Monday, December 29, 2025

 qotrul ghoits.


“Takdir Bukan Alasan untuk Bermaksiat”

Seorang ahli maksiat berkata,

“Apa yang aku lakukan ini sudah takdirku.”

Ucapan ini terdengar pasrah, namun sesungguhnya berbahaya. Karena ia menjadikan takdir sebagai tameng, bukan sebagai cermin untuk bertaubat.

1. Takdir Allah Bukan Alasan untuk Dosa

Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui segala sesuatu, dan Dia telah menuliskan takdir seluruh makhluk. Namun, Allah juga memberi manusia akal, kehendak, dan kemampuan memilih.

Allah berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan (yang benar), ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”

(QS. Al-Insān: 3)

Ayat ini menegaskan: jalan telah ditunjukkan, pilihan ada di tangan manusia, dan pertanggungjawaban pun mengikutinya.

2. Kaum Musyrik Juga Berlindung di Balik Takdir

Ucapan “ini takdir” untuk membenarkan dosa bukanlah hal baru. Allah telah membantahnya dalam Al-Qur’an:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا

“Orang-orang musyrik akan berkata: ‘Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan berbuat syirik.’”

(QS. Al-An‘ām: 148)

Lalu Allah menegaskan bahwa alasan itu tidak diterima, karena mereka berbuat tanpa ilmu dan tanpa ketaatan.

3. Rasulullah ﷺ Menolak Takdir Dijadikan Alasan Maksiat

Ketika para sahabat bertanya tentang takdir, Rasulullah ﷺ bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya: takdir tidak menggugurkan kewajiban beramal, justru menjadi dorongan untuk berbuat baik, bukan alasan bermalas-malasan atau bermaksiat.

4. Takdir Diketahui Setelah Terjadi, Bukan Sebelum Bermaksiat

Takdir Allah baru diketahui setelah terjadi, bukan sebelum berbuat.

Seseorang tidak pernah berkata sebelum bermaksiat:

“Aku tahu Allah menakdirkan aku berdosa hari ini.”

Namun setelah maksiat, ia berkata:

“Ini takdirku.”

Ini bukan pasrah, tetapi lari dari tanggung jawab.

5. Jika Takdir Jadi Alasan, Maka Perintah dan Larangan Gugur

Jika maksiat dibenarkan dengan takdir, maka:

Perintah shalat menjadi sia-sia

Larangan zina dan riba tidak bermakna

Surga dan neraka menjadi tidak adil

Padahal Allah berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Dan Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.”

(QS. Fussilat: 46)

Allah Maha Adil, dan tidak menghukum kecuali atas pilihan yang disengaja.

6. Takdir Seharusnya Membawa Takut, Bukan Berani Bermaksiat

Orang beriman jika ingat takdir, hatinya takut, bukan berani.

Ia berkata:

“Bagaimana jika ini adalah dosa terakhirku?”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…

“Sungguh seseorang bisa beramal dengan amalan ahli neraka…”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggetarkan hati, bukan untuk menenangkan maksiat.

7. Takdir adalah Rahasia Allah, Taubat adalah Pintu-Nya

Jika engkau jatuh dalam dosa, jangan berlindung pada takdir, tapi berlindunglah pada taubat.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya, jangan berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 53)

Penutup Muhasabah

Jika maksiat itu takdir,

mengapa taubat tidak engkau kejar sebagai takdir juga?

Jika dosa sudah tertulis,

rahmat Allah pun telah tertulis lebih dahulu.

Jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk jauh dari Allah,

tetapi jadikan takdir sebagai alasan untuk kembali kepada-Nya.

“Aku berdosa karena pilihanku, dan aku bertaubat karena rahmat-Mu, ya Allah.”

Semoga Allah menjaga kita dari pemahaman yang sesat tentang takdir,

dan memudahkan kita untuk memilih jalan taat hingga akhir hayat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

........

Takdir Bukan Tameng Buat Maksiat


Ada yang bilang gini, nih:


“Ini kan udah takdir gue, jadinya gue gak bisa apa-apa.”


Kata-kata ini keliatannya pasrah banget, tapi sebenernya bahaya, lho. Soalnya, takdir jadi tameng buat ngeles, bukan cermin buat introspeksi diri.


---


1. Takdir Bukan Alesan Buat "Ngaret"


Allah Maha Tahu segala hal, dan Dia udah nulis semua takdir. Tapi, jangan lupa, Allah juga kasih kita otak, keinginan, dan kemampuan milih.


Allah berfirman:


إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan (yang benar), ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”

(QS. Al-Insān: 3)


Intinya: jalan udah ditunjukin, pilihan ada di tangan kita, konsekuensinya juga tanggung jawab kita sendiri.


---


2. Dulu Juga Udah Ada yang Pakai Alasan Gitu


Kalimat “ini takdir” buat justify dosa itu gak baru. Allah udah klarifikasi di Qur’an:


سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا

“Orang-orang musyrik akan berkata: ‘Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan berbuat syirik.’”

(QS. Al-An‘ām: 148)


Allah tegaskan, alasan itu gak diterima, karena mereka berbuat tanpa ilmu dan tanpa niat taat.


---


3. Kata Rasulullah ﷺ, Gak Boleh Gitu


Pas para sahabat nanya tentang takdir, Rasulullah ﷺ bilang:


اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Artinya, takdir gak ngehapus kewajiban kita buat berusaha dan beramal. Malah harusnya jadi motivasi buat ngedepanin kebaikan, bukan buat santai-santai atau maksiat.


---


4. Takdir Baru Bisa Dipastikan Setelah Kejadian


Takdir itu rahasia Allah, bukan alesan buat booking dosa duluan.


Kan gak mungkin sebelum maksiat, kita mikir: “Oh,ini takdir gue buat dosa hari ini.”


Tapi setelah kejadian, baru bilang: “Ya sudahlah,ini kan takdir.”


Itu namanya cari aman, gak mau tanggung jawab.


---


5. Kalau Takdir Bisa Jadi Alasan, Ngapain Ada Aturan?


Kalo maksiat boleh pake alesan “takdir”, berarti:


· Perintah shalat jadi gak guna

· Larangan zina, korupsi, atau riba gak ada artinya

· Surga dan neraka jadi terasa gak adil


Padahal Allah bilang:


وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Dan Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.”

(QS. Fussilat: 46)


Allah Maha Adil. Gak mungkin Dia ngasih hukuman kalo kita gak pilih sendiri jalannya.


---


6. Ingat Takdir Harusnya Bikin Takut, Bukan Nekat


Orang beriman kalo ingat takdir, hatinya bakal deg-degan, bukan malah pede maksiat. Dia bakal mikir: “Gimana kalo ini dosa terakhir gue?”


Rasulullah ﷺ pernah bersabda:


إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…

“Sungguh seseorang bisa beramal dengan amalan ahli neraka…”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini bikin hati deg-degan, bukan bikin tenang buat lanjutin maksiat.


---


7. Takdir itu Rahasia, Taubat itu Pintunya


Kalo njenengan terjatuh dalam dosa, jangan blaming takdir. Cepat-cepat ambil taubat aja.


Allah berfirman:


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya, jangan berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 53)


---


Penutup: Yuk, Muhasabah!


Kalo maksiat itu dibilang “takdir”, kenapa taubat gak dikejar sebagai “takdir” juga?


Kalo dosa udah tertulis, rahmat Allah jauh lebih dulu tertulis.


Jangan jadikan takdir sebagai alasan buat jauh dari Allah. Tapi jadikan takdir sebagai alasan buat kembali ke-Nya.


“Aku berdosa karena pilihanku, dan aku bertaubat karena rahmat-Mu, ya Allah.”


Semoga Allah lindungi kita dari pemahaman takdir yang ngawur, dan mudahkan kita buat milih jalan taat sampe akhir hayat.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

No comments: