Wednesday, October 8, 2025

Pengkhianat Terkutuk




🕋 Pengkhianat Terkutuk!

Kisah Sahabat Nabi yang Menolak Menjual Iman kepada Dunia

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Pengkhianat Terkutuk!

Diceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz, pada masa kekholifahannya, mengutus para sahabat ke tanah Roma untuk berperang. Kemudian mereka kalah dan 20 kelompok dari mereka ditawan. Kaisar Roma memerintahkan seorang sahabat dari mereka masuk ke agamanya dan menyembah berhala. Kaisar berkata;

“Apabila kamu masuk ke dalam agamaku dan bersujud pada berhala maka aku akan menjadikanmu pemimpin di kota besar dan aku akan memberimu bendera pemerintahan, harta, gelas emas, dan terompet (wewenang). Tetapi apabila kamu tidak masuk ke dalam agamaku maka aku akan membunuhmu dan memenggal kepalamu.”

Sahabat itu menjawab, “Aku tidak akan menjual agamaku dengan harga dunia.”

Kemudian Kaisar memberi perintah untuk membunuh sahabat itu. Ia dibunuh di lapangan. Ia dipenggal kepalanya. Sesaat setelah kepalanya terputus, kepalanya itu menggelinding memutari lapangan sebanyak tiga kali. Kepala yang terpenggal itu membaca ayat ini:

Hai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya (28) Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba- Ku (29) dan masuklah ke dalam surga (30)27

Melihat kejadian itu, Kaisar menjadi marah besar dan memerintahkan prajurit untuk mendatangkan sahabat yang kedua.

“Masuklah ke dalam agamaku! Aku akan menjadikanmu seorang kepala di kota ini. Jika kamu tidak mau maka aku akan memenggal kepalamu sebagaimana aku telah memenggal kepala temanmu” kata Kaisar.

Sahabat kedua menjawab, “Aku tidak menjual agamaku dengan harga dunia. Jika anda memiliki kuasa memenggal kepalaku maka sesungguhnya anda tidak punya kuasa memotong keimananku.”

Kemudian Kaisar memberi perintah untuk memenggal kepala sahabat kedua itu. Setelah kepalanya terpenggal, kepala itu menggelinding tiga kali memutari lapangan,    seperti    kepala temannya, dan membaca ayat:

Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi (21) dalam surga yang tinggi (22) Buah-buahnya dekat (23)

Kemudian kepalanya berhenti di dekat kepala temannya yang pertama.

Kaisar tambah sangat marah dan memerintahkan prajurit untuk mendatangkan sahabat yang ketiga.

Kaisar berkata, “Apa yang akan kamu katakan? Apakah kamu akan masuk ke dalam agamaku? Kalau mau, aku akan menjadikanmu pemimpin.”

Naasnya, sahabat ketiga ini terbujuk dan berkata, “Aku masuk ke dalam agamamu dan memilih dunia daripada akhirat.”

Kemudian Kaisar berkata kepada patihnya, “Tulislah ia dalam daftar! Beri ia harta, gelas emas, dan bendera pemerintahan.”

Patih itu berkata, “Wahai Kaisar! Bagaimana kita bisa memberinya kalau belum kita tes apakah dia itu serius atau tidak. Wahai Kaisar! Katakan kepadanya, ‘Kalau kamu benar-benar serius dengan pernyataanmu maka bunuhlah salah satu temanmu! Jika kamu melakukannya maka kami akan percaya dengan pernyataanmu.’”

Kemudian sahabat ketiga yang terlaknati itu membawa salah satu temannya. Ia membunuh temannya. Melihat kejadian itu, Kaisar memerintahkan patihnya untuk menulisnya dalam daftar. Kemudian patih itu berkata kepada Kaisar:

“Ini tidak masuk akal dan bukan keputusan yang bijaksana untuk mempercayai    pernyataannya (sahabat ketiga itu). Ia saja tidak bisa menjaga hak temannya sendiri yang lahir dan tumbuh besar bersamanya. Lantas apakah ia nanti bisa menjaga hak kita?”

Akhirnya, Kaisar memerintahkan prajurit untuk membunuhnya dan memenggal kepalanya. Setelah dipenggal, kepala sahabat ketiga itu menggelinding memutari lapangan tiga kali dan membaca ayat:

Apakah (kamu hendak merubah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah    kamu    akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka? (Az- Zumar: 19)

Kemudian kepala sahabat ketiga ini berhenti di tepi lapangan dan tidak berdekatan dengan kedua kepala sahabat pertama dan kedua. Ia akan kembali pada siksa Allah. Na’udzubillah.


Ringkasan Redaksi Asli

Dikisahkan bahwa pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sekelompok sahabat dikirim ke tanah Romawi untuk berperang. Mereka kalah dan dua puluh di antaranya tertawan. Kaisar Romawi mencoba menggoda keimanan mereka dengan janji jabatan, harta, dan kemuliaan dunia. Dua sahabat teguh mempertahankan iman dan dibunuh dengan kepala mereka membaca ayat-ayat Al-Qur’an setelah terpenggal. Namun satu sahabat tergoda, mengkhianati agamanya, bahkan membunuh temannya sendiri untuk membuktikan kesetiaannya kepada Kaisar. Akhirnya ia pun dibunuh, dan kepalanya membaca ayat tentang penghuni neraka.


Maksud dan Hakekat Kisah

Kisah ini bukan sekadar cerita heroik, melainkan cermin keteguhan iman dan kehinaan pengkhianatan. Dunia selalu menawarkan kemegahan dan kekuasaan, namun bagi orang beriman sejati, tidak ada harga yang pantas untuk menukar iman.
Hakekatnya: iman adalah kehidupan itu sendiri. Menjual iman berarti menjual jiwa kepada kebinasaan.


Tafsir dan Makna Judul

"Pengkhianat Terkutuk!" bukan sekadar umpatan emosional, tetapi penegasan spiritual.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala.” (QS. Al-Ahzab: 64)

Pengkhianat agama — orang yang berpaling dari iman demi dunia — terkutuk bukan karena dosa tunggal, tetapi karena menjual kebenaran untuk kebatilan, menukar nur (cahaya) dengan zulumat (kegelapan).


Tujuan dan Manfaat

Tulisan ini bertujuan:

  1. Mengingatkan agar umat Islam tidak tergoda oleh dunia.
  2. Meneguhkan keimanan di tengah ujian materi, jabatan, dan kekuasaan.
  3. Menanamkan bahwa pengkhianatan terhadap iman adalah kehancuran ruhani terbesar.

Manfaatnya bagi pembaca: mengasah kesadaran spiritual, melatih muhasabah diri, dan menumbuhkan cinta kepada Allah di atas segala kepentingan dunia.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan Islam sedang berhadapan dengan peradaban Romawi yang kuat secara politik dan militer. Tawanan perang sering dijadikan alat untuk menggoda dan menguji keteguhan iman. Bagi Kaisar, tunduk pada agamanya berarti kemenangan ideologi. Namun bagi para sahabat, kekalahan fisik tak sebanding dengan kekalahan hati terhadap kufur.


Intisari Masalah

Masalah utama dalam kisah ini adalah pertarungan antara iman dan dunia.
Dua sahabat memenangkan keabadian dengan mati syahid, sementara satu sahabat kalah karena cinta dunia.


Sebab Terjadinya Masalah

Sebab utamanya ialah:

  1. Ujian keimanan – Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan dunia (QS. Al-Ankabut: 2).
  2. Cinta dunia dan takut mati – dua penyakit hati yang menghancurkan umat (HR. Abu Dawud).
  3. Lemahnya ma’rifat kepada Allah, sehingga dunia tampak lebih besar daripada akhirat.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  • Al-Qur’an:

    “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-Ankabut: 64)

  • Hadis Rasulullah ï·º:

    “Akan datang suatu zaman di mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang lapar mengerumuni makanan.” Para sahabat bertanya, “Apakah karena kami sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari musuh kalian terhadap kalian, dan Allah menanamkan wahn dalam hati kalian.” Mereka bertanya, “Apakah wahn itu?” Rasul menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)


Analisis dan Argumentasi

Iman sejati diuji ketika dunia menawarkan kekuasaan. Dua sahabat menunjukkan tauhid yang murni: mereka mengenal Allah lebih besar daripada rasa takut pada manusia.
Sedangkan sahabat ketiga gagal karena menilai dunia sebagai sumber keselamatan.
Padahal, keselamatan hakiki hanyalah ketika Allah ridha.


Relevansi Saat Ini

Kini, pengkhianatan terhadap iman tak selalu berupa sujud pada berhala, tetapi pada berhala modern: uang, jabatan, popularitas, dan hawa nafsu.
Siapa pun yang menjual nilai-nilai Islam demi kepentingan duniawi — baik pejabat, pedagang, ulama, atau rakyat — sedang mengulang kesalahan sahabat ketiga dalam kisah ini.


Hikmah

  1. Orang beriman sejati akan menjaga aqidahnya meski nyawa taruhannya.
  2. Dunia adalah ujian; bukan tempat menetap.
  3. Keimanan tanpa ujian tak akan terbukti nilainya.
  4. Pengkhianatan kepada kebenaran akan berakhir dengan kehinaan, meskipun dunia memberi tepuk tangan.

Muhasabah dan Caranya

  • Langkah muhasabah:

    1. Hitung setiap hari: adakah hari ini kita menukar iman dengan dunia?
    2. Kurangi cinta dunia dengan sedekah dan amal ikhlas.
    3. Jadikan dzikir sebagai benteng dari godaan dunia.
  • Renungan:
    “Apakah aku menjual akhiratku untuk dunia yang fana?”


Doa

Allahumma tsabbit qulubana ‘ala dinik.
“Ya Allah, tetapkan hati kami di atas agama-Mu.”

Allahumma la taj‘al fid dunya akbara hammina wa la mablagha ‘ilmina.
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar dan puncak ilmu kami.”


Nasihat Para Auliya dan Ulama Tasawuf

  • Hasan Al-Bashri:
    “Barangsiapa mencintai dunia, maka hilanglah rasa takutnya kepada akhirat.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka atau mengharap surga, tetapi karena aku mencintai-Nya.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Seorang mukmin sejati adalah yang terbakar cintanya pada Allah hingga dunia menjadi abu di hatinya.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Tasawuf adalah bahwa tanganmu di dunia, tapi hatimu di sisi Allah.”

  • Al-Hallaj:
    “Barangsiapa mengenal hakikat cinta, tak mungkin menukar Allah dengan selain-Nya.”

  • Imam Al-Ghazali:
    “Dunia hanyalah tempat menanam, bukan tempat menuai. Jangan tertipu oleh rumputnya yang hijau.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Dunia adalah bayangan, jangan kejar bayangannya, kejar yang membuat bayangan itu.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Ketika engkau jatuh cinta pada dunia, engkau terpisah dari langit yang sejati.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Hati manusia adalah rumah Allah. Jangan kotori rumah itu dengan cinta pada dunia.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Keimanan sejati tampak ketika seseorang mampu tersenyum dalam kehilangan dunia.”


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Shahih Abu Dawud
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
  4. Fathur Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Al-Risalah al-Qusyairiyah – Imam Al-Qusyairi
  6. Masnawi – Jalaluddin Rumi
  7. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  8. Hilyatul Auliya’ – Abu Nu‘aim
  9. Nashaihul ‘Ibad – Syekh Nawawi al-Bantani
  10. Tanbihul Ghafilin – Abu Laits As-Samarqandi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru ruhani, ulama, dan pembaca yang terus menjaga cahaya iman di tengah gelapnya dunia. Semoga kisah ini menjadi pengingat agar kita tidak menjadi pengkhianat terkutuk yang menukar akhirat dengan dunia yang fana.


Apakah Anda ingin saya buatkan versi layout koran-nya (kolom berita, subjudul, kutipan, gaya surat kabar islami) agar bisa langsung dicetak atau disebarkan digital di media sosial seperti Facebook atau blog Anda?


No comments: