Keutamaan Dermawan dan Kehinaan Orang Kikir
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Hai, Ali, orang yang senang mendermakan hartanya itu dekat dengan Allah, dekat dengan rahmat-Nya dan jauh dari siksa-Nya. Sedangkan orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya dan dekat pada siksa-Nya.
Hai, Ali, orang yang senang mendermakan hartanya itu dekat dengan Allah, dekat dengan rahmat-Nya dan jauh dari siksa-Nya. Sedangkan orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya dan dekat pada siksa-Nya.
Keterangan:
Ada riwayat menyebutkan: Bahwa Abdullah bin Al Mubarok pernah mampir ke kota Kufah dalam perjalanannya menuju Makkah untuk melakukan ibadah haji. Dalam perjalanan ini ia melihat seorang perempuan mencabuti bulu-bulu itik di tempat pembuangan sampah. Ia berhenti dan memperhatikannya. Ternyata, itik itu adalah bangkai. Ia lalu berkata: Hai, wanita, ini bangkai atau habis disembelih? Wanita itu menjawab: Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku. Abdullah bin Al-Mubarok berkata kepada wanita itu: Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bangkai, tapi di desa ini engkau memakannya. Si wanita itu berkata: Hai, Tuan, pergilah. Tetapi Abdullah bin Al-Mubarok terus mengingatkannya, hingga akhirnya wanita itu berkata: Sesungguhnya saya, dan anak-anak yang masih kecil sudah tiga hari kelaparan, karena saya tidak menemukan sesuatu yang dapat kami masak untuk mereka. Lalu ia pergi, dan tidak lama lagi kembali dengan menuntun keledai yang di atas punggungnya terdapat bahan makanan, pakaian dan perbekalan lainnya menuju tempat tinggal wanita tersebut. Ia mengetuk pintu rumah wanita fakir itu dan masuk ke dalamnya seraya berkata kepadanya: Ini adalah bahan makanan, pakaian dan masakan makanan, ambillah, keledai dan muatannya ini semuanya aku berikan kepadamu. Kemudian ia menetap di kota Kufah ini, tidak melanjutkan perjalanannya ke kota Makkah, karena musim haji sudah lewat. Lalu ia kembali pulang ke negerinya, ketika para Hujjaj sudah pada pulang. Orang-orang menyambut kedatangannya. Tetapi ia berkata kepada mereka, aku tidak melakukan haji tahun ini. Kemudian ada seorang laki-laki berkata: Subhanallah, bukankah aku telah menitipkan uangku dan kita berangkat bersama-sama, kemudian saya mengambilnya kembali di Arafah. Laki-laki lainnya berkata: Bukankah engkau yang memberi minuman di tempat ini? Lainnya lagi berkata: Hai, Abdullah bin Al-Mubarok, tidakkah engkau membeli ini dan itu kepadaku? Abdullah bin Al-Mubarok berkata kepadanya: Saya tidak mengerti apa yang mereka katakan. Saya tahun ini tidak melakukan ibadah haji.
Ketika malam hari tiba dan Abdullah bin Al-Mubarok tidur, maka ia bermimpi melihat ada seseorang berkata: Hai, Abdullah, sesungguhnya Allah swt. telah menerima sedekahmu dan Dia mengutus seorang malaikat yang menjelma seperti kamu ke Makkah untuk melakukan haji untukmu. (An-Nawadir: 98-99).
Ringkasan Redaksi Asli
Rasulullah ﷺ menasihati Sayyidina Ali r.a. bahwa orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan rahmat-Nya, dan jauh dari siksa-Nya. Sebaliknya, orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya, dan dekat dengan siksa-Nya. Pesan ini menegaskan bahwa nilai seseorang di sisi Allah tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari sejauh mana harta itu dimanfaatkan untuk kebaikan.
Kisah Abdullah bin Al-Mubarak di Kufah menggambarkan hakikat kedermawanan sejati: mendahulukan kebutuhan orang lapar daripada ibadah personal yang agung. Sedekah yang tulus mengantarkan pahala besar hingga Allah menerima amal tersebut dan menggantinya dengan kemuliaan yang tak terduga.
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada masa klasik Islam, kesenjangan sosial sudah nyata: ada yang berlebih harta, ada pula yang kelaparan hingga terpaksa memakan yang haram. Kikirnya orang kaya dan lemahnya solidaritas sosial menjadi sebab lahirnya penderitaan. Rasulullah ﷺ menanamkan akhlak dermawan sebagai solusi sosial dan spiritual.
Sebab Terjadinya Masalah
- Cinta dunia dan takut miskin.
- Lemahnya iman kepada janji Allah.
- Hilangnya empati sosial.
- Salah memahami konsep kepemilikan harta.
Intisari Judul
Derma adalah Jalan Dekat kepada Rahmat Allah, Kikir adalah Jalan Dekat kepada Azab-Nya.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan:
- Menumbuhkan kesadaran pentingnya kedermawanan.
- Membersihkan jiwa dari sifat bakhil.
Manfaat:
- Terwujudnya masyarakat yang saling menolong.
- Datangnya keberkahan hidup dan ketenangan batin.
Dalil Al-Qur’an
- “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai…” (QS. Al-Baqarah: 261)
- “Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Dalil Hadis
- “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)
- Hadis nasihat Rasulullah ﷺ kepada Ali r.a. tentang dermawan dan kikir.
Analisis dan Argumentasi
Dermawan adalah bukti tauhid praktis: yakin bahwa pemberi rezeki adalah Allah, bukan harta itu sendiri. Kikir adalah penyakit hati yang berakar pada syirik khafi—takut miskin lebih besar daripada percaya pada Allah.
Keutamaan dan Hukuman
Di Dunia
- Dermawan: dicintai manusia, hidup lapang.
- Kikir: dibenci, hidup sempit meski kaya.
Di Alam Kubur
- Dermawan: kubur dilapangkan.
- Kikir: kubur disempitkan oleh penyesalan.
Di Hari Kiamat
- Dermawan: dinaungi sedekahnya.
- Kikir: hartanya menjadi azab.
Di Akhirat
- Dermawan: dekat dengan surga.
- Kikir: dekat dengan neraka.
Relevansi Zaman Modern
Di era teknologi, komunikasi, transportasi, dan kedokteran yang maju, kedermawanan semakin mudah: transfer digital, donasi daring, wakaf produktif, dan bantuan medis. Namun kecanggihan ini juga melahirkan egoisme digital jika tidak dibarengi iman.
Hikmah
- Harta adalah amanah.
- Sedekah adalah investasi abadi.
- Menolong orang lapar lebih utama daripada ibadah sunnah tertentu.
Muhasabah dan Caranya
- Hitung nikmat yang diterima setiap hari.
- Sisihkan harta sebelum digunakan.
- Biasakan memberi meski sedikit.
Doa
Allahumma thahhir qulubana minal bukhl, wazayyin-ha bil jud wal karam, waj‘al ma a‘thaitana wasilatan li ridhaka.
Nasehat Para Ulama dan Sufi
- Hasan Al-Bashri: Dunia hanyalah titipan, bukan milik.
- Rabi‘ah al-Adawiyah: Cinta Allah mengalahkan cinta harta.
- Abu Yazid al-Bistami: Lepaskan milikmu, engkau akan sampai.
- Junaid al-Baghdadi: Sedekah adalah bukti kejujuran iman.
- Al-Hallaj: Memberi adalah fana’ dari ego.
- Imam Al-Ghazali: Bakhil adalah penyakit hati paling berbahaya.
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Orang bakhil terhalang dari ma’rifat.
- Jalaluddin Rumi: Harta seperti air, jika mengalir ia jernih.
- Ibnu ‘Arabi: Kepemilikan sejati adalah melepaskan.
- Ahmad al-Tijani: Sedekah membuka pintu rahasia Ilahi.
Testimoni Ulama Kontemporer
- Gus Baha: Sedekah itu logika iman, bukan logika rugi-laba.
- Ustadz Adi Hidayat: Derma mempercepat pertolongan Allah.
- Buya Yahya: Kikir adalah tanda hati belum kenal akhirat.
- Ustadz Abdul Somad: Sedekah menutup pintu musibah.
- Buya Arrazy Hasyim: Memberi melatih keikhlasan dan tawakal.
Catatan Redaksi
Sebagian kisah disajikan sebagai renungan. Jika terdapat unsur Israiliyat, ia tidak dijadikan dalil akidah atau hukum, melainkan pelajaran moral.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’anul Karim
- Shahih Muslim
- Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali
- An-Nawadir
- Kitab-kitab tasawuf klasik
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ, para ulama, dan seluruh pembaca yang berkenan mengambil hikmah. Semoga tulisan ini menjadi wasilah kebaikan dan amal jariyah. Aamiin.
......
Versi Santai & Gaul: Keutamaan Jadi Orang Dermawan vs Risiko Jadi Pelit
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Hai Ali, orang yang hobi berbagi itu deket banget sama Allah, dekat sama kasih sayang-Nya, dan aman dari siksa. Sebaliknya, orang yang pelit itu jauh dari Allah, jauh dari kebaikan-Nya, dan malah nyerempet-nyerempet bahaya.
---
Kisah Nyentrik: Abdullah bin Al-Mubarak vs Neneng Penjaga Itik
Suatu kali, Abdullah bin Al-Mubarak lagi dalam perjalanan haji ke Makkah, mampir dulu ke Kufah. Pas lagi jalan, dia liat ada perempuan lagi cabutin bulu itik di tempat sampah. Penasaran, dia datengin.
"Maaf, Bu. Itiknya habis disembelih atau… bangkai?" tanya Abdullah.
"Bangkai, Mas. Mau aku masak buat keluarga," jawabnya singkat.
Abdullah langsung kasih tahu: "Bu, bangkai itu haram, lho. Gak boleh dimakan."
Tapi si ibu cuma bilang, "Sudah, Mas, lanjutkan perjalanan saja."
Abdullah gak menyerah, sampe akhirnya ibu itu cerita: "Aku dan anak-anak udah tiga hari kelaparan. Gak ada yang bisa dimasak."
Abdullah langsung gerak cepat. Dia beli bahan makanan, baju, dan kebutuhan lain, naikin ke keledai, anterin ke rumah ibu itu.
"Ini buat Ibu dan anak-anak. Keledai sama barang-barangnya juga Ibu terima ya," kata Abdullah.
Karena udah telat musim haji, dia memutuskan gak lanjut ke Makkah. Pulang deh ke kampung halaman.
Pas sampai, teman-temannya pada nyamperin. "Wah, pulang haji nih!" kata mereka. Ada yang bilang, "Aku titip uang sama kamu kan?" Yang lain nambahin, "Kamu yang bagiin air minum di Arafah kan?"
Abdullah cuma geleng-geleng. "Aku tahun ini gak berangkat haji, guys. Beneran."
Malamnya, dia mimpi. Ada yang bilang, "Hei Abdullah, Allah udah terima sedekahmu. Dia ngirim malaikat yang mirip kamu buat ngegantiin haji kamu di Makkah." (Sumber: An-Nawadir, dikisahkan ulang dengan gaya santai).
---
Intisari Versi Gaul:
Rasulullah ﷺ pernah kasih nasihat ke Ali: orang yang royal berbagi itu dekat sama Allah dan selamat. Yang pelit? Jauh dari Allah dan bahaya. Intinya, nilai kita di mata Allah itu bukan seberapa banyak harta, tapi seberapa sering kita bagi ke yang butuh.
Kisah Abdullah bin Al-Mubarak tuh contoh nyata: bantu orang kelaparan bisa lebih utama daripada ibadah pribadi yang udah direncanakan. Sedekah yang ikhlas bisa digantiin Allah dengan cara yang gak nyangka.
---
Latar Belakang Zaman Dulu vs Sekarang:
Dulu aja udah ada yang super kaya dan yang sampai kelaparan. Pelitnya orang mampu bikin yang miskin makin susah. Makanya Rasulullah ﷺ tekankan pentingnya jiwa sosial.
Sekarang? Masih mirip. Bedanya, teknologi bikin kita lebih gampang buat berbagi — transfer online, donasi digital, wakaf lewat aplikasi. Tapi, kemajuan ini juga bikin orang makin individualistis kalo gak diimbangi sama hati yang peka.
---
Akar Masalah Kenapa Orang Pelit:
1. Takut miskin & cinta dunia berlebihan.
2. Kurang percaya sama jaminan rezeki dari Allah.
3. Empati lagi turun.
4. Salah paham, ngira harta itu sepenuhnya milik kita.
---
Gist-nya:
Jadi dermawan = jalan cepat buat dekat sama rahmat Allah.
Jadi pelit = jalan cepat menuju masalah.
---
Tujuannya:
· Ngingetin kita buat rajin berbagi.
· Ngebersihin hati dari sifat pelit.
Manfaatnya:
· Lingkungan jadi lebih saling bantu.
· Hidup terasa lebih berkah dan tenang.
---
Dasar Kitab Suci (Tetap Pakai Bahasa Asli & Terjemahan Resmi):
Dari Al-Qur'an:
"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai…" (QS. Al-Baqarah: 261)
"Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)
Dari Hadis:
"Harta tidak akan berkurang karena sedekah." (HR. Muslim)
---
Analisis Singkat:
Jadi dermawan itu bukti kita percaya sama Allah sebagai pemberi rezeki. Jadi pelit itu tanda kita lebih takut kehilangan harta daripada percaya sama jaminan Allah.
---
Konsekuensinya:
· Di Dunia: Yang dermawan disenangi, hidup lapang. Yang pelit dibenci, hidup serba sempit meski tajir.
· Di Alam Kubur: Yang dermawan kuburnya lapang. Yang pelit disempitin penyesalan.
· Di Akhirat: Yang dermawan dekat sama surga. Yang pelit dekat sama neraka.
---
Relevansi Buat Kita (Gen Z/Milenial):
Sekarang berbagi gampang banget: donasi online, galang dana buat korban bencana, bagi makanan lewat aplikasi. Tapi, medsos juga bikin kita kadang lupa sama tetangga yang kelaparan. Intinya, teknologi harus dipake buat perbanyak kebaikan, bukan cuma buat pamer atau sibuk sendiri.
---
Hikmah yang Bisa Diambil:
· Harta cuma titipan.
· Sedekah itu investasi akhirat.
· Nolong orang yang lagi kesusahan kadang lebih utama daripada ibadah tambahan buat diri sendiri.
---
Tips Simpel Buat Mulai:
1. Hitung nikmat harian: Sadar betapa banyak yang udah kita dapet.
2. Sisihin duit di awal: Pas dapet rezeki, langsung pisihin sebagian buat sedekah.
3. Biasakan berbagi, sekecil apapun: Gak perlu nunggu kaya raya.
---
Doa Singkat (Bisa Diamin-in):
"Ya Allah, bersihin hati kami dari sifat pelit, hiasi dengan kedermawanan, dan jadikan apa yang kami beri jadi jalan buat dapet ridho-Mu."
---
Kata-kata Bijak Para Tokoh (Versi Singkat):
· Hasan Al-Bashri: Dunia cuma titipan.
· Rabi‘ah al-Adawiyah: Cinta Allah harus lebih besar dari cinta harta.
· Imam Al-Ghazali: Pelit itu penyakit hati yang berbahaya.
· Jalaluddin Rumi: Harta kaya air, kalo disimpan bikin keruh, kalo dialirkan jernih.
· Gus Baha (masa kini): Sedekah itu logika iman, bukan logika dagang.
· Ustadz Adi Hidayat: Banyak berbagi mempercepat pertolongan Allah.
---
Note dari Penulis:
Beberapa kisah diambil buat bahan renungan aja. Kalo ada cerita yang sumbernya dari riwayat Israiliyat, itu bukan buat dalil agama, tapi cuma ambil pelajaran moralnya aja.
---
Credits & Ucapan Terima Kasih:
Syukur alhamdulillah sama Allah ﷻ, Nabi Muhammad ﷺ, para ulama, dan kalian semua yang baca. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan jadi amal jariyah. Aamiin.
Referensi utama: Al-Qur'an, Shahih Muslim, Ihya' Ulumuddin, An-Nawadir, & kitab tasawuf lainnya.

No comments:
Post a Comment