Wednesday, December 31, 2025

893. Maksiat Telinga di Zaman Kecanggihan: Menjaga Amanah Pendengaran



Maksiat Telinga.

Mendengarkan pembicaraan orang-orang yang sengaja dirahasiakan.

........

Maksiat Telinga di Zaman Kecanggihan: Menjaga Amanah Pendengaran

Mukadimah

Segala puji bagi Allah ﷻ yang menciptakan telinga bukan sekadar alat mendengar, tetapi amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban. Di zaman kecanggihan teknologi, telinga manusia diuji lebih berat dari zaman mana pun sebelumnya. Suara tidak lagi harus hadir secara fisik; ia menembus ruang lewat gawai, rekaman, CCTV audio, telepon, ruang digital, dan bisik-bisik dunia maya.

Padahal, dalam pandangan tasawuf, telinga adalah pintu hati. Apa yang masuk ke telinga, akan menetes ke qalbu.

Hakikat Maksiat Telinga

Salah satu maksiat telinga yang halus namun berat dosanya adalah:

Mendengarkan pembicaraan orang lain yang sengaja dirahasiakan, baik dengan menguping, menyadap, membaca pesan suara yang bukan haknya, atau menikmati bocoran yang seharusnya ditutup.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isrā’: 36)

Ayat ini menegaskan bahwa pendengaran bukan milik bebas, melainkan amanah yang kelak ditanya: untuk apa ia digunakan?

Dalam Cermin Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa menguping pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak suka didengar, maka pada hari kiamat akan dituangkan timah cair ke dalam telinganya.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini mengguncang hati para salik. Telinga yang menikmati rahasia orang lain di dunia, akan disiksa melalui telinga di akhirat.

Dalam tasawuf, ini disebut hukuman sesuai anggota maksiat (al-jazā’ min jinsil ‘amal).

Maksiat Telinga di Era Teknologi & Komunikasi

Di masa lalu, menguping harus mendekatkan telinga ke dinding.

Hari ini, cukup satu klik.

Mendengarkan voice note yang bukan hak kita

Menikmati rekaman percakapan rahasia

Membaca pesan yang tidak ditujukan kepada kita

Menyebarkan audio bocoran

Menjadi penikmat gosip digital

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membuka aibnya.”

(HR. Muslim)

Maka, telinga yang beriman akan menutup dirinya dari yang haram, meski dunia membukanya lebar-lebar.

Dalam Dunia Transportasi & Kehidupan Sosial

Di kendaraan umum, ruang tunggu, kafe, dan majelis:

Sering kita mendengar percakapan pribadi orang lain, lalu menikmatinya, menafsirkannya, bahkan menyimpannya dalam hati.

Padahal para sufi berkata:

“Orang yang sibuk dengan rahasia orang lain, akan lalai dari rahasia dirinya sendiri.”

Hati menjadi gelap bukan karena dosa besar saja, tetapi karena maksiat kecil yang terus dibiarkan.

Dalam Dunia Kedokteran & Profesionalisme

Dalam dunia medis dan profesional:

Mendengarkan rahasia pasien, klien, atau urusan pribadi tanpa hak adalah pengkhianatan amanah.

Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.”

(QS. Al-Anfāl: 27)

Tasawuf mengajarkan:

Amanah lahir dijaga dengan etika, amanah batin dijaga dengan taqwa.

Pandangan Tasawuf: Telinga Jalan Menuju Nur atau Zulmah

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:

“Setiap anggota tubuh memiliki ibadah dan maksiat. Ibadah telinga adalah mendengarkan kebenaran, dan maksiatnya adalah mendengarkan kebatilan.”

Mendengarkan rahasia orang lain:

Mematikan rasa malu

Menghitamkan hati

Menguatkan nafsu ingin tahu yang haram

Sedangkan menahan diri untuk tidak mendengar, itulah jihad batin.

Penutup: Jalan Selamat Bagi Telinga

Wahai hamba Allah…

Di zaman canggih ini, keselamatan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita dengar, tetapi pada seberapa banyak yang kita tahan untuk tidak didengar.

Allah ﷻ berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya.”

(QS. Asy-Syams: 9)

Membersihkan jiwa dimulai dari:

Menjaga telinga

Menutup pintu maksiat halus

Mengalihkan pendengaran kepada dzikir, Al-Qur’an, nasihat, dan kebenaran

Telinga yang dijaga akan menenangkan hati.

Hati yang tenang akan dekat dengan Allah.

“Ya Allah, sucikan pendengaran kami sebagaimana Engkau sucikan hati para kekasih-Mu.” 🤲

.........

Maksiat Telinga di Era Gadget: Jaga Amanah Dengaran Kita, Bro!


Pembuka


Bismillah dulu, ya! Puji syukur sama Allah ﷻ yang ngasih kita telinga. Ini bukan cuma tools buat dengerin musik atau podcast, loh. Ini amanah yang nanti bakal ditanya-tanya. Di zaman sekarang, ujian buat telinga tuh berat banget. Ga perlu deket-deket, suara bisa nyelinap lewat HP, voice note, CCTV audio, telepon, sampe gosip di grup chat.


Padahal, dalam insight tasawuf, telinga tuh pintunya hati. Apa yang kita denger, nempel di dalam qalbu.


Gimana Sih Bentuk Maksiat Telinga yang Kekinian?


Salah satu yang lowkey tapi dosanya gede banget:


Ngedengerin obrolan orang yang seharusnya privasi, baik dengan cara nguping, nyadap, buka voice note yang bukan hak kita, atau malah nikmatin leaked percakapan yang harusnya ditutup.


Allah ﷻ bilang:


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’: 36)


Ayat ini ngingetin kalo pendengaran kita itu titipan. Bukan hak mutlak buat dengerin semuanya. Nanti ditanya: buat apa lo pake kuping lo?


Dari Rasulullah ﷺ Juga Ada Tegasnya


Rasulullah ﷺ pernah ngedrop sabda yang bikin merinding:


“Barangsiapa menguping pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak suka didengar, maka pada hari kiamat akan dituangkan timah cair ke dalam telinganya.” (HR. Bukhari)


Ini serious banget, guys! Telinga yang seneng nyari-nyari rahasia orang di dunia, nanti di akhirat malah disiksa lewat telinga juga. Dalam tasawuf, ini namanya hukumannya match sama jenis maksiatnya.


Maksiat Telinga Zaman Now: Cuma Modal Klik


Dulu mau nguping harus nempel ke tembok. Sekarang? Cuma scroll dan tap.


· Buka voice note orang di WA yang bukan buat kita.

· Dengerin leaked rekaman percakapan rahasia.

· Baca chat atau status yang privat banget.

· Nyebarin audio bocoran.

· Jadi silent reader gosip digital.


Padahal Rasulullah ﷺ udah bilang:


“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membuka aibnya.” (HR. Muslim)


Jadi, telinga orang beriman tuh otomatis auto-close kalo ketemu yang haram, meski godaannya gede banget.


Di Angkot, Kafe, atau Ruang Tunggu


Pas lagi di transportasi umum atau nongkrong, kan sering kecebur overhear obrolan privat orang. Eh, malah asik dengerin, ngerumpiin, atau nyimpen di hati.


Padahal kata para sufi:


“Orang yang sibuk ngurusin rahasia orang lain, bakal lupa ngurusin rahasia dan aib dirinya sendiri.”


Hati jadi gelap nggak cuma karena dosa gede, tapi karena dosa-dosa kecil yang dianggep sepele dan dibiarin.


Di Dunia Kerja & Profesional


Dalam lingkup kerja, medis, atau profesional: dengerin rahasia pasien, klien, atau urusan pribadi orang tanpa izin itu namanya ngkhianatin kepercayaan.


Allah ﷻ ngingetin:


“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.” (QS. Al-Anfāl: 27)


Intinya: Amanah lahir dijaga pake etika kerja. Amanah batin dijaga pake taqwa dan niat baik.


Pandangan Tasawuf: Telinga Bisa Bawa ke Cahaya Atau Kegelapan


Kata Imam Al-Ghazali:


“Setiap anggota tubuh punya ibadah dan maksiatnya sendiri. Ibadahnya telinga ya dengerin yang bener. Maksiatnya ya dengerin yang batil.”


Ngedengerin rahasia orang itu efeknya:


· Matiin rasa malu

· Bikin hati gelap

· Nambahin rasa penasaran yang nggak sehat


Sebaliknya, nahan diri buat ga dengerin hal yang bukan hak kita, itu adalah jihad batin yang keren.


Penutup: Tips Selamatin Telinga di Era Digital


Wahai sahabatku…


Di zaman yang serba bisa denger ini, keselamatan kita justru terletak pada seberapa banyak hal yang bisa kita TAHAN untuk tidak didengerin.


Allah ﷻ bilang:


“Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)


Ngersihin jiwa itu dimulai dari:


1. Jagain telinga. Filter apa yang masuk.

2. Tutup pintu maksiat yang halus. Jangan dikasih akses.

3. Arahin pendengaran ke hal-hal yang nutrisi: dzikir, murojaah Qur’an, nasihat baik, atau content yang bermanfaat.


Telinga yang dijaga bikin hati tenang. Hati yang tenang bikin kita makin deket sama Allah.


“Ya Allah, bersihin pendengaran kami, kayak Engkau bersihin hati para kekasih-Mu.” 🤲🏻


---


Tetap santai, tapi tetap santun. Jaga aurat dan rahasia orang, itu keren banget, loh!

No comments: