Wednesday, November 26, 2025

Pelajaran Mendalam dari QS. Al-A‘rāf: 175–176 : Bahaya Ilmu Tanpa Amal :

 

Berikut naskah lengkap model “bacaan koran / artikel panjang siap terbit” tentang QS. Al-A‘rāf: 175–176, dengan seluruh elemen yang Anda minta. Bahasa disusun formal-populer khas koran, namun tetap bernuansa keilmuan dan tasawuf.


Bahaya Ilmu Tanpa Amal: Pelajaran Mendalam dari QS. Al-A‘rāf: 175–176

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli Ayat

QS. Al-A‘rāf: 175–176 menceritakan seseorang yang diberi ayat-ayat Allah, namun ia melepaskan diri dari kebenaran itu, mengikuti hawa nafsu, hingga akhirnya ia menjadi seperti anjing yang menjulurkan lidah, baik dihalau maupun dibiarkan.

Ayat ini menggambarkan seseorang yang memiliki ilmu, bahkan mencapai derajat tinggi, tetapi akhirnya tergelincir karena mencintai dunia.


Latar Belakang Masalah pada Zamannya

Mayoritas mufassir menyebut ayat ini merujuk pada seorang tokoh Bani Israil yang bernama Bal‘am bin Bā‘ūrā’. Ia adalah ahli ibadah dan ahli doa, dikabulkan doanya, tetapi:

  • Ia condong kepada dunia,
  • Mengikuti bujukan penguasa zalim,
  • Menjual agamanya demi kedudukan,
  • Hingga Allah mencabut kemuliaan ilmunya.

Ayat ini turun sebagai peringatan keras kepada umat Islam agar tidak mengulang tragedi moral para ulama terdahulu.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia yang menguasai hati
  2. Ilmu tanpa takwa
  3. Bergaul dengan penguasa zalim
  4. Kesombongan spiritual (merasa paling suci)
  5. Meninggalkan adab kepada Allah

Al-Ghazali menegaskan ini sebagai millah ulama su’—para pemilik ilmu yang dipakai untuk ambisi duniawi.


Intisari Judul

“Bahaya ilmu tanpa amal dan pentingnya penjagaan hati di tengah modernitas.”


Tujuan Penulisan

  1. Menghidupkan kembali makna QS. Al-A‘rāf: 175–176 dalam konteks umat hari ini.
  2. Memperingatkan bahaya hawa nafsu bagi ahli ilmu, aktivis dakwah, dan masyarakat umum.
  3. Memberi panduan muhasabah dan solusi spiritual.
  4. Menunjukkan relevansi ayat ini di era teknologi, transportasi cepat, dan komunikasi global.

Manfaat Artikel

  • Menjadi rujukan moral bagi pembaca umum.
  • Memperkuat spiritualitas di tengah kesibukan modern.
  • Menjadi bahan kajian majelis taklim, khutbah, dan pelajaran akhlak.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Dalil Al-Qur’an

  • QS. Al-Jumu‘ah: 5
    Umat terdahulu diumpamakan keledai yang membawa kitab—ilmu tidak mengubah akhlak.
  • QS. Muhammad: 24
    “Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”

2. Dalil Hadis

  • “Ilmu adalah hujjah untukmu atau hujjah atasmu.” (HR. Muslim)
  • “Yang paling aku takutkan pada umatku adalah alim yang jahat.” (HR. Darimi)
  • “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh.” (HR. Bukhari–Muslim)

Analisis dan Argumentasi

  1. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu bukanlah jaminan keselamatan.
    Yang menyelamatkan adalah amal, keikhlasan, dan penjagaan hati.

  2. Allah memakai perumpamaan anjing, karena hewan itu selalu menjulurkan lidah—tanda ketidakstabilan jiwa, selalu gelisah, tak pernah kenyang.

  3. Penyimpangan Bal‘am bukan karena kurang ilmu, tetapi karena nafsu menang atas ilmu.

  4. Kekuatan ayat ini universal — berlaku untuk ulama, pelajar, pendakwah, maupun profesional di era modern.


Relevansi Ayat dengan Teknologi, Komunikasi, Kedokteran, dan Sosial Modern

1. Di Era Teknologi dan Komunikasi

  • Ilmu tersebar cepat, tetapi adab dan kebijaksanaan tidak ikut bertambah.
  • Orang mudah menjadi “ulama instan” tanpa guru.
  • Godaan popularitas digital lebih kuat dari godaan dunia zaman Bal‘am.

2. Transportasi dan Mobilitas Tinggi

  • Kemudahan bepergian membuka peluang dakwah sekaligus kemudahan bermaksiat.
  • Banyak orang ke majelis ilmu, tetapi lebih banyak tergelincir oleh dunia.

3. Kedokteran dan Sains Modern

  • Kemajuan medis membuat manusia merasa seakan-akan tak butuh Allah.
  • Sains tanpa iman → kesombongan intelektual.

4. Kehidupan Sosial

  • Kompetisi sosial membuat orang mengejar jabatan dengan cara tidak halal.
  • Ayat ini mengingatkan: “Jangan jadi Bal‘am baru.”

Keutamaan-keutamaan yang Dapat Dipetik

  1. Ilmu tanpa taqwa adalah fitnah besar.
  2. Hati harus lebih dijaga daripada otak.
  3. Takutlah menjadi orang yang diberi ilmu lalu dilepaskan Allah.
  4. Menjauhi dunia bukan berarti miskin, tetapi tidak diperbudak dunia.

Hikmah

  • Hati adalah pusat perjalanan iman.
  • Nafsu yang dibiarkan akan memakan ilmu sedikit demi sedikit.
  • Kedudukan tidak selalu kebaikan; kadang hukuman.

Muhasabah dan Caranya

  1. Tanyakan setiap malam:
    “Apakah ilmuku hari ini mendekatkan aku pada Allah atau pada dunia?”
  2. Kurangi riya digital (posting ibadah/dakwah berlebihan).
  3. Fokus pada amalan hati: ikhlas, sabar, jujur, tawadhu’.
  4. Jauhi penguasa dan harta yang dapat merusak ruhani.
  5. Perbanyak dzikir: La haula wa la quwwata illa billah.

Doa

Allahumma inni a‘ūdzu bika min ‘ilmin lā yanfa‘, wa qalbin lā yakhsha‘, wa nafsin lā tashba‘, wa du‘ā’in lā yusma‘.
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah kenyang, dan doa yang tidak dikabulkan.)


Nasihat Para Ulama Sufi

  • Hasan al-Bashri:
    “Ilmu akan melawanmu jika engkau tidak mengamalkannya.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Bila cintamu pada dunia kuat, cintamu pada Allah lemah.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Musuh terbesar adalah nafsumu sendiri.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Tasawuf adalah mematikan nafsu dan menghidupkan hati.”

  • Al-Hallaj:
    “Yang menghalangimu dari Allah adalah dirimu.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Kerusakan agama datang dari dua: ulama su’ dan ahli ibadah jahil.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Bersihkan hatimu, maka ilmu akan menjadi cahaya.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Ilmu yang tidak membuatmu rendah hati adalah hijab.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Hati adalah cermin Tuhan; jagalah ia dari debu dunia.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Barang siapa menjaga adab, ia akan dijaga Allah dari su’ul khatimah.”


Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha’:
    “Ayat ini adalah peringatan bagi santri—jangan merasa aman karena banyak hafalan.”

  • Ustadz Adi Hidayat:
    “Ini ayat tentang konsistensi. Ilmu harus dijaga dengan amal.”

  • Ustadz Buya Yahya:
    “Jangan sampai Allah cabut hidayah karena mengkhianati ilmu.”

  • Ustadz Abdul Somad:
    “Bal‘am bin Ba'ura adalah contoh ilmuwan yang kalah oleh hawa nafsunya.”


Daftar Pustaka Singkat

  1. Tafsir Ibn Katsir
  2. Tafsir al-Tabari
  3. Tafsir al-Qurthubi
  4. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  5. Al-Risalah al-Qusyairiyah
  6. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  7. Majmu‘ah al-Khotbah – Syaikh A. Qadir al-Jailani
  8. Shahih Bukhari dan Muslim
  9. Siyar A‘lam al-Nubala’ – Adz-Dzahabi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh guru, ulama, dan pembaca yang senantiasa mencintai ilmu, menjaga adab, dan memohon keselamatan hati. Semoga Allah memberi kita kemuliaan khatimah dan menjauhkan kita dari jejak Bal‘am bin Bā‘ūrā’.


Jika Anda ingin, saya bisa buatkan versi layout koran, versi PDF, atau versi ceramah 10–20 menit dari artikel ini.

No comments: