Sunday, April 5, 2026

1009. Tawadhu’ Mengangkat Derajat, Sombong Meruntuhkan Martabat.

Bismillahirahmanirrahim.

Ahad, 5 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, ada oleh oleh shubuhan dari masjid Al Abror  nyantri bareng ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Tanbihul Ghafilin (karya Abul Laits as-Samarqandi) , Edisi 1009:

---

BAB 19 Tentang Sombong.

Nabi  tengah makan daging kering (dendeng) di nampan (talam) sambil duduk bertekuk lutut (hal itu terjadi di rumah ‘Aisyah), lalu masuklah seorang wanita buruk omongannya, katanya: “Lihatlah orang itu duduknya seperti sahaya (hamba), Jawab beliau  : Betul, sejak lama hal itu kualami, baik duduk atau makanku. Lalu beliau mempersilahkan makan. Tetapi jawabnya: Tidak, kecuali kau suapi dengan tanganmu, Beliau memenuhi permintaannya, tapi kata wanita itu: Tidak, kecuali jika kau suapi aku dengan mulutmu (seperti burung memberi makan anaknya), kebetulan beliau tengah makan daging yang berotot, lalu dikeluarkan dan diberikan wanita itu, dan ketika makanan itu masuk dalam perut, tiba-tiba ia merasa malu, sampai tidak dapat melihat orang dan tidak mendengar lagi ia berkata keji hingga matinya.

Kunci harta kekayaan bumi dipercayakan kepadaku, lalu aku ditawari: Pilih menjadi Hamba dan Nabi ataukah manjadi Nabi dan Raja, lalu isyarat Jibril kepadaku agar aku tawadlu (pilih) menjadi Hamba dan Nabi, kemudian isyarat itu kupenuhi (menjadi Hamba dan Nabi) dan kelak manusia pertama keluar dari bumi adalah aku dan yang pertama pula dalam memberi syafaat. (HR. Hasan).

Barangsiapa tawadlu’ karena khusyuk, maka Allah meninggikan derajatnya di hari Kiamat, sebaliknya Barangsiapa membanggakan diri, maka Allah merendahkannya di hari Kiamat (Ibnu Mas’ud).

.........

Wa’alaikumussalām warahmatullāhi wabarakātuh.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Tawadhu’ Mengangkat Derajat, Sombong Meruntuhkan Martabat

Bismillahirahmanirrahim.

Ahad, 5 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, ada oleh oleh shubuhan dari masjid Al Abror  nyantri bareng ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Tanbihul Ghafilin (karya Abul Laits as-Samarqandi) , Edisi 1009:

 Bab 19 Tentang Sombong.

Dalam kisah yang dinukil oleh dalam Tanbīhul Ghāfilīn, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ makan dengan duduk bertekuk lutut seperti seorang hamba. Ketika seorang wanita mencela cara duduk beliau, Nabi ﷺ menjawab dengan penuh ketenangan bahwa sejak lama beliau memang demikian—sebagai hamba Allah.

Beliau ditawari dua pilihan: menjadi Nabi dan Raja, atau Nabi dan Hamba. Dengan isyarat , beliau memilih menjadi Nabi dan Hamba.

Inilah puncak tasawuf: memilih kehinaan di hadapan manusia demi kemuliaan di sisi Allah.


I. Landasan Al-Qur’an dan Hadis

Allah ﷻ berfirman:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…”
(QS. Al-Furqan: 63)

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. An-Nisa: 36)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Ibnu Mas’ud r.a. berkata:

“Barangsiapa tawadhu’ karena khusyuk kepada Allah, Allah akan meninggikan derajatnya di hari kiamat. Dan barangsiapa menyombongkan diri, Allah akan merendahkannya di hari kiamat.”


II. Analisis dan Argumentasi Tasawuf

Dalam perspektif tasawuf, sombong (kibr) adalah penyakit hati paling berbahaya karena:

  1. Ia menutup pintu ma’rifat.
    Hati yang penuh keakuan tidak bisa dipenuhi cahaya Allah.
  2. Ia adalah sifat Iblis.
    Iblis enggan sujud karena merasa lebih mulia (QS. Al-A’raf: 12).
  3. Ia menghancurkan amal.
    Amal lahir bisa banyak, tapi jika batin merasa lebih tinggi dari orang lain, nilainya gugur.

Sebaliknya, tawadhu’ adalah pengakuan hakiki bahwa:

  • Semua nikmat berasal dari Allah.
  • Kita tidak punya daya kecuali dengan-Nya.
  • Manusia sama-sama hamba.

Para sufi berkata:

“Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”
Artinya, ketika sadar diri penuh kekurangan, ia tidak akan sempat menyombongkan diri.


III. Motivasi dan Muhasabah

✦ Tanda-tanda Sombong dalam Diri:

  • Sulit menerima nasihat.
  • Senang dipuji, marah saat dikritik.
  • Merasa paling benar.
  • Enggan duduk bersama orang kecil atau miskin.

✦ Cara Muhasabah:

  1. Ingat asal kita dari tanah.
  2. Ingat akhir kita menjadi tanah.
  3. Ziarah kubur untuk melembutkan hati.
  4. Perbanyak istighfar.
  5. Duduk bersama fakir miskin.
  6. Latih diri menerima kritik tanpa membela diri.

Amalan sederhana:

  • Biasakan duduk di tempat yang tidak menonjol.
  • Jangan menolak undangan orang kecil.
  • Makan bersama orang yang sederhana.

IV. Hikmah, Tujuan dan Manfaat Tawadhu’

1. Di Dunia:

  • Dicintai manusia.
  • Hatinya tenang.
  • Dihormati tanpa meminta dihormati.
  • Dijaga Allah dari permusuhan.

2. Di Alam Kubur:

  • Kuburnya lapang karena hati lapang.
  • Dijauhkan dari kesempitan akibat kesombongan.

3. Di Hari Kiamat:

  • Diangkat derajatnya.
  • Mendapat naungan rahmat Allah.
  • Dekat dengan syafaat Nabi ﷺ.

4. Di Akhirat:

  • Masuk surga dengan wajah berseri.
  • Mendapat kemuliaan yang hakiki.

V. Kemuliaan dan Kehinaan

Tawadhu’ Sombong
Rendah di dunia Tinggi di dunia
Tinggi di akhirat Rendah di akhirat
Dicintai Allah Dimurkai Allah
Dekat surga Dekat neraka

Hakikatnya, orang sombong sedang menggali lubang kehinaan untuk dirinya sendiri.


VI. Renungan Tasawuf

Rasulullah ﷺ—manusia paling mulia—memilih menjadi hamba.

Kita ini siapa?

Jika Nabi saja memilih kehambaan, maka kebanggaan kita pada jabatan, harta, ilmu, atau keturunan adalah tanda belum mengenal diri.

Sombong itu bukan hanya berdiri dengan dada tegak.
Sombong itu adalah hati yang merasa “aku lebih”.


VII. Doa

Allāhumma innā na‘ūdzu bika min kibrin wa ‘ujbin wa riya’.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesombongan, dari bangga diri, dan dari riya.

Allāhumma aj‘alnā min ‘ibādika al-mukhbitīn, al-mutawādhi‘īn.
Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang tunduk dan rendah hati.

Allāhumma lā taj‘al fidz-dzāti syai’an yufsid ‘amalnā.
Ya Allah, jangan Engkau sisakan dalam diri kami sesuatu yang merusak amal kami.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Penutup

Semoga oleh-oleh Shubuh ini menjadi cermin bagi hati kita.
Semoga kita lebih sibuk memperbaiki diri daripada mengukur orang lain.

Terima kasih kepada para penikmat ilmu yang senantiasa hadir menuntut cahaya.
Semoga majelis ini menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

.......


---


Judul: Rendah Hati Bikin Naik Kelas, Sombong Bikin Merosot Martabat


Bismillahirrahmanirrahim.


Halo para sesepuh dan penikmat ilmu yang kece abadinya.


Ahad, 5 April 2026


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Selamat pagi, njenengan semua. Kali ini aku mau sharing oleh-oleh subuh dari masjid Al Abror, ngaji santai bareng Ustadz A. Zubaidi. Beliau ngupas tipis-tipis kitab Tanbihul Ghafilin (karya Abul Laits as-Samarqandi), edisi 1009, bab 19 tentang sombong.


Begini ceritanya, ada kisah keren dari kitab Tanbīhul Ghāfilīn. Rasulullah ﷺ itu kalau makan caranya duduk mleyot ala orang biasa, kayak abdi dalem. Terus ada seorang ibu yang nyeletuk, "Kok cara duduknya begitu, Yah?" Dengan santuy, Nabi ﷺ jawab, "Memang sejak dulu aku begini—sebagai hamba Allah."


Nabi ﷺ waktu itu ditawari dua pilihan: jadi Nabi sekaligus Raja, atau jadi Nabi sekaligus Hamba. Dengan isyarat, beliau milih jadi Nabi dan Hamba.


Nah, itu puncaknya spiritual: milih kelihatan rendah di mata manusia, tapi mulia di sisi Allah.


---


I. Dalil dari Al-Qur'an dan Hadis (teks asli tetap)


Allah ﷻ berfirman:


“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan: 63)


Dan firman-Nya:


“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)


Ibnu Mas’ud r.a. bilang:


“Barangsiapa tawadhu’ karena khusyuk kepada Allah, Allah akan meninggikan derajatnya di hari kiamat. Dan barangsiapa menyombongkan diri, Allah akan merendahkannya di hari kiamat.”


---


II. Bahasan ala Santai dari Kacamata Tasawuf


Dalam dunia tasawuf, sombong (kibr) itu penyakit hati paling bahaya, alasannya:


· Bikin hati keras, jadi susah deket sama Allah.

· Itu gaya iblis, kan? Iblis gak mau sujud karena merasa lebih hebat (QS. Al-A'raf: 12).

· Amal sebanyak apapun bisa ilang kalau hati merasa paling unggul.


Sebaliknya, tawadhu’ itu sadar bahwa semua nikmat dari Allah. Kita nggak punya daya apa-apa tanpa-Nya. Kata para sufi:


“Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”


Artinya, kalau kita sadar diri punya banyak kekurangan, nggak sempet deh buat sombong.


---


III. Cek Yuk, Siapa Tahu Kita Lagi Sombong?


Tanda-tanda sombong yang sering gak kita sadari:


· Susah banget dikasih masukan.

· Dikit-dikit minta pujian, dikritik sedikit langsung bete.

· Merasa paling bener sendiri.

· Males kumpul sama orang biasa atau yang sederhana.


Tips mehong (mahalan) buat muhasabah diri:


· Ingat asal kita dari tanah.

· Ingat ujung-ujungnya juga balik ke tanah.

· Sering-sering ziarah kubur biar luluh hatinya.

· Perbanyak istigfar.

· Suka duduk-duduk bareng yang kurang mampu.

· Latihan terima kritik tanpa bela diri.


Amalan simpel yang bisa dicoba:


· Biasakan duduk di pojok, gak usah di depan terus.

· Jangan nolak undangan orang kecil.

· Makan bareng dengan yang sederhana.


---


IV. Asyiknya Tawadhu' (Manfaatnya Keren Banget)


1. Di dunia:


· Banyak yang sayang.

· Hati adem ayem.

· Dihormati tanpa minta dihormati.

· Dijaga Allah dari musuh-musuhan.


2. Di alam kubur:


· Kuburnya lega, karena hatinya lapang.

· Aman dari sempitnya kubur gara-gara sombong.


3. Di hari kiamat:


· Derajat diangkat tinggi.

· Dapat naungan rahmat Allah.

· Dekat sama syafaat Nabi ﷺ.


4. Di akhirat:


· Masuk surga dengan muka sumringah.

· Dapat kemuliaan sejati.


---


V. Perbandingan Singkat: Rendah Hati vs Sombong


Tawadhu’ (Rendah hati) Sombong

Di dunia rendah Di dunia tinggi

Di akhirat tinggi Di akhirat rendah

Dicintai Allah Dimurkai Allah

Dekat surga Dekat neraka


Intinya, orang sombong itu lagi menggali lubang buat dirinya sendiri.


---


VI. Renungan Santuy Tapi Dalam


Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia sejagat, milih jadi hamba. Nah, kita ini siapa? Kalau Nabi aja milih jadi abdi, masa kita masih merasa paling hebat karena jabatan, harta, ilmu, atau silsilah keluarga?


Sombong itu bukan cuma soal badan tegap atau jalan jingkrak-jingkrak. Sombong itu di hati: ada rasa "aku lebih" dari yang lain.


---


VII. Doa Singkat


Allāhumma innā na‘ūdzu bika min kibrin wa ‘ujbin wa riya’.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sombong, bangga diri, dan pamer.


Allāhumma aj‘alnā min ‘ibādika al-mukhbitīn, al-mutawādhi‘īn.

Ya Allah, jadikan kami hamba-Mu yang tunduk dan rendah hati.


Allāhumma lā taj‘al fidz-dzāti syai’an yufsid ‘amalnā.

Ya Allah, jangan sisakan dalam diri kami sesuatu yang merusak amal kami.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


---


Penutup (Gaya Gaul Hormat)


Semoga oleh-oleh subuh ini bisa jadi cermin buat kita semua. Semoga kita lebih asyik memperbaiki diri sendiri daripada sibuk ngukur-ngukur orang lain.


Makasih banyak buat para penikmat ilmu yang selalu setia ikut ngaji. Semoga majelis ini jadi saksi kebaikan kita di sisi Allah.

......



Wednesday, April 1, 2026

1009. Jaga Iman, Islam, dan Ihsan di Zaman Serba Canggih.

Bismillahirahmanirrahim.

Rabu, 1 Apr 2026
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Masjid Nurul Jannah oleh oleh isya'an nyantri bareng Ust. Farid A. kupas tipis tipis kitab Irsyadul Ibad (Karya Zainuddin Al-Malibari) *Edisi 1009* :

BAB : IMAN.

Dari Umar bin Khatthab ra berkata: “Pada suatu hari, kami berada di sisi Rasulullah saw, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mengenakan pakaian yang sangat putih, rambutnya hitam-kelam, tidak tampak bekas bahwa dia dari bepergian.

Disamping tidak seorangpun dari kita yang mengenalnya, lalu duduk di hadapan Nabi saw, lalu menyandarkan kedua lututnya kepada dua lutut Nabi saw dan meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pahanya sendiri, lalu berkata: “Wahai Muhammad, beritahukan aku tentang Islam.

Lalu Rasulullah saw bersabda: ‘Islam ialah hendaknya kamu menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah swt dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah swt. Kamu mendirikan shalat, berpuasa di Bulan Ramadhan, menjalankan haji ke baitullah apabila kamu mampu pergi ke sana.’

Lalu seorang lelaki itu menjawab: ‘Betul.’ Perawi berkata: ‘Lalu kami merasa heran, dia bertanya kepada Nabi saw, lalu dia yang mengatakan betul terhadap jawaban Nabi saw.’ Lalu dia bertanya lagi: ‘Beritahukanlah aku tentang iman.’ Nabi saw menjawab: ‘Iman ialah hendaklah kamu beriman kepada Allah swt, malaikatNya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, hari kemudian, kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk (dari Allah swt).’

Lelaki itu berkata: ‘Betul (apa yang kamu katakan)’ Lalu dia bertanya lagi: “Berilah tahukan aku tentang ihsan.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Ihsan ialah hendaklah kamu menyembah kepada Allah swt seolah-olah kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah swt melihatmu.’
Lalu lelaki itu bertanya lagi: ‘Beritahulah aku tentang terjadinya hari kiamat.’ Nabi bersabda: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui tentang terjadinya kiamat) daripada orang yang bertanya.’ Lalu lelaki itu berkata lagi: ‘Beritahulah aku tentang tanda- tandanya (hari kiamat).

Nabi menjawab: “Hendaklah budak wanita melahirkan majikannya. Dan kamu lihat orang-orang yang biasanya tidak beralas kaki, telanjang, fakir miskin, penggembala kambing berlomba-lomba dalam membangun gedung.’ Kemudian lelaki itu pergi, aku masih pun tetap duduk di situ.

Kemudian Nabi bersabda: ‘Wahai Umar, apakah kamu mengetahui siapakah orang yang bertanya tadi?’ Aku (Umar) berkata: “Allah swt dan RasulNya lebih mengetahui.’ Lalu Nabi saw bersabda: Sesungguhnya lelaki tadi adalah Jibril yang datang padamu untuk mengajarimu tentang agama”.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

---

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga bermanfa'at selalu.
—M. Djoko ekasanU—

...........

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Rabu, 1 Apr 2026
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Masjid Nurul Jannah oleh oleh isya'an nyantri bareng Ust. Farid A. kupas tipis tipis kitab Irsyadul Ibad (Karya Zainuddin Al-Malibari) *Edisi 1009* :

BAB : IMAN.

🌿 Menjaga Iman, Islam, dan Ihsan di Tengah Kecanggihan Zaman

📜 Ringkasan Redaksi Asli Hadis (Hadis Jibril)

Dari sahabat r.a., datang seorang lelaki berpakaian sangat putih, rambut hitam pekat, tak dikenal para sahabat. Ia duduk di hadapan Nabi ﷺ dan bertanya tentang:

  • Islam → Syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, haji.
  • Iman → Iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir.
  • Ihsan → Beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak, yakin Allah melihat kita.
  • Tanda kiamat → Budak melahirkan tuannya dan manusia berlomba membangun gedung tinggi.

Lelaki itu ternyata adalah Malaikat Jibril yang datang untuk mengajarkan agama.


🌍 Refleksi Sosial: Iman di Tengah Kecanggihan Teknologi

Hari ini kita hidup di zaman luar biasa:

  • Komunikasi secepat cahaya.
  • Transportasi menembus benua dalam hitungan jam.
  • Kedokteran mampu mengganti organ tubuh.
  • Teknologi digital mendekatkan yang jauh.

Namun pertanyaannya:
Apakah iman kita ikut maju, atau justru tertinggal?

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan bukan pada kecanggihan alat, tetapi pada kebersihan hati.


🧠 1. Teknologi dan Iman

Internet bisa menjadi ladang pahala atau ladang dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Tazkiyatun Nufūs mengajarkan:

  • Gunakan teknologi untuk dakwah.
  • Gunakan media sosial untuk menebar kebaikan.
  • Hindari ghibah digital dan fitnah daring.

Ingat: Allah melihat meski layar menutup wajah kita.
Itulah makna Ihsan.


🚗 2. Transportasi dan Kesadaran Akhirat

Hari ini manusia berlomba membangun gedung tinggi — sebagaimana tanda kiamat dalam hadis Jibril.

Allah ﷻ mengingatkan:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.”
(QS. At-Takatsur: 1)

Mobil mewah bukan masalah.
Pesawat pribadi bukan masalah.
Yang masalah adalah hati yang lupa pulang.

Transportasi mempercepat perjalanan dunia,
tetapi apakah kita mempercepat perjalanan menuju Allah?


🏥 3. Kedokteran dan Tawakal

Ilmu medis semakin canggih.
Operasi rumit bisa dilakukan.
Penyakit berat bisa diobati.

Namun Allah berfirman:

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 80)

Dokter berusaha.
Obat bekerja.
Tapi kesembuhan tetap dari Allah.

Tazkiyatun Nufūs mengajarkan:

  • Ikhtiar maksimal.
  • Tawakal total.
  • Sabar ketika diuji.

📱 4. Komunikasi dan Akhlak

Chat cepat, pesan instan, komentar bebas.
Namun Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jempol juga akan dimintai pertanggungjawaban.

Ihsan dalam komunikasi berarti:

  • Mengetik dengan adab.
  • Mengirim dengan niat baik.
  • Menghapus sebelum menyakiti.

🌟 Inti Tazkiyatun Nufūs

Hadis Jibril mengajarkan bahwa agama bukan sekadar ritual, tetapi:

  • Islam → Amal lahiriah.
  • Iman → Keyakinan batiniah.
  • Ihsan → Kesadaran ilahiah.

Di zaman modern, kita butuh lebih banyak Ihsan.

Karena teknologi semakin canggih,
tetapi hati manusia bisa semakin kosong.

Allah berfirman:

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)


✨ Penutup Motivasi

Mari kita jadikan:

  • Smartphone sebagai alat zikir.
  • Kendaraan sebagai jalan silaturahmi.
  • Ilmu sebagai sarana mendekat kepada Allah.
  • Kekayaan sebagai jalan sedekah.

Jangan sampai kita ahli teknologi,
tetapi miskin ruhani.

Jangan sampai kita membangun gedung tinggi,
tetapi pondasi iman runtuh.


🤲 Doa

Ya Allah,
bersihkan hati kami dari riya dan ujub.
Jadikan teknologi sebagai sarana ibadah.
Jadikan ilmu sebagai cahaya.
Jadikan dunia di tangan kami, bukan di hati kami.

Ya Allah,
anugerahkan kepada kami Islam yang kokoh,
Iman yang kuat,
dan Ihsan yang hidup dalam setiap gerak dan diam kami.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Terima kasih atas kesempatan berbagi ilmu.
Semoga Allah membalas setiap huruf dengan pahala yang berlipat.

..........

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Semoga bermanfa'at selalu.
—M. Djoko ekasanU—

...........

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.


Selamat siang, semoga sehat selalu ya, para sesepuh dan penikmat ilmu yang kami hormati.


Nih, dari Masjid Nurul Jannah ada oleh-oleh buat kita semua, hasil ngaji isya’an santai bareng Ust. Farid A. kali ini beliau kupas tipis-tipis kitab Irsyadul Ibad (karya Zainuddin Al-Malibari) edisi ke-1009. Yuk, disimak dengan hati riang.


BAB : IMAN.


🌿 Jaga Iman, Islam, dan Ihsan di Zaman Serba Canggih


📜 Ringkasan Hadis Jibril (yang jadi bahan obrolan kita)


Dulu, ada kisah dari sahabat nih. Tiba-tiba datang seorang laki-laki pakaiannya putih bersih, rambutnya hitam legam, nggak ada satu sahabat pun yang kenal. Dia duduk manis di hadapan Nabi ﷺ, lalu bertanya soal:


· Islam → Syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, haji.

· Iman → Iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir.

· Ihsan → Ibadah itu kayak lihat Allah langsung. Kalau belum sampai, ya yakin aja kalau Allah selalu lihat kita.

· Tanda kiamat → Budak melahirkan majikannya, dan manusia pada rame-rame bikin gedung julang langit.


Ternyata, lelaki itu adalah Malaikat Jibril. Tujuannya satu: ngajarin kita agama dengan cara yang asyik dan mendalam.


🌍 Renungan: Iman di Tengah Teknologi Canggih


Hayo ngaku, zaman sekarang tuh serba canggih banget, ya?


· Ngobrol secepat kilat.

· Jalan-jalan ke seberang benua cuma hitungan jam.

· Kedokteran udah bisa ganti-ganti organ tubuh.

· Teknologi digital ngecilin dunia.


Tapi, pertanyaan besarnya:

Apakah iman kita ikut maju, atau malah jalan di tempat?


Allah ﷻ sudah ngasih tahu di surat Al-Hujurat ayat 13:


“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”


Jadi, mulia itu bukan soal punya gawai terbaru, tapi karena hati kita bersih.


🧠 1. Teknologi dan Iman


Internet tuh kayak pisau. Bisa buat masak jadi manfaat, atau bisa juga buat hal-hal nggak baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:


“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)


Nah, ini pelajaran buat kita semua:


· Manfaatin teknologi buat nyebarin kebaikan.

· Media sosial dipakai buat tebar manfaat, bukan buat ngegosip atau nyebar fitnah.

· Ingat, meski wajah kita ketutup layar, Allah Maha Lihat. Itu namanya ihsan.


🚗 2. Transportasi dan Ingat Akhirat


Hadis Jibril dulu sudah ngingetin: manusia bakal berlomba-lomba bikin gedung tinggi. Sekarang kita lihat sendiri, gedung pencakar langit di mana-mana.


Allah ﷻ ngingetin lagi di surat At-Takatsur:


“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.”


Punya mobil bagus, pesawat pribadi, itu nggak masalah. Tapi kalau hati jadi lupa diri dan lupa sama Allah, nah itu yang bahaya. Transportasi bikin perjalanan dunia makin cepet, tapi pertanyaannya: apakah perjalanan kita menuju Allah juga ikut cepet?


🏥 3. Kedokteran dan Tawakal


Ilmu medis zaman sekarang makin canggih. Operasi rumit bisa jalan, penyakit berat bisa diobatin. Tapi Allah sudah ngasih tahu di surat Asy-Syu’ara ayat 80:


“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”


Dokter dan obat itu perantara. Ikhtiar tetap wajib, tapi tawakal harus total. Kalau lagi sakit, sabar ya, itu juga bagian dari ujian.


📱 4. Komunikasi dan Adab


Sekarang, chat bisa kirim pesan dalam sekejap, komentar bisa meluncur bebas. Tapi Rasulullah ﷺ sudah kasih panduan simpel:


“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Jempol kita juga bakal dimintai pertanggungjawaban lho. Makanya, dalam komunikasi, kita jaga adab: ngetik yang baik, kirim dengan niat yang bener, kalau bisa bikin sakit hati, mendingan dihapus dulu.


🌟 Inti Pelajaran


Hadis Jibril ngajarin kita kalau agama itu bukan cuma ibadah rutin, tapi:


· Islam → amalan yang keliatan.

· Iman → keyakinan di dalam hati.

· Ihsan → sadar kalau Allah selalu sama kita.


Di zaman yang serba maju ini, kita justru butuh lebih banyak ihsan. Karena teknologi makin canggih, jangan sampe hati kita makin kosong. Allah ﷻ sudah janji:


“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)


✨ Pesan Penutup yang Santai


Yuk, kita jadikan:


· HP sebagai alat buat berzikir.

· Kendaraan sebagai jalan buat jalin silaturahmi.

· Ilmu sebagai cara buat lebih dekat sama Allah.

· Harta sebagai jalan buat bersedekah.


Jangan sampe kita jago soal teknologi, tapi miskin ruhani. Jangan sampe kita sibuk bikin gedung tinggi, tapi pondasi iman kita goyah.


🤲 Doa


Ya Allah,

bersihkan hati kami dari pamer dan sombong.

Jadikan teknologi yang kami pakai sebagai sarana ibadah.

Jadikan ilmu yang kami punya sebagai cahaya.

Jadikan dunia ini di tangan kami, bukan di hati kami.


Ya Allah,

berikan kami Islam yang kuat,

Iman yang kokoh,

dan Ihsan yang hidup di setiap langkah kami.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Terima kasih ya atas waktu dan kesempatan berbagi ilmu. Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Semoga manfaat selalu.

—M. Djoko ekasanU—