Monday, November 10, 2025

TAKDIR DAN KEPASRAHAN TOTAL.

 Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

“Jadilah seperti bola di hadapan tongkat takdir — tidak bergerak kecuali ketika Allah memukulmu.”

............


Berikut draf lengkap bacaan koran Islami yang bisa Anda gunakan — dengan format seperti artikel renungan atau kolom utama dalam koran Islami modern:


🕌 TAKDIR DAN KEPASRAHAN TOTAL

“Jadilah seperti bola di hadapan tongkat takdir — tidak bergerak kecuali ketika Allah memukulmu.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Penulis: M. Djoko Ekasanu


🔹 Ringkasan Redaksi Asli

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata,

“Kun ka al-kurati baina yaday ‘asâ al-qadari, lâ tataharroku illâ idzâ dharabaka.”
“Jadilah seperti bola di hadapan tongkat takdir — tidak bergerak kecuali ketika Allah memukulmu.”

Ungkapan ini menggambarkan maqam al-taslim wal tafwidh — tingkat kepasrahan tertinggi seorang hamba kepada kehendak Allah. Seseorang tidak mengandalkan kekuatan, kehendak, atau pikirannya sendiri, tetapi seluruh gerak hatinya tunduk di bawah kehendak Ilahi.


🔹 Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada abad ke-6 Hijriyah, dunia Islam dilanda krisis spiritual. Banyak orang sibuk memperdebatkan qadha dan qadar secara rasional, hingga melupakan inti dari takdir: penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani hidup di Baghdad — pusat ilmu dan juga pusat kemewahan dunia. Beliau melihat masyarakat banyak bergantung pada kekuasaan, harta, dan kedudukan. Maka beliau menyeru umat agar kembali kepada hakikat: menjadi bola di hadapan tongkat takdir, yakni tunduk tanpa penolakan terhadap kehendak Allah.


🔹 Sebab Terjadinya Masalah

Kebanyakan manusia menolak takdir karena tidak sesuai dengan keinginan dirinya. Mereka berusaha mengubah keadaan bukan dengan ikhtiar yang diridhai Allah, tetapi dengan keluh kesah dan marah kepada takdir.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan, bahwa takdir bukan untuk dilawan, tapi untuk dijalani dengan ikhlas dan cinta. Di situlah letak ketenangan hakiki.


🔹 Intisari Judul

“Bola di Hadapan Tongkat Takdir” adalah simbol ketaatan total. Hamba sejati tidak menentang perintah Allah, tidak mendahului kehendak-Nya, tidak mengeluh dalam cobaan, dan tidak sombong dalam nikmat.


🔹 Tujuan dan Manfaat

  • Menanamkan tauhid rububiyyah bahwa segala sesuatu terjadi karena izin Allah.
  • Melatih hati dalam ridha dan sabar.
  • Menumbuhkan akhlak pasrah tanpa menyerah.
  • Mendidik jiwa agar tidak sombong saat diberi dan tidak gelisah saat diuji.

🔹 Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Al-Qur’an:

“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami; Dia-lah pelindung kami.”
(QS. At-Taubah: 51)

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.”
(QS. At-Taghabun: 11)

2. Hadis Nabi ﷺ:

“Ketahuilah, apa yang ditetapkan untukmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan pernah ditetapkan untukmu.”
(HR. Tirmidzi)


🔹 Analisis dan Argumentasi

Konsep bola di hadapan tongkat bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru bola itu bergerak ketika dipukul, bukan berdiam diri tanpa arah. Artinya, manusia tetap berikhtiar, tetapi seluruh ikhtiarnya hanyalah gerak yang dipukul oleh kehendak Allah.
Itulah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, usaha dan ridha. Tanpa ikhtiar, manusia malas; tanpa tawakal, manusia sombong.


🔹 Keutamaan-keutamaannya

  1. Menumbuhkan ketenangan hati — tidak lagi panik terhadap masa depan.
  2. Mendatangkan ridha Allah karena hamba tunduk tanpa protes.
  3. Membuka jalan ma’rifat karena hati yang pasrah akan dibimbing langsung oleh Allah.
  4. Menghapus sifat sombong dan kufur nikmat.

🔹 Relevansi di Era Modern

Dalam dunia yang dikuasai teknologi, komunikasi, transportasi, dan kedokteran, manusia sering merasa berkuasa atas nasibnya.
Namun, pandemi, bencana alam, dan kerusakan sosial membuktikan: kendali tetap di tangan Allah.
Kecanggihan digital tidak bisa menulis ulang takdir — hanya Allah yang memiliki pena qalam-Nya.
Maka manusia modern perlu kembali menjadi “bola takdir” — bukan untuk menyerah, tetapi untuk sadar bahwa seluruh kekuatan berasal dari Allah.


🔹 Hikmah

  • Hidup ini bukan tentang seberapa kuat kita berlari, tapi seberapa tulus kita menerima arah pukulan takdir.
  • Kepasrahan bukan kelemahan, tapi puncak kekuatan spiritual.
  • Orang yang pasrah kepada Allah tidak pernah kalah — karena ia tidak lagi bergantung pada hasil.

🔹 Muhasabah dan Caranya

  1. Dzikir tiap pagi: “Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa Huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azim.”
  2. Shalat malam: untuk menyerahkan segala urusan.
  3. Melatih ridha: ucapkan Alhamdulillah dalam setiap keadaan.
  4. Menahan keluh kesah: ganti dengan doa dan sabar.

🔹 Doa

“Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang ridha atas ketentuan-Mu, sabar atas ujian-Mu, dan bersyukur atas nikmat-Mu. Jangan jadikan aku orang yang menolak pukulan takdir, tapi jadikan aku bola yang Engkau arahkan menuju keridhaan-Mu.”
Aamiin.


🔹 Nasihat Para Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Takdir adalah rahasia Allah, jangan sibuk menebaknya, sibuklah memperbaiki amalmu.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak takut neraka, tidak pula rindu surga — aku hanya ingin melihat Allah ridha padaku.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Aku keluar dari kehendakku sebagaimana ular keluar dari kulitnya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Hakikat takdir adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.”
  • Al-Hallaj: “Tidak ada aku, yang ada hanyalah Engkau.”
  • Imam al-Ghazali: “Ridha adalah puncak cinta seorang hamba.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Bila kau berserah, maka Allah yang mengaturmu.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ketika aku menyerah pada apa yang aku miliki, aku menjadi apa yang Allah kehendaki.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Takdir bukan musuhmu; ia adalah jalanmu menuju ma’rifat.”
  • Ahmad al-Tijani: “Ridhalah atas segala sesuatu, maka Allah ridha padamu.”

🔹 Daftar Pustaka

  1. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  2. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  3. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
  4. Maqamat al-Arifin – Al-Junaid
  5. Mathnawi – Jalaluddin Rumi
  6. Kitab al-Tawakkul – Al-Ghazali

🔹 Testimoni Ulama Zaman Kini

  • Gus Baha: “Kalau kita paham takdir, kita tidak akan sombong atas kesuksesan dan tidak stres dalam kegagalan.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Takdir bukan penjara, tapi petunjuk arah yang Allah buat untuk membawa kita pada takwa.”
  • Buya Yahya: “Ridha itu bukan setuju, tapi tidak marah dengan keputusan Allah.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Yang sabar dan ridha pada takdir, Allah catat sebagai orang yang dicintai-Nya.”

🔹 Ucapan Terima Kasih

Segala puji bagi Allah yang menggerakkan pena dan takdir. Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang terus menyalakan cahaya iman di tengah derasnya arus dunia modern. Semoga setiap pukulan takdir membawa kita lebih dekat kepada ridha Allah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Apakah Anda ingin saya bantu ubah naskah ini ke dalam format siap cetak koran (kolom dua, tajuk, dan foto ulama) — atau tetap dalam bentuk artikel majalah islami panjang seperti ini?


No comments: