Tuesday, October 14, 2025

KASIH SAYANG MALAIKAT KEPADA ORANG MUKMIN SAAT SAKARATUL MAUT. (2).

 


🌿 KASIH SAYANG MALAIKAT KEPADA ORANG MUKMIN SAAT SAKARATUL MAUT


Oleh: M. Djoko Ekasanu



Al-Faqih, Rasulullah  bersabda: “Bahwasanya orang mukmin dikunjungi malaikat yang memegang sutra berisi minyak kasturi (di waktu sakaratul maut), ia mencabut ruhnya sangat pelan, seperti mengambil rambut dari dalam adunan, seraya menyeru: “Hai jiwa yang tenang, pulanglah ke hadirat Tuhanmu dengan hati puas dan diridai Tuhan”. (A-Fajr 27-28) Pulanglah dengan rahmat dan rida Allah, ketika ruh keluar terus diletakkan pada minyak kasturi dan bunga-bunga, dibungkus sutra dan diunjukkan ke sorga ‘Illiyyin”.

(Al-Hadis) Hadis diriwayatkan Abu Ja’far dengan sanadnya Abdullah bin Umar ikatanya: Seorang mukmin ketika masuk kubur, menjadi luaslah kuburnya sampai 70 hasta, bunga-bunga harum bertaburan, sutra dihamparkan baginya, sedikit hafalan dari Alquran menjadi penerang baginya seperti cahaya matahari, layaknya seperti pengantin baru, tiada seorangpun yang berani membangunkan dari tidurnya kecuali sang kekasih (demikianlah nikmatnya).

-------


Baik. Berikut naskah “bacaan koran” yang bisa digunakan untuk artikel islami bergaya renungan dan dakwah berdasarkan hadis tentang kelembutan malaikat mencabut ruh orang mukmin dan nikmat kuburnya — disusun lengkap dengan struktur yang Anda minta.


Ringkasan Redaksi Asli Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang mukmin didatangi malaikat yang membawa sutra berisi minyak kasturi. Ruhnya dicabut dengan lembut, seperti rambut yang diambil dari adonan, sambil diseru: ‘Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diridai-Nya.’ (QS. Al-Fajr: 27–28). Ruh itu lalu dibungkus dengan sutra dan dibawa ke surga ‘Illiyyin.”

Hadis lain meriwayatkan: “Ketika seorang mukmin masuk ke kubur, dilapangkan baginya sejauh 70 hasta, dipenuhi bunga-bunga dan wewangian, diterangi oleh hafalannya dari Al-Qur’an, dan ia beristirahat seperti pengantin baru yang tidak dibangunkan kecuali oleh kekasihnya.”


Maksud dan Hakekat

Hadis ini menggambarkan rahmat dan kelembutan Allah kepada orang mukmin saat menghadapi kematian. Ruh tidak diambil dengan keras, tetapi dijemput dengan kasih sayang. Malaikat bukanlah sosok menakutkan bagi mereka yang hidup dalam iman, tetapi menjadi sahabat yang menenangkan di saat akhir perjalanan dunia.

Hakekatnya, kematian bukanlah akhir, melainkan peralihan menuju pertemuan dengan Kekasih sejati — Allah Ta’ala.


Tafsir dan Makna Judul

“Kasih Sayang Malaikat kepada Orang Mukmin” bermakna bahwa kematian bagi mukmin adalah rahmat yang indah, bukan penyiksaan. Malaikat yang turun bukan membawa ketakutan, melainkan membawa kabar gembira: “Selamat datang wahai jiwa yang tenang.”

Ayat yang menjadi dasar (QS. Al-Fajr: 27–30):

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Ayat ini menjadi salam penyambutan surgawi bagi ruh-ruh yang hidup dalam ketaatan.


Tujuan dan Manfaat

  1. Menanamkan rasa cinta kepada kematian bagi mukmin yang rindu bertemu Tuhannya.
  2. Mengingatkan bahwa amal dan zikir di dunia akan menjadi bunga dan cahaya kubur.
  3. Menghibur hati yang berduka atas kematian orang beriman.
  4. Mendorong setiap jiwa untuk menyiapkan kematian dengan amal saleh.

Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, banyak kaum yang takut terhadap kematian dan menganggapnya sebagai azab mutlak. Maka beliau menjelaskan bahwa bagi orang beriman, kematian adalah pintu menuju rahmat dan pertemuan dengan Allah.
Pesan ini menenangkan para sahabat agar tidak berduka ketika menghadapi ajal.


Intisari Masalah

  • Ruh orang mukmin dijemput dengan kelembutan.
  • Malaikat membawa wangi surga dan sutra.
  • Kubur menjadi taman dari taman-taman surga.
  • Hafalan Al-Qur’an menjadi cahaya penerang.
  • Mukmin beristirahat damai menunggu hari kebangkitan.

Sebab Terjadinya Masalah

Manusia sering lalai mempersiapkan kematian, menganggap dunia abadi. Maka Allah mengingatkan melalui Rasul-Nya bahwa kematian adalah kemuliaan bagi yang beriman dan kehinaan bagi yang durhaka.


Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. QS. Al-Fajr: 27–30 – tentang jiwa yang tenang.
  2. QS. An-Nahl: 32

    “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan: ‘Salam sejahtera atasmu, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.’”

  3. HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim:

    “Sesungguhnya ruh orang mukmin keluar dengan lembut sebagaimana setetes air keluar dari mulut tempat air.”


Analisis dan Argumentasi

Kelembutan malaikat mencabut ruh menunjukkan tingkat kemuliaan spiritual seorang mukmin. Semakin bersih hati seseorang dari cinta dunia, semakin mudah ruhnya keluar.
Sebaliknya, orang yang keras hatinya akan mengalami kesakitan sakaratul maut karena jiwanya masih terikat dengan dunia.
Dalam ilmu tasawuf, ini disebut takhallī (mengosongkan hati dari dunia) sebelum taḥallī (mengisinya dengan cinta Ilahi).


Relevansi Saat Ini

Di zaman modern yang penuh kesibukan dan kegelisahan, hadis ini mengajarkan ketenangan menghadapi kematian. Banyak orang takut mati karena belum siap.
Padahal, bagi yang berzikir, berbuat baik, dan menegakkan salat, kematian adalah perjumpaan penuh rindu dengan Sang Kekasih.
Ketenangan sakaratul maut adalah hasil dari ketenangan hidup di dunia.


Hikmah

  1. Kematian adalah awal dari kehidupan yang sejati.
  2. Ruh mukmin disambut dengan kelembutan dan harum surga.
  3. Amal saleh menjadi wangi di alam barzakh.
  4. Ketakutan akan mati sirna jika hati dipenuhi cinta Allah.

Muhasabah dan Caranya

  • Setiap malam: renungkan seandainya malam ini adalah malam terakhir hidup kita.
  • Setiap pagi: niatkan seluruh pekerjaan sebagai ibadah.
  • Setiap dosa: segera istighfar sebelum ajal menjemput.
  • Setiap zikir: hadirkan bayangan saat ruh dijemput lembut dengan kasturi surga.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَاتِمَتَنَا خَيْرًا، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَلاَ تَجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا إِلَّا شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ.

“Ya Allah, jadikanlah akhir kehidupan kami sebagai akhir yang baik. Anugerahkan kami husnul khatimah, dan jadikan kalimat terakhir di lisan kami kalimat tauhid: Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.


Nasihat Para Arif Billah

  • Hasan al-Bashri: “Dunia hanyalah mimpi, kematianlah yang membangunkanmu.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak takut mati, karena aku akan pulang kepada Kekasihku.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Kematian bagi kekasih Allah adalah seperti tidur dalam pelukan rahmat.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Bagi yang mengenal Allah, mati adalah pertemuan, bukan perpisahan.”
  • Al-Hallaj: “Mati syahid adalah fana dalam cinta.”
  • Imam al-Ghazali: “Kematian adalah hijrah menuju keabadian.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Matilah sebelum engkau mati, maka engkau akan hidup selamanya.”
  • Jalaluddin Rumi: “Kematian bukanlah akhir nyala lilin, melainkan permulaan cahaya.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Yang mati hanyalah bentuk, bukan hakikat.”
  • Ahmad al-Tijani: “Bersiaplah dengan zikir sebelum engkau dijemput malaikat maut.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Mustadrak al-Hakim.
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali.
  4. Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.
  5. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  6. Maqamat al-Sufiyyah – Junaid al-Baghdadi.
  7. Mathnawi – Jalaluddin Rumi.

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada para guru, pembimbing ruhani, dan seluruh pembaca yang terus mencintai ilmu dan zikir. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah yang menenangkan ruh-ruh kita saat dijemput dengan sutra dan kasturi surga.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan mudah dipahami, tapi tetap sopan dan menghormati makna spiritualnya.


---


🌿 Malaikat Bawa Bunga & Minyak Wangi Buat Kamu yang Beriman (Saat Sakaratul Maut)


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Gambaran Singkat (Versi Original):


Rasulullah ﷺ bilang: Pas orang beriman lagi sakaratul maut, datanglah malaikat bawa kain sutra isi minyak kasturi. Ruhnya dicabut pelan banget, kayak ambil sehelai rambut dari adonan tepung. Sambil dicabut, malaikat itu ngomong, “Hai jiwa yang tenang, pulanglah ke hadirat Tuhanmu dengan hati puas dan diridai Tuhan” (QS. Al-Fajr: 27-28). Terus ruhnya ditaro di minyak wangi dan bunga-bunga, dibungkus pake sutra, dan diajak jalan-jalan ke surga ‘Illiyyin.


Ada juga hadis lain yang bilang: Pas orang mukmin masuk kubur, kuburnya jadi luas banget—sampe 70 hasta! Isinya bunga-bunga harum dan kain sutra. Hafalan Al-Qur’an-nya jadi lampu penerang kayak cahaya matahari. Dia di sana istirahat nyenyak kayak pengantin baru, gak ada yang berani ganggu kecuali Sang Kekasih (Allah). Serius, senyaman itu!


---


Maksud & Intinya:


Intinya, buat orang yang imannya kuat, kematian itu bukan hal serem. Malah, itu kayak lagi dijemput sama sahabat baik yang bawa hadiah. Malaikat datengnya bukan bawa pentungan, tapi bawa sutra dan minyak wangi. Prosesnya lembut banget, karena mereka ngelayanin orang yang hatinya deket sama Allah.


Kematian bagi mukmin itu bukan akhir cerita, tapi awal ketemuan sama Sang Kekasih Sejati.


Judulnya “Kasih Sayang Malaikat” itu artinya: buat orang beriman, malaikat itu kayak delivery service-nya Allah yang bawa paket bahagia menuju surga.


Ayat Andalan: QS. Al-Fajr ayat 27-30 itu kayak pamflet sambutan dari surga: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”


Tujuannya Apa Sih?


· Biar kita gak takut mati, malah rindu ketemu Allah.

· Ngingetin kalo amal kita di dunia itu nanti jadi “bunga & lampu” di alam kubur.

· Ngasih semangat buat isi hidup dengan hal yang bermanfaat.

· Nghibur yang lagi sedih karena ditinggal orang shaleh.


Kenapa Dulu Rasulullah Cerita Ini?


Zaman dulu, banyak orang yang ngira mati itu serem dan menyiksa. Nah, Rasulullah mau kasih gambaran yang beda: buat orang beriman, meninggal itu ternyata indah. Ini bikin para sahabat tenang dan gak panik menghadapi ajal.


Inti Masalahnya:


· Orang beriman dijemput dengan cara yang premium.

· Malaikat bawa item surga (sutra & kasturi).

· Kubur jadi kayak private garden yang nyaman.

· Hafalan Qur’an = flashlight terang benderang.

· Mukmin tidur nyenyak nunggu hari kebangkitan.


Penyebabnya Sederhana:


Kita sering lupa kalo hidup cuma sementara. Dunia dianggapnya permanen, padahal cuma guest house. Makanya, Allah kasih reminder lewat Rasul-Nya: Siapin diri, karena kematian itu bisa jadi promo menuju surga.


Dasar Dalilnya:


· QS. Al-Fajr: 27-30 & QS. An-Nahl: 32.

· Hadis riwayat Ahmad, Abu Dawud, Hakim: “Ruh orang mukmin keluar lembut kayak setetes air yang jatuh dari mulut gelas.”


Analisis & Argumen:


Kalo ruhnya bisa keluar dengan mudah, itu tanda hatinya bersih. Semakin kita melekat sama dunia, semakin sakit dan berat proses sakaratul mautnya. Ini dalam tasawuf namanya takhallī—bersihin hati dari dunia—sebelum taḥallī—ngisi sama cinta Ilahi.


Relevansi Buat Kita Sekarang:


Di zaman yang serba cepat dan bikin stres, hadis ini kayak reminder healing. Banyak orang takut mati karena belum siap. Padahal, kalo hidupnya penuh zikir, salat, dan baik ke orang lain, kematian itu kayak reunion sama Yang Dirinduin.


Hikmah yang Bisa Diambil:


· Mati = awal hidup yang sebenernya.

· Amal shaleh = investasi wangi di akhirat.

· Rasa takut bisa ilang kalo hati udah penuh cinta Allah.


Muhasabah Ala Kekinian:


· Sebelum tidur: “Gimana kalo ini malem terakhir? Udah siap belum?”

· Pas bangun pagi: “Ayo, hari ini mau ngisi apa biar berarti?”

· Kalau bikin salah: “Istighfar dulu, jangan nunda-nunda!”

· Saat zikir: “Bayangin deh, nanti dijemputnya pake kasturi, wangiiii.”


Doa Singkat Biar Khusnul Khotimah:


“Ya Allah, akhirin hidup kami dengan baik. Kasih kami akhir yang husnul khatimah, dan jadikan kalimat terakhir kami: Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.”


Kata-Kata Motivasi Para Sufi (Versi Santai):


· Hasan al-Bashri: “Dunia tuh cuma mimpi, mati baru kebangun.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Gue sih gak takut mati, soalnya gue mau pulang ke Kekasih.”

· Abu Yazid al-Bistami: “Mati buat pecinta Allah tuh kayak tidur di pelukan-Nya.”

· Junaid al-Baghdadi: “Bagi yang kenal Allah, mati tuh ketemu, bukan pisah.”

· Al-Hallaj: “Mati syahid tuh ultimate proof cinta.”

· Imam al-Ghazali: “Mati tuh pindah rumah ke alam keabadian.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Matiin egomu sebelum lo beneran mati, nanti lo bakal hidup selamanya.”

· Jalaluddin Rumi: “Mati itu bukan api lilinnya yang padam, tapi sinarnya yang nyala abadi.”

· Ibnu ‘Arabi: “Yang mati cuma wadahnya, bukan esensinya.”

· Ahmad al-Tijani: “Siapin zikir dari sekarang, sebelum malaikat maut dateng.”


Daftar Pustaka (Tetap Kredibel):


· Al-Qur’an.

· Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Mustadrak al-Hakim.

· Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali.

· Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.

· Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

· Maqamat al-Sufiyyah – Junaid al-Baghdadi.

· Mathnawi – Jalaluddin Rumi.


Ucapan Terima Kasih:


Penulis ngucapin makasih buat semua guru, pembimbing, dan kalian yang udah baca sampe sini. Semoga tulisan ini bikin kita semua tenang dan siap pas dijemput malaikat dengan layanan bintang lima! Aamiin.

No comments: