Monday, November 10, 2025

821. HIDUP ASING DI ANTARA MANUSIA..

 




๐Ÿ•Š️ HIDUP ASING DI ANTARA MANUSIA

“Barangsiapa karena berbuat taat menjadi dekat kepada Allah, maka dia merasa asing hidup di tengah manusia.”
Penulis: M. Djoko Ekasanu


๐Ÿ”น Ringkasan Redaksi Asli

Ungkapan di atas adalah hikmah dari para ahli tasawuf terdahulu. Ia menggambarkan keadaan ruhani seseorang yang telah merasakan manisnya ketaatan dan kedekatan dengan Allah. Setelah mencapai maqam tersebut, dunia dan gemerlapnya tidak lagi menarik baginya. Ia merasa “asing” di tengah hiruk-pikuk manusia yang sibuk dengan urusan dunia.


๐Ÿ”น Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa tabi’in dan para sufi awal seperti Hasan al-Bashri, Rabi‘ah al-Adawiyah, dan Junaid al-Baghdadi, dunia Islam sedang mengalami kemajuan politik dan kemewahan materi. Banyak orang mulai terlena oleh kekuasaan dan harta, hingga muncul kelompok ahli ibadah yang lebih memilih hidup zuhud dan mendekat kepada Allah. Mereka menemukan ketenangan dalam ibadah, bukan dalam keramaian pasar dunia.


๐Ÿ”น Sebab Terjadinya Masalah

Masalah muncul ketika manusia lebih mencintai dunia daripada Penciptanya. Hati menjadi sibuk mengejar kesenangan duniawi—jabatan, popularitas, kekayaan, dan kemudahan hidup—sehingga lupa bahwa hakikat hidup adalah beribadah. Ketika seseorang mulai menapaki jalan ketaatan yang sejati, ia merasakan kontras antara ketenangan batin dan hiruk pikuk duniawi. Dari sinilah lahir rasa “terasing di tengah manusia”.


๐Ÿ”น Intisari Judul

“Hidup Asing di Antara Manusia” bukan berarti menjauh secara fisik, melainkan keadaan ruhani seseorang yang hatinya telah berpaling kepada Allah. Ia tetap hidup di tengah manusia, namun hatinya berlabuh pada Tuhan.


๐Ÿ”น Tujuan dan Manfaat

Tulisan ini bertujuan:

  1. Mengajak pembaca memahami makna kedekatan hakiki kepada Allah.
  2. Mengingatkan bahwa kenikmatan sejati bukan pada harta dan ketenaran, melainkan pada dzikir dan taqarrub kepada-Nya.
  3. Menumbuhkan kesadaran spiritual di tengah era modern yang serba cepat.

Manfaatnya adalah membentuk jiwa yang tenang, hati yang kuat, dan hidup yang bermakna.


๐Ÿ”น Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An‘am: 162)

Hadis:

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
“Islam itu datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
(HR. Muslim)


๐Ÿ”น Analisis dan Argumentasi

Orang yang mendekat kepada Allah memiliki pandangan hidup yang berbeda. Ia melihat dunia hanya sebagai ladang akhirat, bukan tujuan. Teknologi, komunikasi, transportasi, dan kemajuan medis kini memanjakan manusia, namun juga menjauhkan hati dari dzikir jika tidak disertai iman.

Dalam analisis sufistik, “keasingan” ini adalah tanda bahwa seseorang telah menembus lapisan dunia menuju maqam ma‘rifatullah — kesadaran bahwa hanya Allah yang menjadi tujuan segala perbuatan.

Mereka bukan membenci dunia, tetapi memandangnya dengan keseimbangan. Seperti kata Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, “Dunia itu kendaraan menuju akhirat; siapa yang menjadikannya tujuan, maka ia akan tersesat.”


๐Ÿ”น Keutamaan dan Nilai Ruhani

  1. Ditinggikan derajatnya di sisi Allah.
  2. Dihiasi dengan ketenangan batin.
  3. Dijauhkan dari fitnah dan kemunafikan.
  4. Mendapatkan rasa manis dalam ibadah yang tidak dirasakan oleh manusia biasa.
  5. Menjadi hamba yang hanya bergantung kepada Allah.

๐Ÿ”น Relevansi di Zaman Modern

  • Teknologi & Komunikasi: Di tengah dunia maya dan media sosial, seseorang yang menjaga dzikir akan merasa “asing” karena tidak tergoda untuk pamer atau viral.
  • Transportasi & Mobilitas: Manusia berpacu dengan waktu, sementara orang dekat Allah menikmati setiap detik sebagai ibadah.
  • Kedokteran & Sains: Ilmu terus maju, tapi hati yang tenang hanya diperoleh dengan iman.
  • Kehidupan Sosial: Ketika dunia sibuk membandingkan pencapaian, orang yang ma‘rifat sibuk memperbaiki niat.

๐Ÿ”น Hikmah

  1. Merasa asing bukan berarti anti-sosial, tapi tanda cinta yang murni kepada Allah.
  2. Semakin dekat dengan Allah, semakin tenang menghadapi dunia.
  3. Dunia hanyalah tempat singgah; akhirat adalah rumah abadi.

๐Ÿ”น Muhasabah dan Caranya

  • Perbanyak dzikir dan tafakkur.
  • Kurangi keluhan dan sibukkan diri dengan syukur.
  • Jauhi kesenangan yang melalaikan.
  • Pilih sahabat yang menuntun kepada kebaikan.
  • Menyepi sejenak setiap hari untuk menata hati.

๐Ÿ”น Doa

“Ya Allah, jadikanlah hati kami selalu rindu kepada-Mu, lapangkan dada kami dalam ketaatan kepada-Mu, dan jangan Engkau palingkan kami dari jalan-Mu setelah Engkau beri petunjuk kepada kami. Aamiin.”


๐Ÿ”น Nasehat Para Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Hati yang mencintai Allah tidak akan tenang sebelum berjumpa dengan-Nya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau ingin surga, tapi karena cinta kepada-Mu.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Aku mencari Tuhanku, lalu kutemukan diriku telah hilang dalam-Nya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Sufi adalah dia yang tidak dimiliki oleh apa pun selain Allah.”
  • Al-Hallaj: “Aku adalah rahasia cinta yang terbakar oleh api ma’rifat.”
  • Imam al-Ghazali: “Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Beramallah untuk Allah, bukan untuk pujian manusia.”
  • Jalaluddin Rumi: “Jangan menunggu dunia memahami jalan cintamu kepada Tuhan.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Cinta Ilahi adalah lautan tanpa tepi.”
  • Ahmad al-Tijani: “Zuhud bukan meninggalkan dunia, tapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.”

๐Ÿ”น Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Orang yang sudah merasakan lezatnya iman, tidak bisa ditukar dengan kenikmatan dunia mana pun.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Jika Allah sudah jadi tujuan, maka dunia hanya menjadi sarana.”
  • Buya Yahya: “Hidup terasa asing saat semua mengejar dunia, tapi itulah tanda Allah sedang menjaga hatimu.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Yang penting bukan panjang umur, tapi berkah umur karena dekat dengan Allah.”

๐Ÿ”น Daftar Pustaka

  1. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  2. Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi
  3. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  6. Masnawi – Jalaluddin Rumi
  7. Nashaihul ‘Ibad – Nawawi al-Bantani

๐Ÿ”น Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru ruhani, ulama, dan pembaca yang masih setia mencari Allah di tengah derasnya arus dunia. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang asing—yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.


๐Ÿ–‹️ Penulis:
M. Djoko Ekasanu
Pemerhati Tasawuf, Sosial dan Kemanusiaan.


Apakah Anda ingin saya buatkan versi layout korannya (tampilan seperti halaman berita dengan kolom, foto, dan heading islami) agar bisa langsung dicetak atau dibagikan ke jamaah masjid?

No comments: