IMAN BISA BERJUZ-JUZ ATAU TIDAK?
Penulis: M. Djoko Ekasanu
PERMASALAHAN XIII
IMAN BISA BERJUZ-JUZ ATAU TIDAK?
Jika ditanyakan kepadamu: "Apakah iman terbagi-bagi, yakni, bisa menerima pembagian dengan menjadi juz-juz, atau tidak?" Perkataan Mushannif pada kata al-iman dengan dibaca mad huruf Hamzah-nya, karena asalnya adalah aal-iman dengan dua huruf Hamazah, lalu Hamzah yang ke dua diganti huruf Alif, maka terjadilah mad yaitu Mad Lazim.
Maka hendaklah kamu berkata: Iman tidak bisa terbagi-bagi, karena iman sesungguhnya adalah sebuah cahaya yang ada dihati, akal dan ruh anak cucu Adam, karena ia adalah hidayat Allah terhadap orang mukmin. Barang siapa yang ingkar terhadap sesuatu dari hal itu, maka orang tersebut kafir.
Ringkasan Redaksi Aslinya
Teks asal menjelaskan bahwa iman tidak dapat dipecah-pecah menjadi juz-juz, karena ia adalah cahaya hidayah Allah yang tertanam dalam hati, akal, dan ruh manusia. Barang siapa mengingkari sebagian dari hakikat itu, maka ia keluar dari iman. Penjelasan ini dikaitkan dengan kaidah bahasa pada kata al-īmān yang mengalami mad lazim akibat perubahan dua hamzah.
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Di masa awal Islam hingga abad pertengahan, para ulama sering memperdebatkan:
- Apakah iman itu satu kesatuan atau terdiri dari bagian-bagian (juz)?
- Apakah keimanan bertambah dan berkurang?
- Apa batas minimal seseorang tetap dianggap beriman?
Perdebatan ini muncul karena:
- Munculnya kelompok Murji’ah yang berpendapat iman tidak bertambah dan tidak berkurang.
- Kelompok Khawarij yang menyatakan bahwa iman hilang total ketika seseorang melakukan dosa besar.
- Munculnya aliran Ahlus Sunnah yang menengahi dan menegaskan bahwa iman adalah keyakinan di hati, ucapan, dan amal.
Pada masa itu, masyarakat mengalami pertumbuhan ilmu, munculnya peradaban baru, dan pergolakan politik yang menyebabkan konsep iman perlu ditegaskan kembali.
Sebab Terjadinya Masalah
- Kesalahpahaman tentang definisi iman.
- Pertentangan politik antar kelompok pada masa awal khilafah.
- Perbedaan pendekatan antara ahli fikih, ahli kalam, ahli hadis, dan kaum sufi.
- Upaya membedakan antara muslim yang lemah amalnya dengan yang benar-benar kufur.
Karena itu para ulama menyusun kitab-kitab akidah agar umat memahami hakikat iman secara lurus.
Intisari Judul
Iman bukanlah benda terpecah yang bisa dibagi menjadi juz-juz, melainkan cahaya hidayah Allah yang menyinari hati seorang mukmin: menyeluruh, utuh, dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
Tujuan Artikel
- Menjelaskan hakikat iman menurut ulama klasik dan sufi.
- Menghindarkan umat dari kesalahpahaman seputar konsep iman.
- Menguatkan keyakinan di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kehidupan modern.
- Menyajikan perspektif hikmah agar iman menjadi energi hidup yang menyeluruh.
Manfaat Artikel
- Menambah kejelasan dalam masalah akidah.
- Menguatkan landasan spiritual umat.
- Menghubungkan pemahaman klasik dengan konteks masyarakat modern.
- Menjadi rujukan bagi pelajar, mahasiswa, guru ngaji, dan khalayak umum.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis Tentang Hakikat Iman
1. Iman itu satu kesatuan
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya..."
(QS. Al-Hujurat: 15)
Ayat ini memakai bentuk tunggal (innamā), menunjukkan kesatuan hakikat iman.
2. Iman adalah nur yang Allah tanamkan
"Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya."
(QS. Al-Baqarah: 257)
3. Iman mencakup hati, lisan, dan amal
Rasulullah bersabda:
"Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang..."
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa iman memiliki cabang, tetapi cabang bukan “juz-juz”. Hakikatnya satu, cabangnya banyak.
Analisis dan Argumentasi
Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan:
1. Hakikat iman itu satu
Imam Al-Ghazali menyebut iman sebagai nūr fī al-qalb (cahaya di hati). Cahaya itu tidak mungkin dipotong-potong.
2. Cabang iman banyak, tetapi sumbernya satu
Seperti matahari menghasilkan banyak sinar, iman menghasilkan amal-amal dan akhlak, tetapi hakikat matahari tetap satu.
3. Mengingkari satu unsur pokok menghilangkan seluruh iman
Menurut ijmak, siapa yang mengingkari satu rukun iman, maka ia kafir. Ini bukti bahwa iman tidak terbagi-juz.
Keutamaan-keutamaan Iman
- Menjadi cahaya di dunia dan akhirat.
- Menghapus dosa-dosa.
- Menenangkan hati (QS. Ar-Ra’d: 28).
- Menjadi penyelamat dari azab.
- Pembuka pintu rahmat dan keberkahan hidup.
Relevansi dengan Teknologi, Transportasi, Kedokteran, dan Sosial Modern
1. Teknologi
Di era kecerdasan buatan, big data, dan media sosial, iman menjadi filter utama dari fitnah informasi, hoaks, dan manipulasi digital.
2. Transportasi
Mobilitas cepat membuat manusia mudah lupa diri. Iman menjaga adab, keselamatan, dan kejujuran, misalnya saat berkendara, berdagang, atau bepergian.
3. Kedokteran
Iman memberi kekuatan mental pasien, mempercepat penyembuhan, dan mencegah putus asa.
4. Kehidupan Sosial
Di tengah budaya konsumtif dan kompetisi, iman mengajarkan empati, kesederhanaan, dan saling menolong.
Hikmah
- Iman itu tidak terpecah, tetapi bisa menguat dan melemah, seperti pelita.
- Ia menyinari seluruh sisi kehidupan: pikiran, hati, perilaku, keputusan, dan harapan.
- Orang beriman melihat dunia dengan kaca mata akhirat.
Muhasabah dan Caranya
- Tanya diri setiap malam:
“Apakah cahaya iman di hatiku hari ini bertambah?” - Catat amalan baik dan buruk.
- Kurangi maksiat batin: iri, dengki, riya.
- Perbanyak dzikir: Lā ilāha illallāh.
- Bersahabat dengan orang saleh.
- Hadirkan rasa bahwa Allah selalu melihat.
Doa
"Yā Allah, tetapkanlah cahaya iman di hatiku, kuatkan keyakinanku, bahagiakan aku dengan hidayah-Mu. Terangilah hidupku, matiku, dan akhiratku dengan nur iman yang tidak pernah padam. Āmīn."
Nasehat Para Ulama Sufi
Hasan Al-Bashri
“Iman itu bukan angan-angan, melainkan apa yang menghujam di hati dan dibuktikan dengan amal.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Iman sejati adalah ketika tak ada lagi yang kau cintai melebihi Tuhanmu.”
Abu Yazid al-Bistami
“Jika imanmu tidak membuatmu rendah hati, maka itu bukan iman—hanya kebanggaan.”
Junaid al-Baghdadi
“Iman adalah keadaan hati yang terus menuju Allah tanpa menoleh pada selain-Nya.”
Al-Hallaj
“Iman adalah fana’ dari dirimu dan baqa’ dengan-Nya.”
Imam al-Ghazali
“Iman adalah cahaya Ilahi yang menyinari semua pengetahuan.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Perkuat imanmu dengan taat. Cahaya iman padam oleh maksiat.”
Jalaluddin Rumi
“Iman adalah sayap ruh; dengannya manusia terbang menuju kekasihnya.”
Ibnu ‘Arabi
“Iman adalah pintu masuk ke realitas hakiki wujud.”
Ahmad al-Tijani
“Iman hidup dengan dzikir, mati oleh kelalaian.”
Testimoni Tokoh Indonesia
Gus Baha’
“Iman itu sederhana: yakin pada Allah dan Rasul-Nya, lalu jaga hati agar tidak rusak. Jangan bikin iman rumit.”
Ustadz Adi Hidayat
“Iman itu menyatu. Jika rusak satu fondasinya, seluruh bangunan goyah.”
Buya Yahya
“Iman itu cahaya. Ia akan tampak pada wajah dan perilaku seorang mukmin.”
Ustadz Abdul Somad
“Iman tidak bisa dipotong-potong. Ia harus utuh: percaya di hati, diucapkan, dan diamalkan.”
Daftar Pustaka
- Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
- Al-Luma’ – Junaid al-Baghdadi
- Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
- Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Risalah Qusyairiyah – Al-Qusyairi
- Shahih Muslim
- Shahih Al-Bukhari
- Tafsir Ibn Kathir
- Al-Arba’in – An-Nawawi
- Kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah klasik
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada seluruh pembaca yang terus mendukung dakwah ilmu, para guru yang telah membimbing, dan semua pihak yang mencintai iman serta ingin menjaga cahaya Allah dalam hatinya. Semoga artikel ini memberi manfaat dunia–akhirat.
Penulis:
M. Djoko Ekasanu
Oke, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan mudah dipahami. Check it out!
IMAN ITU BISA DIBAGI-BAGI, GAK SIH?
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Hai, guys! Pernah kepo nggak, sih, sebenernya iman itu apa? Apakah dia bisa dipecah-pecah jadi beberapa bagian kayak kue, atau dia utuh gitu aja?
Nah, sebelum kita bahas lebih dalem, penulis ngasih catatan kecil nih tentang cara baca kata "al-īmān". Itu dibaca panjang, guys, karena aslinya dari dua huruf hamzah yang salah satunya berubah jadi alif. Jadi, jangan sampai salah baca, ya!
Jawaban Singkatnya? Iman itunggak bisa dibagi-bagi. Soalnya, iman tuh kayak cahaya super keren yang dikasih Allah ke dalam hati, akal, dan jiwa kita. Dia itu paket komplit, sebuah hidayah. Kalau ada yang nolak atau nggak percaya sama satu aja dari hal-hal yang udah ditentuin dalam iman, ya status imannya bisa gawat, guys.
Latar Belakang Nih, Kenapa Sih Ini Jadi Bahan Omongan? Jaman dulu banget,pas awal-awal Islam, topik ini sempat rame juga, lho. Para ulama pada debat:
· Iman itu satu kesatuan atau ada bagian-bagiannya?
· Apa iman bisa nambah dan berkurang?
· Seberapa rendah sih batas minimal seseorang masih bisa dibilang beriman?
Kenapa bisa rame? Ini beberapa sebabnya:
· Ada kelompok Murji'ah yang bilang iman itu statis, nggak bisa nambah atau berkurang.
· Ada juga Khawarij yang ekstrem; mereka bilang kalau orang Muslim melakukan dosa besar, langsung aja dianggap keluar dari iman (kafir).
· Lalu, datanglah Ahlus Sunnah yang nawarin jalan tengah. Buat mereka, iman itu gabungan dari yakin di hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal.
Jaman itu lagi banyak perubahan, ilmu berkembang, politik memanas, jadi wajar aja kalau definisi iman perlu diperjelas biar nggak bingung.
Intisari Pembahasannya Singkatnya,iman bukan benda mati yang bisa dipotong-potong. Dia tuh cahaya hidayah dari Allah yang nyemplung ke dalam hati seorang mukmin: utuh, menyeluruh, dan nggak bisa dipisah-pisahkan.
Tujuan Artikel Ini Buat Kamu
· Ngejelasin hakikat iman sesuai pemahaman ulama klasik dan sufi dengan bahasa yang mudah.
· Ngasih pencerahan biar kamu nggak salah paham lagi soal konsep iman.
· Nguatin keyakinan kita di tengen gempuran teknologi dan gaya hidup modern.
· Nunjukin bahwa iman itu harus jadi sumber energi yang nyala terus untuk hidup kita.
Manfaatnya Buat Kamu
· Pengetahuan akidah jadi lebih clear.
· Landasan spiritual dan mental jadi lebih kuat.
· Bisa ngoneksikan pemahaman klasik dengan kondisi kita yang hidup di jaman now.
· Cocok buat bahan belajar, ngaji, atau sekadar nambah wawasan.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis Soal Hakikat Iman
1. Iman itu Satu Kesatuan "Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Hujurat: 15)
· Kata "innamā" yang artinya "hanyalah" nunjukin kalau iman itu satu paket.
2. Iman adalah Cahaya (Nur) "Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya." (QS. Al-Baqarah: 257)
3. Iman itu Punya Banyak Cabang Rasulullah bersabda: "Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang..." (HR. Muslim)
· Nah, ini penting! Cabang itu bukan berarti imannya terpecah-pecah. Sumbernya tetap satu, tapi manifestasinya banyak, kayak pohon yang rindang.
Analisis dan Argumen Para Ulama Ahlus Sunnah sepakat nih:
1. Hakikat Iman itu Satu. Kata Imam Al-Ghazali, iman tuh nūr fī al-qalb (cahaya di hati). Coba deh, cahaya bisa dipotong gak? Gak bisa, kan?
2. Sumbernya Satu, Cabangnya Banyak. Kayak matahari. Sinar matahari bisa nyampe ke mana-mana, tapi sumber cahayanya ya cuma satu: matahari itu sendiri.
3. Nolak Satu Rukun Iman = Kafir. Ini udah kesepakatan ulama. Kalau ada yang nolak satu aja dari rukun iman, misalnya nggak percaya malaikat, ya udah, gugur deh imannya. Ini bukti kuat kalau iman nggak bisa dipilah-pilah.
Keutamaan Punya Iman Kuat
· Jadi sumber cahaya, baik di dunia maupun akhirat.
· Bisa ngapus dosa-dosa kita.
· Bikin hati adem dan tenang (QS. Ar-Ra'd: 28).
· Jadi penyelamat dari azab.
· Buka pintu rezeki, rahmat, dan berkah dalam hidup.
Relevansinya Buat Kita yang Hidup di Jaman Now
1. Teknologi: Di era AI, medsos, dan hoax bertebaran, iman jadi filter utama biar kita nggak mudah kejebak informasi palsu.
2. Transportasi: Karena mobilitas kita cepet banget, iman bantu kita buat tetap jaga adab, keselamatan, dan kejujuran pas lagi di jalan.
3. Kedokteran: Iman bikin mental kita kuat, bisa bantu proses penyembuhan, dan mencegah kita dari putus asa saat sakit.
4. Kehidupan Sosial: Di tengah gaya hidup konsumtif dan persaingan ketat, iman ngajarin kita untuk empati, hidup sederhana, dan saling menolong.
Hikmah yang Bisa Kita Ambil Iman itu emang nggak terpecah,tapi dia bisa naik turun kekuatannya, kayak lampu yang bisa terang atau redup. Dia nyinari semua sisi hidup kita:pikiran, hati, tingkah laku, keputusan, sampai harapan kita. Orang yang imannya kuat,dia lihat dunia ini pake kacamata akhirat.
Muhasabah Diri: Cek Kondisi Iman Kita! Yuk,setiap mau tidur, tanya diri sendiri: "Apakah cahaya iman di hatiku hari ini bertambah atau malah redup?"
· Catat deh, amal baik dan buruk apa aja yang kita lakuin hari ini.
· Kurangi maksiat hati kayak iri, dengki, atau pamer (riya).
· Perbanyak dzikir, terutama Lā ilāha illallāh.
· Cari dan pertahankan pertemanan sama orang-orang yang baik.
· Selalu ingat bahwa Allah lagi ngeliat kita setiap saat.
Doa Kita "Yā Allah,tetapkanlah cahaya iman di hatiku, kuatkan keyakinanku, bahagiakan aku dengan hidayah-Mu. Terangilah hidupku, matiku, dan akhiratku dengan nur iman yang tidak pernah padam. Āmīn."
Nasehat Para Ulama Sufi buat Renungan
· Hasan Al-Bashri: "Iman itu bukan cuma angan-angan, tapi sesuatu yang nancep di hati dan dibuktiin lewat perbuatan."
· Rabi'ah al-Adawiyah: "Iman yang bener tuh ketika lo udah nggak ada lagi yang dicintai melebihi cinta lo kepada Tuhan."
· Abu Yazid al-Bistami: "Kalau iman lo malah bikin lo sombong, itu bukan iman, itu cuma kebanggaan semu."
· Junaid al-Baghdadi: "Iman tuh kondisi hati yang terus-terusan menuju Allah, tanpa mikirin yang lain."
· Al-Hallaj: "Iman adalah lenyapnya dirimu dan tetap hidup bersama-Nya."
· Imam al-Ghazali: "Iman adalah cahaya Ilahi yang nyinari semua pengetahuan."
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Kuatin iman lo dengan ketaatan. Cahaya iman bisa padam karena maksiat."
· Jalaluddin Rumi: "Iman itu sayap jiwa; yang bawa manusia terbang mendekati Kekasihnya."
· Ibnu 'Arabi: "Iman adalah gerbang masuk ke realitas sejari dari wujud."
· Ahmad al-Tijani: "Iman hidup dengan dzikir, dan mati karena kelalaian."
Testimoni Tokoh Indonesia
· Gus Baha': "Iman itu sederhana: yakin sama Allah dan Rasul-Nya, trus jaga hati biar nggak rusak. Jangan dibikin ribet."
· Ustadz Adi Hidayat: "Iman itu menyatu. Kalau satu fondasinya rusak, bangunannya bisa bobol."
· Buya Yahya: "Iman itu cahaya. Dia akan keliatan banget di wajah dan sikap seorang mukmin."
· Ustadz Abdul Somad: "Iman nggak bisa dipotong-potong. Dia harus utuh: percaya dalam hati, diucapkan, dan diamalkan."
Daftar Pustaka (Tetap keren dan kredibel!)
· Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali
· Al-Luma' – Junaid al-Baghdadi
· Futuhat al-Makkiyah – Ibnu 'Arabi
· Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
· Risalah Qusyairiyah – Al-Qusyairi
· Shahih Muslim
· Shahih Al-Bukhari
· Tafsir Ibn Kathir
· Al-Arba'in – An-Nawawi
· Dan kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah lainnya.
Ucapan Terima Kasih Big thanks buat kalian semua yang udah baca sampai selesai dan selalu support dakwah ilmu.Juga buat para guru yang udah membimbing. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat buat hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin!
Penulis: M.Djoko Ekasanu
---
Semoga versi "kekinian" ini bermanfaat dan mudah dipahami!

No comments:
Post a Comment