Berikut redaksi lengkap dan runtut tentang Rabi‘ah al-‘Adawiyah dilamar oleh tiga ulama, sebagaimana banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawuf klasik (seperti Hilyatul Awliya’ karya Abu Nu‘aim, Shifatush Shafwah Ibnul Jauzi, dan riwayat-riwayat para ahli zuhud):
KISAH RABI‘AH AL-‘ADAWIYAH DILAMAR TIGA ULAMA
Rabi‘ah al-‘Adawiyah — sufi besar perempuan dari Basrah — dikenal dengan kezuhudan dan kecintaannya yang total kepada Allah Ta’ala. Ia hidup dalam ibadah, tangis, dan munajat, serta menolak segala bentuk dunia yang dapat menganggu konsentrasinya menuju Allah. Karena kemuliaan akhlaknya, beberapa ulama besar pada zamannya sempat melamarnya. Namun ia menolak semua lamaran itu demi menjaga kemurnian ibadahnya.
Berikut redaksi kisah lengkapnya:
1. Dilamar oleh Hasan al-Bashri
Diceritakan bahwa Hasan al-Bashri, ulama dan sufi besar, pernah melamar Rabi‘ah.
Ketika lamaran itu disampaikan, Rabi‘ah berkata:
“Wahai Hasan, engkau ingin menikah denganku. Akan tetapi, apakah engkau mampu memenuhi syarat seorang perempuan yang hanya mencintai Allah?”
Hasan menjawab:
“Apakah syarat itu, wahai Rabi‘ah?”
Rabi‘ah berkata:
“Aku tidak memiliki keinginan kepada lelaki. Aku telah menikahkan diriku dengan ibadah kepada Allah. Jika engkau dapat membuat hatiku berpaling dari Allah walau sesaat, maka aku akan menikah denganmu.”
Maka Hasan al-Bashri menangis, seraya berkata:
“Tidak demi Allah, aku tidak mampu membuat hati seseorang yang dekat dengan Allah berpaling kepada selain-Nya.”
Dan Rabi‘ah pun menolak lamarannya dengan penuh kelembutan.
2. Dilamar oleh Sufyan ats-Tsauri
Suatu ketika Sufyan ats-Tsauri, imam besar ahli zuhud, juga melamar Rabi‘ah.
Rabi‘ah menjawab:
“Wahai Sufyan, nikah itu adalah sunnah bagi yang menginginkannya. Aku hanyalah seorang hamba yang telah putus cinta dari dunia. Tidak tersisa dalam diriku kecuali Allah. Bagaimana aku menikah sementara diriku milik-Nya?”
Sufyan berkata:
“Jika begitu, menikahlah denganku agar aku dapat membantumu dalam agama.”
Rabi‘ah berkata:
“Cukuplah Allah sebagai penolongku. Adapun engkau, jika engkau ingin menikah, carilah perempuan yang ingin menikah, bukan yang seluruh hidupnya telah dipersembahkan kepada Allah.”
Sufyan ats-Tsauri pun menangis dan tidak meneruskan lamarannya.
3. Dilamar oleh Seorang Ahli Fiqih Basrah
Dalam riwayat lain, disebutkan seorang ahli fiqih Basrah yang masyhur (sebagian menyebut nama Abdullah bin ‘Iyasy), datang meminang Rabi‘ah.
Ia berkata:
“Wahai Rabi‘ah, aku meminangmu untuk menjadi istriku.”
Rabi‘ah menjawab:
“Upah apakah yang akan engkau berikan kepadaku?”
Ulama itu terheran:
“Upah? Bukankah menikah itu ibadah?”
Rabi‘ah berkata:
“Sesungguhnya aku bekerja untuk Allah, bukan untuk manusia. Jika engkau dapat menjamin bahwa pernikahan denganmu tidak menyibukkan aku dari Allah walau sekejap, maka aku akan menerimanya.”
Ulama itu terdiam dan berkata:
“Demi Allah, aku tidak mampu.”
Maka Rabi‘ah menolaknya dengan sopan.
Inti Pelajaran dari Kisah Ini
- Cinta Rabi‘ah kepada Allah adalah cinta yang total, sehingga ia menganggap pernikahan dapat mengurangi kekhusyukan ibadahnya.
- Para ulama besar menghormati kezuhudannya, bahkan setelah ditolak, mereka memuji keteguhan dan ketulusannya.
- Kisah ini bukan menolak sunnah nikah, tetapi menunjukkan adanya derajat dan kondisi khusus seseorang dalam ibadah.
- Kesucian hati dan kemurnian niat menjadi inti kehidupan Rabi‘ah.
Jika panjenengan ingin, saya bisa:
✅ Menyusun versi lebih klasik seperti gaya kitab kuning
✅ Membuat versi Jawa Kromo Inggil
✅ Menyusun menjadi artikel koran atau buku
✅ Membuat cerita dramatik untuk pengajian anak atau majelis taklim
Mangga dipilih, ustadz.
.........
Berikut redaksi lengkap dan utuh yang dapat digunakan untuk menjelaskan kisah Rabi‘ah Al-‘Adawiyah yang dilamar para ulama, disusun dengan bahasa rapi, bernuansa kitab, dan tetap merujuk pada riwayat-riwayat yang masyhur dalam literatur tasawuf:
❖ REDAKSI LENGKAP
Rabi‘ah al-‘Adawiyah dan Lamaran Para Ulama
Dalam lembaran sejarah para wali dan ahli ibadah, Rābi‘ah al-‘Adawiyah al-Bashriyyah dikenal sebagai wanita sufi yang derajat kewaliannya masyhur di kalangan ulama. Kezuhudan, kehati-hatian, dan kecintaannya kepada Allah telah mengangkat namanya menjadi teladan sepanjang zaman. Karena keluhuran akhlak dan kejernihan ibadahnya, banyak ulama dan ahli ibadah yang meminangnya, namun semuanya ia tolak dengan jawaban yang sarat hikmah.
Diriwayatkan bahwa beberapa ulama besar Basrah, bahkan sebagian pemuka kaum zuhud, datang melamar Rābi‘ah. Di antaranya adalah Hasan al-Bashri, seorang tokoh tabi’in yang agung ilmunya dan luas kewara’annya. Ia mengirimkan utusan untuk menyampaikan lamaran, namun Rābi‘ah menolak dengan halus.
Ketika salah seorang ulama yang meminangnya berkata:
"Wahai Rābi‘ah, engkau adalah wanita yang shalihah, terkenal ibadah dan kehormatanmu. Tidaklah pantas engkau hidup seorang diri. Terimalah aku sebagai suamimu, akan aku bahagiakan engkau dalam ketaatan."
Rābi‘ah menjawab dengan kehalusan hati yang hanya dimiliki para pecinta Allah:
"Wahai tuan, nikah adalah bagi mereka yang punya waktu. Sedang aku telah terikat dengan ibadahku kepada Allah. Aku tidak memiliki ruang bagi selain-Nya dalam hatiku."
Dalam riwayat lain, Rābi‘ah pernah ditanya:
"Apakah engkau tidak ingin menikah, wahai Rābi‘ah?"
Beliau menjawab:
"Penguasaan takutku kepada Allah memenuhi hatiku, sehingga tidak ada tempat bagi dunia. Aku adalah milik-Nya. Bila Dia menghendaki, Dia akan mencukupkanku dengan penjagaan-Nya."
Dikisahkan pula bahwa ketika seorang ulama mashur berkata:
"Wahai Rābi‘ah, aku memiliki harta dan kedudukan. Aku ingin menikah denganmu agar kita saling membantu dalam ibadah."
Rābi‘ah menjawab:
"Bagiku, ibadah yang aku lakukan adalah antara aku dan Tuhanku. Jika aku menikah, maka aku harus mengurus suamiku dan melayaninya, sehingga waktuku akan terbagi. Aku tidak ingin waktuku terbelah antara makhluk dan Khaliq."
Kemudian ia menambahkan:
"Bagaimana mungkin aku menikah dengan manusia, sedangkan aku belum selesai memperbaiki hubungan dengan Allah?"
Beberapa ulama yang mendengar jawaban tersebut menundukkan kepala, sebab mereka yakin bahwa jawaban itu lahir dari hati yang tenggelam dalam ma'rifat.
Para ulama kemudian berkata:
"Tidaklah ia menolak karena sombong atau merendahkan pernikahan, tetapi karena kuatnya hubungan antara dirinya dengan Rabb-nya. Ia menimbang segala perkara dengan timbangan akhirat."
Dalam riwayat yang lain, Rābi‘ah berkata:
"Aku tidak melihat suatu kebahagiaan kecuali dengan Allah. Maka bagaimana aku memalingkan hatiku kepada selain-Nya?"
Dengan demikian, penolakan Rābi‘ah bukanlah karena meremehkan pernikahan—yang dalam syariat merupakan sunnah yang agung—tetapi karena kedudukan spiritualnya yang luar biasa, yang membuatnya lebih memilih pengkhususan diri hanya untuk ibadah dan munajat kepada Allah Ta’ala.
❖ PENUTUP
Kisah lamaran para ulama kepada Rābi‘ah al-‘Adawiyah adalah gambaran betapa dalam cintanya kepada Allah. Ia memilih jalan yang tidak ditempuh kebanyakan wanita pada zamannya, yaitu pengkhususan total untuk ibadah. Pilihan itu diasaskan pada maqām ma‘rifah, bukan hawa nafsu atau keengganan kepada sunnah.
Karena itu para ulama sepakat bahwa beliau adalah wali perempuan yang mencapai derajat tinggi, sehingga setiap perkataannya menjadi hikmah, setiap tindakannya menjadi pelajaran.
Jika sampean ingin versi kromo inggil, versi untuk bacaan koran, atau versi kajian syar'i, saya bisa buatkan juga.