Karena Allah tidak melihat panjangnya berdiri, tetapi kejujuran hati yang datang mengetuk.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Bangunlah, walau hanya sebentar. Karena bisa jadi satu sujud di malam hari menjadi sebab keselamatan di akhirat kelak.

........

Shalat Malam: Jalan Sunyi Ngehits ke Cahaya-Nya


Rasulullah ﷺ pernah ngasih bocoran:


“Lakukanlah shalat malam, karena sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan penolak penyakit dari tubuh.”


(Kasyful Ghummah, 1/95)


Gak cuma sekadar nasihat biasa, ini tuh kayak roadmap buat upgrade jiwa dan raga kita. Simak njenengan.


1. Tradisi Para “OG” Spiritual


Shalat malam tuh udah legacy dari para nabi dan orang-orang pilihan Allah. Mereka pilih me time di kala yang lain deep sleep, karena di waktu itulah signal doa kita full bar, gak ada buffering.


Allah Ta‘ala berfirman:


“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 17–18)


Kesalehan seseorang itu gak dinilai dari vibes-nya di siang hari, tapi dari keikhlasannya berdua sama Allah di malam yang sunyi.


2. Quality Time Paling Privat sama Allah


Shalat malam itu ibadah exclusive, gak ada live audience, gak ada curi-curi view. Makanya, ini jadi momen buat deep talk sama Yang Maha Kuasa.


Rasulullah ﷺ ngingetin:

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Di sini, kita bisa curhat apa adanya, tanpa filter, tanpa pura-pura.

3. Auto-Block dari Maksiat

Orang yang rutin hang out sama Allah tengah malam, bakal malu buat scroll yang gak bener di siang hari. Light dari malamnya jadi firewall buat hidupnya.


Allah berfirman:


“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)


Apalagi shalat malam—karena biasanya hati lagi on banget, fokus full.


4. Reset Dosa & Cleansing Hati

Dalam heningnya malam, dosa-dosa yang berat tiba-tiba terasa lebih ringan pas kita let it go dalam sujud. Air mata jadi saksi, istighfar jadi password-nya.


Rasulullah ﷺ ngingetin:

“Barangsiapa shalat malam karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Banyak banget file dosa yang gak bisa dihapus cuma dengan kata-kata, tapi bisa luruh sama tetesan doa di sepertiga malam terakhir.


5. Immune Booster Alami


Hadits ini juga nyebutin kalau shalat malam ada manfaat buat kesehatan. Bukan cuma fisik, tapi juga mental. Banyak penyakit source-nya dari hati yang overthinking, jiwa yang burnout, dan pikiran yang jauh dari Allah.


Allah berfirman:


“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)


Ketenangan ini kayak superpower yang gak ada di resep dokter, tapi cuma bisa dirasain sama yang rajin tap in sama Allah di malam hari.


Penutup: Gak Perlu Nunggu Perfect


Jangan nunggu bisa shalat malam berjam-jam dulu. Mulai aja dari dua rakaat, meski cuma sebentar, meski belum terlalu khusyuk. Soalnya, Allah gak lihat durasinya, tapi kejujuran kita pas connect.


Rasulullah ﷺ ngingetin:


“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Just wake up, walau cuma bentar. Siapa tahu, satu sujud di tengah malam itu jadi lifesaver kita nanti di akhirat.


Semoga kita bisa konsisten ya....🙏✨

891. Meneladani Para Nabi Tanpa Mengharap Upah Dunia.

 tafsir al ibriiz : Al-An'am · Ayat 90


اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًاۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ ۝٩٠

ulâ'ikalladzîna hadallâhu fa bihudâhumuqtadih, qul lâ as'alukum ‘alaihi ajrâ, in huwa illâ dzikrâ lil-‘âlamîn

Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu atasnya (menyampaikan Al-Qur’an).” (Al-Qur’an) itu hanyalah peringatan untuk (umat) seluruh alam.

.......


🌿 Meneladani Para Nabi Tanpa Mengharap Upah Dunia

Al-Qur’an Surah Al-An‘ām ayat 90:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَالَمِينَ

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: Aku tidak meminta imbalan apa pun kepadamu atas dakwahku ini. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.”

🕊️ Penjelasan Tafsir Al-Ibrīz (Ringkas)

Dalam Tafsir Al-Ibrīz, KH. Bisri Musthofa menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ agar:

Meneladani para nabi sebelumnya dalam akhlak, kesabaran, dan keikhlasan.

Berdakwah tanpa mengharap bayaran, karena dakwah adalah amanah, bukan alat mencari keuntungan dunia.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai peringatan hidup, bukan sekadar bacaan.

🔥 Pesan Motivasi Kehidupan

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan hidup tidak diukur dari apa yang kita dapatkan, tetapi dari apa yang kita niatkan karena Allah.

Para nabi:

Berdakwah ditolak,

Dihina dan disakiti,

Hidup sederhana, namun tidak pernah menjadikan dakwah sebagai ladang upah dunia.

Allah menegaskan:

“Ikutilah petunjuk mereka.”

Artinya: ikhlaslah meski tidak dihargai manusia.

📖 Dalil Hadis Pendukung

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Keikhlasan adalah ruh amal. Tanpa ikhlas, amal besar menjadi kecil. Dengan ikhlas, amal kecil menjadi agung.

Dalam hadis lain:

“Barang siapa menuntut ilmu untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga.”

(HR. Abu Dawud)

Ini peringatan keras agar amal agama tidak dicampur dengan ambisi dunia.

🌱 Relevansi dengan Kehidupan Kita

Di zaman sekarang:

Berdakwah sering dinilai dari bayaran,

Kebaikan sering diukur dari pujian,

Amal sering bergantung pada sorotan manusia.

Padahal ayat ini mengajarkan:

Luruskan niat, walau tidak dilihat manusia.

Terus berbuat baik, walau tidak dibalas dunia.

✨ Penutup Renungan

Jika para nabi saja tidak meminta upah, lalu mengapa kita menuntut balasan dari manusia?

Biarlah manusia lupa, asal Allah mencatat.

Biarlah dunia tidak memberi, asal akhirat menanti.

“Cukuplah Allah sebagai tujuan, dan ridha-Nya sebagai upah.”

..........

Meniru Para Nabi Tanpa Ngarep Bayaran Dunia


Al-Qur’an Surah Al-An‘ām ayat 90:


أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَالَمِينَ


“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: Aku tidak meminta imbalan apa pun kepadamu atas dakwahku ini. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.”


📖 Intisari Tafsir Al-Ibrīz (Versi Santai)


Kata KH. Bisri Musthofa dalam tafsirnya, lewat ayat ini Allah nyuruh Nabi Muhammad ﷺ buat:


· Nge-follow jejak para nabi sebelumnya dalam hal akhlak, sabar, dan keikhlasan.

· Berdakwah tanpa minta bayaran, karena dakwah itu amanah, bukan side hustle buat cari duit.

· Ngasih reminder bahwa Al-Qur’an itu panduan hidup, bukan sekadar bacaan doang.


🔥 Pesan Buat Kita-kita


Ayat ini ngingetin bahwa nilai hidup kita gak diukur dari apa yang kita dapetin, tapi dari apa yang kita maksudin karena Allah.


Para nabi itu:


· Dakwahnya sering ditolak mentah-mentah.

· Dihina dan disakiti.

· Hidupnya sederhana banget.


Tapi mereka gak pernah bikin dakwah jadi sumber penghasilan. Allah bilang: "Ikutilah petunjuk mereka." Artinya, tetaplah ikhlas meski orang gak ngasih apresiasi.


🕊️ Dukungan Hadis


Nabi ﷺ pernah bersabda: إِنَّمَا الأَعْمَالُبِالنِّيَّاتِ “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)


Niat yang ikhlas itu kayak nyawa buat amal kita. Tanpa ikhlas, amal gede jadi terasa hampa. Dengan ikhlas, amal kecil pun jadi bernilai tinggi.


Ada juga hadis lain: “Barang siapa menuntut ilmu untuk mendapatkan dunia,maka ia tidak akan mencium bau surga.” (HR.Abu Dawud) Ini warning buat kita biar gak campur-campurin urusan ibadah sama ambisi duniawi.


🌍 Relevansinya di Zaman Now


Sekarang ini kadang:


· Dakwah atau ceramah suka dilihat dari fee-nya.

· Bantu orang eh malah nunggu dipuji atau diviralin.

· Baiknya seseorang seolah bergantung sama like dan views.


Ayat ini ngingetin: Lurusin niat aja, meski gak ada yang liat. Terus berbuat baik, meski gak dibalas secara duniawi.


✨ Penutup (Buah Pikir)


Kalo para nabi aja gak minta upah, masa kita ngarepin balasan terus dari orang?


Gapapa kalo orang lupa sama kebaikan kita, yang penting Allah catat. Gapapa kalo dunia gak kasih apa-apa,yang penting akhirat nunggu.


"Cukuplah Allah jadi tujuan utama, dan ridha-Nya jadi 'gaji' terbaik kita."

889. Ingat Kesucian, Bangun Kejujuran Iman




 shohih bukhari no. 639

Berikut naskah motivasi Islami berdasarkan hadis shahih tentangshalatdalam keadaan lupa junub, disertai dalil Al-Qur’an dan hadis, dengan gaya yang cocok untuk tausiyah, pengajian, atau renungan pribadi.

🌿 Ingat Kesucian, Bangun Kejujuran Iman

✨ Mukadimah

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

dalam hidup ini kita sering lupa, sering lalai, bahkan kadang merasa sudah benar padahal belum siap di hadapan Allah.

Salah satu pelajaran besar tentang kejujuran iman dan kesadaran diri diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah peristiwa yang sangat menyentuh.

📜 Dalil Hadis (Shahih Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Shalat telah dikumandangkan dan shaf telah diluruskan. Rasulullah ﷺ berdiri di tempat shalatnya, lalu beliau teringat bahwa beliau junub. Maka beliau bersabda: ‘Tetaplah kalian di tempat kalian.’ Lalu beliau pergi mandi, kemudian kembali dengan kepala yang masih meneteskan air, lalu shalat bersama kami.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

🧠 Pesan Agung dari Hadis Ini

Perhatikan, Rasulullah ﷺ:

Sudah berdiri sebagai imam

Sudah siap memimpin shalat

Tapi ketika sadar belum suci, beliau langsung berhenti

Padahal beliau adalah manusia paling mulia.

Namun beliau tidak malu membatalkan shalat, karena Allah lebih berhak untuk dihormati daripada pandangan manusia.

👉 Inilah kejujuran iman.

📖 Dalil Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ جُنُبٌ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati shalat sedang kalian dalam keadaan junub sampai kalian mandi.”

(QS. An-Nisa: 43)

Ayat ini menegaskan: 🔹 Kesucian bukan formalitas

🔹 Kesucian adalah adab menghadap Allah

🔍 Introspeksi Iman

Jika Rasulullah ﷺ saja:

Menghentikan shalat karena sadar belum suci,

Maka bagaimana dengan kita?

Masih melanjutkan ibadah padahal sadar ada yang tidak benar?

Masih merasa tenang padahal tahu ada dosa yang belum dibereskan?

Masih berharap pahala, tapi enggan memperbaiki syaratnya?

⚠️ Ibadah tanpa kejujuran hanyalah gerakan, bukan pendekatan kepada Allah.

💎 Pelajaran Kehidupan

Lebih baik berhenti sejenak untuk memperbaiki diri, daripada terus berjalan dalam kesalahan.

Malu kepada Allah lebih utama daripada malu kepada manusia.

Lupa itu manusiawi, tetapi sadar lalu memperbaiki adalah tanda iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci.”

(HR. Muslim)

🌱 Relevansi untuk Kehidupan Kita

Hari ini, banyak orang:

Rajin ibadah, tapi masih meremehkan kejujuran

Tampak shalih, tapi enggan mengakui kesalahan

Takut dinilai manusia, tapi lupa bahwa Allah Maha Melihat

Hadis ini mengajarkan: 🕊️ Iman sejati bukan tentang terlihat baik, tapi tentang benar di hadapan Allah.

🤲 Muhasabah

Mari kita bertanya pada diri sendiri:

Sudahkah ibadahku dilakukan dengan ilmu?

Sudahkah hatiku bersih sebelum tanganku terangkat?

Jika aku sadar salah, apakah aku berani berhenti dan memperbaiki?

🤍 Penutup Doa

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا كَمَا طَهَّرْتَ أَبْدَانَنَا،

وَارْزُقْنَا صِدْقَ النِّيَّةِ وَالإِخْلَاصَ فِي العِبَادَةِ

Ya Allah, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau mensucikan jasad kami.

Anugerahkan kepada kami kejujuran niat dan keikhlasan dalam beribadah.

........

Oke, siap! Ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan menjaga pesan utamanya. Semoga pas ya, njenengan~


🌿 Jaga Suci, Jaga Iman: The Real Deal!


✨ Opening


Halo, teman-teman! Kita semua pasti pernah kan, lagi asik-asiknya eh tiba-tiba ngerasa ada yang kurang pas? Atau ngerasa oke-oke aja, padahal belum siap banget?


Nah, Rasulullah ﷺ ngajarin kita pelajaran super berharga tentang kejujuran level tinggi dan sadar diri, lewat satu momen yang bikin merinding.


📜 Hadisnya (Shahih Bukhari No. 639)


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Shalat telah dikumandangkan dan shaf telah diluruskan.Rasulullah ﷺ berdiri di tempat shalatnya, lalu beliau teringat bahwa beliau junub. Maka beliau bersabda: ‘Tetaplah kalian di tempat kalian.’ Lalu beliau pergi mandi, kemudian kembali dengan kepala yang masih meneteskan air, lalu shalat bersama kami.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)


🧠 Momen Powerful Banget!


Coba bayangin, Rasulullah ﷺ lagi di posisi:


· Udah siap jadi imam

· Semua orang udah nunggu

· Tapi pas sadar belum suci, beliau langsung pause sejenak.


Beliau kan manusia paling mulia, tapi gak malu buat rewind dan benerin diri. Kenapa? Karena respect sama Allah itu nomor satu, di atas penilaian orang lain.


Ini namanya kejujuran iman yang autentik!


📖 Firman Allah SWT


Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَآمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ جُنُبٌ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا “Wahai orang-orang yang beriman,janganlah kalian mendekati shalat sedang kalian dalam keadaan junub sampai kalian mandi.” (QS.An-Nisa: 43)


Ayat ini ngingetin kita: 🔹Kesucian itu gak cuma formalitas, itu SOP wajib. 🔹Kesucian adalah basic manner kita menghadap Allah.


🔍 Cek Dulu Deh Iman Kita


Kalo Rasulullah ﷺ aja:


· Berani stop shalat karena sadar belum suci, Terus kita gimana?

· Masih lanjutin ibadah padahal tau ada yang ga bener?

· Masih feel good padahal dosa masih numpuk?

· Mau dapat pahala, tapi malas penuhi syaratnya?


⚠️ Fyi: Ibadah tanpa kejujuran itu cuma gerak-gerik doang, bukan beneran nyambung sama Allah.


💎 Life Lesson-nya


· Lebih baik time out sebentar buat perbaiki diri, daripada maksain lanjut dalam keadaan error.

· Malu sama Allah > malu sama orang.

· Lupa itu wajar, tapi sadar dan memperbaiki itu tanda iman hidup.


Rasulullah ﷺ pernah bilang: “Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci.” (HR.Muslim)


🌱 Relevan Sama Kehidupan Kita Sekarang


Sekarang banyak yang:


· Rajin ibadah, tapi kejujuran dianggep remeh.

· Tampak alim, tapi susah ngaku salah.

· Takut dinilai orang, tapi lupa Allah Maha Melihat.


Intinya, hadis ini ngajarin: 🕊️Iman yang bener itu bukan soal tampilan, tapi soal kebenaran di hadapan Allah.


🤲 Muhasabah Dulu Yuk


Aku coba tanya diri sendiri nih:


· Ibadahku udah pake ilmu belum ya?

· Hati udah bersih belum sebelum angkat tangan?

· Kalau sadar salah, berani gak aku stop dan improve?


🤍 Penutup & Doa


اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا كَمَا طَهَّرْتَ أَبْدَانَنَا، وَارْزُقْنَا صِدْقَالنِّيَّةِ وَالإِخْلَاصَ فِي العِبَادَةِ (Ya Allah,sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau mensucikan jasad kami. Anugerahkan kepada kami kejujuran niat dan keikhlasan dalam beribadah.)


Semoga kita selalu punya keberanian buat jujur sama diri sendiri dan sama Allah, apapun situasinya. Karena yang paling worth it itu adalah ridho-Nya. Keep istiqomah! ✨

Monday, December 29, 2025

 daqoiqul akhbar 12/12

Bab 25 Tiupan Sangkala Untuk Membangkitkan.📰 HARI KIAMAT & 12 TIPE MANUSIA YANG AKAN DIBANGKITKAN.

Di dalam hadits yang lain, dari Mu’adz bin Jabal ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ketika terjadi hari kiamat, yaitu hari kerugian dan penyesalan, maka Allah Ta’ala mengumpulkan umatku dari kubur mereka menjadi 12 bagian.”

Keduabelas: Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dimana wajah mereka seperti bulan, pada bulan purnama, mereka ini melewati shirath seperti kilat yang menyambar. Lalu ada pemanggil yang memanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang beramal shalih dan menjauhi kemaksiatan, serta menjaga shalat lima waktu beserta berjama’ah, mereka mati dalam keadaan bertaubat. Maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah surga. (Mereka dalam) pengampunan, keridlaan dan rahmat serta kenikmatan, karena sesungguhnya mereka ini sama ridla pada Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala (juga ridla) kepada mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30).

......

888. Khamer: Kenikmatan Sesaat, Penyesalan Abadi

 


daqoiqul akhbar 12/11

Bab 25 Tiupan Sangkala Untuk Membangkitkan.

📰 HARI KIAMAT & 12 TIPE MANUSIA YANG AKAN DIBANGKITKAN.

Khamer: Kenikmatan Sesaat, Penyesalan Abadi

Di dalam hadits yang lain, dari Mu’adz bin Jabal ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ketika terjadi hari kiamat, yaitu hari kerugian dan penyesalan, maka Allah Ta’ala mengumpulkan umatku dari kubur mereka menjadi 12 bagian.”

Mereka dikumpulkan dari kuburnya (dalam keadaan) buta hatinya dan gigi-giginya seperti tanduk sapi sedangkan bibir mereka itu sama kengser diatas dadanya, dan lidahnya juga kengser diatas perutnya, perutnya kengser diatas paha mereka, serta dari perut mereka keluarlah kotoran. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang : Mereka ini adalah orang-orang yang meminum arak (Khamer), mereka mati sebelum bertaubat maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan.” (QS. Al Ma’idah: 90).

.........

Mukadimah

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang merusak akal, jiwa, dan iman. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Setiap dosa mungkin tampak ringan di dunia, namun bisa berubah menjadi kehinaan dan penyesalan besar di akhirat bila tidak segera ditaubati.

Gambaran Mengerikan di Hari Penyesalan

Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada hari kiamat Allah mengumpulkan umat Nabi ﷺ menjadi dua belas golongan. Di antara mereka ada golongan yang dibangkitkan dengan keadaan mengerikan:

Hati mereka buta

Gigi mereka seperti tanduk sapi

Bibir menjulur ke dada

Lidah terjulur ke perut

Dari perut mereka keluar kotoran

Lalu diserukan dari hadapan Allah Yang Maha Pengasih:

“Mereka ini adalah orang-orang yang meminum khamer. Mereka mati sebelum bertaubat. Maka inilah balasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah neraka.”

Na‘udzubillāhi min dzālik.

Ini bukan dongeng, bukan kisah simbolik, melainkan peringatan keras dari Nabi ﷺ agar manusia tidak meremehkan dosa yang merusak akal.

Khamer: Induk Segala Keburukan

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamer, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.”

(QS. Al-Mā’idah: 90)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan tinggalkan, tetapi “jauhilah”, karena khamer adalah:

Perusak akal

Pembuka pintu zina

Pemicu kekerasan

Penghalang shalat dan dzikir

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Khamer adalah induk segala kejahatan.”

(HR. Al-Hakim)

Dan beliau ﷺ juga bersabda:

“Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan beriman, dan tidaklah peminum khamer meminum khamer dalam keadaan beriman.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, khamer merampas iman saat diminum, walau hanya sesaat.

Kenikmatan yang Menipu

Saudaraku,

Setan selalu membungkus dosa dengan kenikmatan:

Katanya untuk hiburan

Katanya untuk pelarian stres

Katanya sekadar sedikit

Namun di akhirat, sedikit itu menjadi penyesalan yang tak terbayar.

Allah berfirman:

“Pada hari itu orang-orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: ‘Aduhai, seandainya aku dahulu mengambil jalan bersama Rasul’.”

(QS. Al-Furqan: 27)

Pintu Taubat Masih Terbuka

Namun wahai saudaraku,

Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 53)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”

(HR. Ibnu Majah)

Betapa luas rahmat Allah, asalkan kita berhenti, menyesal, dan bertekad tidak mengulanginya.

Penutup: Pilihan di Tangan Kita

Hari kiamat disebut Nabi ﷺ sebagai yaumul hasrah — hari penyesalan.

Jangan sampai kita menyesal karena dosa yang bisa kita tinggalkan hari ini.

Jika dunia hanya sementara,

maka mengapa menukar surga dengan seteguk khamer?

Doa

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَاحْفَظْ عُقُولَنَا، وَاصْرِفْ عَنَّا الْمُحَرَّمَاتِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ

“Ya Allah, sucikanlah hati kami, jagalah akal kami, jauhkan kami dari yang haram, dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang benar-benar bertaubat.”

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

.......

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

( Gue diganti aku, lo diganti njenengan)

887. Rukuk untuk Mengagungkan, Sujud untuk Memohon

 


buluqul mahram

Larangan Membaca Al-Qur’an Ketika Rukuk dan Sujud

Hadits #293

عَنِ ابنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلاَ وَإني نُهيتُ أَنْ أَقْرَأَ القُرْآنَ رَاكِعاً أَوْ سَاجِداً، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ، وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ». رَوَاهُ مُسْلمٌ.


Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca Al-Qur’an sewaktu rukuk. Adapun sewaktu rukuk, agungkanlah Rabb dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena besar harapan akan dikabulkan doa kalian.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 479]

........

Rukuk untuk Mengagungkan, Sujud untuk Memohon

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca Al-Qur’an sewaktu rukuk. Adapun sewaktu rukuk, agungkanlah Rabb dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena besar harapan akan dikabulkan doa kalian.”

(HR. Muslim no. 479)

Hadis ini mengajarkan adab agung dalam shalat: setiap gerakan memiliki ruh, dan setiap posisi memiliki tujuan.

1. Rukuk: Merendahkan Diri, Mengagungkan Rabb

Rukuk bukan sekadar membungkukkan badan, tetapi pernyataan ketundukan total. Karena itu, Rasulullah ﷺ melarang membaca Al-Qur’an dalam rukuk, sebab rukuk adalah tempat mengagungkan Allah, bukan tempat permintaan.

Allah Ta‘ala berfirman:

فَسَبِّحُوا بِاسْمِ رَبِّكُمُ الْعَظِيمِ

“Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Rabb-mu Yang Maha Agung.”

(QS. Al-Waqi‘ah: 74)

Maka bacaan rukuk kita adalah:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ

Artinya: Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung.

🔹 Pesan ruhani:

Orang yang hatinya masih sombong, rukuknya akan terasa berat.

Orang yang mengenal kebesaran Allah, rukuknya akan terasa nikmat.

2. Sujud: Puncak Kedekatan dan Doa

Dalam posisi sujud, kita berada serendah-rendahnya di hadapan Allah, namun justru sedekat-dekatnya dengan-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.”

(HR. Muslim no. 482)

Allah Ta‘ala berfirman:

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

“Bersujudlah dan mendekatlah (kepada Allah).”

(QS. Al-‘Alaq: 19)

🔹 Di sinilah tempat mencurahkan isi hati:

dosa yang ingin diampuni

hajat yang terasa berat

luka yang tak sanggup diceritakan kepada manusia

Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

“…karena besar harapan akan dikabulkan doa kalian.”

3. Shalat: Dialog Penuh Adab dengan Allah

Hadis ini mengajarkan bahwa shalat bukan sekadar bacaan, tetapi dialog penuh adab:

Berdiri → membaca kalam Allah

Rukuk → mengagungkan Allah

Sujud → memohon kepada Allah

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”

(QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Khusyuk lahir dari memahami makna setiap gerakan.

4. Pesan Motivasi untuk Hati

🕊️ Jika hidup terasa sempit,

➡️ perpanjanglah sujudmu.

🕊️ Jika doa terasa lama terkabul,

➡️ perbaiki adabmu dalam shalat.

🕊️ Jika hati gelisah,

➡️ ingatlah: sujud adalah tempat terdekatmu dengan pertolongan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya shalat itu adalah cahaya.”

(HR. Muslim)

Penutup Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْخَاشِعِينَ فِي صَلَاتِنَا، الْمُعَظِّمِينَ لَكَ فِي رُكُوعِنَا، الْمُلِحِّينَ فِي دُعَائِنَا فِي سُجُودِنَا

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba yang khusyuk dalam shalat, yang mengagungkan-Mu dalam rukuk, dan bersungguh-sungguh berdoa kepada-Mu dalam sujud.”

......

Rukuk buat Ngagungin, Sujud buat Nembus Doa


Hai temen-teman, semoga kalian selalu dilindungi Allah! 🌸


Rasulullah ﷺ pernah ngasih tau:


“Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca Al-Qur’an sewaktu rukuk. Adapun sewaktu rukuk, agungkanlah Rabb dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena besar harapan akan dikabulkan doa kalian.”


(HR. Muslim no. 479)


Nah, lewat hadis ini kita diajarin kalo shalat tuh punya adab yang dalem banget: setiap gerakan punya jiwa, setiap posisi punya misinya sendiri.


---


1. Rukuk: Nundukin Diri, Ngagungin Yang Maha Besar


Rukuk tuh bukan cuma nundukin badan, tapi bentuk pasrah total sama Allah. Makanya Rasulullah ﷺ melarang baca Al-Qur’an pas lagi rukuk — soalnya ini momen khusus buat mengagungkan-Nya, bukan buat minta.


Allah Ta‘ala berfirman:


فَسَبِّحُوا بِاسْمِ رَبِّكُمُ الْعَظِيمِ

“Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Rabb-mu Yang Maha Agung.”

(QS. Al-Waqi‘ah: 74)


Makanya bacaan rukuk kita:


سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ

Artinya: Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung.


💡 Pesan buat hati:

Kalo hati masih suka sombong, rukuk terasa berat banget.

Tapi kalo kita udah ngerasain kebesaran Allah, rukuk tuh bikin adem, bahkan nikmat.


---


2. Sujud: Moment Terdekat, Saatnya Nembus Doa


Posisi sujud tuh serendah-rendahnya kita di hadapan Allah, tapi justru di situlah kita paling dekat sama-Nya.


Rasulullah ﷺ bersabda:

“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.”

(HR. Muslim no. 482)


Allah Ta‘ala berfirman:


وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

“Bersujudlah dan mendekatlah (kepada Allah).”

(QS. Al-‘Alaq: 19)


💡 Nah, di sinilah tempat curhat paling ampuh:


· Salah dan dosa yang pengen diampunin

· Keinginan yang berat buat diwujudin

· Luka hati yang nggak bisa diceritain ke siapa-siapa


Makanya Rasulullah ﷺ bilang:

“…karena besar harapan akan dikabulkan doa kalian.”


---


3. Shalat: Ngobrol Santun tapi Penuh Makna


Shalat tuh kayak dialog intim sama Allah, tapi penuh etiket:


· Berdiri → baca firman-Nya

· Rukuk → puji kebesaran-Nya

· Sujud → minta apa yang kita butuhin


Allah berfirman:


قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”

(QS. Al-Mu’minun: 1–2)


Khusyuk itu muncul pas kita paham makna di setiap gerakan.


---


4. Sedikit Motivasi Buat Jiwa


🌿 Kalo lagi sesek, sumpek, atau buntu:

➡️ Panjangkan sujudmu, curhat sama Yang Maha Denger.


🌿 Kalo doa kayak lama banget dijawab:

➡️ Cek lagi adab shalat kita, udah bener belum rukuk dan sujudnya?


🌿 Kalo hati lagi gundah gulana:

➡️ Ingat, sujud itu posisi terdekat kita sama pertolongan Allah.


Rasulullah ﷺ bilang:

“Sesungguhnya shalat itu adalah cahaya.”

(HR. Muslim)


---


Penutup Doa


اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْخَاشِعِينَ فِي صَلَاتِنَا، الْمُعَظِّمِينَ لَكَ فِي رُكُوعِنَا، الْمُلِحِّينَ فِي دُعَائِنَا فِي سُجُودِنَا


“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba yang khusyuk dalam shalat, yang mengagungkan-Mu dalam rukuk, dan bersungguh-sungguh berdoa kepada-Mu dalam sujud.”


Semoga kita makin sayang sama shalat, makin nikmat rukuk dan sujudnya. Aamiin! 🤲✨

 qotrul ghoits.


“Takdir Bukan Alasan untuk Bermaksiat”

Seorang ahli maksiat berkata,

“Apa yang aku lakukan ini sudah takdirku.”

Ucapan ini terdengar pasrah, namun sesungguhnya berbahaya. Karena ia menjadikan takdir sebagai tameng, bukan sebagai cermin untuk bertaubat.

1. Takdir Allah Bukan Alasan untuk Dosa

Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui segala sesuatu, dan Dia telah menuliskan takdir seluruh makhluk. Namun, Allah juga memberi manusia akal, kehendak, dan kemampuan memilih.

Allah berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan (yang benar), ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”

(QS. Al-Insān: 3)

Ayat ini menegaskan: jalan telah ditunjukkan, pilihan ada di tangan manusia, dan pertanggungjawaban pun mengikutinya.

2. Kaum Musyrik Juga Berlindung di Balik Takdir

Ucapan “ini takdir” untuk membenarkan dosa bukanlah hal baru. Allah telah membantahnya dalam Al-Qur’an:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا

“Orang-orang musyrik akan berkata: ‘Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan berbuat syirik.’”

(QS. Al-An‘ām: 148)

Lalu Allah menegaskan bahwa alasan itu tidak diterima, karena mereka berbuat tanpa ilmu dan tanpa ketaatan.

3. Rasulullah ﷺ Menolak Takdir Dijadikan Alasan Maksiat

Ketika para sahabat bertanya tentang takdir, Rasulullah ﷺ bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya: takdir tidak menggugurkan kewajiban beramal, justru menjadi dorongan untuk berbuat baik, bukan alasan bermalas-malasan atau bermaksiat.

4. Takdir Diketahui Setelah Terjadi, Bukan Sebelum Bermaksiat

Takdir Allah baru diketahui setelah terjadi, bukan sebelum berbuat.

Seseorang tidak pernah berkata sebelum bermaksiat:

“Aku tahu Allah menakdirkan aku berdosa hari ini.”

Namun setelah maksiat, ia berkata:

“Ini takdirku.”

Ini bukan pasrah, tetapi lari dari tanggung jawab.

5. Jika Takdir Jadi Alasan, Maka Perintah dan Larangan Gugur

Jika maksiat dibenarkan dengan takdir, maka:

Perintah shalat menjadi sia-sia

Larangan zina dan riba tidak bermakna

Surga dan neraka menjadi tidak adil

Padahal Allah berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Dan Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.”

(QS. Fussilat: 46)

Allah Maha Adil, dan tidak menghukum kecuali atas pilihan yang disengaja.

6. Takdir Seharusnya Membawa Takut, Bukan Berani Bermaksiat

Orang beriman jika ingat takdir, hatinya takut, bukan berani.

Ia berkata:

“Bagaimana jika ini adalah dosa terakhirku?”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…

“Sungguh seseorang bisa beramal dengan amalan ahli neraka…”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggetarkan hati, bukan untuk menenangkan maksiat.

7. Takdir adalah Rahasia Allah, Taubat adalah Pintu-Nya

Jika engkau jatuh dalam dosa, jangan berlindung pada takdir, tapi berlindunglah pada taubat.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya, jangan berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 53)

Penutup Muhasabah

Jika maksiat itu takdir,

mengapa taubat tidak engkau kejar sebagai takdir juga?

Jika dosa sudah tertulis,

rahmat Allah pun telah tertulis lebih dahulu.

Jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk jauh dari Allah,

tetapi jadikan takdir sebagai alasan untuk kembali kepada-Nya.

“Aku berdosa karena pilihanku, dan aku bertaubat karena rahmat-Mu, ya Allah.”

Semoga Allah menjaga kita dari pemahaman yang sesat tentang takdir,

dan memudahkan kita untuk memilih jalan taat hingga akhir hayat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

........

Takdir Bukan Tameng Buat Maksiat


Ada yang bilang gini, nih:


“Ini kan udah takdir gue, jadinya gue gak bisa apa-apa.”


Kata-kata ini keliatannya pasrah banget, tapi sebenernya bahaya, lho. Soalnya, takdir jadi tameng buat ngeles, bukan cermin buat introspeksi diri.


---


1. Takdir Bukan Alesan Buat "Ngaret"


Allah Maha Tahu segala hal, dan Dia udah nulis semua takdir. Tapi, jangan lupa, Allah juga kasih kita otak, keinginan, dan kemampuan milih.


Allah berfirman:


إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan (yang benar), ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”

(QS. Al-Insān: 3)


Intinya: jalan udah ditunjukin, pilihan ada di tangan kita, konsekuensinya juga tanggung jawab kita sendiri.


---


2. Dulu Juga Udah Ada yang Pakai Alasan Gitu


Kalimat “ini takdir” buat justify dosa itu gak baru. Allah udah klarifikasi di Qur’an:


سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا

“Orang-orang musyrik akan berkata: ‘Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan berbuat syirik.’”

(QS. Al-An‘ām: 148)


Allah tegaskan, alasan itu gak diterima, karena mereka berbuat tanpa ilmu dan tanpa niat taat.


---


3. Kata Rasulullah ﷺ, Gak Boleh Gitu


Pas para sahabat nanya tentang takdir, Rasulullah ﷺ bilang:


اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Artinya, takdir gak ngehapus kewajiban kita buat berusaha dan beramal. Malah harusnya jadi motivasi buat ngedepanin kebaikan, bukan buat santai-santai atau maksiat.


---


4. Takdir Baru Bisa Dipastikan Setelah Kejadian


Takdir itu rahasia Allah, bukan alesan buat booking dosa duluan.


Kan gak mungkin sebelum maksiat, kita mikir: “Oh,ini takdir gue buat dosa hari ini.”


Tapi setelah kejadian, baru bilang: “Ya sudahlah,ini kan takdir.”


Itu namanya cari aman, gak mau tanggung jawab.


---


5. Kalau Takdir Bisa Jadi Alasan, Ngapain Ada Aturan?


Kalo maksiat boleh pake alesan “takdir”, berarti:


· Perintah shalat jadi gak guna

· Larangan zina, korupsi, atau riba gak ada artinya

· Surga dan neraka jadi terasa gak adil


Padahal Allah bilang:


وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Dan Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.”

(QS. Fussilat: 46)


Allah Maha Adil. Gak mungkin Dia ngasih hukuman kalo kita gak pilih sendiri jalannya.


---


6. Ingat Takdir Harusnya Bikin Takut, Bukan Nekat


Orang beriman kalo ingat takdir, hatinya bakal deg-degan, bukan malah pede maksiat. Dia bakal mikir: “Gimana kalo ini dosa terakhir gue?”


Rasulullah ﷺ pernah bersabda:


إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…

“Sungguh seseorang bisa beramal dengan amalan ahli neraka…”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini bikin hati deg-degan, bukan bikin tenang buat lanjutin maksiat.


---


7. Takdir itu Rahasia, Taubat itu Pintunya


Kalo njenengan terjatuh dalam dosa, jangan blaming takdir. Cepat-cepat ambil taubat aja.


Allah berfirman:


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya, jangan berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 53)


---


Penutup: Yuk, Muhasabah!


Kalo maksiat itu dibilang “takdir”, kenapa taubat gak dikejar sebagai “takdir” juga?


Kalo dosa udah tertulis, rahmat Allah jauh lebih dulu tertulis.


Jangan jadikan takdir sebagai alasan buat jauh dari Allah. Tapi jadikan takdir sebagai alasan buat kembali ke-Nya.


“Aku berdosa karena pilihanku, dan aku bertaubat karena rahmat-Mu, ya Allah.”


Semoga Allah lindungi kita dari pemahaman takdir yang ngawur, dan mudahkan kita buat milih jalan taat sampe akhir hayat.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

886. Ketetapan Allah: Antara Takdir dan Ikhtiar



qotrul ghoits 19

PERMASALAHAN XII

CARA BERIMAN TERHADAP QADAR BAIK DAN BURUKNYA DARI ALLAH?

Nabi saw. telah bersabda:


رُوِيَ اَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قَالَ كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الخَلا ئِقِ كُلِّهَا قَبْلَ اَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالارْضَ بِخَمْسِينَ اَلْفَ عَامٍ

“Diriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:Allah telah metapkan ketentuan-ketentuan para makhluk kesemuanya lima ratus tahun sebelum menciptakan langit dan bumi”

.......

Ketetapan Allah: Antara Takdir dan Ikhtiar

Mukadimah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الخَلَائِقِ كُلِّهَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menetapkan seluruh ketentuan makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”

(HR. Muslim)

Hadis ini bukan untuk melemahkan langkah kita, tetapi untuk menguatkan hati agar tidak rapuh oleh keadaan.

🌿 Makna Takdir yang Menenangkan

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.”

(QS. Al-Qamar: 49)

Artinya, hidup ini bukan kebetulan. Rezeki, ujian, pertemuan, perpisahan, bahkan air mata dan senyum—semuanya berada dalam ilmu dan ketetapan Allah.

Namun, takdir bukan alasan untuk berpangku tangan.

🔥 Takdir Tidak Mematikan Ikhtiar

Allah juga menegaskan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’d: 11)

Inilah keseimbangan Islam:

Takdir ditetapkan

Usaha diwajibkan

Doa dianjurkan

Hasil diserahkan kepada Allah

Nabi ﷺ sendiri, manusia paling bertawakal, tetap berperang dengan strategi, berdakwah dengan kesungguhan, dan berobat saat sakit.

🕊️ Takdir sebagai Penawar Hati

Ketika usaha sudah maksimal, doa telah dipanjatkan, namun hasil belum sesuai harapan—ingatlah firman Allah:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.”

(QS. At-Taghābun: 11)

Orang yang memahami takdir:

Tidak sombong saat berhasil

Tidak putus asa saat gagal

Tidak iri pada rezeki orang lain

Tidak protes pada keputusan Allah

Ia yakin:

“Apa yang luput dariku tidak mungkin menjadi milikku, dan apa yang ditetapkan untukku tidak akan salah alamat.”

🪞 Muhasabah Diri

Tanyakan pada hati:

Apakah aku sudah berusaha dengan jujur dan sungguh-sungguh?

Apakah doaku hanya di lisan atau juga diiringi ketaatan?

Apakah aku ridha pada keputusan Allah setelah berikhtiar?

Karena takdir yang indah sering tersembunyi di balik kejadian yang tidak kita sukai.

🤲 Doa

اللَّهُمَّ رَضِّنِي بِقَضَائِكَ، وَبَارِكْ لِي فِي قَدَرِكَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Ya Allah, jadikan aku ridha dengan ketetapan-Mu, berkahilah takdir-Mu atasku, dan jadikan aku termasuk orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada-Mu.”

🌸 Penutup

Saudaraku,

Takdir bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipercayai.

Ikhtiar bukan untuk dibanggakan, tapi untuk dipertanggungjawabkan.

Dan doa bukan untuk mengubah ilmu Allah, tetapi untuk mengangkat derajat hamba.

Semoga kita termasuk hamba yang tenang hatinya, kuat usahanya, dan indah tawakalnya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

..........

Takdir Allah: Antara Yang Sudah Ditentukan dan Usaha Kita


Pembuka


Alhamdulillah, segala puji buat Allah, Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam selalu tercurah buat Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang ngikutin beliau sampai akhir zaman.


Hai, njenengan semua yang lagi dibimbing sama Allah…


Rasulullah ﷺ pernah bilang begini:


كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الخَلَائِقِ كُلِّهَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ


“Allah telah menetapkan seluruh ketentuan makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)


Nah, ini tuh hadits yang bikin hati tenang, bukan buat bikin kita males gerak, lho. Ini lebih ke “reminder” biar kita nggak gampang nyerah atau down saat keadaan lagi susah.


🌿 Takdir Itu Bikin Adem, Bro!


Allah ﷻ udah kasih tau di Quran:


إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ


“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.” (QS. Al-Qamar: 49)


Artinya, hidup ini nggak ada yang kebetulan. Rejeki, masalah, pertemuan, perpisahan, sampe senyum dan air mata kita, semua udah ada dalam “google map”-Nya Allah. Semua terukur dan terencana.


Tapi… jangan salah paham! Ini bukan alasan buat kita cuma tiduran dan nunggu takdir dateng.


🔥 Takdir Bukan Alasan Buat Nggak Ngapa-ngapain


Allah juga bilang gini:


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ


“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)


Nah, ini kerennya Islam: seimbang banget!


· Takdir mah udah fixed dari sononya.

· Usaha tuh wajib, jangan cuma teori.

· Doa itu senjata utama, jangan sampe ketinggalan.

· Hasil akhirnya? Serahin aja ke Allah, yang paling tau mana yang terbaik buat kita.


Nabi ﷺ aja, orang paling pasrah sama Allah, tetap perang pake strategi, dakwah pake usaha maksimal, dan ke dokter kalo sakit. Artinya, ikhtiar itu bagian dari iman.


🕊️ Kalo Udah Maksimal Tapi Hasil Nggak Sesuai? Ingat Ini…


Pas kita udah ngelakuin semuanya, tapi endingnya beda sama ekspektasi, coba renungi ayat ini:


مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ


“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghābun: 11)


Orang yang paham takdir tuh:


· Nggak sok jago pas sukses, karena sadar itu pemberian-Nya.

· Nggak larut dalam sedih pas gagal, karena yakin ada hikmahnya.

· Nggak iri liat rejeki orang, karena jatah kita udah diatur.

· Nggak gemes dan nyalahin takdir, karena percaya skenario Allah itu yang terbaik.


Pegang prinsip ini: “Apa yang luput dariku tidak mungkin menjadi milikku, dan apa yang ditetapkan untukku tidak akan salah alamat.” Keren, kan?


🪞 Yuk, Cek Dulu Diri Sendiri!


Sebelum komplain sama takdir, tanya hati kecil njenengan:


1. “Aku udah usaha beneran belum sih, atau cuma setengah-setengah?”

2. “Doaku cuma di mulut doang, atau dibarengin sama action yang baik?”

3. “Aku udah ikhlas belum nerima hasilnya, apapun itu, setelah berusaha semampuku?”


Karena sering banget, rencana terindah dari Allah itu bersembunyi di balik kejadian yang awalnya bikin kita kecewa.


🤲 Doa Supaya Makin Ikhlas & Tenang


اللَّهُمَّ رَضِّنِي بِقَضَائِكَ، وَبَارِكْ لِي فِي قَدَرِكَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ حَقًّا


“Ya Allah, jadikan aku ridha dengan ketetapan-Mu, berkahilah takdir-Mu atasku, dan jadikan aku termasuk orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada-Mu.”


🌸 Penutup


Gini ya, njenengan…


· Takdir itu buat diyakini, bukan buat ditakuti.

· Ikhtiar itu buat dijalanin dengan tanggung jawab, bukan buat dipamerin.

· Doa itu buat naikin derajat kita di sisi-Nya, bukan buat ngubah keputusan-Nya.


Semoga kita jadi hamba yang hatinya adem, usahanya maksimal, dan pasrahnya tulus.


Wallahu a’lam bishowwab.

Sunday, December 28, 2025

885. KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMA’AH: RAHMAT YANG MENYATUKAN LANGIT DAN BUMI

 



KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMA’AH: RAHMAT YANG MENYATUKAN LANGIT DAN BUMI

Bab 9. Keutamaan sholat jama'ah.

٩٠ - وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا صَلَاةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلَّا فِي المَسْجِدِ . وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ رَحْمَةٌ وَهِيَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَالجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ .


Wa qaala shallallaahu 'alaihi wa sallama: Laa shalaata lijaaril masjidi illaa filmasjidi. Wa qaala shallallaahu 'alaihi wa sallama: Shalaatul jamaa'ati rahmatun wahiya khairun minad dunyaa wa maa fiihaa waljamaa'atu rahmatun wal firqatu 'adzaabun.


Nabi saw. bersabda: "Tidak sempurna salat orang yang berte-tangga mesjid, kecuali di mesjid." Nabi saw. bersabda: "Salat berjamaah itu adalah rahmat, yaitu lebih utama daripada dunia dan seisinya. Berjamaah itu adalah rahmat, sedangkan perpecahan itu adalah siksaan."

........

KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMA’AH: RAHMAT YANG MENYATUKAN LANGIT DAN BUMI

Pendahuluan

Sholat bukan sekadar kewajiban individual, tetapi ibadah yang membentuk jiwa, menyatukan umat, dan menurunkan rahmat Allah ke tengah kehidupan. Di antara bentuk sholat yang paling dicintai Allah adalah shalat berjama’ah, khususnya di masjid. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa sholat berjama’ah bukan hanya bernilai pahala, tetapi merupakan rahmat, bahkan lebih berharga daripada dunia dan seluruh isinya.

Dalil Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan rukuklah kalian bersama orang-orang yang rukuk.”

(QS. Al-Baqarah: 43)

Ayat ini menunjukkan perintah sholat bersama, bukan sendiri-sendiri. Islam mendidik umatnya untuk beribadah dalam kebersamaan, persatuan, dan kesetaraan.

Allah juga berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Sholat berjama’ah adalah simbol persaudaraan iman yang paling nyata.

Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا صَلَاةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ

“Tidak sempurna sholat seseorang yang bertetangga dengan masjid kecuali di masjid.”

Dan beliau ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ رَحْمَةٌ، وَهِيَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Sholat berjama’ah adalah rahmat dan ia lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. Jama’ah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.”

Hadis ini menegaskan bahwa rahmat Allah turun dalam kebersamaan, sementara perpecahan mengundang kesempitan dan siksa, baik di dunia maupun di akhirat.

Hikmah dan Motivasi

Sholat berjama’ah:

Menghapus dosa-dosa kecil

Menguatkan iman

Menumbuhkan rasa tawadhu’

Menghilangkan kesombongan

Menyatukan hati-hati yang berbeda

Ketika berdiri sejajar dalam shaf, tidak ada kaya atau miskin, tidak ada pejabat atau rakyat, semuanya sama di hadapan Allah.

Nasihat Para Ulama dan Sufi

Hasan Al-Bashri رحمه الله

“Jika engkau melihat seseorang ringan melangkah ke masjid, ketahuilah imannya sedang hidup.”

Rabi‘ah al-Adawiyah رحمه الله

“Aku tidak beribadah karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena cinta. Dan cinta itu menemukan rumahnya dalam jama’ah.”

Abu Yazid al-Bistami رحمه الله

“Siapa yang ingin mengenal dirinya, berdirilah dalam shaf bersama hamba-hamba Allah.”

Junaid al-Baghdadi رحمه الله

“Jalan menuju Allah itu ramai, tetapi yang sampai adalah mereka yang tetap bersama jama’ah.”

Al-Hallaj رحمه الله

“Ketika aku larut dalam ‘Aku’, jama’ah mengingatkanku bahwa aku hanyalah hamba.”

Imam Al-Ghazali رحمه الله

“Sholat berjama’ah mematahkan nafsu, karena nafsu menyukai kesendirian tanpa aturan.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله

“Jangan engkau tinggalkan jama’ah, sebab tangan Allah bersama jama’ah.”

Jalaluddin Rumi رحمه الله

“Lilin tidak menyala sendirian; ia bersinar karena bersama cahaya lainnya.”

Ibnu ‘Arabi رحمه الله

“Dalam jama’ah, wujud-wujud saling menyempurnakan, dan rahmat Allah turun tanpa hijab.”

Ahmad al-Tijani رحمه الله

“Barangsiapa menjaga sholat jama’ah, Allah jaga hidup dan akhiratnya.”

Muhasabah (Introspeksi Diri)

Tanyakan pada diri kita:

Apakah aku sering menunda sholat padahal masjid dekat?

Apakah aku lebih sibuk dengan dunia daripada panggilan adzan?

Apakah aku memilih kenyamanan daripada ketaatan?

Apakah aku merasa cukup beribadah sendiri dan meremehkan jama’ah?

Cara Muhasabah yang Benar

Diam sejenak setelah Isya

Ingat panggilan adzan yang pernah diabaikan

Bandingkan langkah ke dunia dan langkah ke masjid

Bayangkan jika hari ini adalah sholat terakhir

Niatkan perbaikan mulai sholat berikutnya

Doa

Allahumma ya Allah, hidupkanlah hati kami dengan sholat berjama’ah.

Jadikan langkah kami ringan menuju masjid-Mu.

Satukan hati kami dalam ketaatan,

Jauhkan kami dari perpecahan dan azab-Mu.

Terimalah sholat kami, walau penuh kekurangan.

Wafatkan kami dalam keadaan mencintai jama’ah dan masjid-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada Allah ﷻ yang masih memanggil kita melalui adzan.

Terima kasih kepada Rasulullah ﷺ yang telah mencontohkan sholat berjama’ah hingga akhir hayat.

Terima kasih kepada para ulama dan orang-orang shalih yang menyalakan cahaya jalan ini.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat, bukan penghakiman.

Menjadi ajakan lembut, bukan celaan.

Dan menjadi sebab kita kembali meramaikan masjid.

Penulis:

✍️ M. Djoko Ekasanu.

........

Keutamaan Sholat Berjama’ah: Rahmat yang Nyambungin Langit dan Bumi


Intro


Sholat itu bukan cuma kewajiban pribadi, lho. Ini ibadah yang bikin jiwa makin kuat, nge-satuin umat, dan jadi jalan turunnya rahmat Allah di kehidupan kita. Salah satu bentuk sholat yang paling Allah sayang adalah sholat berjama’ah, apalagi kalo di masjid. Rasulullah ﷺ udah jelas bilang, sholat berjama’ah itu bukan cuma nilai pahalanya gede, tapi itu adalah rahmat, bahkan lebih berharga dari dunia dan isinya sekalipun.


Dalil dari Al-Qur’an


Allah Ta’ala berfirman:


وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ


“Dan rukuklah kalian bersama orang-orang yang rukuk.”


(QS. Al-Baqarah: 43)


Ayat ini nunjukin perintah buat sholat bareng-bareng, bukan sendiri-sendiri. Islam ngajarin kita buat ibadah dalam kebersamaan, persatuan, dan kesetaraan.


Allah juga berfirman:


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ


“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”


(QS. Al-Hujurat: 10)


Sholat berjama’ah tuh simbol nyata dari persaudaraan iman.


Dalil Hadis


Rasulullah ﷺ bersabda:


لَا صَلَاةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ


“Tidak sempurna sholat seseorang yang bertetangga dengan masjid kecuali di masjid.”


Dan beliau ﷺ juga bersabda:


صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ رَحْمَةٌ، وَهِيَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ


“Sholat berjama’ah adalah rahmat dan ia lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. Jama’ah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.”


Nah, hadis ini ngegas bahwa rahmat Allah turun pas kita bareng-bareng, sementara kalau pecah belah, bisa undang kesempitan dan siksa, baik di dunia apalagi nanti.


Hikmah & Motivasi


Sholat berjama’ah itu:


· Bisa hapus dosa-dosa kecil.

· Ngeboost iman.

· Bikin kita makin rendah hati.

· Ngilangin rasa sombong.

· Nyatuin hati yang beda-beda.


Pas lagi berdiri sejajar di shaf, nggak ada yang namanya kaya atau miskin, pejabat atau rakyat. Semua sama di hadapan Allah.


Nasihat Para Ulama & Sufi (Versi Santai)


· Hasan Al-Bashri: “Kalo njenengan liat orang ringan langkahnya ke masjid, yakin aja, imannya lagi on fire.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku ibadah bukan karena takut neraka atau ngarep surga, tapi karena cinta. Dan cinta tuh nemuin rumahnya di dalam jama’ah.”

· Abu Yazid al-Bistami: “Pengen kenal diri sendiri? Coba aja sholat berjama’ah, berdiri bareng hamba-hamba Allah yang lain.”

· Junaid al-Baghdadi: “Jalan menuju Allah itu rame, tapi yang sampe cuma mereka yang tetep solid sama jama’ahnya.”

· Al-Hallaj: “Pas aku keasyikan sama ‘Aku’-ku, jama’ah ngingetin kalo aku cuma hamba.”

· Imam Al-Ghazali: “Sholat berjama’ah itu nge-break ego, soalnya ego suka banget sendirian tanpa aturan.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan tinggalin jama’ah, soalnya tangan Allah itu selalu bareng jama’ah.”

· Jalaluddin Rumi: “Lilin nggak nyala sendirian; dia bersinar karena ada cahaya lain di sampingnya.”

· Ibnu ‘Arabi: “Di dalam jama’ah, keberadaan kita saling nyempurnain, dan rahmat Allah turun tanpa halangan.”

· Ahmad al-Tijani: “Siapa yang jaga sholat jama’ahnya, Allah yang bakal jagain hidup dan akhiratnya.”


Me Time (Muhasabah)


Yuk, tanya diri sendiri:


· Aku sering nunda-nunda sholat padahal masjid deket?

· Aku lebih sibuk sama urusan dunia daripada panggilan adzan?

· Aku milih nyaman sendiri daripada taat?

· Aku ngerasa cukup ibadah sendirian dan ngeremehin jama’ah?


Cara Muhasabah yang Asik


1. Diam bentar habis Isya, heningin diri.

2. Ingat-ingat lagi adzan yang dulu sempet diabaikan.

3. Bandingin, langkah ke dunia sama langkah ke masjid, mana yang lebih sering?

4. Bayangin kalo hari ini adalah sholat terakhir kita.

5. Niatin buat perbaikan, mulai dari sholat berikutnya.


Doa (Bahasaku ke-Njenengan)


Ya Allah, hidupin hati kami dengan sholat berjama’ah. Bikin langkah kami ringan buat menuju masjid-Mu. Satuin hati kami dalam ketaatan, Jauhkan kami dari pecah belah dan azab-Mu. Terimalah sholat kami,meski penuh kurangnya. Wafatkan kami dalam keadaan cinta sama jama’ah dan masjid-Mu. Aamiin ya Rabb.


Credits & Ucapan Terima Kasih


· Makasih Allah ﷻ yang masih panggil kita lewat adzan.

· Makasih Rasulullah ﷺ yang udah kasih contoh sholat berjama’ah sampe akhir hayat.

· Makasih para ulama dan orang shalih yang terus nyalain cahaya di jalan ini.


Semoga tulisan ini jadi pengingat yang baik, bukan buat nyalahin. Jadi ajakan santuy,bukan kritikan pedas. Dan jadi alasan kita buat makin ramein masjid lagi.


Penulis: ✍️M. Djoko Ekasanu.

.........

Saturday, December 27, 2025

884. Memberi Makan, Menanam Surga

 


Memberi Makan, Menanam Surga

Miatu hadisy syarifah

(Karya Syaikh Yusuf An-Nabhani) no. 38.

 اطعم مسلما جائعا, اطعمه الله من ثمار الجنة.  

Siapa yang memberi makan orang Muslim yang lapar, maka Allah memberinya makan dari buah-buahan surga.

........



Memberi Makan, Menanam Surga

Hadis Pokok

قال رسول الله ﷺ:

«أَطْعَمَ مُسْلِمًا جَائِعًا، أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ»

(Mi’atu Hadîts Syarîfah, no. 38)

“Siapa yang memberi makan seorang Muslim yang lapar, maka Allah akan memberinya makan dari buah-buahan surga.”

Pendahuluan: Amal Kecil, Balasan Kekal

Memberi makan orang lapar adalah amal yang terlihat sederhana, namun di sisi Allah nilainya melampaui bayangan manusia. Satu suapan yang kita berikan di dunia, Allah balas dengan jamuan abadi di surga. Amal ini bukan sekadar memberi makanan, tetapi memberi kehidupan, menghidupkan hati, dan menanam akhirat.

Dalil Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”

(QS. Al-Insan: 8)

Allah juga berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik?”

(QS. Al-Baqarah: 245)

Memberi makan orang lapar adalah pinjaman kepada Allah, dan Allah tidak pernah ingkar janji.

Hadis Pendukung

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai manusia, sebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”

(HR. Tirmidzi)

Memberi makan adalah jalan lurus menuju surga.

Hikmah Ruhani: Makanan untuk Tubuh dan Jiwa

Memberi makan orang lapar:

Mengenyangkan perut orang lain

Melembutkan hati pemberi

Menghapus dosa-dosa

Memadamkan api kesombongan

Menumbuhkan rasa diawasi Allah

Nasihat Para Ulama dan Ahlul Ma’rifah

Hasan Al-Bashri

“Sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan saat kita sendiri membutuhkan.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Aku memberi bukan karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena cinta kepada Allah.”

Abu Yazid al-Bistami

“Engkau belum mengenal Allah selama engkau masih kenyang dan tetanggamu lapar.”

Junaid al-Baghdadi

“Tasawuf bukan banyaknya ibadah, tetapi bersihnya hati saat bersama makhluk.”

Al-Hallaj

“Dalam memberi, lenyaplah aku dan tampaklah Dia.”

Imam Al-Ghazali

“Memberi makan adalah ibadah hati sebelum menjadi amal anggota badan.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Barangsiapa memberi makan orang lapar karena Allah, maka Allah akan menjamunya pada hari kiamat.”

Jalaluddin Rumi

“Jangan cari Tuhan di langit, Dia hadir di tangan yang memberi.”

Ibnu ‘Arabi

“Allah menampakkan diri-Nya dalam wajah orang yang membutuhkan.”

Ahmad al-Tijani

“Memberi makan orang lapar lebih cepat mengantarkan ke Allah daripada seribu wirid tanpa adab.”

Muhasabah: Bertanya pada Diri

Renungkan dengan jujur:

Apakah aku makan kenyang sementara orang di sekitarku kelaparan?

Apakah hartaku lebih banyak mengenyangkan nafsu atau menolong hamba Allah?

Apakah aku berharap jamuan surga, tetapi enggan menjamu orang lapar?

Cara Muhasabah Praktis

Setiap selesai makan, niatkan: “Ya Allah, jangan Engkau lupakan aku dari orang-orang yang memberi makan.”

Sisihkan makanan atau uang sebelum nafsu belanja muncul.

Biasakan memberi tanpa diketahui manusia.

Lihat orang lapar sebagai tamu Allah.

Doa

اللهم أطعمنا من ثمار الجنة كما أطعمتنا شرف خدمة عبادك

“Ya Allah, jamulah kami dengan buah-buahan surga sebagaimana Engkau muliakan kami dengan kesempatan melayani hamba-hamba-Mu.”

Ya Allah, lembutkan hati kami, lapangkan tangan kami, dan hidupkan ruh kepedulian dalam diri kami. Jangan Engkau jadikan kami hamba yang kenyang namun lalai.

Aamiin.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk merenungi sabda Nabi ﷺ. Semoga setiap suapan yang kita berikan menjadi cahaya di kubur, penolong di hari kiamat, dan sebab dijamu langsung oleh Allah di surga-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memberi, bukan hanya yang meminta.

........

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai (aksen suroboyoan).

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

( Gue diganti aku, lo diganti njenengan)

......

 nashaihul ibad 2/8.5

Tiga perkara yang mampu menghapus dosa: Pertama, menyempurnakan wudu dalam cuaca yang sangat dingin: Kedua, melangkahkan kaki ke mesjid guna melaksanakan salat: Ketiga, menanti di mesjid untuk melaksanakan salat atau menanti untuk melakukan kebaikan yang lain.

 nashaihul ibad 2/8.4

Tiga perkara yang menaikkan derajat: Pertama, mengucapkan salam antarmuslim, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Kedua, memberi makan kepada tamu dan orang yang lapar. Ketiga, salat Tahajud pada malam hari ketika orang lain tidur lelap.