Saturday, December 11, 2010

Mengapa Harus Operasi?

Mengapa Harus Operasi?

Pembedahan merupakan jenis pengobatan kanker yang paling tua dan paling penting. Selain untuk pengobatan, pembedahan juga dilakukan untuk menegakkan diagnosa dan menentukan stadium kanker. Dengan semakin majunya teknik pembedahan, tingkat keberhasilannya pun semakin meningkat. Kini pembedahan diupayakan menimbulkan luka seminimal mungkin, sehingga penderita tetap dapat beraktivitas senormal mungkin.

Pembedahan –yang secara awam lebih dikenal dengan istilah operasi– menawarkan tingkat kesembuhan yang paling tinggi dibanding pengobatan kanker jenis lainnya, khususnya jika sel-sel kanker belum menyebar ke bagian tubuh lain.

Sebagian besar penderita kanker memerlukan operasi pembedahan (dalam skala besar maupun kecil, yang kadang bahkan tidak menimbulkan luka bedah sama sekali) dengan berbagai tujuan:

Preventif (Pencegahan)
Dilakukan untuk mengangkat jaringan tubuh non kanker yang dikhawatirkan akan berkembang menjadi ganas/kanker. Contohnya, operasi untuk mengangkat polip di usus besar.

Diagnostik
Lazim disebut biopsi, dilakukan untuk mengambil sampel jaringan untuk mengetahui ganas-tidaknya atau apa jenis kankernya. Diagnosa kanker sering hanya dapat dipastikan dengan cara memeriksa sampel jaringan menggunakan mikroskop.

Menentukan Stadium
Sekalipun pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium atau foto dapat membantu menetukan stadium kanker, operasi bisa lebih akurat menunjukkan sudah seberapa jauh kanker itu menyebar, misalnya operasi laparotomi atau laparoskopi.

Penyembuhan
Selama berpuluh-puluh tahun tindakan operasi merupakan cara penyembuhan kanker yang paling utama. Terkadang dikombinasikan dengan kemoterapi atau radiasi (atau keduanya sekaligus), terkadang tidak. Kemoterapi dan radiasi bisa diberikan sebelum atau sesudah pembedahan, bahkan radiasi kadang diberikan pada saat dilakukan pembedahan.

Jika jaringan kanker belum menyebar dan seluruhnya bisa diangkat, tindakan ini dapat membawa kesembuhan total. Tetapi jika sudah menyebar ke sekitarnya, apalagi ke organ tubuh lain seperti pada penderita stadium lanjut, mengangkat seluruh jaringan kanker beresiko menyebabkan kerusakan yang terlalu parah. Tindakan operasi dilakukan hanya untuk mengangkat sebanyak mungkin jaringan, sisanya dibersihkan dengan kemoterapi atau radioterapi.

Paliatif
Pada beberapa jenis kanker stadium lanjut yang tidak mungkin disembuhkan, tindakan operasi dilakukan untuk mengatasi komplikasi dan gangguan yang timbul. Misalnya, kadang ada kanker di bagian perut tumbuh begitu besar sampai menyumbat usus atau mengganggu organ-organ lain. Ini perlu diatasi. Bisa juga pembedahan dilakukan untuk menghilangkan sumber rasa sakit yang tidak mungkin diatasi dengan obat-obatan biasa.

Suportif
Pembedahan jenis ini bertujuan untuk menunjang pengobatan jenis lain. Misalnya operasi pemasangan port kateter pada pembuluh darah, yang akan digunakan untuk memasukkan obat-obat kemoterapi, mengambil sampel darah, dsb.

Rekonstruktif
Bedah rekonstruksi dilakukan untuk mengembalikan penampilan seseorang atau fungsi organ tubuhnya setelah dilakukan operasi lain sebelumnya. Contohnya pada kanker payudara, perlu dilakukan bedah rekonstruksi setelah penderita menjalani operasi mastektomi (pengangkatan payudara). (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Hak-hak Pasien Kanker

Hak-hak Pasien Kanker

Di masyarakat kita masih melekat kuat budaya ”nurut saja apa kata dokter” tanpa perlu bertanya, berdiskusi, terlebih lagi mendebat. Salah satu penyebabnya adalah sedikitnya jumlah dokter ahli kanker/onkologi di Indonesia yang juga berpengaruh pada kualitas ataupun kuantitas hubungan yang sejajar sebagai partner antara pasien dan dokter. Karenanya, sudah tiba waktunya bagi pasien untuk “learning by doing” dalam proses pengobatan penyakit.

Undang-undang No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan yang telah di perbaharui dengan UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi mengatur dan menyebutkan tentang hak-hak pasien, yang antara lain adalah :

1. Hak Atas Informasi

Dalam segala bidang sebuah informasi menduduki peringkat yang sangat tinggi. Informasi ini menjadi penting karena menuntut kejujuran dan mengharapkan kebenaran. Sepahit apapun itu. Mari kita belajar bersama-sama untuk menanggapi secara kritis segala informasi yang kita terima dari dokter sejak diagnosa disampaikan, pemeriksaan awal yang diperlukan sebagai penunjang, tindakan medis yang dilakukan, juga obat-obatan yang kita konsumsi. Tidak hanya itu, konsekwensi atau risiko terburuk yang mungkin kita terima dari pengobatan yang kita tempuh pun harus kita ketahui, termasuk di dalamnya hitungan biaya, fasilitas rumah sakit, serta obat-obatan yang tersedia.
Jika informasi yang kita dapatkan dari dokter atau pihak pemberi layanan medis yang berkaitan sangat minim, sudah saatnya kita mengingatkan atau bahkan menegaskan kepada mereka bahwa salah satu kewajiban mereka adalah sebagai sumber informasi bagi pasien, karenanya sangat tidak beralasan jika mereka tidak bersedia menjelaskan segala sesuatu terkait dengan penyakit yang diderita oleh pasien yang mendatangi mereka.

2. Hak Atas Second Opinion

Hak atas second opinion (pendapat kedua) adalah hak pasien yang dapat digunakan jika si pasien ingin meyakinkan dirinya akan kebenaran diagnosa dan tindakan dokter pertama yang telah ditemuinya. Jika ternyata second opinion dari dokter lain ini berbeda, pasien bisa membicarakannya kembali dengan dokter pertama atau mencari pendapat ketiga.

3. Hak Memilih Dokter

hak_memilih_dokterPasien kanker akan dihadapkan pada banyak pilihan untuk menentukan dokter yang akan menangani. Mulai dari dokter ahli bedah onkologi, ahli radiologi, medical onkologi, ahli patologi, dan lain-lainnya. Ini tidak mudah karenanya pasien dituntut untuk sedikit kritis sebelum menjatuhkan pilihan untuk ditangani oleh (dokter) siapa.

Lain dari itu, sebagai pasien yang smart juga sebaiknya tidak over act dalam menghadapi sikap dokter. Banyak tipe dokter yang mesti kita sikapi dengan bijak. Dari sejumlah questionaire yang saya bagikan pada teman-teman ada beberapa tipikal dokter, diantaranya :
a. Dokter yang tidak mau kerjasama dengan dokter yang lain alias merasa paling benar, bahkan untuk beli obat di luar pun tidak diijinkan. Jika kita mencari opini lain tanpa sepengetahuannya, dia akan marah besar.
b. Tipe yang sangat pelit informasi. Jika tidak ditanya bersikap pasif atau diam saja, dianggapnya pasien sudah tahu. Bisa jadi si dokter punya pertimbangan khusus untuk tidak terbuka pada pasien, salah satunya pertimbangan psikologis pasien.
c. Dokter yang tidak menerima pasien yang tadinya berobat ke luar negeri. Ini sangat tergantung pada sifat pribadi si dokter yang kurang bisa menerima persaingan bebas.
d. Dokter yang ideal, sangat jelas dan lugas dalam memberikan penjelasan, tapi pasiennya banyaaaak sekali karena dia idola banyak pasien, maka antriannya cukup panjang dan sangat melelahkan.

Silakan memilih dokter mana yang akan menjadi partner selama menjalani pengobatan, yang penting kita merasa nyaman bekerjasama dengan dokter tersebut. Sesekali bertukar informasi dan berdiskusi dengan dokter yang dipilih akan sangat baik untuk membuat keputusan medis yang tepat.

4. Hak Memilih Rumah Sakit/Layanan Medis Lain

Tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas yang memadai dan sama antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada salahnya keluarga pasien membantu mencari informasi rumah sakit untuk mencukupi kebutuhan pasien itu sendiri.
Sebagai pasien kanker kita cenderung berobat ke rumah sakit besar dengan fasilitas tercanggih dan terlengkap, walau terpaksa harus antre seharian. Ini sangat menyiksa. Kenyataannya tidak semua fasilitas itu kita butuhkan. Lebih baik kita memilih rumah sakit yang memiliki layanan medis sesuai kebutuhan dan mudah dijangkau sehingga mencegah bertambahnya penderitaan.

5. Hak Mendapatkan Pelayanan Sesuai Dengan Kebutuhan Medis

Ada hal-hal yang terkadang membuat pasien tidak nyaman selama menjalani pengobatan. Salah satunya adalah kondisi dimana pasien sendiri merasa bahwa pengobatan yang dijalani masih kurang/belum cukup. Hal ini didukung oleh banyaknya perusahaan farmasi yang menyodorkan obat-obatan terbaru yang promosinya dilakukan antara lain oleh marketing representative langsung kepada dokter-dokter.

Yang disesalkan adalah bahwa ada dokter (tidak semua) yang membuat kesan ingin melayani kebutuhan pasien yang merasa masih perlu berobat lagi dengan menambahkan program pengobatan tertentu yang sebenarnya tidak diperlukan. Hal ini tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku, karenanya pasien sendiri harus tahu dan memahami bahwa dirinya tidak perlu berlebihan. Cukup disesuaikan dengan kebutuhan medis masing-masing.

6. Hak Memberikan Persetujuan

Setelah mengetahui secara lengkap informasi tentang sakit yang kita derita sebagaimana dijelaskan di atas, kita memiliki hak untuk memberikan persetujuan baik secara lisan dan/atau tertulis (sebaiknya tertulis) tentang pengobatan yang akan kita tempuh. Dengan kata lain tindakan apapun yang akan dilakukan harus disetujui oleh pasien dan/atau minimal keluarganya. Mengapa harus? Karena setiap tindakan medis pasti ada efek sampingnya. Namun dalam keadaan yang memaksa maka dokter boleh melakukan tindakan di luar persetujuan untuk menyelamatkan pasien (dilengkapi dengan berita acara atas tindakan tersebut tentunya).

7. Hak Menolak Pengobatan & Menolak Tindakan Medis Tertentu serta Hak Untuk Menghentikan Pengobatan

Setiap pasien berhak menolak semua/sebagian pengobatan atau tindakan medis, setelah pasien tersebut tahu akan manfaat/resiko pengobatan yang seharusnya dilakukan, tetapi secara sadar memilih untuk tidak melakukannya. Hal ini banyak terjadi pada pasien kanker, mengingat untuk stadium lanjut memang disarankan agar pasien memilih penanganan medis yang lebih nyaman bagi dirinya sendiri.

8. Hak Atas Rahasia Kedokteran

Banyak ditemui kejadian dimana tim medis membicarakan penyakit pasien A kepada pasien B atau kepada orang lain. Ini melanggar hak pasien atas rahasia kedokteran. Kita harus mencegah hal ini terjadi dengan tidak bertanya mengenai pasien lain kepada dokter, mengingat ini ada sanksi hukumnya jika pihak yang kita pergunjingkan ternyata tidak terima. Jika ingin tahu penyakit yang diderita seseorang, sebaiknya kita bertanya langsung kepada pasien yang bersangkutan.

9. Hak Melihat Rekam Medis (medical record)

Rekam medis wajib dibuat oleh seorang dokter, di mana setiap isi dari rekam medis tersebut adalah hak pasien, yang meliputi : hasil laboratorium, gambar/foto beserta keterangannya, serta tindakan pengobatan apa saja yang dilakukan.

Harapan saya yang sederhana dengan apa yang telah dijabarkan adalah setiap pasien mengetahui apa yang menjadi hak-haknya, dan dokter serta tim medis termasuk semua pihak yang berhubungan dengan layanan kesehatan mampu menunaikan kewajibannya dengan bijaksana, sehingga terjalin hubungan yang seimbang antara pasien dan penyedia layanan kesehatan khususnya dokter. (Siti Aniroh/rumahkanker.com)

Siti Aniroh
Breast cancer survivor, penulis buku Nobody Happy with Cancer, BE BRAVE & SMART

Siapa Bilang "Autis" Tak Bisa Disembuhkan

Siapa Bilang "Autis" Tak Bisa Disembuhkan

Email Cetak PDF

Terutama jika anak yang mengalami autisme sudah diterapi sejak usia kurang dari 3 tahun.

Amril Amarullah

SURABAYA POST -- Punya anak autis kerap menjadi beban pikiran orangtua. Mereka khawatir anaknya tidak bisa hidup normal, padahal autisme bisa disembuhkan.

Hingga saat ini belum ditemukan penyebab autisme yang kebanyakan diderita anak sejak lahir. Gejala autisme seringkali sudah terlihat saat anak belum berusia 2 tahun. Tapi pada beberapa kasus, ada yang baru terdiagnosis ketika memasuki taman kanak-kanak atau usia awal sekolah dasar.


Akibat gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat kompleks, anak autis tidak bisa senormal anak pada umumnya. Mereka seperti hidup dalam dunianya sendiri dan kadang bertingkah hiperaktif. Namun jika ditangani lebih dini melalui terapi kejiwaan, anak autis bisa pulih seperti anak normal.

"Semakin dini seorang anak terdiagnosis mengalami autisme, penanganan bisa makin optimal. Terutama jika anak yang mengalami autisme sudah diterapi sejak usia kurang dari 3 tahun," kata dr Yunias Setiawati SpKJ, supervisor Day Care Psikiatri Anak RSUD dr Soetomo Surabaya.

Pasalnya, menurut dia, dalam usia tersebut perkembangan otak belum optimal. Yunias mengaku, pada beberapa pasien autis yang ia tangani sejak dini, kondisinya sekarang sudah seperti anak normal. Bahkan ada yang IQ-nya bertambah dan mampu mengenyam pendidikan di sekolah internasional.

Dalam penanganan anak autis, ada beragam terapi. Di antaranya terapi biomedis, perilaku, okupasi, wicara dan musik serta edukasi keluarga. Dalam terapi medis, anak biasanya diberi obat untuk membuang kandungan logam berat dari tubuhnya. Anak autis kebanyakan memiliki kadar logam berat lebih banyak dari anak lain. Hal ini menyebabkan berubahnya susunan dan fungsi sel otak.

Banyaknya kadar logam berat dalam tubuh seorang anak bisa disebabkan banyak hal. Namun yang paling utama adalah polusi. Bahkan seorang ibu yang mengonsumsi ikan laut dari perairan yang sudah tercemar limbah atau polusi bisa menyebabkan anaknya menderita autisme.

Selain membuang zat berbahaya dalam tubuh, anak autis juga harus menjalani diet rendah casein dan gluten. Artinya, mereka tidak boleh mengkonsumsi susu sapi dan tepung terigu. Termasuk makanan yang terbuat dari kedua bahan tersebut seperti es krim dan roti.

Sebagai ganti, anak autis bisa minum susu kedelai. Untuk tepung, mereka masih bisa mengkonsumsi tepung ketan, beras, sagu, tapioka, hunkwe, bihun, kentang dan suun. Selama menjalani diet, orangtua memegang peranan penting. Pasalnya, orangtua harus disiplin dan tegas dalam mengawasi makanan yang dikonsumsi anaknya.

Laporan: Reny Mardiningsih

Merkuri Bukanlah Penyebab Autisme?

Merkuri Bukanlah Penyebab Autisme?

Email Cetak PDF

Benarkah merkuri bukanlah penyebab autis yang selama ini dipercaya banyak orang?

Petti Lubis, Mutia Nugraheni

VIVAnews - Kesimpulan tentang merkuri sebagai penyebab autis yang selama ini dipercaya banyak orang 'dipatahkan' dengan penelitian yang dimuat dalam jurnal Environmental Health Perspective pada 19 Oktober lalu.


Sebelumnya, sebuah penelitian mengungkapkan merkuri adalah 'biang keladi' autisme, karena kadar merkuri pada anak penderita autis sangat tinggi. Namun, pada penelitian terbaru ini menemukan bahwa tidak ada perbedaan level merkuri pada anak yang normal dan anak penderita autis.

"Penelitian ini sangat penting untuk menjawab pertanyaan banyak orang, mengenai peran merkuri sebagai pemicu autisme pada anak," kata Dr. Patricia Manning-Courtney, kepala The Kelly O'Leary Center for Autism Spectrum Disorders di Cincinnati Children's Hospital Medical Center, Amerika Serikat seperti vivanews kutip dari Health.com.

Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat perbandingan kadar merkuri pada anak yang menderita autis dan anak yang normal. Sebanyak 452 anak yang berusia antara 2 hingga 5 tahun dilibatkan dalam penelitian.

Sampel darah mereka diambil dan beberapa pertanyaan diajukan pada ibu-ibu mereka. Pertanyaan tersebut terkait kebiasaan makan saat hamil, penggunaan obat-obatan atau vaksin, serta produk kecantikan yang digunakan.

"Interpretasi dari penelitian memang menunjukkan tidak ada hubungan antara kadar merkuri dengan autisme. Tetapi, jika dilihat kembali kadar merkuri pada anak penderita autis lebih tinggi setelah terdiagnosa. Untuk lebih mendapatkan hasil yang akurat perlu dilakukan penelitian lanjutan," kata Sallie Bernard, kepala SafeMinds (Sensible Action for Ending Mercury-Induced Neurological Disorders), seperti vivanews kutip dari Health.com.

Yang jadi masalah, setelah penelitian ini polemik tentang penyebab terjadinya autisme pada anak tampaknya akan terus menjadi misteri.

• VIVAnews

Deteksi Awal Autisme dalam Waktu Lima Menit

Deteksi Awal Autisme dalam Waktu Lima Menit

Email Cetak PDF

Kini, sebuah studi baru menawarkan teknik mendeteksi awal autisme dalam waktu 5 menit.
Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti

VIVAnews - Lebih dini dideteksi, autisme bisa lebih cepat ditangani. American Academy of Pediatrics menyarankan agar melakukan pemeriksaan gejala autisme pada anak pada usia antara 18 bulan hingga 2 tahun. Tes autisme yang dilansir American Academy of Pediatrics memakan waktu hingga dua jam.


Namun, saat ini sebuah studi baru dari Emory University dan Georgia Tech menawarkan cara yang lebih cepat, yakni melakukan uji deteksi autisme dalam waktu hanya lima menit.

Proses ini disebut 'Rapid Attention Back and Forth Communication Test', atau disebut dengan "Rapid ABC". Teknik ini dapat dilakukan hanya dalam waktu lima menit melalui keterlibatan anak dalam kegiatan-kegiatan sederhana lewat komunikasi.

Tes ini bukanlah pengganti untuk pemeriksaan autisme komprehensif, namun dapat mengidentifikasi anak yang berisiko alami autisme di awal perkembangan mereka. Jika memang terdeteksi orangtua bisa memberikan mereka terapi lebih awal untuk mengatasi masalah autisme, seperti yang dikutip dari situs Momlogic.

Dr. Alana Levine, spesialis anak mengatakan, "Gejala gangguan spektrum autisme mencakup gangguan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Tapi, bisa juga dicirikan lewat perilaku tidak biasa. Seperti, gerakan berulang, dan kurangnya kontak mata," katanya.

Dr. Levine juga mencatat bahwa jika Anda memiliki kecurigaan anak Anda mungkin mengidap autisme, tes "Rapid ABC" hanya tes deteksi awal, dan perlu dilanjutkan dengan uji diagnostik penuh untuk evaluasi emosional dan fisik secara menyeluruh.

Saat ini, teknik 5 menit mendeteksi autisme anak ini masih dalam proses penyempurnaan, sebelum diajarkan ke rumah-rumah sakit.

• VIVAnews

Human Papilloma Virus, Penyebab Kanker Leher Rahim

Human Papilloma Virus, Penyebab Kanker Leher Rahim Bookmark and Share

Kanker leher rahim merupakan jenis kanker yang paling banyak pengidapnya di Indonesia. Bahkan, Indonesia merupakan negara kedua di dunia –setelah Cina– yang memiliki pengidap kanker leher rahim terbanyak. Padahal kanker yang sering disebut kanker mulut rahim ini termasuk kanker yang mudah dideteksi secara dini dan bisa dicegah/diobati sebelum berkembang lebih lanjut.

Hampir semua (99%) kanker leher rahim disebabkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV). Infeksi human papilloma virus adalah sesuatu yang sangat mudah terjadi. Diperkirakan tiga per empat dari jumlah orang yang pernah melakukan hubungan seks, laki-laki maupun perempuan, mengalaminya.

Tidak beda dengan flu, kebanyakan infeksi HPV dapat sembuh sendiri, sehingga penderita tidak pernah menyadarinya. Hanya sebagian kecil infeksi HPV yang menjadi infeksi menahun, kemudian berkembang menjadi kanker.

Hmm... sepertinya menarik juga kalau kita kenalan dengan si human papilloma virus ini Smile

Kutil
Anda pernah melihat kutil kan? Bintil-bintil di kulit yang bentuknya menggelembung seperti bunga kol? Itu salah satu “jejak” serangan human papilloma virus (papilloma = bintil/kutil). Virus human papilloma jenisnya lebih dari 100 macam, yang masing-masing diberi nomor untuk membedakan jenis satu dengan jenis lainnya. 60 jenis di antaranya menyebabkan kutil-kutil kulit yang tidak berbahaya. Sisanya merupakan HPV tipe mukosal, yaitu hanya menyerang selaput-selaput lendir seperti yang terdapat pada mulut, kerongkongan, ujung penis, vagina, leher rahim, dan dubur. Tipe mukosal disebut juga HPV genital, karena yang paling sering diserang adalah area kelamin. Ada yang menimbulkan kutil di vagina atau penis, yang lazim disebut dengan penyakit “jengger ayam”, yaitu HPV tipe 6 dan 11, tetapi ini tidak akan menjadi kanker.

Yang dapat menyebabkan kanker adalah HPV genital tipe 16, 18, 31, 35, 39, 45, 51, 52, dan 58. Lebih dari 70% kanker leher rahim disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18. Selain menyebabkan kanker leher rahim, HPV juga dapat menyebabkan kanker anus, vagina, vulva, penis, bahkan kanker kerongkongan.

Virus ini menular terutama melalui hubungan seks, termasuk anal sex, oral sex, dan hand sex. Sebagian besar di antaranya terinfeksi pada umur 15-30 tahun, yakni dalam kurun waktu empat tahun setelah melakukan hubungan seks yang pertama. Orang yang terinfeksi HPV genital biasanya tidak tahu dia terinfeksi, karena infeksi ini tidak menimbulkan gejala sama sekali (kecuali yang menimbulkan “jengger ayam”), dan sistem kekebalan tubuh segera menyerang supaya virus ini mati atau lemah –sehingga tidak aktif.

lesi pra kanker
Lesi pra kanker leher rahim
Sampai sekarang infeksi human papilloma virus belum dapat diobati, tetapi sistem pertahanan tubuh yang baik dapat menyembuhkan 90% di antaranya dalam waktu 2 tahun. Sisanya tetap aktif, atau ada tetapi tidak aktif. Virus yang tidak aktif ini masih dapat menular ke orang lain, sewaktu-waktu aktif lagi (kalau daya tahan tubuh menurun), atau mengubah sel leher rahim menjadi sel pra kanker, yang bertahun-tahun kemudian dapat menjadi kanker.

Vaksinasi
Cara terbaik untuk mencegah infeksi human papilloma virus (juga untuk mencegah serangan segala macam virus lainnya) adalah dengan menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan bugar dengan pola hidup seimbang: cegah stres, hindari polusi, konsumsi makanan bergizi dan seimbang, cukup olahraga, cukup istirahat. Klasik ya? Tapi memang itulah yang terbaik.

Infeksi HPV juga dapat dicegah dengan vaksinasi, dan akibat yang ditimbulkannya (kutil, lesi pra kanker, maupun kanker stadium dini) dapat mudah dideteksi dan diobati. Vaksin yang tiga kali disuntikkan di lengan ini mampu melindungi kita dari empat tipe HPV penyebab kanker dan “jengger ayam”, yaitu tipe 6, 11, 16, dan 18, selama empat tahun. Sebaiknya vaksinasi diberikan kepada para gadis yang belum pernah melakukan aktivitas seksual. Orang yang sudah pernah melakukan aktivitas seksual kemungkinan besar sudah pernah terinfeksi HPV. Jika yang menginfeksinya bukan virus tipe 6, 11, 16, dan 18, maka vaksinasi ini masih ada gunanya.

Walaupun sudah menjalani vaksinasi, wanita yang sudah melakukan aktivitas seksual seyogyanya melakukan pemeriksaan pap smear berkala secara rutin. Pemeriksaan ini mudah, murah, dan efektif untuk mendeteksi adanya sel abnormal akibat HPV, misalnya lesi pra kanker maupun kanker stadium dini. Kanker leher rahim yang ditemukan pada stadium dini lebih mudah disembuhkan. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Mengapa Makanan Goreng Memicu Kanker?

Mengapa Makanan Goreng Memicu Kanker? Bookmark and Share
Di bagian bawah situs ini telah dua tahun lebih tercantum analisa Prof. Dr. dr. Li Peiwen (seorang dokter medis ahli kanker sekaligus pakar pengobatan tradisional Tiongkok) tentang mengapa angka kejadian kanker di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan Cina. Karena orang Indonesia suka sekali makan gorengan, katanya. Dari kerupuk, pisang goreng, singkong goreng, tempe goreng, ayam goreng, kentang goreng, nasi goreng... pokoknya tiada hari tanpa makan makanan goreng.

Hmm... mengapa gurihnya makanan goreng dapat memicu timbulnya kanker?

Eden Tareke dkk dari Universitas Stockholm, Swedia, pada tahun 2002 mengumumkan hasil penelitiannya mengenai akrilamida, karsinogen yang terbentuk pada makanan yang dipanaskan.

menggoreng kentangMenurut penelitian itu, makanan kaya karbohidrat seperti kentang, singkong, ubi, pisang, nasi, dll jika digoreng akan terurai, kemudian bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa karsinogenik (pemicu kanker) yang bernama akrilamida. Demikian juga makanan yang dipanggang. Sedang makanan mentah, direbus, atau dikukus tidak mengalami reaksi semacam itu, sehingga tidak menghasilkan akrilamida. Kalaupun ada, kadarnya sangat kecil.

Penelitian terhadap tikus percobaan menunjukkan bahwa akrilamida menimbulkan tumor, merusak DNA, merusak syaraf, mengganggu tingkat kesuburan, dan mengakibatkan keguguran. Seporsi kentang goreng yang dimasak pada suhu 220 oC mengandung akrilamida kurang-lebih 2.500 mikrogram. Pada tikus percobaan, jumlah ini sudah menimbulkan mutasi gen. Apa jadinya kalau tiap hari kita makan kentang goreng, ote-ote, kerupuk, pisang goreng, singkong goreng, tempe goreng, maupun gorengan-gorengan lain?

Waahh.... begitu ya? Pantas dokter-dokter selalu menganjurkan kita untuk menghindari goreng-gorengan. Lantas, apa berarti kita sama sekali tidak boleh makan makanan yang digoreng? Boleh kok, asal tidak terlalu banyak dan tahu kiat sehatnya. Karena bagaimanapun minyak juga dibutuhkan dalam metabolisme tubuh kita, dalam jumlah tidak lebih dari 5-10 ml/hari (1-2 sendok makan). Lalu bagaimana kiat sehatnya?

Menggoreng Sendiri

Salah satu kiat sehat makan makanan goreng adalah dengan cara menggoreng sendiri makanan tersebut. Dengan menggoreng sendiri kita dapat selalu menggunakan minyak baru. Minyak yang belum pernah dipakai untuk menggoreng diharapkan masih terbebas dari akrilamida maupun zat-zat karsinogenik lainnya. Juga, kita dapat mengatur suhu minyak pada waktu menggoreng agar tidak terlalu panas dan mengangkat hasil gorengan saat matangnya sedang, sebelum terlalu coklat apalagi gosong.

Suhu minyak pada saat menggoreng dengan api sedang, rata-rata 180-220 oC. Semakin rendah suhunya, semakin sedikit akrilamida yang terbentuk. Sebaliknya, semakin panas semakin banyak akrilamida-nya. Selain itu, minyak goreng yang dipanaskan terlalu tinggi akan teroksidasi dan terpolimerisasi menghasilkan zat-zat radikal bebas dan minyak trans (trans fatty acid) yang berbahaya bagi kesehatan dan memicu kanker.

Minyak goreng berubah menjadi minyak trans ditandai dengan keluarnya asap dari penggorengan, berubahnya warna menjadi lebih gelap, baunya tengik/menyengat, cairannya lebih kental, serta menyebabkan gatal/iritasi tenggorokan. Namun minyak trans juga ada yang alami tanpa melalui proses penggorengan, yakni pada lemak hewan memamah biak.

Minyak goreng bekas pakai (jelantah), kalau dipakai ulang lebih cepat rusak dibanding minyak baru. Lebih mudah berasap dan lebih cepat menghitam walaupun suhunya belum terlalu panas.

Kebiasaan penjual makanan goreng adalah menggunakan minyak yang sangat banyak, sangat panas (bisa sampai 300 oC), dengan api besar (berulang-ulang sampai hitam), sehingga didapatkan hasil gorengan yang renyah dan kering. Lebih asyik kriuk-kriuk memang, tapi lebih banyak juga senyawa karsinogenik yang menjadi “bonus”-nya.

Makanan yang digoreng akan menyerap minyak di sekitarnya. Makanan tersebut menjadi berminyak, dan senyawa-senyawa karsinogenik di dalam minyak pun turut masuk ke dalam tubuh kita.

Dengan menggoreng sendiri, kita dapat mengatur agar suhunya tidak terlalu panas, yakni menggunakan api kecil, serta menggunakan sedikit minyak agar tidak terlalu banyak akrilamida maupun senyawa karsinogenik lain yang terbentuk dan ikut terserap ke dalam makanan. Dan jangan lupa sebelum makan, sisa-sisa minyak yang menempel pada makanan kita serap dulu menggunakan kertas tisu.

Tetapi kiat menggoreng sendiri dan membatasi jumlah makanan goreng yang dimakan sama sekali belum cukup untuk dapat mencegah kanker. Apalagi kalau sudah terkena kanker, mesti lebih hati-hati lagi. Minyak goreng yang digunakan pun harus aman. Lho, ada to minyak goreng yang tidak aman? Banyak! Lalu minyak apa yang aman? Baca kelanjutannya, ya. Smile (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Mencegah Kanker Serviks Dengan Vagina Toilet Ananto

Mencegah Kanker Serviks Dengan Vagina Toilet Ananto Bookmark and Share
"Vagina Toilet Ananto" adalah istilah yang diberikan terhadap serangkaian kegiatan berupa standard operational procedure bagi upaya membersihkan organ intim pada wanita yang telah aktif secara seksual. Hal ini merupakan terobosan baru dalam upaya perawatan kesehatan organ intim wanita.

vagina_toilet
Kanker serviks bisa dicegah dengan vagina toilet Ananto.
Vagina toilet dapat dilakukan oleh seorang dokter terlatih dengan keuntungan dapat melihat langsung ketika melakukan upaya permbersihan. Bila diajarkan/dilatih dengan baik, dapat dilakukan oleh wanita itu sendiri dengan keuntungan dapat dikerjakan di mana pun dan kapan pun wanita itu inginkan. Vagina toilet yang dikerjakan sendiri diberi istilah "Valeri Ananto" atau vagina toilet sendiri dengan metode Ananto.

Pada saat ini, Valeri Ananto diyakini sebagai salah satu andalan utama dalam membantu upaya pencegahan kanker serviks pada wanita. Dan selanjutnya diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian wanita karena kanker serviks.

Walaupun seorang wanita dalam kesehariannya telah mampu melakukan vagina toilet sendiri, dianjurkan setahun sekali tetap melakukan vagina toilet ke dokter terlatih untuk memastikan kebersihannya sekalian melakukan pemeriksaan pap-smear.

Keuntungan:

1. Organ intim senantiasa bersih dari kotoran dan penyakit.
2. Kepekaan organ intim akan meningkat.
3. Menimbulkan suasana ph netral sejenak.
4. Bermanfaat membantu pengobatan bagi beberapa kasus penyakit

Persiapan Diri:

1. Tidak sedang haid.
2. Jari tangan bersih.
3. Kuku di jemari tangan pendek dan tidak tajam.
4. Bila sedang sakit, konsultasi ke dokter.

Persiapan Sarana:

1. Kamar mandi
2. Air bersih (dianjurkan air kemasan)
3. Handuk bersih

Teknik Pelaksanaan:

1. Membersihkan tangan dengan sabun.
2. Posisi tubuh relaks/santai dengan pilihan sebagai berikut :
a) Duduk relaks/santai di closet duduk seperti ketika akan buang air besar.
b) Berdiri relaks/santai dengan satu kaki ditumpu di atas closet duduk dan satu kaki di lantai kamar mandi
c) Posisi relaks/santai lain sesuai yang diinginkan.
3. Membersihkan dengan mengguyur area labium mayus, labium minus, dengan air bersih mengalir (bila diperlukan boleh menggunakan sabun)
4. Dengan jari telunjuk dan jari manis meregangkan dan membuka labium mayus dan minus sampai ketemu liang vagina.
5. Membersihkan dan mengguyur liang vagina dengan air bersih mengalir (tidak boleh menggunakan sabun).
6. Meletakkan jari tengah dengan lembut di liang vagina.
7. Saat liang vagina telah relaks, jari tengah dengan sangat lembut dimasukkan ke dalam vagina sampai berhasil menyentuh serviks.
8. Lakukan pembersihan dengan menelusuri seluruh serviks dan seluruh forniks serta seluruh dinding vagina dengan gerakan melingkar dan mengusap lembut sambil mengarahkan jari tengah keluar vagina.
9. Tanpa mengeluarkan seluruh jari tengah, bilas jari tengah yang kotor dan berlendir dengan air bersih mengalir (dapat dibantu dengan ibu jari).
10. Bila jari tengah telah bersih, masukkan lagi ke liang vagina sampai menyentuh serviks dan lakukan pembersihan seperti ad 8. dan 9. Demikian seterusnya.
11. Pembersihan dilakukan sampai tidak lagi terdapat kotoran di seluruh bagian dari organ intim atau jari tengah telah merasakan kesat.
12. Keluarkan jari tengah dengan lembut dari vagina, bersihkan jari tengah, tangan dan labium mayus dengan menggunakan sabun dan air bersih.
Setelah itu keringkan dengan handuk bersih dengan cara menempelkan dan menekan, tidak usah diusap-usapkan.

Tips:

1. Lakukan kapan pun dan di mana pun diinginkan.
2. Utamakan setelah melakukan hubungan intim.
3. Rutin lakukan setelah 2-3 hari "bersih" dari menstruasi.
4. Minimal lakukan rutin seminggu sekali kala tidak sedang haid.
5. Bila menemukan kelainan segera hubungi dokter. (dr. Ananto Sidohutomo, MARS/rumahkanker.com)

dr. Ananto Sidohutomo, MARS
Penemu metode Vagina Toilet Sendiri

Radiasi: Membuat Penderita Radioaktif?

Radiasi: Membuat Penderita Radioaktif? Bookmark and Share

Sekitar separoh dari penderita kanker yang berobat ke rumah sakit menerima terapi radiasi. Kadang radiasi yang diterima merupakan terapi tunggal, kadang dikombinasikan dengan kemoterapi dan/atau pembedahan. Tidak jarang pula seorang penderita kanker menerima lebih dari satu jenis radiasi.

Terapi radiasi yang juga disebut radioterapi, irradiasi, terapi sinar-x, atau istilah populernya "dibestral" ini bertujuan untuk menghancurkan jaringan kanker. Paling tidak untuk mengurangi ukurannya atau menghilangkan gejala dan gangguan yang menyertainya. Terkadang malah digunakan untuk pencegahan (profilaktik). Dengan menggunakan sumber energi radioaktif, radiasi menghancurkan material genetik sel sehingga sel tidak dapat membelah dan tumbuh lagi.

Tidak hanya sel kanker yang hancur oleh radiasi. Sel normal juga. Karena itu dalam terapi radiasi dokter selalu berusaha menghancurkan sel kanker sebanyak mungkin, sambil sebisa mungkin menghindari sel sehat di sekitarnya. Tetapi sekalipun terkena, kebanyakan sel normal dan sehat mampu memulihkan diri dari efek radiasi.

Radiasi bisa digunakan untuk mengobati hampir semua jenis tumor padat termasuk kanker otak, payudara, leher rahim, tenggorokan, paru-paru, pankreas, prostat, kulit, dan sebagainya, bahkan juga leukemia dan limfoma. Cara dan dosisnya tergantung banyak hal, antara lain jenis kanker, lokasinya, apakah jaringan di sekitarnya rawan rusak, kesehatan umum dan riwayat medis penderita, apakah penderita menjalani pengobatan lain, dan sebagainya.

Terapi radiasi ternyata banyak macamnya, lo. Secara garis besar terbagi atas radiasi eksternal (menggunakan mesin di luar tubuh), radiasi internal (susuk/implant), serta radiasi sistemik yang mengikuti aliran darah ke seluruh tubuh. Yang paling banyak digunakan adalah radiasi eksternal. Sebagian merupakan perpaduan antara radiasi eksternal dan internal atau sistemik. Kedua jenis radiasi kadang diberikan bergantian, kadang bersamaan.

Radiasi Eksternal

Radiasi jenis ini bisa menghancurkan hampir semua jenis kanker dan bisa dijalani oleh pasien rawat jalan (tidak perlu opname). Juga bisa digunakan untuk menghilangkan nyeri dan gangguan lain yang lazim dialami oleh penderita kanker yang sudah metastase (menyebar).

Kadang diberikan bersamaan dengan operasi/pembedahan, yaitu kalau kankernya belum menyebar tetapi tidak bisa diangkat seluruhnya, atau dikhawatirkan akan tumbuh lagi di sekitarnya. Tindakan dilakukan setelah jaringan utama kanker diangkat, sebelum luka bedah ditutup kembali lokasi bekas kanker diradiasi. Cara yang disebut intraoperative radiation therapy (IORT) ini terutama digunakan pada kanker thyroid, usus, pankreas, dan rahim (termasuk indung telur, leher rahim, mulut rahim, dan sekitarnya).

Radiasi eksternal juga diberikan sebagai pencegahan (prophylactic cranial irradiation, PCI), misalnya pada penderita kanker paru radiasinya diarahkan ke otak supaya sel kanker tidak menjalar ke otak.

Terapi radiasi eksternal tidak membuat penderita menjadi radioaktif (memancarkan radiasi ke sekitarnya). Jadi tidak berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Radiasi Internal (Brachytherapy)

Sumber radiasi berupa susuk/implant berbentuk seperti kabel, pita, kapsul, kateter, atau butiran kecil berisi isotop radioaktif iodine, strontium 89, fosfor, palladium, cesium, iridium, fosfat, atau cobalt, yang ditanamkan tepat di jaringan kanker atau di dekatnya. Cara ini lebih efektif membunuh sel kanker sekaligus memperkecil kerusakan jaringan sehat di sekitar sasaran radiasi.

Radiasi internal sering digunakan untuk mengobati kanker di daerah kepala dan leher, thyroid, prostat, leher rahim, kandungan, payudara, sekitar selangkangan, dan di saluran kencing.

Susuk radioaktif ini ada yang ditanam selama beberapa menit saja (dosis tinggi), ada yang selama beberapa hari (dosis rendah), ada juga yang dibiarkan di dalam tubuh tanpa diangkat lagi.

Selama menjalani terapi ini penderita sedikit radioaktif, khususnya di sekitar lokasi susuk, tetapi secara keseluruhan tubuh penderita tidaklah radioaktif. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, penderita perlu menjalani rawat inap dengan beberapa batasan. Misalnya, dirawat di ruang tersendiri. Pendamping boleh melayani penderita, tetapi tidak terus-menerus berada di sisinya. Begitu juga tamu yang bezuk dibatasi waktunya. Wanita hamil dan anak-anak di bawah usia 18 tahun tidak boleh berkunjung. Tetapi setelah implant radioaktif ini diambil lagi, penderita sama sekali tidak radioaktif.

Radiasi Sistemik

Pada radiasi sistemik, bahan radioaktif sebagai sumber radiasi ditelan seperti obat atau disuntikkan, yang kemudian mengikuti aliran darah ke seluruh tubuh. Radiasi ini digunakan untuk mengobati kanker thyroid dan non-Hodgkin’s lymphoma.

Sisa-sisa bahan radioaktif yang tak terpakai keluar dari tubuh melalui air liur, keringat, dan air kencing. Dalam kurun waktu tertentu cairan ini bersifat radioaktif, tetapi sesudahnya tidak lagi. Itu sebabnya penderita yang menjalani radiasi sistemik perlu menjalani rawat inap.

Berbagai teknik radiasi terus dikembangkan untuk mendapatkan hasil yang makin optimal. Antara lain:

Radiasi Tiga Dimensi. Dengan menggunakan alat-alat canggih semacam computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), positron emission tomography (PET), atau single photon emission computed tomography (SPECT), lokasi, ukuran, dan bentuk kanker bisa diketahui dengan pasti. Berdasar data itu, kemudian dirancang suatu pola radiasi yang sesuai, sedemikian rupa sehingga pancaran radiasi bisa mengenai seluruh jaringan kanker tanpa menyentuh sel sehat di sekitarnya. Dengan cara ini radiasi bisa diberikan dalam dosis tinggi. Sering digunakan untuk mengobati kanker prostat, paru-paru, hati, nasofaring, dan beberapa jenis kanker otak.

Stereotactic Radiosurgery. Lazim digunakan untuk mengobati kanker otak. Penderita mengenakan alat semacam helm yang bisa memancarkan radiasi dari berbagai arah. Dengan alat ini, dosis dan sasaran radiasi bisa diukur dengan tepat, nyaris tanpa mengganggu jaringan di sekitarnya. Beda dengan bedah otak konvensional, “bedah radiasi” ini tidak sakit, tidak menyebabkan perdarahan, dan tidak mempunyai resiko infeksi.

Stereotactic radiotherapy. Prinsipnya mirip dengan stereotactic radiosurgery, tetapi menggunakan alat yang bisa bergerak bebas mengitari tubuh pasien. Dengan demikian bisa digunakan untuk mengobati kanker otak maupun kanker di bagian tubuh yang lain. Bedanya adalah, stereotactic radiotheraphy diberikan dalam dosis kecil beberapa kali sehari untuk mengurangi efek samping.

Radioimmunotherapy. Kini radiasi juga dikombinasikan dengan imunoterapi. Antibodi khusus kanker disuntikkan ke dalam tubuh setelah sebelumnya “ditempeli” materi radioaktif. Di dalam tubuh otomatis antibodi akan mencari zat (antigen) yang diproduksi oleh sel kanker. Setelah ketemu, sel kanker dihancurkan oleh materi radioaktif yang dibawanya.

Cara ini sangat tertarget, mencegah resiko rusaknya sel sehat. Sering digunakan untuk pengobatan non-Hodgkin’s lymphoma, dan sedang dalam tahap uji klinis untuk pengobatan leukemia, kanker usus, kanker hati, paru-paru, otak, prostat, thyroid, payudara, kandungan, dan pankreas.

Terapi radiasi biasanya diberikan setiap hari, lima hari dalam seminggu, selama 6-7 minggu berturut-turut. Tergantung ukuran, lokasi, jenis kanker, kesehatan penderita secara umum, dan pengobatan lain yang diberikan. Tetapi untuk keperluan paliatif (misalnya menghilangkan nyeri pada kanker yang bemetastasis ke tulang), biasanya cukup 2-3 minggu.

Terapi itu sendiri setiap kali hanya berlangsung 1-5 menit. Penderita tidak akan merasakan apa pun selama terapi berjalan, tidak lebih seperti menjalani foto Rontgen (sudah pernah, bukan?). Tetapi selama menjalani terapi penderita harus diam, tidak bergerak sama sekali, agar pancaran radiasinya tepat mengenai sasaran. Tidak perlu menahan nafas kok, dan bila perlu boleh berbicara kepada dokter.

Sangat penting untuk menepati semua jadwal radiasi agar mendapatkan hasil maksimal. Karena jika ada jadwal yang tertunda atau terlewatkan, akan mengurangi efektivitasnya. Siapa yang rugi? (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Kemoterapi, Kawan Atau Lawan?

Kemoterapi, Kawan Atau Lawan? Bookmark and Share

Terdapat kurang lebih 130 jenis penyakit kanker, yang mempengaruhi kondisi tubuh kita dengan berbagai macam cara dan membutuhkan penanganan yang berbeda-beda. Tetapi semua jenis kanker itu memiliki kesamaan: terdiri atas sel-sel yang membelah dengan cepat dan tumbuh tak terkontrol. Fungsi utama obat-obat kemoterapi adalah mengenali dan menghancurkan sel-sel seperti ini.

Kemoterapi telah digunakan sejak tahun 1950-an. Biasa diberikan sebelum atau sesudah pembedahan. Kadang disertai dengan terapi radiasi, kadang cukup hanya kemoterapi. Tujuannya adalah membasmi seluruh sel kanker sampai ke akar-akarnya, sampai ke lokasi yang tidak terjangkau pisau bedah. Paling tidak untuk mengontrol sel-sel kanker agar tidak menyebar lebih luas.

Karena jenis kanker dan kondisi tiap orang berbeda, berbeda-beda pula jenis kemoterapinya. Dokter akan mengajak Anda berbicara untuk memutuskan kemoterapi mana yang paling tepat untuk Anda.

Bentuk Kemoterapi

Ada beberapa cara pemberian kemoterapi:

  • Dalam bentuk tablet atau kapsul yang harus diminum beberapa kali sehari. Keuntungan kemoterapi oral semacam ini adalah: bisa dilakukan di rumah.
  • Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa dilakukan di ruang praktek dokter, rumah sakit, klinik, bahkan di rumah.
  • Dalam bentuk infus. Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di rumah (oleh paramedis yang terlatih).

Tergantung jenisnya, kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa seri Anda harus menjalani kemoterapi, juga tergantung pada jenis kanker Anda.

Efek Samping

Yang paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek sampingnya. Ada orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek samping kemoterapi. Ada yang mengalami efek samping ringan. Tetapi ada juga yang sangat menderita karenanya. Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh Anda, kondisi psikis Anda, dan sebagainya.

Efek samping kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat.
Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat, yaitu:

  • rambut (rontok)
  • sumsum tulang (berkurangnya hemoglobin, trombosit, dan sel darah putih, membuat tubuh lemah, merasa lelah, sesak nafas, mudah mengalami perdarahan, dan mudah terinfeksi)
  • kulit (membiru/menghitam, kering, serta gatal), mulut dan tenggorokan (sariawan, terasa kering, dan sulit menelan)
  • saluran pencernaan (mual, muntah, nyeri pada perut)
  • produksi hormon (menurunkan nafsu seks dan kesuburan)

Tetapi Anda tidak perlu takut. Bersamaan dengan kemoterapi, biasanya dokter memberikan juga obat-obat untuk menekan efek sampingnya seminimal mungkin. Lagi pula semua efek samping itu bersifat sementara. Begitu kemoterapi dihentikan, kondisi Anda akan pulih seperti semula.

Beberapa produk suplemen makanan mengklaim bisa mengurangi efek samping kemoterapi sekaligus membangun kembali kondisi tubuh Anda. Anda bisa menggunakannya, tetapi konsultasikanlah dengan ahlinya, dan sudah tentu dengan dokter Anda juga.

Saat ini, dengan semakin maraknya penggunaan obat-obatan herbal (yang semakin diterima kalangan kedokteran), banyak klinik yang mengaku bisa memberikan kemoterapi herbal yang bebas efek samping. Kalau Anda bermaksud menggunakannya, pastikan yang menangani Anda di klinik tersebut adalah seorang dokter medis. Paling tidak Anda harus berkonsultasi dengan dokter yang merawat Anda, dan lakukan pemeriksaan laboratorium secara teratur untuk memantau hasilnya. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Gejala-gejala Tumor/Kanker Otak

Gejala-gejala Tumor/Kanker Otak

Otak adalah pusat kehidupan. Segala aktivitas kehidupan, hingga yang sekecil-kecilnya, hanya bisa terjadi melalui mekanisme yang diatur oleh otak. Dalam waktu yang bersamaan otak harus menjalankan beribu-ribu aktivitas sekaligus. Misalnya, saat kita berjalan di tepi jalan yang ramai, maka otak mengatur agar kaki melangkah, mengatur mata untuk melihat pemandangan dan situasi sekitar sekaligus menyimpannya dalam memori, menyuruh telinga menangkap berbagai suara yang masuk sekaligus menyimpan, menafsirkan, dan meresponsnya. Saat tiba-tiba mendengar suara klakson dari belakang maka secepat kilat otak menyuruh kaki meloncat ke tepi, menyuruh leher menoleh ke belakang, menyuruh mata membelalak, menyuruh otot-otot menegang untuk mengatasi situasi darurat, menyuruh jantung memompa darah lebih kencang, menyuruh hidung tetap bernafas, dan masih banyak lagi yang harus diaturnya, bahkan terkadang masih sempat-sempatnya menyuruh mulut memaki....

otak_manusiaSemua itu dapat dilaksanakan bersamaan karena diatur oleh bagian otak yang berbeda-beda. Ya, otak memiliki banyak bagian yang memiliki fungsi berbeda-beda. Secara garis besar otak terbagi atas tiga bagian, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak (brain stem). Masing-masing bagian terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, lebih kecil lagi, dan lebih kecil lagi. Ruang antar bagian terisi oleh cairan otak (cerebrospinal fluid), sedang bagian luarnya terlindungi oleh tiga lapis selaput otak (meninges) plus tulang tengkorak.

Seperti bagian-bagian tubuh lain, otak bisa terkena tumor maupun kanker. Bedanya, jika pada bagian tubuh lain tumor jinak kadang tidak mengganggu dan tidak berbahaya, di otak tumor jinak pun bisa sangat mengganggu dan membahayakan nyawa.

Banyaknya bagian otak yang memiliki fungsi pengaturan tubuh yang berbeda-beda membuat tumor dan kanker otak memiliki gejala yang sangat variatif. Gejala yang muncul sangat tergantung di bagian otak mana tumor tersebut muncul.

Dr. Iskandar Japardi menjelaskan gejala umum tumor dan kanker otak adalah sebagai berikut:

Gejala Serebral Umum
Dapat berupa perubahan mental yang ringan (psikomotor asthenia), yang dapat dirasakan oleh keluarga dekat penderita berupa: mudah tersinggung, emosi, labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan sosial, kehilangan inisiatif dan spontanitas, mungkin diketemukan ansietas dan depresi. Gejala ini berjalan progresif dan dapat dijumpai pada 2/3 kasus.

Nyeri Kepala
Diperkirakan 1% penyebab nyeri kepala adalah tumor otak dan 30% gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. Sedangkan gejala lanjut diketemukan 70% kasus. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut, umumnya bertambah berat pada malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana terjadi peninggian tekanan tinggi intrakranial. Adanya nyeri kepala dengan psikomotor asthenia perlu dicurigai tumor otak.

Muntah
Terdapat pada 30% kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Lebih sering dijumpai pada tumor di fossa posterior, umumnya muntah bersifat proyektil dan tak disertai dengan mual.

Kejang
Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak.
Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila:
- Bangkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun
- Mengalami post iktal paralisis
- Mengalami status epilepsi
- Resisten terhadap obat-obat epilepsi
- Bangkitan disertai dengan gejala tekanan tinggi intrakranial lain.
Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak di korteks, 50% pasien dengan astrositoma, 40% pada pasien meningioma, dan 25% pada glioblastoma.

Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial (TTIK)
Berupa keluhan nyeri kepala di daerah frontal dan oksipital yang timbul pada pagi hari dan malam hari, muntah proyektil dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan diketemukan papil udem. Keadaan ini perlu tindakan segera karena setiap saat dapat timbul ancaman herniasi. Selain itu dapat dijumpai parese N.VI akibat teregangnya N.VI oleh TTIK. Tumor-tumor yang sering memberikan gejala TTIK tanpa gejala-gejala fokal maupun lateralisasi adalah meduloblatoma, spendimoma dari ventrikel III, haemangioblastoma serebelum, dan craniopharingioma.

Selain gejala umum di atas ada gejala-gejala spesifik berdasarkan lokasi dan fungsi otak yang diserang. Antara lain:

Tumor pada Lobus Frontal:
- Perubahan perilaku dan kepribadian
- Penurunan kemampuan menilai sesuatu
- Penurunan daya penciuman
- Penurunan daya ingat
- Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh
- Penurunan fungsi mental/kognitif
- Penurunan penglihatan dan radang syaraf mata

Tumor pada Lobus Parietal:
- Penurunan kemampuan bicara
- Tidak bisa menulis
- Tidak mampu mengenali seseorang
- Kejang-kejang
- Disorientasi ruang

Tumor pada Lobus Oksipital:
- Kehilangan penglihatan pada salah satu atau kedua belah mata
- Kejang-kejang

Tumor pada Lobus Temporal:
- Penurunan kemampuan bicara
- Kejang-kejang
- Kadang tanpa gejala sama sekali

Tumor pada Fosa Posterior:
- Gangguan berjalan
- Nyeri kepala
- Muntah

Tumor pada Cerebello Pontin Angie:
- Gangguan pendengaran

Tumor pada Batang Otak:
- Perubahan perilaku dan emosional (lebih sensitif, mudah tersinggung)
- Sulit bicara dan menelan
- Mengantuk
- Sakit kepala, terutama pada pagi hari
- Kehilangan pendengaran
- Kelemahan syaraf pada salah satu sisi wajah
- Kelemahan syaraf pada salah satu sisi tubuh
- Gerakan tak terkontrol
- Kehilangan penglihatan, kelopak mata menutup, juling, dll.
- Muntah

Tumor pada Selaput Otak:
- Sakit kepala
- Kehilangan pendengaran
- Gangguan bicara
- Inkontinensi (tidak mampu mengontrol buang air kecil/besar)
- Gangguan mental dan emosional (apatis, anarkis, dll)
- Mengantuk berkepanjangan
- Kejang-kejang
- Kehilangan penglihatan

Tumor pada Kelenjar Pituitary:
- Berhenti menstruasi (amenorrhea)
- Memproduksi air susu
- Impotensi

Tumor pada Hipotalamus:
- Gangguan perkembangan seksual pada anak-anak
- Kerdil
- Berhenti menstruasi (amenorrhea)
- Gangguan cairan dan elektrolit

Tumor pada Ventrikel:
- Hidrosefalus
- Leher kaku
- Kepala miring
- Nyeri kepala mendadak
- Penglihatan kabur
- Penurunan kesadaran

Walaupun mengalami salah satu atau beberapa gejala seperti di atas saja, belum tentu seseorang mengidap tumor atau kanker otak. Untuk memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter spesialis (bedah) syaraf dan pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, MRI, angiogram, myelogram, spinal tap, serta biopsi. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Gejala Kanker Pada Anak-anak

Gejala Kanker Pada Anak-anak

Tanggal 15 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Anak Internasional, untuk mengingatkan kita semua akan semakin meningkatnya kasus-kasus kanker anak. Diperkirakan 2-4% dari keseluruhan kanker menyerang anak-anak. Meskipun angka ini tampak kecil, tetapi kanker menyumbangkan 10% kematian pada anak-anak. Dan menurut data tahun 2007, di Indonesia setiap tahunnya ditemukan sekitar 4.100 pasien kanker anak yang baru.

Belum diketahui pasti apa penyebab kanker pada anak-anak. Kanker yang menyerang bayi sejak dilahirkan, diduga penyebabnya adalah penyimpangan pertumbuhan sel akibat cacat genetika dalam kandungan. Pada anak-anak yang lebih besar, diduga pemicunya adalah faktor lingkungan dan makanan anak-anak yang tidak sehat. Bisa juga karena radiasi atau infeksi virus. Atau perpaduan antara faktor genetika, lingkungan, radiasi, dan infeksi.

Kanker yang paling banyak dijumpai pada anak-anak adalah kanker darah atau leukemia (25-30%), disusul oleh retinoblastoma (kanker retina mata), limfoma (kanker kelenjar getah bening), neuroblastoma (kanker saraf), kanker ginjal (tumor Wilms), rabdomiosarkoma (kanker otot lurik), dan osteosarkoma (kanker tulang).

Seperti halnya pada orang dewasa, kanker pada anak kemungkinan besar dapat disembuhkan jika ditemukan dalam stadium dini. Tetapi melakukan deteksi dini kanker anak tidaklah mudah, karena anak-anak belum dapat memahami dan menceritakan gejala yang dirasakannya. Karena itu peran orang-orang di sekitarnya sangat penting dalam mendeteksi adanya gejala-gejala kanker.

Menurut beberapa sumber, gejala kanker anak antara lain:

a. Kanker Darah (Leukemia)

retinoblastoma
Gejala retinoblastoma: berkilau seperti mata kucing. (Foto:Daisy)

Gejala yang perlu diwaspadai dan sering ditemukan pada leukemia antara lain wajah pucat, lesu, lemah, demam yang tidak jelas sebabnya dan tidak sembuh oleh antibiotik, perdarahan yang tidak jelas sebabnya, permukaan kulit tampak lebam biru kehitaman padahal tidak terbentur, nyeri anggota gerak (tulang), perut bengkak/keras, pembesaran kelenjar getah bening.

b. Kanker Otak
Gejala yang harus diwaspadai adalah sakit kepala yang makin lama makin berat, disertai mual sampai muntah yang menyemprot akibat tekanan dari dalam kepala yang meningkat. Dapat pula disertai gangguan bicara, gangguan penglihatan, gangguan keseimbangan, kejang, penurunan kesadaran, bahkan bisa terjadi perubahan perilaku. Ciri khusus pada bayi adalah ubun-ubunnya tampak menonjol.

c. Kanker Retina Mata (Retinoblastoma)
Kanker ini paling banyak menyerang bayi berusia 6 bulan-2 tahun. Gejala yang perlu diwaspadai adalah adanya bercak putih di bagian tengah mata yang seolah bersinar bila kena cahaya (seperti mata kucing). Gejala lain adalah penglihatan terganggu, juling mendadak, dan pada stadium lanjut bola mata menonjol keluar.

d. Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma Maligna)
Kanker ini kebanyakan menyerang anak-anak usia 5-7 tahun. Gejala yang harus diwaspadai adalah bila terjadi pembengkakan progresif kelenjar-kelenjar getah bening di leher, ketiak, dan usus, tanpa disertai radang dan rasa nyeri. Bila timbul di kelenjar getah bening dalam usus, dapat menyebabkan sumbatan pada usus dengan gejala sakit perut, muntah, tidak bisa buang air besar, dan demam. Bila tumbuh di daerah dada, dapat mendorong atau menekan saluran napas, sehingga penderita mengalami sesak napas dan muka membiru. Selain itu anak tampak lemah, lesu, dan nafsu makan menurun.

e. Kanker Saraf (Neuroblastoma)
Kanker saraf simpatis ini dapat terjadi di berbagai bagian tubuh. Pada anak paling sering terjadi di dekat ginjal, di daerah pinggang, di daerah leher atau rongga dada, dan mata. Bila terdapat di daerah mata, dapat membuat bola mata menonjol, kelopak mata bengkak dan biru, atau kelopak mata turun, dan pupil melebar. Bila terdapat di tulang belakang, dapat menekan saraf tulang belakang dan mengakibatkan kelumpuhan yang cepat. Penyebaran pada tulang dapat menyebabkan patah tulang tanpa sebab, tanpa nyeri, sehingga penderita mendadak pincang. Gejala lain adalah muncul benjolan-benjolan di kepala, atau perut membesar dan keras.

f. Kanker Ginjal (Nefroblastoma)
Nefroblastoma yang sering disebut Tumor Wilms ini paling banyak menyerang anak usia 3-4 tahun, tapi dapat pula menyerang bayi yang baru lahir. Gejalanya ditandai dengan kencing berdarah, rasa tidak enak di perut, dan bila sudah cukup besar perut tampak membesar dan teraba keras.

g. Kanker otot (Rabdomiosarkoma)
Kanker ini dapat menyerang otot di mana saja, pada anak biasanya di daerah kepala, leher, kandung kemih, prostat, dan vagina. Gejala yang ditimbulkan tergantung letaknya. Pada rongga mata, dapat menyebabkan mata menonjol keluar, benjolan di mata. Di telinga menyebabkan nyeri atau keluarnya darah dari lubang telinga. Di saluran kemih menyebabkan gangguan berkemih. Jika mengenai otot lurik anggota gerak, menimbulkan pembengkakan.

h. Kanker Tulang (Osteosarkoma)
Osteosarkoma biasanya menyerang anak usia 10-20 tahun. Dapat menyerang setiap bagian tulang, tetapi yang terbanyak ditemukan pada tungkai, lengan, dan pinggul. Biasanya ditandai rasa nyeri dan pembengkakan pada tulang. Kadang-kadang didahului benturan keras, seperti jatuh yang tidak jelas penyebabnya.

Jika anda menemukan gejala-gejala seperti tersebut di atas pada bayi dan anak-anak anda, segera konsultasikan pada dokter. Pengobatannya pada dasarnya sama dengan orang dewasa, yaitu kombinasi antara operasi, kemoterapi, radiasi, dan transplantasi sumsum tulang.

Sedang upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah, ibu-ibu hamil sebaiknya menghindari radiasi, menghindari polusi dan asap rokok, selalu menyantap makanan sehat dan menghindari makanan yang mengandung bahan-bahan kimia tambahan, mengurangi konsumsi lemak, serta membiasakan anak-anak untuk hidup sehat, menyantap makanan sehat, terlindung dari polusi. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Ragam Pengobatan Kanker

Ragam Pengobatan Kanker

Saat ini ada banyak sekali jenis pengobatan kanker. Dokter akan menjelaskan pada Anda prosedur pengobatan yang harus Anda tempuh. Kalau tidak, jangan segan menanyakannya. Berikut beberapa contoh pertanyaan yang bisa Anda tanyakan kepada dokter, serta garis besar berbagai teknik pengobatan kanker yang bisa Anda pilih:

* Apa persisnya jenis kanker saya? Bagaimana kondisinya?
* Apa saja pengobatan yang memungkinkan?
* Apa sisi posisif pengobatan tersebut?
* Apa sisi negatifnya?
* Pengobatan apa yang Anda sarankan? Mengapa itu, bukan yang lain?
* Apa yang akan saya rasakan selama pengobatan itu?
* Apakah ada efek sampingnya?
* Upaya apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi efek samping tersebut?
* Apa yang boleh atau tidak boleh saya lakukan?

Selain pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sudah pasti Anda bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan Anda sendiri. Apa pun yang ingin Anda ketahui, tanyakan. Dan apa pun yang Anda rasakan, kemukakan, karena bisa jadi akan mempengaruhi keputusan dokter. Terlebih kalau menyangkut masalah kesehatan yang selama ini rutin Anda alami, kelainan, kebiasaan tertentu, dan sebagainya.

Berikut adalah berbagai pilihan pengobatan untuk kanker. Untuk keterangan yang lebih jelas Anda bisa menanyakannya kepada dokter Anda.

1. Operasi/Pembedahan
Pembedahan merupakan prosedur pengobatan kanker yang paling tua, dan paling besar kemungkinannya untuk sembuh, khususnya untuk jenis kanker tertentu yang belum menyebar ke bagian tubuh lain. Kemajuan di bidang pembedahan telah memungkinkan tindakan operasi dengan luka dan efek seminimal mungkin (bahkan ada yang tanpa luka sama sekali), sehingga sesudahnya Anda bisa kembali beraktivitas seperti semula.

2. Kemoterapi
Kemoterapi telah digunakan untuk pengobatan kanker sejak tahun 1950-an. Diberikan sebelum operasi untuk memperkecil ukuran kanker yang akan dioperasi, atau sesudah operasi untuk membersihkan sisa-sisa sel kanker. Kadang dikombinasi dengan terapi radiasi, kadang tidak.

Obat penghancur sel kanker ini diberikan dalam tablet/pil, suntikan, atau infus. Jadwal pemberiannya ada yang setiap hari, seminggu sekali, atau bahkan sebulan sekali. Berapa lama Anda akan menjalani kemoterapi dan ada efek sampingnya atau tidak, tergantung jenis kanker Anda dan jenis kemoterapinya.

3. Radiasi
Untuk beberapa jenis kanker seperti kanker di daerah leher dan kepala, kelenjar, paru-paru, dan penyakit Hodgkin, radiasi merupakan pilihan pengobatan yang paling utama. Tetapi radiasi juga biasa diberikan pada kanker-kanker jenis lain, baik sebagai terapi tunggal maupun terapi kombinasi dengan pembedahan maupun kemoterapi.

Terapi yang efeknya bersifat lokal ini diberikan secara eksternal atau secara internal. Secara eksternal menggunakan alat tertentu untuk menembakkan gelombang radioaktif ke arah sel-sel kanker (“disinar”), sedang internal dalam bentuk implant radioaktif yang disisipkan di area kanker, atau berupa obat telan/suntik.

4. Immunoterapi
Immunoterapi yang disebut juga terapi biologis merupakan jenis pengobatan kanker yang relatif baru. Sekalipun demikian diperkirakan akan segera maju pesat dan menjadi andalan para dokter dalam upaya penyembuhan kanker secara total.

Tidak beda dengan imunisasi pada umumnya, immunoterapi bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh guna melawan sel-sel kanker. Ada tiga macam immunoterapi, yaitu aktif (vaksin kanker), pasif, dan terapi adjuvan. Di Indonesia immunoterapi kadang diberikan bersama-sama dengan jenis pengobatan lain untuk mendapatkan hasil lebih optimal, tetapi tidak selalu. Sampaikan kepada dokter kalau Anda menginginkannya.

5. Terapi Gen
Terapi gen dilakukan dengan beberapa cara: (1) mengganti gen yang rusak atau hilang, (2) menghentikan kerja gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan sel kanker, (3) menambahkan gen yang membuat sel kanker lebih mudah dideteksi dan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh, kemoterapi, maupun radioterapi, dan (4) menghentikan kerja gen yang memicu pembuatan pembuluh darah baru di jaringan kanker sehingga sel-sel kankernya mati.

Pada saat ini terapi gen belum dipergunakan secara umum, tetapi berbagai ujicoba klinis telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Penggunaannya secara luas hanya soal waktu saja.

6. Pengobatan Alternatif
Pada dasarnya yang disebut “pengobatan alternatif” dapat digolongkan ke dalam salah satu jenis pengobatan di atas, tetapi kurangnya riset medis yang memadai menyebabkan pengobatan yang pada umumnya merupakan pengobatan tradisional ini kurang diakui kalangan kedokteran, karenanya hanya disebut sebagai “alternatif”. Tentang pengobatan ini akan kita bahas tersendiri.

Nah, sebaiknya Anda mendiskusikan apa pengobatan yang paling tepat dengan dokter Anda, dan mulailah segera. Semakin cepat Anda memulainya, semakin baik hasilnya :)

Tips:
Kalau ingin mencoba cara pengobatan yang paling mutakhir, Anda bisa bergabung dengan “clinical trials” di lembaga-lembaga riset, tetapi sayang kebanyakan berada di luar negeri. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)