Sunday, November 2, 2025

812. Beriman kepada Qadar: Meyakini Segala Ketetapan Baik dan Buruk dari Allah.





🕌 Beriman kepada Qadar: Meyakini Segala Ketetapan Baik dan Buruk dari Allah

Penulis: M. Djoko Ekasanu


CARA BERIMAN TERHADAP QADAR BAIK DAN BURUKNYA DARI ALLAH?

Jika ditanyakan kepadamu: “Bagaimana cara kamu beriman terhadap qadar baik dan buruknya dari Allah?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk-makhluk, telah memerintahkan terhadap ketaatan-ketaatan, melarang dari keburukan-keburukan, dan telah menciptakan Lauh (papan), yaitu lauh dari mutiara putih, panjangnya jarak antara langit dan bumi, lebarnya jarak antara masyriq dan magrib, kedua tepinya/pinggirnya adalah mutiara Yaqut dan ujungnya adalah Yaqut merah, asalnya berada di hijr malaikat, yaitu diawang-awang yang berada diatasnya langit. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata bahwa dibagian tengah lauh terdapat kalimat:
لا إِلهَ اِلا اللهُ وَحْدَهُ دِيْنُهُ الإسْلامُ وَمُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَمَنْ أمَنَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَدَّقَ بِوَعِيدِهِ وَتَبِعَ رُسُلَهُ أدْخَلَهُ الجَنَّة
“Tiada tuhan selain Allah, maha esa Allah, islam agamanya, dan Muhammad hamba dan utusannya, barang siapa beriman terhadap Allah azza wa jalla, membenarkan terhadap janjinya dan mengikuti para rosunya maka Allah akan memasukkannya kesurga”.

Ringkasan Redaksi Asli

Beriman kepada qadar adalah bagian dari rukun iman yang ke-6, yakni percaya bahwa segala sesuatu—baik atau buruk—telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Dalam ajaran Islam, Allah menciptakan makhluk, memerintahkan ketaatan, melarang keburukan, dan menetapkan segala urusan di dalam Lauh al-Mahfuzh, papan takdir yang menyimpan seluruh ketentuan hidup setiap makhluk. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., di tengah Lauh tersebut tertulis kalimat tauhid yang menjadi inti dari seluruh ketentuan Allah:

لا إِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ، دِينُهُ الإِسْلامُ، وَمُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَمَنْ آمَنَ بِاللهِ وَصَدَّقَ بِوَعْدِهِ وَاتَّبَعَ رُسُلَهُ أَدْخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ.

“Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, Islam agamanya, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Barangsiapa beriman kepada Allah, membenarkan janji-Nya, dan mengikuti para rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke surga.”


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa awal Islam, banyak kaum musyrik dan kaum munafik yang mengingkari konsep takdir. Mereka beranggapan bahwa segala perbuatan manusia terjadi karena kebetulan atau usaha semata, bukan ketetapan Allah. Di sisi lain, sebagian kelompok seperti Jabariyah berlebihan hingga menafikan ikhtiar manusia. Maka Rasulullah ﷺ dan para sahabat menjelaskan keseimbangan: bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah, namun manusia diberi kebebasan untuk berusaha dalam batas kehendak Allah.


Sebab Terjadinya Masalah

Kekeliruan dalam memahami takdir sering muncul karena manusia ingin mengukur ketetapan Allah dengan logika duniawi. Mereka ingin “mengerti alasan Allah” di balik segala peristiwa, padahal qadar adalah rahasia Allah yang tidak seluruhnya dapat diungkap manusia. Maka beriman kepada qadar berarti tunduk dan ridha atas semua ketetapan-Nya, sambil tetap berikhtiar secara maksimal.


Intisari Judul

“Beriman kepada Qadar: Menyadari bahwa di balik setiap takdir, ada kasih sayang dan kebijaksanaan Allah.”
Tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa izin Allah. Qadar bukan sekadar nasib, tapi bagian dari rencana Ilahi yang mendidik manusia agar berserah diri, sabar, dan bersyukur.


Tujuan dan Manfaat

  1. Meneguhkan keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah.
  2. Menumbuhkan sikap sabar dalam menerima ujian dan syukur atas nikmat.
  3. Menghindarkan diri dari keputusasaan atau kesombongan.
  4. Mendorong manusia untuk terus berikhtiar dengan niat yang lurus.

Dalil Qur’an dan Hadis

1. Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).”
(QS. Al-Qamar: 49)

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh al-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.”
(QS. Al-Hadid: 22)

2. Hadis:

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar baik dan buruknya.”
(HR. Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Iman kepada qadar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Islam menyeimbangkan antara tafwidh (penyerahan diri) dan kasab (usaha). Nabi ﷺ bersabda:

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditetapkan baginya.”

Artinya, beriman kepada qadar harus disertai usaha, doa, dan tawakal. Manusia berusaha karena perintah Allah, bukan karena menentang takdir-Nya.


Keutamaan Iman kepada Qadar

  1. Menenangkan hati ketika menghadapi ujian.
  2. Menjauhkan dari kesombongan saat mendapatkan keberhasilan.
  3. Menguatkan jiwa dalam menghadapi hidup yang penuh misteri.
  4. Mendekatkan diri kepada Allah dengan sikap ridha dan sabar.

Relevansi dengan Zaman Modern

Dalam era teknologi, komunikasi, transportasi, dan kedokteran yang semakin maju, manusia sering merasa mampu mengendalikan segalanya. Namun, pandemi, bencana, dan kematian menunjukkan bahwa takdir Allah tetap berlaku di luar kemampuan manusia. Iman kepada qadar menjadi benteng spiritual agar manusia tidak lupa diri dan tidak sombong atas capaian sains.


Hikmah dan Muhasabah

  • Ketika mendapat nikmat, ucapkan Alhamdulillah dan gunakan untuk kebaikan.
  • Ketika tertimpa musibah, ucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, karena Allah yang memberi dan mengambil.
  • Sadari bahwa dunia hanyalah tempat ujian; takdir bukan untuk ditakuti, tapi untuk diimani.

Caranya Beriman kepada Qadar

  1. Meyakini bahwa segala sesuatu telah ditulis di Lauh al-Mahfuzh.
  2. Mengetahui bahwa kehendak Allah pasti berlaku.
  3. Melaksanakan ikhtiar dengan penuh tanggung jawab.
  4. Berserah diri dan ridha atas hasil yang Allah tentukan.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي رَاضِيًا بِقَضَائِكَ، صَابِرًا عَلَى بَلَائِكَ، وَشَاكِرًا لِنَعْمَائِكَ.

“Ya Allah, jadikanlah aku ridha atas ketetapan-Mu, sabar atas ujian-Mu, dan bersyukur atas nikmat-Mu.”


Nasehat Ulama Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Ridha terhadap takdir Allah adalah puncak keimanan seorang hamba.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak meminta kepada Allah agar mengubah takdirku, tetapi aku memohon agar Ia menjadikanku ridha terhadap takdir itu.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Takdir adalah rahasia Allah; jangan kau lawan, tetapi temukan kedamaian di dalamnya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Orang yang mengenal Allah tidak pernah melihat keburukan dalam takdir.”
  • Al-Hallaj: “Apa pun yang Allah kehendaki, itulah yang aku cintai.”
  • Imam al-Ghazali: “Ketahuilah bahwa ridha atas qadar Allah adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan takut pada takdir; takutlah bila kau jauh dari Allah dalam takdir itu.”
  • Jalaluddin Rumi: “Takdir bukan rantai yang mengikatmu, tapi kompas yang menuntunmu.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Qadar Allah adalah cermin cinta-Nya; setiap kejadian memiliki rahmat tersembunyi.”
  • Ahmad al-Tijani: “Siapa yang ridha atas qadar Allah, maka Allah ridha atas dirinya.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih Muslim, Kitab al-Iman
  3. Imam al-Ghazali – Ihya’ Ulumuddin
  4. Syekh Abdul Qadir al-Jailani – Futuh al-Ghaib
  5. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – Syifa’ al-‘Alil
  6. Jalaluddin Rumi – Mathnawi
  7. Ibnu ‘Arabi – Futuhat al-Makkiyyah

Ucapan Terima Kasih

Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik untuk menyusun tulisan ini. Terima kasih kepada para pembaca yang terus meneguhkan iman di tengah kemajuan dunia modern. Semoga kita semua diberi hati yang tenang, sabar, dan ridha atas segala ketentuan Allah.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan dari teks tersebut:


---


🕌 Beriman ke Qadar: Percaya Semua Ketetapan Allah, yang Baik ataupun yang Keliatannya Buruk


Penulis: M. Djoko Ekasanu


GIMANA SIH CARANYA PERCAYA SAMA QADAR, BAIK BURUKNYA DARI ALLAH?


Eh, kalau ada yang nanya ke kamu: “Bro/Sis, gimana sih cara lo beriman sama qadar, yang baik dan yang keliatannya buruk, yang semuanya dari Allah?”


Yuk, jawab dengan percaya diri: Intinya, kita percaya bahwa Allah yang nciptain semua makhluk, yang suruh kita buat hal-hal baik, dan larang kita dari hal-hal yang nggak bener. Allah juga udah nulis semua ketentuan itu di Lauh al-Mahfuzh, semacam “papan tulis suci” yang terbuat dari mutiara putih. Panjangnya kayak jarak langit ke bumi, lebarnya kayak dari timur ke barat. Pinggirannya dari mutiara Yaqut, dan ujungnya dari Yaqut merah. Lokasinya ada di hijr malaikat, yaitu di ruang angkasa di atas langit.


Kata Ibnu Abbas, di tengah-tengah Lauh itu ada tulisan intinya:


لا إِلهَ اِلا اللهُ وَحْدَهُ دِيْنُهُ الإسْلامُ وَمُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَمَنْ أمَنَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَدَّقَ بِوَعِيدِهِ وَتَبِعَ رُسُلَهُ أدْخَلَهُ الجَنَّة


Artinya: “Tiada tuhan selain Allah, maha esa Allah, islam agamanya, dan Muhammad hamba dan utusannya, barang siapa beriman terhadap Allah azza wa jalla, membenarkan terhadap janjinya dan mengikuti para rosunya maka Allah akan memasukkannya kesurga”.


Konteks Zaman Dulu


Dulu pas awal-awal Islam, banyak banget kaum musyrik dan munafik yang nggak percaya sama konsep takdir. Mereka mikir semua hal yang terjadi cuma kebetulan atau hasil usaha manusia doang. Di sisi lain, ada juga kelompok kayak Jabariyah yang ekstrem banget sampe nggak ngasih ruang buat ikhtiar manusia. Makanya, Rasulullah ﷺ dan para sahabat ngajarin keseimbangan: segala sesuatu emang udah ditentukan Allah, tapi kita sebagai manusia tetap dikasih kebebasan buat berusaha dalam koridor kehendak-Nya.


Akar Masalahnya


Sering banget kita salah paham soal takdir karena pengen banget pake logika kita yang terbatas buat ngukur ketetapan Allah yang Maha Luas. Kita kepo pengen tau “alasannya Allah” di balik semua kejadian, padahal qadar itu rahasia-Nya yang nggak semuanya bisa kita tau. Jadi, percaya sama qadar itu artinya kita nyerahin hati dan ridha sama semua keputusan Allah, sambil tetep maksain effort, tentunya.


Inti dari Semua Ini


“Percaya ke Qadar: Ngeh bahwa di balik setiap takdir, ada cinta dan kebijaksanaan Allah.” Nggak ada yang terjadi di dunia ini tanpa se-izin Allah.Qadar itu bukan cuma soal nasib, tapi bagian dari rencana Ilahi yang bikin kita makin dekat sama Dia, makin sabar, dan makin bersyukur.


Tujuannya Buat Kita Apa?


1. Bikin hati tenang karena yakin semuanya udah diatur Allah.

2. Ngasih kita kekuatan buat sabar hadapi ujian dan bersyukur pas dapet nikmat.

3. Ngejaga kita dari rasa putus asa atau sombong.

4. Memotivasi buat tetep usaha dan berbuat baik dengan niat yang lurus.


Dasar-Dasarnya dari Qur’an & Hadis


1. Al-Qur’an:

   · “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)

   · “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh al-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

2. Hadis: Rasulullah ﷺ bersabda: “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar baik dan buruknya.” (HR. Muslim)


Gimana Penerapannya?


Percaya sama qadar bukan berarti pasrah total tanpa usaha. Islam ngajarin kita buat seimbang antara serah diri sama usaha. Nabi ﷺ pernah bilang:


“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditetapkan baginya.”


Jadi, percaya sama takdir itu harus dibarengin dengan action, doa, dan tawakal. Kita usaha karena itu perintah Allah, bukan karena nggak percaya takdir-Nya.


Keuntungan Percaya Sama Qadar


· Hati jadi lebih adem, especially pas lagi ada masalah.

· Nggak gampang sombong kalo lagi sukses.

· Mental kuat, siap hadapi apa pun yang terjadi.

· Bikin hubungan kita sama Allah makin akrab.


Masih Relevan Nggak Sama Zaman Now?


Di era yang serba canggih gini, kita kadang merasa bisa ngontrol segalanya. Tapi, lihat aja pandemi, bencana alam, atau hal-hal di luar kendali kita. Itu bukti bahwa takdir Allah tetaplah berlaku. Iman ke qadar jadi tameng spiritual biar kita nggak kelepasan dan lupa diri.


Refleksi Diri Yuk!


· Kalo dapet nikmat, ucapin Alhamdulillah dan bagi-bagi kebaikan.

· Kalo kena musibah, ucapin Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, karena semua milik Allah dan akan kembali ke-Nya.

· Inget, dunia cuma panggung sandiwara, takdir itu buat diimani, bukan buat ditakuti.


Step-by-Step Percaya ke Qadar


1. Yakin bahwa semua udah ditulis di Lauh al-Mahfuzh.

2. Paham bahwa kehendak Allah pasti jalan.

3. Tetep usaha dan bertanggung jawab atas pilihan kita.

4. Pasrahin hasil akhirnya sama Allah dengan lapang dada.


Doa Andalan


اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي رَاضِيًا بِقَضَائِكَ، صَابِرًا عَلَى بَلَائِكَ، وَشَاكِرًا لِنَعْمَائِكَ.


“Ya Allah, jadikanlah aku ridha atas ketetapan-Mu, sabar atas ujian-Mu, dan bersyukur atas nikmat-Mu.”


Kata-Kata Motivasi dari Para Sufi


· Hasan Al-Bashri: “Ridha sama takdir Allah itu level tertinggi imannya seorang hamba.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku nggak minta Allah ngubah takdirku, tapi aku minta Dia bikin aku ridha sama takdir itu.”

· Abu Yazid al-Bistami: “Takdir itu rahasia Allah; jangan dilawan, cari aja kedamaian di dalamnya.”

· Junaid al-Baghdadi: “Orang yang kenal Allah nggak akan pernah liat keburukan dalam takdir.”

· Al-Hallaj: “Apa pun yang Allah kehendaki, itu yang aku cintai.”

· Imam al-Ghazali: “Tau nggak, ridha atas qadar Allah itu kunci bahagia dunia akhirat.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan takut sama takdir; takutlah kalo kamu jauh dari Allah dalam takdir itu.”

· Jalaluddin Rumi: “Takdir bukan rantai yang ngekang, tapi kompas yang nuntun.”

· Ibnu ‘Arabi: “Qadar Allah itu cermin cinta-Nya; setiap kejadian punya rahmat tersembunyi.”

· Ahmad al-Tijani: “Siapa yang ridha sama qadar Allah, maka Allah ridha sama dia.”


Daftar Pustaka (Tetap Kredibel, dong!)


· Al-Qur’an al-Karim

· Shahih Muslim, Kitab al-Iman

· Imam al-Ghazali – Ihya’ Ulumuddin

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani – Futuh al-Ghaib

· Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – Syifa’ al-‘Alil

· Jalaluddin Rumi – Mathnawi

· Ibnu ‘Arabi – Futuhat al-Makkiyyah


Ucapan Terima Kasih


Alhamdulillah ya, segala puji buat Allah yang kasih kemudahan buat nulis ini. Big thanks juga buat lo semua yang mau baca dan terus menguatkan iman di tengen zaman yang makin modern. Semoga kita dikasih hati yang tenang, sabar, dan ridha sama semua ketentuan Allah. Aamiin!


---


Semoga versi ini lebih relate dan mudah dipahami, ya


No comments: