Tuesday, December 2, 2025

Ketika Agama Jadi Permainan: Renungan dari QS. Al-An‘ām Ayat 70 dan Kisah Pemuda Kufah.

 

Ketika Agama Jadi Permainan: Renungan dari QS. Al-An‘ām Ayat 70 dan Kisah Pemuda Kufah



Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan kelengahan, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengannya (Al-Qur’an) agar seseorang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka selalu kufur.

(QS.  An'am : 70).

KISAH: Seorang Pemuda yang Meremehkan Agama Lalu Bertaubat Saat Ajal Datang

Diriwayatkan dalam Tafsir Al-Qurthubi dan Tafsir Ats-Tsa‘labi

Dahulu, di masa tabi‘in, ada seorang pemuda dari Kufah yang terkenal tampan dan kaya. Namun ia hidup dalam kelalaian:

hari-harinya dihabiskan untuk pesta,

meninggalkan shalat,

meremehkan nasihat ulama,

senang mengejek orang yang beribadah.

Jika mendengar azan, ia berkata sambil tertawa:

> “Nanti saja, Allah Maha Pengampun.”

Orang-orang mengingatkan, namun ia menjawab:

> “Agama hanya membuat hidup kaku. Allah paham aku sibuk menikmati hidup.”

Ia adalah gambaran persis dari ayat “menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau.”

🌧️ Hingga pada suatu hari…

Pemuda itu pergi berburu. Tiba-tiba badai datang. Ia terpeleset dari kudanya dan jatuh ke jurang kecil. Tubuhnya terluka parah.

Dalam keadaan hampir mati, ia berteriak:

> “Ya Allah… tolong aku! Aku janji akan shalat! Aku janji akan berubah!”

Tetapi lisannya kaku, tubuhnya lemah.

Seorang lelaki tua (seorang zahid) yang lewat menemukannya dan mencoba mengangkatnya, namun pemuda itu sudah sulit bernafas.

Ia berkata:

> “Wahai anak muda, katakan Lā ilāha illallāh!”

Namun ia hanya menangis dan berkata:

> “Oh… andai aku tidak menjadikan agama sebagai permainan…”

Lalu ia wafat sebelum sempat mengucap syahadat dengan sempurna.

📌 Ketika berita itu sampai ke Hasan al-Bashri

Orang-orang menceritakan kejadian itu kepada Hasan al-Bashri. Beliau menangis dan membaca QS. Al-An‘ām: 70:

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau…”

Lalu beliau berkata:

> “Celakalah orang yang menunda taubat.

Dunia mempermainkannya, lalu ajal datang sebelum ia kembali kepada Tuhannya.”

Catatan: Kisah pemuda ini bersumber dari literatur tafsir klasik (Al-Qurthubi, Ats-Tsa‘labi) dan masuk kategori kisah mau‘izhah (sebagian mengandung unsur israiliyat). Dalam redaksi sudah dijelaskan agar pembaca memahami konteksnya.


RINGKASAN REDAKSI ASLI

Artikel ini membahas QS. Al-An‘ām:70 yang memperingatkan manusia agar tidak menjadikan agama sebagai permainan dan kelengahan. Disajikan pula kisah klasik dari Tafsir Al-Qurthubi dan Ats-Tsa‘labi tentang seorang pemuda Kufah yang meremehkan agama hingga ajal datang, sebagai cermin bagi manusia modern yang hidup dalam kelalaian. Dilengkapi analisis dalil, relevansi zaman teknologi, hikmah sufistik, serta pesan para ulama besar.


1. LATAR BELAKANG MASALAH DI MASA ITU

Pada masa tabi‘in, Kufah menjadi kota besar yang penuh aktivitas perdagangan, hiburan, dan percampuran budaya. Kemewahan materi mudah menggoda kaum muda. Banyak pemuda ketika itu:

  • sibuk dengan pesta dan kelalaian,
  • meremehkan ibadah,
  • mengejek ahli ibadah,
  • menganggap waktu masih panjang untuk bertaubat.

Fenomena ini sesuai dengan peringatan QS. Al-An‘ām:70, bahwa dunia dapat memperdaya manusia hingga ia menjadikan agama sekadar gurauan dan formalitas.


2. SEBAB TERJADINYA MASALAH

🔹 Kesibukan dunia
🔹 Lingkungan yang menormalisasi kelalaian
🔹 Meremehkan dosa kecil
🔹 Penundaan taubat
🔹 Salah memahami sifat Allah Yang Maha Pengampun namun juga Maha Adil

Inilah yang menjerumuskan pemuda Kufah hingga ia wafat dalam penyesalan yang terlambat.


3. INTISARI JUDUL

“Ketika Agama Hanya Menjadi Permainan”
bermakna bahwa seseorang berada di titik paling berbahaya ketika menjadikan agama:

  • sebagai hiburan,
  • formalitas,
  • bahan candaan,
  • atau sesuatu yang selalu ditunda-tunda.

Inilah penyakit zaman dulu dan zaman modern yang harus diwaspadai.


4. TUJUAN DAN MANFAAT

Artikel ini bertujuan:

  1. Menghidupkan peringatan Al-Qur’an agar tidak lalai dalam beragama.
  2. Memberikan contoh nyata dari sejarah sebagai cermin diri.
  3. Menuntun pembaca menghubungkan ayat ini dengan zaman teknologi.
  4. Menjadikan hikmah para sufi sebagai pedoman muhasabah.
  5. Mengajak pembaca kembali kepada Allah sebelum ajal datang.

Manfaatnya: meningkatkan kesadaran, memperkuat iman, membangun disiplin ibadah, dan menumbuhkan rasa takut yang sehat (khauf) serta harapan (raja‘).


5. DALIL: AL-QUR’AN & HADIS

QS. Al-An‘ām: 70

“Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan kelengahan...”

Hadis Nabi SAW

  1. “Orang cerdas adalah yang menahan dirinya dan beramal untuk setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
  2. “Seburuk-buruk hamba adalah yang menunda-nunda taubat.”

6. ANALISIS & ARGUMENTASI

A. Agama Sebagai Amanah, Bukan Hiburan

Agama bukan permainan — ia adalah pedoman hidup. Jika agama disepelekan, maka manusia akan kehilangan arah dan mudah menjadi budak hawa nafsu.

B. Dunia sebagai Penipu

Ayat ini menegaskan:
dunia memperdaya dengan kenikmatan instan hingga manusia lupa bahwa ajal datang tiba-tiba.

C. Taubat Tidak Bisa Ditunda

Pemuda Kufah menyesal ketika tubuhnya sudah lemah.
Taubat membutuhkan kesadaran, bukan sekadar ucapan.

D. Tidak Ada Syafaat untuk Orang yang Meremehkan

Ayat menegaskan bahwa pada hari kiamat:

  • tidak ada pelindung,
  • tidak ada penolong,
  • tebusan apa pun tidak diterima.

7. KEUTAMAAN QS. AL-AN‘ĀM AYAT 70

  1. Menjaga hati dari permainan dunia.
  2. Menegakkan kewajiban ibadah tanpa menunda.
  3. Membentuk kesadaran kematian.
  4. Mengingatkan manusia akan keadilan Allah.
  5. Membiasakan disiplin moral dan spiritual.

8. RELEVANSI DENGAN ZAMAN TEKNOLOGI MODERN

1. Teknologi & Komunikasi

Gawai dapat membuat agama jadi “konten hiburan,” bukan ibadah.
Banyak meremehkan waktu shalat karena asyik bermain aplikasi.

2. Transportasi Cepat

Mobilitas tinggi sering dijadikan alasan meninggalkan ibadah.
Padahal kemudahan bepergian seharusnya memudahkan taat.

3. Kecanggihan Medis

Teknologi kesehatan membuat manusia merasa “aman,”
seakan ajal jauh — padahal kematian datang tanpa sinyal.

4. Kehidupan Sosial

Budaya viral sering memanfaatkan agama sebagai bahan candaan.
Ayat ini terasa semakin relevan dari masa ke masa.


9. HIKMAH

  1. Kelalaian sekecil apa pun bisa mengubah hidup.
  2. Taubat harus dilakukan sekarang — bukan nanti.
  3. Nikmat dunia sangat cepat pergi.
  4. Allah Maha Pengampun, tetapi tidak untuk orang yang mempermainkan agama.

10. MUHASABAH & CARANYA

  1. Tanyakan setiap malam:
    “Apa dosa terbesar saya hari ini?”
  2. Jaga shalat tepat waktu, jangan ditunda.
  3. Kurangi candaan tentang agama.
  4. Perbanyak dzikir: Astaghfirullah, Subhanallah, La ilaha Illallah.
  5. Gunakan teknologi untuk ibadah, bukan kelalaian.
  6. Hadiri majelis ilmu minimal seminggu sekali.

11. DOA

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan hati kami bermain-main dengan agama-Mu.
Tetapkanlah kami dalam iman.
Jauhkan kami dari kelalaian.
Berikan kami taubat sebelum ajal datang.
Dan wafatkan kami dalam kalimat Lā ilāha illallāh.”


12. NASIHAT ULAMA & SUFI BESAR

Hasan al-Bashri

“Celakalah orang yang menunda taubat.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Jangan sampai engkau sibuk dengan dunia hingga lupa siapa yang memberi dunia.”

Abu Yazid al-Bistami

“Dosa yang membuatmu sadar lebih baik daripada ibadah yang membuatmu sombong.”

Junaid al-Baghdadi

“Orang lalai adalah orang yang lupa mati.”

Al-Hallaj

“Yang jauh bukan Tuhan, yang jauh adalah hatimu yang lalai.”

Imam al-Ghazali

“Kematian bisa datang sebelum engkau sempat bertaubat.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Jangan main-main dengan agama. Ajal tidak dapat ditawar.”

Jalaluddin Rumi

“Besok bukan jaminan. Mulailah kembali kepada Tuhan hari ini juga.”

Ibnu ‘Arabi

“Kealpaan hati adalah tirai antara engkau dan Tuhanmu.”

Ahmad al-Tijani

“Siapa yang menjadikan dunia tujuan, ia tersesat dari hakikat.”


13. DAFTAR PUSTAKA

  • Tafsir Al-Qurthubi
  • Tafsir Ats-Tsa‘labi
  • Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  • Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  • Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah
  • Risalah Qusyairiyah
  • Tazkiyatun Nafs – para ulama sufi
  • Kutipan majelis ulama Indonesia kontemporer

14. TESTIMONI ULAMA KONTEMPORER

Gus Baha’

“Ayat ini sangat penting untuk zaman sekarang. Banyak orang mengira waktu masih panjang.”

Ustadz Adi Hidayat

“Ini ayat tentang jangan meremehkan agama. Hati-hati, kelalaian membuka pintu syirik kecil.”

Buya Yahya

“Kisah pemuda Kufah adalah cermin agar kita tidak menunda taubat.”

Ustadz Abdul Somad

“Mati itu tiba-tiba. Jangan jadikan agama candaan.”


CATATAN REDAKSI

Sebagian kisah berasal dari literatur klasik yang memiliki unsur Israiliyat. Disajikan hanya sebagai pelajaran moral, bukan dasar akidah, sesuai kehati-hatian para ulama.


UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung rubrik renungan Qur’ani ini. Semoga menjadi amal jariyah dan penerang hati.


Ketika Agama Cuma Jadi Mainan: Renungan dari QS. Al-An‘ām Ayat 70 & Kisah Pemuda Kufah


Ayut: Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan kelengahan... (QS. Al-An‘ām: 70). Intinya, jangan sampe kita ngeremehin agama kayak mainan.


Ceritanya nih:


Dulu, di Kufah, ada seorang abg tajir dan ganteng banget. Tapi hidupnya tuh... hmm.


· Harinya cuma buat party dan hura-hura.

· Shalat? Nanti-nanti dulu.

· Dikasih nasihat ustadz, dia malah ngejek.

· Denger azan, dia cuma ketawa sambil bilang: “Santai aja, Allah Maha Pengampun kok.”

· Kalo ditegur, jawabnya: “Agama tuh bikin hidup kaku. Allah pasti ngertilah aku lagi sibuk nikmatin hidup.”


Intinya, dia tuh contoh nyata dari ayat di atas: main-main sama agama.


Trus gimana akhirnya?


Suatu hari, dia pergi nge-hunt. Eh, ada badai. Dia jatuh dari kudanya ke jurang, terluka parah banget.


Dalam sakaratul maut, dia teriak: “Ya Allah! Tolong! Aku janji bakal shalat! Aku bakal berubah!”


Tapi nafasnya udah susah, lidahnya udah kelu. Dateng seorang kakek,coba nolong dan bilang: “Nak, ucapin Lā ilāha illallāh.” Dia cuma bisa nangis dan bilang:“Andai aja aku gak main-main sama agama...” Lalu dia meninggal sebelum sempat ngucapin syahadat dengan lengkap.


Pas cerita ini sampe ke Hasan al-Bashri, beliau langsung nangis dan bacain ayat tadi. Terus beliau bilang: “Sungguh rugi banget orang yang nunda-nunda taubat. Dunia mempermainin dia, terus ajal dateng sebelum dia balik ke Tuhannya.”


Nah, sekarang kita bahas buat konteks kita:


1. Latar Belakang Zaman Now: Dulu Kufah kota metropolitan yang glamor.Sekarang? Kita dikelilingin feed medsos, entertainment 24 jam, dan hustle culture. Banyak yang mikir:


· “Ibadah bisa nanti, yang penting grind dulu.”

· “Agama tuh urusan privat, jangan serius-serius amat.”

· “Yang penting hati baik, formalitas gak perlu.”


2. Akar Masalahnya:


· Kesibukan dunia bikin lupa tujuan akhir.

· Lingkungan yang nge-normalize kelalaian ibadah.

· Meremehkin dosa-dosan kecil (“Ah, cuma bolos shalat sekali”).

· Nunda taubat (“Nanti aja deh, masih muda”).

· Salah paham: mikir Allah Maha Pengampun terus, lupa kalo Allah juga Maha Adil.


3. Intisarinya: Judul“Ketika Agama Cuma Jadi Mainan” itu maksudnya ketika kita perlakuin agama cuma sebagai:


· Bahan story atau konten doang.

· Formalitas keluarga atau budaya.

· Bahan bercandaan.

· Sesuatu yang selalu kita “pending”.


Ini penyakit zaman dulu yang ternyata makin akut di zaman kita.


4. Tujuan & Manfaat Baca Ini:


· Biar kita makin aware sama peringatan Al-Qur’an.

· Biar punya cermin dari kisah nyata (walau dari literatur klasik).

· Biar relate sama kondisi kita di tengah kemajuan teknologi.

· Buat bahan muhasabah diri.

· Biar kita buru-buru improve diri sebelum telat.


5. Dalil Pendukung:


· QS. Al-An‘ām: 70 (udah di atas).

· Hadis Nabi SAW: “Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi).

· Intinya: jangan nunda taubat!


6. Analisis Singkat:


· Agama itu amanah, bukan hiburan. Kalo cuma jadi gurauan, kita bakal kehilangan arah.

· Dunia itu penipu ulung. Bisa bikin kita keasikan sampe lupa kalo ajal gak pernah ngasih kode.

· Taubat jangan ditunda! Kaya pemuda tadi, pas mau taubat, tenaga udah habis.

· Hari akhir itu serius. Ayat bilang, gak ada pelindung, penolong, atau tebusan yang diterima kalo kita meremehkin agama.


7. Relevansi buat Anak Zaman Now:


· MedSos & Gadget: Bisa bikin agama cuma jadi konten estetik, bukan dihayati. Shalat delay karena asik scroll.

· Mobilitas Tinggi: Sering jadi alesan buat ngelewatin ibadah (“Lagi di jalan, susah”).

· Kesehatan Modern: Bikin kita merasa “aman” dan kayaknya masih panjang umur. Padahal mati gak pake appointment.

· Budaya Viral: Agama sering jadi bahan meme atau candaan ringan yang sebenernya bahaya.


8. Hikmah yang Bisa Diambil:


· Kelalaian kecil kalo dibiasain bisa jadi bencana.

· Taubat itu action item yang harus dilakukan sekarang, bukan planned for later.

· Nikmat dunia cepet banget ilang.

· Allah emang Maha Pengampun, tapi jangan sampe kita manfaatin itu buat main-main.


9. Muhasabah ala Anak Gaul (yang santun):


· Setiap malam, tanya diri: “Hari ini gue ngelakuin dosa terbesar apa sih?”

· Disiplinin shalat tepat waktu. Jangan dikasih delay.

· Kurangin candaan atau meme yang nyentuh perkara agama.

· Rajin baca Astaghfirullah, Subhanallah, La ilaha Illallah.

· Pake gadget buat cari ilmu agama, bukan cuma buat lalai.

· Ikut kajian online/offline minimal seminggu sekali.


10. Doanya: “Ya Allah,jangan sampe hati kami main-main sama agama-Mu. Teguhin kami di iman. Jauhkan dari kelalaian. Kasih kami kesempatan taubat sebelum ajal dateng. Dan wafatkan kami dalam keadaan mengucap Lā ilāha illallāh.”


11. Nasihat Singkat Para Sufi & Ulama (Versi Intisari):


· Hasan al-Bashri: “Nunda taubat = mengundang kerugian.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Jangan sampe sibuk sama hadiah, sampe lupa siapa yang ngasih hadiah.”

· Imam al-Ghazali: “Mati bisa dateng lebih cepet dari taubatmu.”

· Jalaluddin Rumi: “Besok? Itu bukan janji. Mulai dari sekarang aja.”


Catatan Penting: Kisah pemuda Kufah ini diambil dari literatur tafsir klasik.Ada unsur israiliyat-nya (cerita dari sumber Bani Israil), jadi diambil hikmah dan pelajaran moralnya aja ya, bukan buat dijadikan patokan mutlak dalam akidah.


Akhir Kata: Semoga renungan sederhana ini bikin kita semua makin sadar dan gak menyepelekan agama.Jangan sampe kita keasyikan main, sampe lupa pada yang punya kehidupan. Let’s be better!



No comments: