Wednesday, November 26, 2025

BAHAYA ILMU TANPA AMAL: KETIKA CAHAYA MENJADI KEGELAPAN

 



BAHAYA ILMU TANPA AMAL: KETIKA CAHAYA MENJADI KEGELAPAN

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Keutamaan ilmu antara lain meninggikan derajat, mempermudah jalan menuju surga, melindungi dari kebodohan, meningkatkan iman dan amal, serta menjadikan seseorang bermanfaat bagi orang lain. Ilmu adalah warisan para nabi dan memberikan kebaikan yang terus mengalir bahkan setelah meninggal dunia.

tetapi bahayanya jika seseorang yang memiliki ilmu, bahkan mencapai derajat tinggi, jika tergelincir karena mencintai dunia.


Ringkasan Redaksi

Ilmu adalah anugerah terbesar setelah iman. Dengannya seseorang ditinggikan derajatnya, dimudahkan menuju surga, dan dijadikan penerang bagi masyarakat. Namun, sejarah umat terdahulu menunjukkan bahwa orang yang berilmu dapat jatuh pada kebinasaan ketika ilmu diperdagangkan demi dunia. Tulisan ini mengulas keutamaan ilmu dan bahaya cinta dunia bagi pemilik ilmu dengan merujuk Al-Qur’an, hadis, serta nasihat para ulama klasik dan sufi besar.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Sejak masa para nabi, persoalan yang paling sering muncul bukan pada orang bodoh, tetapi pada ulama suu’—orang alim yang menyimpang. Pada zaman Bani Israil, banyak pendeta yang mengetahui ayat-ayat Allah namun menjualnya demi kekuasaan. Pada masa Rasulullah ﷺ, muncul kaum munafik yang menguasai retorika dan teks tetapi menggunakan ilmu untuk memecah belah umat.

Sejak masa tabi‘in hingga era dinasti Abbasiyah, kecintaan kepada dunia (hubbud-dunya) selalu menjadi faktor kejatuhan ahli ilmu: cinta jabatan, syahwat popularitas, dan kerakusan terhadap harta wakaf.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia yang menguasai hati
    Ilmu seharusnya menerangi hati, tetapi kecintaan dunia memadamkannya.
  2. Menggunakan ilmu sebagai alat, bukan ibadah
    Ilmu dijadikan tangga sosial, bukan jalan menuju Allah.
  3. Kurang muhasabah dan riyadhah nafs
    Pemilik ilmu merasa aman dari dosa hanya karena status keilmuannya.
  4. Godaan kehormatan dan kekuasaan
    Semakin tinggi derajat ilmu, semakin besar pula fitnahnya.

Intisari Judul

Bahwa ilmu—meski memiliki keutamaan luar biasa—bisa berubah menjadi bahaya besar jika tidak diamalkan dan tidak dibersihkan dari cinta dunia.


Tujuan Tulisan

  1. Mengingatkan umat bahwa ilmu adalah amanah besar.
  2. Menjelaskan keutamaan ilmu menurut Qur’an dan hadis.
  3. Menunjukkan bahaya cinta dunia bagi pemilik ilmu.
  4. Mengaitkan pesan ini dengan kondisi kemajuan teknologi dan kehidupan modern.
  5. Menghadirkan nasihat para ulama besar sebagai pegangan.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Keutamaan Ilmu

  • Allah meninggikan orang berilmu beberapa derajat
    “Allah meninggikan orang-orang beriman dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādalah: 11)

  • Ilmu memudahkan jalan menuju surga
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

  • Ilmu mengalirkan amal jariyah
    “Apabila manusia mati maka terputus amalnya kecuali tiga… ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim)

2. Bahaya Ilmu Tanpa Amal

  • Laksana keledai yang membawa kitab
    “Perumpamaan orang yang diberi Taurat tetapi tidak mengamalkannya seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.” (QS. Al-Jumu‘ah: 5)

  • Manusia pertama yang diseret ke neraka adalah orang berilmu yang pamer
    (HR. Muslim)


Analisis, Argumentasi, dan Keutamaannya

1. Ilmu meninggikan martabat

Ulama adalah pewaris para nabi. Mereka memimpin masyarakat dengan akhlak dan pemahaman, bukan dengan kekuatan fisik.

2. Ilmu mempermudah jalan menuju surga

Karena ilmu meluruskan niat, ibadah, akhlak, dan amal.

3. Ilmu melindungi dari kebodohan dan kesesatan

Kemajuan teknologi tidak dapat menggantikan cahaya ilmu agama.

4. Ilmu menjadikan manusia bermanfaat

Semakin luas ilmu, semakin besar potensi manfaat yang diberikan.

5. Ilmu menjadi bahaya jika dicampuri cinta dunia

Orang alim yang tergelincir jauh lebih berbahaya daripada seribu orang bodoh, sebab kesalahannya diikuti masyarakat.


Relevansi dengan Era Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kedokteran, dan Sosial

  1. Teknologi:
    Dengan internet, informasi melimpah tetapi kebingungan meningkat. Hanya ilmu yang benar yang menuntun manusia memilah kebenaran.

  2. Komunikasi:
    Orang berilmu mudah populer. Jika tidak kuat iman, ia mudah tergoda menjadi selebritas bukan pendakwah.

  3. Transportasi:
    Kemudahan mobilitas membuka peluang dakwah, tetapi juga peluang maksiat bagi orang yang hatinya condong pada dunia.

  4. Kedokteran:
    Ilmu medis semakin maju, tetapi tanpa bimbingan ruhani, banyak ilmuwan terjebak pada kesombongan intelektual.

  5. Kehidupan sosial:
    Masyarakat lebih percaya pada pemilik gelar dan pendidikan. Jika mereka tergelincir, rusaklah banyak tatanan.


Hikmah

  • Ilmu adalah cahaya, tetapi cahaya bisa padam oleh hawa nafsu.
  • Orang berilmu lebih rawan tergelincir karena setan mendekatinya dengan pintu yang paling halus.
  • Orang yang paling tinggi ilmunya seharusnya paling dalam takut kepada Allah.

Muhasabah dan Caranya

  1. Menjaga niat setiap hari.
  2. Memperbanyak amal yang menundukkan hati (zikir, shalawat, sedekah).
  3. Menghindari cinta pujian.
  4. Bersahabat dengan orang saleh yang tidak mengagungkan kita.
  5. Menjaga kesendirian untuk muraqabah.
  6. Memperbanyak istighfar.

Doa

“Ya Allah, jadikanlah ilmu kami ilmu yang bermanfaat, jauhkan kami dari ilmu yang tidak diamalkan, dan bersihkan hati kami dari cinta dunia yang menyesatkan.”


Nasihat Para Tokoh Sufi Besar

  • Hasan al-Bashri:
    “Ilmu tidak ada artinya tanpa rasa takut kepada Allah.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Ilmu yang tidak mendekatkanmu kepada Allah hanyalah hijab yang lain.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Musuh terbesar bagi ahli ilmu adalah dirinya sendiri.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan.”

  • Al-Hallaj:
    “Yang menghinakan seorang alim adalah kecintaan pada dunia.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Bahaya terbesar bagi ulama adalah mencari dunia dengan ilmu.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Jangan jadikan ilmu sebagai tangga menuju dunia, jadikan ia tali menuju Allah.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Cahaya ilmu bisa menjadi api yang membakar bila tidak memasuki hati yang bersih.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Ilmu sejati adalah yang mengenalkanmu kepada kelemahanmu.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Ilmu tanpa adab tidak membawa kepada Allah.”


Testimoni Tokoh Indonesia

  • Gus Baha’:
    “Ilmu itu menuntun, bukan untuk pamer. Orang alim harus paling takut kepada Allah.”

  • Ustadz Adi Hidayat:
    “Ilmu tinggi tidak menjamin selamat jika tidak diamalkan.”

  • Buya Yahya:
    “Bahaya terbesar adalah ulama yang jatuh karena dunia.”

  • Ustadz Abdul Somad:
    “Yang penting bukan banyaknya ilmu, tapi sejauh mana ilmu itu diamalkan.”


Daftar Pustaka (Ringkas)

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih Muslim
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  4. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Ar-Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi
  6. Hikam – Ibnu ‘Athaillah
  7. Futuhat Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  8. Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua guru, ulama, dan pembimbing ruhani yang telah memberikan cahaya ilmu, serta pembaca yang terus mencintai ilmu sebagai jalan mendekat kepada Allah.


Jika Anda ingin saya susun dalam format koran kolom 2, versi PDF siap cetak, atau ingin menambahkan foto, ilustrasi, atau kaligrafi, tinggal beri tahu saja.

No comments: