Sebelas tanda orang yang bahagia, yaitu: pertama, senantiasa sederhana dalam urusan dunia dan senantiasa mencintai urusan akhirat, tidak terlalu berlebihan dan hanya secukupnya saja dalam hal duniawi, tidak meminta lebih dari sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT. Orang tersebut lebih mencintai urusan akhirat dengan memperbanyak beribadah dan melakukan kebaikan dengan mengharap ridha dari Allah SWT, sehingga hatinya terasa tentram dan senang tanpa ada beban pikiran yang harus dikeluhkan. Kedua, keinginannya hanya untuk beribadah dan membaca Al-Qur’an. Beribadah dalam hal ini tidak hanya melaksanakan haqqullah saja seperti shalat, tapi juga melaksanakan hak kepada sesama, seperti tolong menolong. Ketiga, sedikit bicara dalam perkara yang tidak dibutuhkan. Secukupnya saja dalam berbicara, terkecuali jika memang pembicaraan itu sangat penting dan bermanfaat. Keempat, senantiasa menjaga shalat lima waktu. Karena shalat sendiri merupakan tiang agama. Orang yang terbiasa menjaga shalatnya, maka secara otomatis ia telah menjaga kewajibannya agar tetap terlaksana dan tidak tertinggal. Kelima, menjaga diri dari perkara yang haram dan perkara yang syubhat (belum jelas halal dan haramnya suatu perkara). Keenam, bergaul dengan orang-orang saleh. Dalam kesehariannya, ia senantiasa bergaul dengan orang-orang yang cenderung berbuat baik, sehingga dirinya pun menjadi terbiasa melakukan perbuatan baik. Ketujuh, bersikap tawadhu’ dan tidak sombong. Tidak sepatutnya manusia memiliki sifat sombong, karena semua yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah SWT, yang harus dijaga dan dipergunakan di jalan yang benar. Kedelapan, memiliki sifat dermawan. Senang memberi sedekah kepada orang lain. Baca Juga: 11 Tanda Orang yang Celaka Dunia-Akhirat. Kesembilan, penyayang kepada sesama makhluk ciptaan Allah SWT. Tidak mengganggu dan bahkan sampai menyiksa makhluk lain, justru selalu peduli dan melindungi makhluk tersebut. Kesepuluh, bermanfaat untuk semua makhluk. Tidak membuat banyak masalah di sekitar lingkungannya, justru membantu menyelesaikan masalah dengan cepat dan tanggap. Juga senang memberi bantuan kepada orang lain. Kesebelas, selalu ingat kematian. Ingat akan kematian bisa membuat seseorang rajin beribadah dan takut berbuat dosa, khawatir ketika sedang melakukan dosa tiba-tiba malaikat Izrail datang untuk mencabut nyawa.
.........
Sebelas Tanda Orang Bahagia: Jalan Sunyi Penyucian Jiwa di Tengah Dunia yang Riuh
(Perspektif Tazkiyatun Nufūs)
Intisari Isi
Kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, luasnya relasi, atau tingginya jabatan, melainkan pada jiwa yang bersih, tunduk, dan tenang di hadapan Allah. Sebelas tanda orang bahagia—sederhana dalam dunia, cinta akhirat, gemar ibadah, sedikit bicara, menjaga shalat, wara’, bergaul dengan orang saleh, tawadhu’, dermawan, penuh kasih, bermanfaat, dan selalu ingat mati—adalah peta jalan tazkiyatun nufūs. Siapa yang menapakinya, ia sedang membangun surga di dalam hati sebelum memasuki surga yang sesungguhnya.
Landasan Al-Qur’an dan Hadis
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah jadikan ia qana‘ah terhadap apa yang diberikan.”
(HR. Muslim)
“Orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi)
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Thabrani)
Analisis dan Argumentasi Tazkiyatun Nufūs
Sebelas tanda ini jika diperhatikan, tidak ada satu pun yang berorientasi pada pamer amal atau prestise sosial. Semuanya berputar pada pengelolaan hati:
Sederhana dan cinta akhirat → membersihkan jiwa dari ketergantungan dunia.
Gemar ibadah dan membaca Al-Qur’an → menyinari hati.
Sedikit bicara → mematikan penyakit riya’, ujub, dan ghibah.
Menjaga shalat → menegakkan hubungan ruhani.
Wara’ dari haram dan syubhat → menyucikan sumber kehidupan.
Bergaul dengan orang saleh → terapi lingkungan jiwa.
Tawadhu’ → mematahkan ego.
Dermawan dan penyayang → membersihkan cinta dunia dari hati.
Bermanfaat → tanda hidupnya ruh.
Ingat mati → pagar besar dari maksiat.
Dalam perspektif tazkiyah, kebahagiaan bukan perasaan, tetapi keadaan jiwa.
Keutamaan dan Hukuman
1. Di Dunia
Keutamaan:
Hati tenang, hidup ringan, doa mudah khusyuk, wajah bercahaya, hubungan sosial damai.
Hukuman bagi yang menentang:
Gelisah, iri, mudah marah, takut kehilangan, hidup terasa sempit walau kaya.
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
2. Di Alam Kubur
Orang bahagia: kuburnya taman surga, dilapangkan, ditemani amal.
Orang lalai: kuburnya sempit, gelap, dihimpit, penuh penyesalan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kubur itu bisa menjadi taman surga atau lubang neraka.” (HR. Tirmidzi)
3. Di Hari Kiamat
Orang yang jiwanya bersih: wajah berseri, ringan hisab, dekat dengan Nabi ﷺ.
Orang yang jiwanya kotor: wajah gelap, berat hisab, penuh ketakutan.
“Pada hari itu ada wajah yang berseri-seri, dan ada wajah yang muram.” (QS. ‘Abasa: 38–40)
4. Di Akhirat
Keutamaan: surga, ridha Allah, memandang wajah-Nya.
Hukuman: penyesalan abadi, terhalang dari Allah, azab sesuai dosa.
Relevansi dengan Zaman Modern
Di era kecanggihan teknologi, komunikasi instan, transportasi cepat, dan kemajuan kedokteran:
Sedikit bicara relevan di tengah banjir opini dan media sosial.
Wara’ dan tawadhu’ menjadi benteng dari pamer amal digital.
Ingat mati menyeimbangkan dunia medis yang seolah menunda kematian.
Dermawan dan penyayang menjadi obat dari individualisme.
Cinta akhirat menolong manusia agar tidak diperbudak kecepatan dunia.
Teknologi mempercepat hidup, tetapi tazkiyatun nufūs menentukan arah hidup.
Hikmah, Tujuan, dan Manfaat
Hikmah:
Bahagia bukan hasil memiliki, tetapi hasil melepaskan.
Tujuan:
Membentuk manusia yang hidup di dunia, tetapi hatinya di akhirat.
Manfaat:
✔ Jiwa stabil
✔ Akhlak mulia
✔ Ibadah hidup
✔ Lingkungan damai
✔ Husnul khatimah
Motivasi dan Muhasabah (Cara Praktis)
Tanya diri setiap malam:
Apakah shalatku hari ini dijaga?
Apa amal akhiratku hari ini?
Siapa yang kubahagiakan hari ini?
Dosa apa yang harus kutaubati?
Jika malam ini mati, siapkah aku?
Latihan tazkiyah harian:
Shalat tepat waktu di awal.
Baca Al-Qur’an walau sedikit.
Tahan lisan dari yang tak perlu.
Sedekah harian walau kecil.
Duduk bersama orang saleh.
Ziarah kubur atau mengingat mati.
Doa
اللهم زكِّ نفوسنا تقواها، وطهِّر قلوبنا من النفاق، وأعمالنا من الرياء، وألسنتنا من الكذب، وأعيننا من الخيانة.
“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami dengan takwa, bersihkan hati kami dari nifaq, amal kami dari riya’, lisan kami dari dusta, dan mata kami dari khianat. Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bahagia di dunia dan akhirat.”
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih telah menghadirkan tema yang sangat mulia ini. Semoga tulisan ini menjadi pengingat lembut bagi jiwa, bukan sekadar bacaan, tetapi panggilan pulang menuju Allah.
.........
Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.
(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

No comments:
Post a Comment