Monday, November 10, 2025

820. Qalam Cahaya: Pena Takdir dan Cahaya Ilmu.

 




πŸ•Œ “Qalam Cahaya: Pena Takdir dan Cahaya Ilmu”

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Allah juga telah menciptakan Qalam (pena), yaitu Qalam dari cahaya, panjangnya seperti jarak antara langit dan bumi. Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, yang pertama Allah ciptakan adalah Qalam, kemudian Allah berfirman padanya: “tulislah”, lalu ia menjawab: “apa yang akan hamba tulis?”, Allah berfirman: “apa yang ada dan apa yang ada hingga hari kiamat, yang berupa perbuatan, ajal, rizki atau keburukan”, maka ia menulis terhadap apa yang ada hingga hari kiamat. Mujahid telah meriwayatkan sebuah hadits, yang pertama Allah ciptakan adalah Qalam, ia menulis apa yang ada hingga hari kiamat. Dan semua apa yang akan terjadi pada manusia atas suatu perkara benar-benar telah ditetapkan dari-Nya, inilah yang dimaksud dengan perkataan Mushannif, Allah juga telah memerintahkan keduanya untuk menulis perbuatan-perbuatan para hamba.


Ringkasan Redaksi Asli

Dari Ibnu Abbas r.a., disebutkan bahwa yang pertama Allah ciptakan adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya:

“Tulislah.”
Qalam berkata: “Apa yang akan hamba tulis?”
Allah berfirman: “Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat: amal perbuatan, rezeki, ajal, dan keburukan.”
Maka Qalam menulis semua ketetapan itu di Lauhul Mahfuzh. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Rasulullah ο·Ί, masyarakat Arab banyak mempertanyakan asal mula takdir dan bagaimana Allah menetapkan segala sesuatu. Rasulullah menegaskan bahwa sebelum penciptaan langit, bumi, bahkan sebelum waktu itu sendiri, Qalam telah menulis seluruh ketentuan kehidupan manusia. Hal ini untuk menanamkan keyakinan bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah, dan manusia hidup dalam kerangka takdir yang bijaksana.


Sebab Terjadinya Masalah

Kaum Qadariyah dan Jabariyah di masa awal Islam berbeda pendapat soal takdir: ada yang mengingkari adanya ketetapan Allah sebelumnya, ada pula yang menolak adanya kehendak manusia. Maka hadits Qalam datang sebagai penegasan akidah bahwa segala sesuatu tercatat dan Allah Maha Tahu, namun manusia tetap diuji dengan pilihan amal.


Intisari Judul

“Qalam Cahaya” melambangkan bahwa ilmu, takdir, dan wahyu bersumber dari satu cahaya yang sama — cahaya Ilahi. Pena menjadi simbol perintah pertama dalam wahyu: Iqra’ — membaca, menulis, dan menalar.


Tujuan dan Manfaat

  1. Menanamkan keyakinan kepada umat bahwa takdir adalah bagian dari rukun iman.
  2. Mendorong manusia untuk tetap berusaha, berilmu, dan berbuat baik, karena catatan Qalam tidak membatasi usaha, melainkan menuntun pada hikmah.
  3. Menghidupkan kesadaran bahwa pena dan ilmu adalah dua kekuatan yang dapat mengubah dunia dengan izin Allah.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits

πŸ“– Al-Qur’an:

“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq… Alladzi ‘allama bil-qalam.”
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… yang mengajar manusia dengan perantaraan pena.”
(QS. Al-‘Alaq: 1-4)

πŸ“œ Hadits:

“Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Qalam. Maka Allah berfirman kepadanya: tulislah! Ia menulis segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)


Analisis dan Argumentasi

Qalam bukan sekadar pena fisik, melainkan simbol kekuasaan dan ilmu Allah. Ia menulis bukan karena tinta, tapi karena cahaya.
Dalam ilmu kalam, ini menunjukkan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu (QS. Al-An’am: 59).
Dalam pandangan tasawuf, Qalam adalah perantara antara alam ketuhanan dan alam penciptaan — perintah “kun” (jadilah) yang diterjemahkan dalam bentuk tulisan takdir.


Keutamaan-keutamaan

  1. Meneguhkan iman kepada takdir.
  2. Menumbuhkan semangat menulis dan menuntut ilmu.
  3. Mengajarkan tawakal setelah ikhtiar.
  4. Menjadi landasan adab ilmu dan kebijaksanaan.

Relevansi dengan Zaman Modern

Dalam era teknologi, komunikasi, transportasi, kedokteran, dan sosial modern:

  • Qalam kini berubah wujud menjadi pena digital, AI, dan sistem catatan elektronik. Namun hakikatnya tetap sama: segala sesuatu tercatat.
  • Data manusia kini tersimpan dalam cloud digital, mengingatkan kita pada Lauhul Mahfuzh, tempat Allah mencatat seluruh takdir.
  • Dunia medis mencatat DNA, gen, dan masa hidup — tetapi ilmu Allah lebih luas dari itu.
  • Kecepatan komunikasi dan transportasi mengajarkan bahwa takdir dan ilmu saling beriringan: manusia boleh maju, tapi garis Allah tetap membimbing.

Hikmah

  • Allah ingin manusia memahami bahwa segala sesuatu memiliki catatan dan tujuan.
  • Pena Qalam mengajarkan kita untuk menulis kebaikan, bukan hanya dengan tangan, tapi juga dengan perbuatan.
  • Setiap langkah, posting, dan kata kita hari ini — bisa jadi “tulisan digital” yang akan dibaca di akhirat.

Muhasabah dan Caranya

  1. Merenung: “Apakah yang aku tulis hari ini akan aku banggakan di akhirat?”
  2. Menulis niat baik: Jadikan pena dan teknologi sebagai ladang pahala.
  3. Menjaga lisan dan jari: Karena keduanya menulis catatan amal kita.
  4. Berdoa sebelum menulis dan berbicara: agar yang tertulis membawa manfaat.

Doa

Allahumma aj‘al qalamana nura, wa kalimana shidqa, wa niyatana khalisha, wa ‘amalana saliha, wa akhiratana sa‘idah.
“Ya Allah, jadikan pena kami cahaya, kata kami benar, niat kami tulus, amal kami saleh, dan akhir hidup kami bahagia.”


Nasehat Para Sufi dan Ulama

πŸ•Š Hasan Al-Bashri:
“Takdir adalah rahasia Allah, jangan kamu sibuk menebaknya, sibuklah memperbaiki amalmu.”

🌸 Rabi‘ah al-Adawiyah:
“Cintai Allah bukan karena surga atau neraka, tapi karena Dia telah menulismu dalam cinta-Nya.”

πŸ”₯ Abu Yazid al-Bistami:
“Pena menulis amal, tapi cinta menghapus dosa.”

🌿 Junaid al-Baghdadi:
“Ilmu tanpa adab seperti pena tanpa tinta.”

πŸ•― Al-Hallaj:
“Pena takdir menulis rahasia yang tak terbaca oleh akal.”

πŸ“˜ Imam al-Ghazali:
“Ilmu yang tidak menuntun kepada Allah adalah tinta yang mengering tanpa makna.”

πŸŒ™ Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
“Percayalah kepada takdir, tapi jangan berhenti berusaha. Allah mencatat takdirmu, tapi Ia juga menulis langkahmu menuju-Nya.”

πŸ’« Jalaluddin Rumi:
“Qalam menulis di kertas, tapi hati menulis di langit.”

🌌 Ibnu ‘Arabi:
“Pena pertama adalah rahmat, tinta-Nya adalah ilmu, dan tulisan-Nya adalah wujud.”

🌼 Ahmad al-Tijani:
“Setiap huruf yang keluar dari lisan seorang salik adalah catatan antara dia dan Tuhannya.”


Testimoni Ulama Kontemporer

🩡 Gus Baha:
“Kalau Qalam menulis sebelum ada manusia, berarti ilmu mendahului amal. Maka jadilah orang berilmu sebelum banyak bicara.”

πŸ“š Ustadz Adi Hidayat:
“Qalam mengajarkan kita pentingnya ilmu. Karena Allah mengajarkan manusia lewat pena, bukan lewat pedang.”

πŸ’  Buya Yahya:
“Semua catatan amal kita akan dibuka. Maka jangan sampai Qalam mencatat hal yang membuat kita malu di hadapan Allah.”

🌀 Ustadz Abdul Somad:
“Qalam adalah simbol ilmu. Siapa yang menulis dan menebar ilmu, Allah tulis baginya pahala yang tidak terputus.”


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembimbing ruhani yang telah menyalakan cahaya pena di hati kami.
Semoga setiap huruf menjadi amal jariyah dan setiap pembaca menjadi bagian dari cahaya Qalam.


πŸ“– Penulis: M. Djoko Ekasanu
πŸ•Š Redaksi Koran Islami – Cahaya Pena & Hikmah Zaman


πŸ•Œ Qalam Cahaya: Pena Takdir & Ilmu Ilahi (Versi Chill & Santuy)


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Gambaran Singkat:


Allah SWT nih, bikin sesuatu yang keren banget: Qalam alias pena. Bukan pena biasa, tapi pena dari cahaya, panjangnya kayak jarak langit ke bumi. Gile, kan?


Dari Ibnu Abbas r.a., dikisahkan bahwa ciptaan pertama Allah tuh Qalam. Trus Allah bilang: "Tulislah." Si Qalam nanya: "Apa yang mau hamba tulis, ya Allah?" Allah jawab: "Tulislah semua yang bakal terjadi sampe kiamat: amal, rezeki, ajal, bahkan yang buruk sekalipun." Langsung deh, Qalam nulis semua takdir itu di Lauhul Mahfuzh. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)


Latar Belakang Zaman Dulu:


Pas jaman Rasulullah ο·Ί, banyak orang Arab yang penasaran banget: "Sebenernya gimana sih awal mula takdir? Gimana Allah ngatur semuanya?" Nah, hadits Qalam ini jadi jawabannya: sebelum apa-apa diciptain, Allah udah catat semuanya. Intinya, hidup kita udah ada skenarionya, tapi kita tetap punya peran buat jalanin ceritanya.


Kenapa Masalah Ini Muncul?


Dulu ada dua kelompok yang suka debat: Qadariyah (yang merasa manusia punya kuasa penuh) sama Jabariyah (yang merasa manusia cuma wayang). Qalam datang ngejelasin: "Tenang, semua udah tercatat, Allah Maha Tahu, tapi kalian tetap dikasih pilihan buat berusaha dan beramal."


Inti Judul:


"Qalam Cahaya" itu simbol bahwa ilmu, takdir, dan wahyu berasal dari cahaya yang sama—cahaya Ilahi. Pena juga ngingetin kita sama perintah pertama dalam wahyu: Iqra’—bacalah, tulislah, dan nalarlah.


Tujuannya Apa Sih?


· Ngingetin kita buat yakin sama takdir sebagai bagian dari iman.

· Ngajak kita buat tetap semangat berusaha, cari ilmu, dan berbuat baik—karena catatan Qalam bukan batasan, tapi petunjuk.

· Nyadarin kita bahwa pena dan ilmu itu power banget buat ngubah dunia, tentu dengan izin Allah.


Dasar Al-Qur’an & Hadits:


πŸ“– Al-Qur’an: "Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq… Alladzi ‘allama bil-qalam." Artinya:"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… yang mengajar manusia dengan perantaraan pena." (QS. Al-‘Alaq: 1-4)


πŸ“œ Hadits: "Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Qalam. Maka Allah berfirman kepadanya: tulislah! Ia menulis segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat."(HR. Ahmad dan Abu Dawud)


Analisis & Argumen:


Qalam itu bukan cuma pena biasa—dia simbol kekuasaan dan ilmu Allah. Nggak butuh tinta, karena dia tulis pake cahaya.

Dalam ilmu kalam, ini nunjukkin bahwa ilmu Allah nyangkup semuanya (QS. Al-An’am: 59).

Dalam tasawuf, Qalam itu perantara antara alam ketuhanan dan alam ciptaan—seperti perintah "kun" (jadilah!) yang diwujudin dalam bentuk tulisan takdir.


Keutamaannya:


· Bikin iman kita makin kuat.

· Bikin semangat buat nulis dan cari ilmu.

· Ngajarin kita buat tawakal setelah usaha.

· Jadi dasar adab dalam ilmu dan kehidupan.


Relevansi di Zaman Now:


Di era teknologi, medis, transportasi, dan media sosial kayak sekarang:


· Qalam sekarang bisa jadi bentuk pena digital, AI, atau data cloud. Tapi hakikatnya tetep sama: semua tercatat.

· Data kita tersimpan di cloud, ngangenin kita sama Lauhul Mahfuzh—tempat Allah nyatet semua takdir.

· Dunia medis udah bisa baca DNA dan gen, tapi ilmu Allah tetaplah yang paling luas.

· Kecepatan teknologi ngajarin kita: takdir dan ilmu jalan beriringan. Kita boleh maju, tapi Allah yang pegang kendali.


Hikmahnya Buat Kita:


· Allah pengen kita paham: segala sesuatu ada catatan dan tujuannya.

· Qalam ngajarin kita buat nulis kebaikan, bukan cuma di kertas, tapi juga lewat perbuatan.

· Setiap postingan, chat, atau story kita—bisa jadi "tulisan digital" yang bakal dibaca di akhirat. Hati-hati, ya!


Muhasabah Diri:


· Merenung: "Apa yang gue tulis/hari ini bakal bikin bangga di akhirat nanti?"

· Niatin buat nulis dan berkarya yang bermanfaat—jadikan pena & gadget sebagai ladang pahala.

· Jaga lisan & jari—karena keduanya ikut nentuin catatan amal kita.

· Jangan lupa baca doa sebelum nulis atau ngomong, biar yang keluar bermanfaat.


Doa Kekinian:


Allahumma aj‘al qalamana nura, wa kalimana shidqa, wa niyatana khalisha, wa ‘amalana saliha, wa akhiratana sa‘idah.

Artinya: "Ya Allah, jadikan pena kami cahaya, kata-kata kami benar, niat kami tulus, amal kami saleh, dan akhir hidup kami bahagia."


Kata-Kata Bijak Para Sufi & Ulama:


πŸ•Š Hasan Al-Bashri:

"Takdir itu rahasia Allah, jangan sibuk nebak-nebak. Mending fokus perbaiki amal."


🌸 Rabi‘ah al-Adawiyah:

"Cinta Allah itu nggak karena surga atau neraka—tapi karena Dia udah nulis kita dalam cinta-Nya."


πŸ”₯ Abu Yazid al-Bistami:

"Pena catat amal, tapi cinta bisa hapus dosa."


🌿 Junaid al-Baghdadi:

"Ilmu tanpa adab kayak pena tanpa tinta—nggak ada artinya."


πŸ•― Al-Hallaj:

"Pena takdir nulis rahasia yang nggak bisa dibaca akal."


πŸ“˜ Imam al-Ghazali:

"Ilmu yang nggak nuntun ke Allah itu kayak tinta kering—nggak ada maknanya."


πŸŒ™ Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

"Percaya sama takdir, tapi jangan berhenti berusaha. Allah catat takdirmu, tapi Dia juga nulis langkahmu menuju-Nya."


πŸ’« Jalaluddin Rumi:

"Qalam nulis di kertas, tapi hati nulis di langit."


🌌 Ibnu ‘Arabi:

"Pena pertama adalah rahmat, tintanya adalah ilmu, tulisannya adalah wujud."


🌼 Ahmad al-Tijani:

"Setiap kata yang keluar dari lisan orang beriman—itu catatan antara dia sama Tuhannya."


Testimoni Ulama Masa Kini:


🩡 Gus Baha:

"Kalau Qalam udah nulis sebelum manusia ada, artinya ilmu duluan daripada amal. Jadi, jadilah orang berilmu sebelum banyak bacot."


πŸ“š Ustadz Adi Hidayat:

"Qalam ngajarin pentingnya ilmu. Allah ajarin manusia lewat pena, bukan lewat pedang."


πŸ’  Buya Yahya:

"Semua catatan amal kita bakal dibuka. Jangan sampe Qalam catat hal yang bikin kita malu di depan Allah."


🌀 Ustadz Abdul Somad:

"Qalam itu simbol ilmu. Siapa yang nulis dan sebarkan ilmu, Allah tulis pahala yang nggak putus-putus."


Ucapan Terima Kasih:


Big thanks buat para guru, ulama, dan pembimbing yang udah nyalain cahaya pena di hati kita.

Semoga setiap huruf yang kita tulis jadi amal jariyah, dan setiap yang baca jadi bagian dari cahaya Qalam. Aamiin! πŸ™


πŸ“– Penulis: M. Djoko Ekasanu

πŸ•Š Redaksi Koran Islami – Cahaya Pena & Hikmah Zaman

Stay santuy, tetap semangat nulis kebaikan! ✨

No comments: