Monday, February 9, 2026

948.

 kitab daqoiqul akhbar 

Bab 28 Panasnya Hari Kiamat.

Didalam hadits diceritakan: Ketika terjadi kiamat maka Allah Taala mengumpulkan makhluk yang pertama dan terakhir di dalam satu padang yang luas, dan matahari didekatkan di kepala para makhluk, panas matahari itu tambah dikuatkan pada hari kiamat kepada para makhluk, maka keluarlah binatang dari api seperti naungan (bayang-bayang). Kemudian ada pemanggil: “Hai golongan para makhluk, berangkatlah ke bayang-bayang (naungan) itu,” maka mereka semua berangkat, mereka menjadi tiga kelompok, kelompok pertama, adalah orang-orang mukmin, kelompok kedua, adalah orang-orang yang munafik dan kelompok ketiga, adalah orang-orang kafir.

Ketika para makhluk itu telah sampai pada bayang-bayang (naungan), maka menjadilah naungan itu menjadi tiga bagian: bagian pertama untuk panas. bagian kedua: untuk asap dan bagian ketiga: untuk nur.

Maka oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: 

“Pergilah kamu pada naungan yang mempunyai tiga cabang.” (QS. Al-Mursalat: 30)

Dan naungan yang panas itu berada di atas kepala orang Munafiq, karena sesungguhnya mereka itu sama memelihara panasnya di dalam dunia. Sebagaimana yang dikatakan kepada mereka (munafik).

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya), jikalau mereka mengetahui.” (QS. At-Taubah: 81)

Dan asap itu berada di atas kepalanya orang kafir, karena sesungguhnya sewaktu di dunia berada (di tempat) cahaya dan di akhirat dalam kegelapan. Maka demikianlah firman Allah Ta’ala:

“Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Sedangkan cahaya itu berada di atas kepalanya orang-orang mukmin, karena sesungguhnya mereka berada di dunia dalam kegelapan dan di akhirat berada di atas cahaya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Allah pelindung orang-orang yang beriman: Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dan firman Allah Ta’ala dalam mensifati orang mukmin di hari khiamat:

“(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya, itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Hadid: 12).

......

Baik, saya susun bacaan koran bernuansa Tasawuf (Tazkiyatun Nufūs)—mengalir, reflektif, dan mengajak pembaca bercermin—berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan kandungan Bab 28 Daqā’iqul Akhbār yang panjenengan kutip.


Di Bawah Matahari Kiamat: Siapa yang Mendapat Naungan?

(Renungan Tasawuf dari Daqā’iqul Akhbār Bab 28)

Pendahuluan

Hari Kiamat bukan sekadar peristiwa kosmik, tetapi pembongkaran hakikat jiwa manusia. Dalam Daqā’iqul Akhbār, digambarkan matahari didekatkan ke kepala makhluk, panasnya berlipat ganda, dan manusia dipanggil menuju satu “naungan” yang ternyata terbagi menjadi tiga: panas, asap, dan cahaya.
Tasawuf membaca peristiwa ini bukan hanya sebagai kejadian fisik, tetapi manifestasi batin manusia yang telah dipupuk sejak di dunia.


Analisis dan Argumentasi Tasawuf

1. Matahari Kiamat: Terbukanya Rahasia Batin

Dalam hadis sahih disebutkan:

“Matahari didekatkan kepada manusia pada hari kiamat, hingga jaraknya satu mil…”
(HR. Muslim)

Para sufi menjelaskan:
☀️ Matahari adalah simbol kasyf—terbukanya semua rahasia.
Tidak ada lagi topeng amal, pencitraan, atau kesalehan palsu. Yang tersisa hanyalah isi hati.


2. Tiga Naungan: Cerminan Jiwa Manusia

🔥 Naungan Panas – Munafik

Orang munafik mendapat panas karena:

  • Di dunia mereka menghindari pengorbanan
  • Mencintai kenyamanan, takut panas jihad, panas ujian, panas tanggung jawab

“Janganlah kamu berangkat (berperang) dalam panas terik ini.”
(QS. At-Taubah: 81)

Tasawuf menilai:
🔥 Panas dunia yang ditolak dengan iman, akan kembali sebagai panas akhirat.


🌫️ Naungan Asap – Kafir

Asap melambangkan:

  • Hati yang tertutup
  • Akal yang berfungsi, tetapi tanpa cahaya iman
  • Hidup dalam terang dunia, tetapi gelap makna

“Syaitan mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.”
(QS. Al-Baqarah: 257)

Dalam tasawuf:
🌫️ Asap adalah cahaya palsu—terlihat terang, tapi menyesakkan dan membutakan.


Naungan Cahaya – Mukmin

Cahaya di atas kepala mukmin adalah:

  • Buah iman
  • Hasil sabar, ikhlas, dan istiqamah
  • Nur yang dipupuk dengan dzikir dan taat

“Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.”
(QS. Al-Hadid: 12)

Para sufi berkata:
Siapa yang hidup dengan cahaya iman di dunia, akan berjalan dengan cahaya di akhirat.


Motivasi & Muhasabah

Pertanyaan untuk Jiwa

  • Saat hidup terasa panas oleh ujian, apakah kita lari atau bertahan?
  • Amal kita membuat hati terang atau berasap?
  • Dzikir kita menghidupkan jiwa atau hanya di lisan?

Cara Muhasabah Tasawuf

  1. Khalwat harian – 10 menit sebelum tidur
  2. Tanya hati:
    “Hari ini aku mencari ridha Allah atau ridha manusia?”
  3. Dzikir Nur:
    Allahumma aj‘al fī qalbī nūrā
  4. Amal tersembunyi – satu kebaikan tanpa diketahui siapa pun

Hikmah, Tujuan, dan Manfaat

Hikmah

  • Dunia adalah ladang cahaya
  • Setiap niat adalah benih naungan
  • Akhirat adalah panen hakikat

Tujuan

  • Membersihkan jiwa dari nifaq
  • Menghidupkan iman yang bercahaya
  • Menyiapkan diri menghadapi panas Kiamat

Manfaat

  • Hati lebih tenang
  • Amal lebih ikhlas
  • Tak takut mati, karena rindu cahaya

Kemuliaan dan Kehinaan di Empat Alam

Alam Mukmin Munafik Kafir
Dunia Tenang, meski sederhana Nyaman tapi gelisah Terang tapi kosong
Kubur Luas & bercahaya Sempit & panas Gelap & menekan
Kiamat Naungan cahaya Naungan panas Naungan asap
Akhirat Surga & ridha Allah Siksa & penyesalan Kekal dalam neraka

Doa

Allahumma ya Nūr,
jadikanlah iman kami cahaya,
amal kami naungan,
dan hati kami tempat turunnya rahmat-Mu.
Lindungilah kami dari panas nifaq,
dari asap kekafiran,
dan wafatkan kami dalam cahaya iman.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para ulama salaf yang telah mewariskan ilmu dan peringatan, khususnya melalui Daqā’iqul Akhbār, agar kita tidak lalai, tidak tertipu dunia, dan tidak buta terhadap akhirat.

Semoga tulisan ini menjadi cermin jiwa, bukan sekadar bacaan.
.........

# Under the Apocalypse Sun: Siapa yang Dapet Tempat Teduh?


(Renungan Sufi ala Daqā’iqul Akhbār Bab 28, versi santai)


Intro


Hari Kiamat itu nggak cuma event kosmik tajir, tapi lebih ke bongkar-bongkar jiwa kita. Di Daqā’iqul Akhbār, matahari digambarin dideketin banget ke kepala kita, panesnya nggak ketulungan, terus kita semua dipanggil nyari “tempat teduh”. Eh ternyata, tempat teduhnya ada tiga jenis: panes, asep, sama cahaya.


Buat para sufi, ini nggak cuma gambaran fisik doang, tapi cerminan banget dalamnya hati kita yang udah kita tanemin dari di dunia.


Analisis & Argumen Ala Sufi


1. Matahari Kiamat: Buka-Bukaan Rahasia Hati


Dalam hadis sahih disebutin:


“Matahari didekatkan kepada manusia pada hari kiamat, hingga jaraknya satu mil…”

(HR. Muslim)


Para sufi ngebahasnya gini:

☀️ Matahari itu simbol kasyf — semua rahasia hati kebuka. Nggak ada lagi embel-embel, pencitraan, atau kesalehan palsu. Yang keliatan bener-bener isi hati asli.


2. Tiga Tempat Teduh: Cermin Jiwa Kita


🔥 Teduhan Panes – Buat Si Munafik


Kenapa dapet yang panes? Soalnya:


· Di dunia, mereka nghindarin pengorbanan.

· Demen banget sama kenyamanan, takut sama “panes”-nya jihad, ujian, sama tanggung jawab.

· Kayak yang difirmanin: “Janganlah kamu berangkat (berperang) dalam panas terik ini.” (QS. At-Taubah: 81)


Gimana sufinya?

🔥 Panas dunia yang kita tolak pake iman, bakal balik jadi panas akhirat.


🌫️ Teduhan Asep – Buat Si Kafir


Asep ini ngegambarin:


· Hati yang tertutup rapat.

· Akal jalan, tapi nggak pake cahaya iman.

· Hidup keliatan terang di dunia, tapi dalemnya kosong gelap.

· “Syaitan mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.” (QS. Al-Baqarah: 257)


Gimana sufinya?

🌫️ Asep itu kayak cahaya palsu — keliatan terang, tapi bikin sesek dan buta makna.


✨ Teduhan Cahaya – Buat Si Mukmin


Cahaya di atas kepala orang beriman itu:


· Buah dari iman yang bener.

· Hasil dari sabar, ikhlas, dan istiqamah.

· Nur yang ditumbuhin lewat dzikir dan ketaatan.

· “Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadīd: 12)


Gimana sufinya?

✨ Siapa yang hidup pake cahaya iman di dunia, bakal jalan pake cahaya juga di akhirat.


Motivasi & Muhasabah Buat Kita


Pertanyaan Buat Hati Kita:


· Saat hidup lagi “panes” karena ujian, kita kabur atau bertahan?

· Amal kita bikin hati makin terang atau malah berasep?

· Dzikir kita nyala di hati atau cuma numpang lewat di bibir?


Cara Muhasabah Ala Sufi (Yang Bisa Dilakuin):


· “Me-time” religi — 10 menit sebelum tidur, tanya hati: “Hari ini gue cari ridho Allah atau ridho orang?”

· Dzikir cahaya: Allāhumma-j‘al fī qalbī nūrā (Yaa Allah, jadikanlah di hatiku cahaya).

· Amal rahasia — lakuin satu kebaikan kecil, yang orang lain nggak ada yang tau.


Hikmah, Tujuan, & Manfaatnya


Hikmah:


· Dunia itu ladang buat nurunin benih cahaya.

· Setiap niat baik itu benih buat teduhan nanti.

· Akhirat itu saat panen keadaan hati kita yang sebenernya.


Tujuannya:


· Bersihin jiwa dari sifat munafik.

· Nyalain iman yang bener-bener bercahaya.

· Siap-siap mental ngadepin “panas”-nya Kiamat.


Manfaat Buat Hidup Sekarang:


· Hati lebih adem dan tenang.

· Amal lebih ikhlas, nggak sekedar buat diliat.

· Nggak takut mati, karena udah rindu sama “cahaya”-Nya.


# Status & Nasib di Empat Tempat


Alam Si Mukmin Si Munafik Si Kafir

Dunia Tenang, meski hidup sederhana. Nyaman, tapi dalemnya gelisah. Keliatan terang, tapi kosong.

Kubur Luas & ada cahaya. Sempit & panas. Gelap & menyesakkan.

Kiamat Dapet teduhan cahaya. Dapet teduhan panas. Dapet teduhan asep.

Akhirat Surga & ridho Allah. Siksa & penyesalan tiada akhir. Kekal di neraka.


# Doa (Tetap Khusyuk, tapi Intinya Sama)


Allāhumma yā Nūr,

jadikanlah iman kami cahaya,

amal kami naungan,

dan hati kami tempat turunnya rahmat-Mu.

Lindungilah kami dari panas nifaq,

dari asap kekafiran,

dan wafatkan kami dalam cahaya iman.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


# Penutup & Thank You!


Big thanks buat para ulama zaman dulu yang udah warisin ilmu, khususnya lewat kitab Daqā’iqul Akhbār, biar kita nggak keasyikan dunia aja, nggak gampang ketipu, dan tetep melek soal akhirat.


Semoga renungan simpel ini bisa jadi cermin buat jiwa kita, bukan cuma bacaan doang yang lewat. Stay true, stay luminous! ✨

No comments: