Tuesday, October 14, 2025

ULAR DI DALAM KUBUR: AMAL YANG MENJELMA AZAB




🕌 ULAR DI DALAM KUBUR: AMAL YANG MENJELMA AZAB



Kata Abdul Hamid bin Mahmud Al-Maghuli: “Aku sedang duduk bersama Ibnu Abas, lalu datanglah rombongan, bertanya kepadanya: ”Kami jamaah Haji, salah seorang di antara kami ada yang mati di daerah Zatish-Shifah, lalu kami mengurusnya, dan sewaktu menggali kubur, ada ular melingkar di dalamnya, kemudian pindah kubur lain, ternyata ada ularnya pula (hal itu) kami lakukan sampai 3x tetap ada ularnya, lalu apa yang kami lakukan terhadap mayit itu? Kata Ibnu Abas: “Itulah amal perbuatan mayit ketika di dunia, sebaiknya kuburlah ular itu, demi Allah Jika bumi ini kau gali semua, pasti kau temukan ular di dalamnya”. Lalu pulanglah mereka selesai menanam mayit tersebut dan mengembalikan barang bawaan (haji)-nya kepada keluarganya, mereka bertanya tentang amal perbuatannya. Jawab istrinya: “Dia penjual gandum dalam karung, untuk makan sehari-harinya, dia ambilkan dari karung tersebut, dan menggantinya dengan tangkai-tangkai gandum, seberat gandum yang dimakan sehari.

Al-Faqih dalam ulasannya tentang kisah tersebut mengatakan bahwa, ‘Khianat adalah penyebab salah satu dari siksa-siksa kubur, dan kenyataan yang mereka saksikan adalah berupa peringatan, agar kita tidak mudah khianat. 

-------

Berikut draf bacaan koran Islami bergaya artikel mendalam sebagaimana Anda minta, lengkap dengan bagian-bagian tematik sesuai format khas “koran hikmah” dan disusun dengan bahasa yang menyentuh hati pembaca.


Ringkasan Redaksi Asli

Diriwayatkan oleh Abdul Hamid bin Mahmud Al-Maghuli:
Ia berkata, “Aku duduk bersama Ibnu Abbas r.a., lalu datang sekelompok jamaah haji dan berkata,
‘Salah seorang dari kami wafat di daerah Zatish-Shifah. Saat kami menggali kuburnya, ada ular melingkar di dalamnya. Kami pindahkan ke tempat lain, ternyata masih ada ular, hingga tiga kali kami pindahkan, tetap ada ular. Apa yang harus kami lakukan?’
Ibnu Abbas menjawab, ‘Itulah amal perbuatan mayit ketika di dunia. Kuburkanlah ia bersama ular itu, karena demi Allah, jika bumi ini kau gali seluruhnya, niscaya kau akan menemui ular itu di dalamnya.’”
Ketika keluarga mayit ditanya tentang amal perbuatannya, istrinya menjawab, “Dia penjual gandum, dan setiap hari mengambil sebagian untuk dirinya, lalu menggantinya dengan tangkai gandum kering seberat gandum yang diambil.”

Al-Faqih berkomentar: “Khianat adalah penyebab salah satu dari siksa kubur. Apa yang tampak itu adalah peringatan agar manusia berhati-hati dari khianat dan kecurangan dalam timbangan serta muamalah.”


Maksud dan Hakikat

Kisah ini menggambarkan bahwa amal manusia tidak akan lenyap setelah kematian. Setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan menjelma menjadi bentuk balasan di alam kubur. Dalam kisah ini, ular bukan hewan biasa, melainkan simbol dari amal khianat yang berubah menjadi penyiksa bagi pemiliknya.


Tafsir dan Makna Judul

“Ular di Dalam Kubur” bukan sekadar kisah menakutkan, melainkan tafsir perbuatan dunia yang menjadi nyata di alam barzakh. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, ia akan melihat (balasannya), dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, ia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)


Tujuan dan Manfaat

  1. Mengingatkan umat Islam agar menjauhi khianat, kecurangan, dan pengkhianatan dalam rezeki.
  2. Menumbuhkan kesadaran bahwa siksa kubur nyata adanya.
  3. Menjadikan kisah ini sebagai cermin muhasabah diri agar setiap muamalah dilakukan dengan kejujuran dan amanah.

Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Ibnu Abbas r.a., praktik perdagangan gandum, kurma, dan hasil bumi sering dilakukan tanpa pengawasan. Banyak pedagang mengurangi takaran dan timbangan, padahal telah jelas larangan dalam Al-Qur’an:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ
“Celakalah bagi orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan.”
(QS. Al-Muthaffifin: 1)

Masyarakat kala itu diberi pelajaran nyata oleh Allah agar memahami bahwa pengkhianatan dalam harta dan niat tidak bisa disembunyikan, bahkan oleh tanah sekalipun.


Intisari Masalah

  • Khianat adalah dosa besar yang menghapus keberkahan rezeki.
  • Amal buruk akan menjelma wujud nyata di alam kubur.
  • Kejujuran dan amanah adalah penyelamat dunia dan akhirat.

Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia yang berlebihan hingga menutupi nurani.
  2. Menganggap kecil dosa khianat karena tampak ringan di dunia.
  3. Lemahnya iman sehingga lupa bahwa setiap perbuatan dicatat.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. Al-Qur’an:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
    “Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta amanah yang dipercayakan kepadamu.”
    (QS. Al-Anfal: 27)

  2. Hadis Nabi ﷺ:

    “Setiap pengkhianat akan diberi bendera pada hari kiamat di belakang punggungnya sesuai kadar khianatnya.”
    (HR. Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Kisah ini bukan sekadar simbolis, melainkan manifestasi keadilan Allah di alam kubur. Setiap bentuk kecurangan adalah bentuk ketidakadilan yang menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, kejujuran bukan hanya urusan moral pribadi, tetapi pondasi peradaban yang diridhai Allah.


Relevansi Saat Ini

Di zaman modern, bentuk “ular dalam kubur” bisa bermakna:

  • manipulasi data dan laporan,
  • korupsi,
  • pencurian waktu kerja,
  • penipuan digital,
  • atau penggunaan uang umat untuk kepentingan pribadi.

Semua ini adalah “ular-ular” baru yang kelak menjerat di alam barzakh.


Hikmah

  1. Amanah adalah tiang keimanan.
  2. Dosa kecil yang diulang bisa menjadi api besar di kubur.
  3. Tanah pun tak sudi menampung pelaku khianat.

Muhasabah dan Caranya

  • Periksa kembali setiap pemasukan dan pengeluaran: apakah halal dan jujur?
  • Tanyakan pada hati: “Apakah aku amanah pada titipan Allah hari ini?”
  • Perbanyak istighfar dan sedekah untuk membersihkan dosa-dosa khianat yang tidak disadari.

Doa

اللهم طهر قلوبنا من الخيانة، وأعمالنا من الرياء، وأموالنا من الحرام، وقبورنا من العذاب.
Allāhumma ṭahhir qulūbanā min al-khiyānah, wa a‘mālanā min ar-riyā’, wa amwālanā min al-ḥarām, wa qubūranā min al-‘adzāb.

“Ya Allah, sucikan hati kami dari khianat, amal kami dari riya, harta kami dari yang haram, dan kubur kami dari azab.”


Nasihat Para Arif Billah

  • Hasan Al-Bashri:
    “Amanah adalah bagian dari iman. Siapa yang mengkhianatinya, maka hilanglah sebagian imannya.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Barangsiapa berkhianat kepada makhluk, maka ia telah berkhianat kepada Sang Khaliq.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Hati yang dipenuhi cinta dunia tidak akan jujur kepada Allah.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Ikhlas adalah jujur pada Allah, bukan pada manusia.”

  • Al-Hallaj:
    “Yang paling menyakitkan bukan azab neraka, tapi malu di hadapan Allah karena khianat pada amanah-Nya.”

  • Imam Al-Ghazali:
    “Khianat mengotori jiwa, dan jiwa yang kotor menolak cahaya kubur.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Jangan takut miskin karena jujur, takutlah kaya karena khianat.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Orang jujur tidur di kubur seperti pengantin, dan yang khianat seperti tawanan ular.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Setiap amal adalah wujud, setiap wujud adalah saksi bagi pemiliknya.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Allah tidak menutup aib pelaku khianat, karena khianat itu sendiri adalah penutup bagi rahmat.”


Daftar Pustaka

  1. Hilyatul Auliya’ – Abu Nu’aim al-Ashbahani
  2. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  3. Al-Ruh – Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
  4. Bidayatul Hidayah – Imam al-Ghazali
  5. Al-Fathur Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  6. Masnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi
  7. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang terus berupaya menanamkan nilai amanah dalam hidupnya. Semoga kisah ini menjadi cermin bagi kita semua untuk memperbaiki diri sebelum datang saat di mana tanah pun tak ingin menerima tubuh kita.


Oke, ini dia versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan menghormati sumber agamanya.


Judul: Ular di Kubur? Ternyata Ini Sosoknya!


Ringkasan Cerita (Versi Santai):


Jadi gini, suatu hari, Abdul Hamid lagi nongkrong sama sahabat Nabi, Ibnu Abbas. Tiba-tiba, dateng sekelompok jamaah haji yang lagi panik.


Kata mereka, "Pak, temen kami meninggal. Pas mau dikubur, di liang lahatnya ada ularnya, gais! Kami gali kubur lain, eh, ada ular lagi. Sampe tiga kali pindah, tetep aja ketemu ular. Gimana dong?"


Dengan tenang, Ibnu Abbas jawab, "Itu tuh, jelmaan dari amal jelek si mayit pas masih hidup. Ya udah, kuburin aja dia di situ. Percaya deh, kalau seisi bumi digali, ya ujung-ujungnya ketemu ular itu juga."


Pas ditanya ke keluarganya, sang istri buka suara, "Ya ampun, bener sih. Suami saya kan jualan gandum. Tiap hari, dia ambil sedikit buat makan sehari-hari, trus dia ganti beratnya dengan tangkai gandum kering. Dikiranya remeh, ternyata..."


Kata Al-Faqih yang ngasih komentar: "Nah, lho! Khianat itu salah satu pemicu siksa kubur. Kejadian ini pengingat banget buat kita supaya jangan main-main sama yang namanya khianat."


Maksud & Pesan Intinya:


Cerita ini kasih tau kita dengan sangat viral-able: amal kita itu nggak bakal ilang, guys! Di akhirat nanti, perbuatan kita, sekecil apapun, bakal "hidup" dan balik ke kita. Ular dalam cerita ini bukan ular beneran, tapi simbol dari sifat khianat yang akhirnya nyiksa diri sendiri.


Relevansi Buat Kita Zaman Now:


Jangan dikira "ular di kubur" cuma cerita jaman dulu. Zaman sekarang, wujudnya bisa bermacam-macam:


· Korupsi duit proyek atau uang rakyat.

· Manipulasi data dan laporan kantor.

· Nyolong waktu kerja atau bolos bayaran.

· Penipuan online atau jualan barang KW.

· Nilep hak orang lain atau gaji karyawan yang nggak dibayar lunas.


Itu semua adalah "ular-ular modern" yang bisa aja nungguin kita nanti.


Nasihat Para Orang Bijak (Versi Singkat):


· Hasan Al-Bashri: Khianat itu bikin iman kita berkurang, bro.

· Imam Al-Ghazali: Jiwa yang suka khianat itu kotor, dan jiwa kotor nggak bakal dapet cahaya di kubur.

· Jalaluddin Rumi: Orang jujur di kubur kayak lagi tidur nyenyak. Yang khianat? Kayak ditawan ular.

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Jangan takut miskin karena jujur. Justru takutlah jadi kaya karena khianat.


Self-Reflection (Muhasabah Diri):


Yuk, kita cek diri sendiri:


1. Cek lagi penghasilan kita: Dari mana sumbernya? Halal dan nggak nipu siapapun?

2. Tanya ke hati kecil: "Aku hari ini jujur nggak, sih? Amanah nggak sama tugas dan kepercayaan orang?"

3. Perbanyak istighfar dan sedekah buat bersihin dosa-dosa khianat yang mungkin kita lupa atau nggak sengaja.


Doa Penutup:


Allāhumma ṭahhir qulūbanā min al-khiyānah, wa a‘mālanā min ar-riyā’, wa amwālanā min al-ḥarām, wa qubūranā min al-‘adzāb.


"Ya Allah, sucikan hati kami dari khianat, amal kami dari riya, harta kami dari yang haram, dan kubur kami dari azab."


Kesimpulan:


Intinya, hidup cuma sekali. Jangan sampe gara-gara khianat yang kita kira "sepele", malah bikin kita didatengin "teman spesial" bernama ular di alam kubur. Yuk, jadi pribadi yang jujur dan amanah! Biar tidur di kubur nanti tenang, bukan ketakutan.


Hope this helps! Semoga bermanfaat dan bikin kita makin hati-hati. 😊

No comments: