JAKARTA, KOMPAS.com - Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, termasuk di Indonesia. Meningkatnya jumlah kematian tersebut dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup. Diet tinggi serat membantu menghindari serangan mematikan itu.
Semua orang tentu takut terkena serangan jantung yang bisa berakhir dengan kematian mendadak. Mengutip sebuah laporan, dalam sebuah seminar tentang jantung, Dr. Idris Idham, Sp.JP, FESC, mengatakan bahwa lebih dari satu juta orang di Amerika Serikat mengalami serangan jantung setiap tahunnya.
Separuh di antara mereka mengalami kematian pada jam-jam pertama setelah serangan. Setengah lainnya berhasil mencapai rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dan dirawat di Unit Perawatan Koroner Intensif (ICCU) atau disebut juga Unit Perawatan Kardiovaskular Intensif (Cardio Vascular Care Unit).
Angka kematian pasien yang sempat masuk rumah sakit mencapai sekitar 15 persen, biasanya akibat matinya (necrose) otot jantung yang luas. Sekitar 425.000 pasien yang dirawat bisa meninggalkan rumah sakit, tetapi sekitar 10 persen (42.000 orang) dari jumlah itu meninggal setelah setahun kemudian.
Menurut Dr. Idris, serangan jantung terjadi bila terdapat kematian otot-otot jantung yang disebabkan oleh terhentinya pasokan darah ke otot jantung. Kejadian itu akibat tersumbatnya satu atau lebih pembuluh darah arteri koroner oleh gumpalan darah. Gumpalan darah ini disebut trombus. Tersumbatnya pembuluh koroner mengakibatkan otot-otot jantung lain tidak mendapat pasokan darah dengan segala nutrisi yang ada di dalamnya, seperti glukosa, vitamin, dan mineral, hormon-hormon dan elektrolit seperti natrium, kalium, magnesium, dan kalsium.
Meski begitu, Anda tak perlu cemas. Untuk mengurangi risiko gangguan di atas, berbagai upaya dapat dilakukan. Intinya adalah selalu menjaga kadar kolesterol darah yang bisa menjadi biang penyumbatan pembuluh koroner, tidak tinggi. Selain memanfaatkan vitamin B3 (niasin), C, dan E, upaya itu juga dapat dilakukan dengan diet tinggi serat.
Manfaat Serat
Dulu serat dianggap sebagai the forgotten nutrient karena fungsinya belum jelas. Namun, sebagai salah satu komponen bahan makanan, kini serat diketahui punya peran penting dalam menjaga kesehatan.
Serat terdiri dari dua jenis, yakni serat larut dan tak larut. Serat larut tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan, tetapi larut dalam air panas. Serat larut inilah yang membuat perut kenyang lebih lama dan memberikan energi lebih panjang serta bermanfaat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Umumnya terdapat pada buah dan sayur, terutama serelia seperti oat.
Serat tak larut tidak dapat dicerna dan juga tidak larut dalam air panas. Meski tidak dapat dicerna, kata DR. Ali Khomsan, serat punya fungsi metabolisme zat gizi yang penting. Di dalam pencernaan, serat membantu proses fermentasi sari makanan. Serat ini bermanfaat mencegah sembelit, bersifat lembut bagi usus dan menghindarkan risiko kanker perut. Serat ini terdapat pada sayuran seperti asparagus, kacang polong, dan serelia seperti oat.
Karena tidak dicerna, serat masuk ke kolon (usus besar) dalam keadaan utuh. Serat mencapai kolon dalam volume besar dan membutuhkan tempat luas, sehingga menimbulkan perasaan kenyang. Karena itu, kehadiran serat dalam lambung dan saluran pencernaan akan mengurangi keinginan seseorang untuk makan lebih banyak, sehingga mencegah timbulnya risiko kegemukan.
Menurut Dr. Lanny Lestiani, Sp.G(K), MSc., ahli gizi dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), makanan tinggi serat membantu menurunkan kolestrol di dalam darah. Serat bermanfaat dalam menahan air dan viskositas di saluran pencernaan, akan diubah menjadi gel di dalam usus. Tujuannya untuk menahan air sehingga orang tidak mudah lapar.
Sayur Masak
DR. Ali Khomsan menambahkan, sumber serat seperti sayuran dan buah-buahan mudah dijumpai dalam menu sehari-hari. Sayuran bisa dikonsumsi dalam bentuk mentah atau setelah diproses melalui perebusan. Meski begitu, hasil penelitian seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Rahayu, tahun 1990, menunjukkan serat makanan dalam sayuran yang dimasak justru meningkat dibandingkan dengan sayuran mentah.
Bagaimana bisa demikian? Proses pemasakan memang akan menghilangkan beberapa zat gizi. Selain itu, proses pemasakan juga menyebabkan terjadinya reaksi pencokelatan yang dalam analisis gizi terhitung sebagai serat makanan. Inilah yang menyebabkan sayuran yang dimasak punya kandungan serat lebih tinggi. Dalam penelitiannya, Rahayu menemukan bahwa sayuran yang direbus dengan air menghasilkan kadar serat makanan tertinggi (6,40 persen), dikukus (6,24 persen), dimasak dengan santan (5,98 persen), dan mentah (5,97 persen).
Secara umum, kandungan serat di dalam sayuran mencapai 32 persen, buah 38 persen, gandum 32 persen, dan kacang 25 persen. Kata Dr. Lanny, kebutuhan serat untuk orang Indonesia adalah 10-14 gr/1.000 kalori.
Serat Oat
Tak bisa dipungkiri, kini Indonesia dibanjiri produk oat, yang sering disebut havermut, masuk dalam keluarga serelia. Dibanding beras yang tiap 100 gramnya mengandung 0,1 gram serat larut dan gandum yang hanya 2,2 gram, per 100 gram oat mengandung 5,1 gram serat larut. Kandungan serat yang tinggi ini membuat oat layak dijadikan dijadikan pilihan untuk diet tinggi serat.
Sebagai gambaran, serat yang larut dalam tubuh dapat mengikat kolesterol dan mengeluarkannya dari tubuh. Peran itulah yang mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, hingga menurunkan risiko PJK. Orang yang mengalami obesitas pun bisa mengombinasikan oat dengan makanan rendah kolesterol dan lemak. Oat bisa dimanfaatkan dalam bentuk bubur gandum, biskuit, maupun roti.
Bagaimana oat menurunkan kadar kolesterol dalam darah? Berikut ini uraian singkatnya:
1. Di dalam hati, kolesterol diubah menjadi asam empedu, kemudian dilepas ke usus halus untuk membantu mencerna lemak dari makanan yang dikonsumsi.
2. Bila mengasup oatmeal, serat larut oat dalam usus halus membentuk gel yang mengikat lemak, kolesterol, dan asam empedu.
3. Karena diikat oleh serat larut oat yang berbentuk gel, sebagian asam empedu tidak dapat diserap kembali melalui dinding usus halus, kemudian asam empedu dikeluarkan melalui usus besar, sehingga asam empedu di hati berkurang.
4. Untuk menggantikan asam empedu yang hilang, hati akan menarik kolesterol dari darah untuk memproduksi asam empedu.
5. Akibatnya, total kadar kolesterol darah akan menurun.
6. Dengan menurunnya kadar kolesterol darah, risiko PJK dapat dicegah.
@ Hendra Priantono
Saturday, December 18, 2010
Mau Jantung Sehat? Jangan Lupa Serat!
Awasi Komplikasi Diabetes!
JAKARTA, KOMPAS.com - Kadar gula darah yang tidak terkontrol pada penderita diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi berhubungan dengan perubahan-perubahan metabolik.
"Salah satu kondisi buruk dan mahal ialah gagal ginjal yang menyebabkan penderita terpaksa menjalani cuci darah. Pasien cuci darah terbanyak biasanya penderita diabetes dan kemudian diikuti darah tinggi," ujar Saksono Harbuwono Spesialis Penyakit Dalam dari Divisi Metabolik dan Endokrin Universitas Indonesia dalam acara talkshow tentang diabetes pada Women Health Expo, Jumat (5/2/2010).
Sekadar gambaran, studi di Amerika, dari 100 persen pasien cuci darah, sekitar 43 persen diantaranya merupakan penderita diabetes, 28 persen penderita darah tinggi, dan selebihnya karena penyakit lain.
Komplikasi lainnya ialah gangguan terhadap jantung. Sekitar 75-80 persen kematian pada diabetes karena kelainan jantung dan pembuluh darah. Hal ini disebabkan karena timbulnya timbunan lemak di pembuluh darah sehingga aliran darah terhambat. Jika itu terjadi di pembuluh darah jantung, dapat timbul serangan jantung. Selain itu, komplikasi dapat menimpa pembuluh darah lain di mata (kebutaan), kelamin, kaki, dan otak.
Tentang Diabetes
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang timbul akibat kadar gula darah yang tinggi. Kadar gula darah tinggi itu disebabkan ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin atau penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin. Gula darah dapat meningkat karena makanan, stres, sakit, dan abat-obatan tertentu.
Faktor pencetus diabetes melitus antara lain kurang gerak, makan berlebihan, kehamilan dan kekurangan produksi hormon insulin. Diabetes tidak dapat disembuhkan tetapi kadar gula darah dapat dikendalikan sehingga berbagai komplikasi dapat dicegah. Kunci penanganan diabetes ialah menjaga kadar gula darah. Cara menjaga kadar gula darah dan tekanan darah antara lain diet yang tepat, olah raga teratur, dan konsumsi obat jika diperlukan.
Dante mengatakan, diabetes tipe II semakin menjadi masalah serius. Jumlah penderitanya juga terus bertambah. Di Jakarta misalnya, pada tahun 1980 prevalensi diabetes sebesar 2,8 persen dan di tahun 2005 menjadi 12,1 persen.
Kadar Gula Darah Tak Beres, Atasi Segera
Kompas.com - Survei tahun 2006 menunujukkan, satu dari 8 orang di jakarta menderita diabetes mellitus (DM). DM belum dapat disembuhkan, namun kadar glukosa darah dapat dapat dikendalikan sehingga berbagai komplikasi dapat dicegah.
Penyakit diabetes mellitus (DM) atau juga dikenal sebagai penyakit kencing manis adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat kadar gula darah yang tinggi.
“Kadar gula darah tinggi ini disebabkan oleh jumlah hormon insulin yang kurang atau jumlah insulin cukup tetapi tidak efektif (resistensi insulin),” jelas Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD, Ph.D, konsultan endokrinologi metabolik dan diabetes dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta.
Gula sebagai sumber kalori sel-sel tubuh masuk ke dalam tubuh melalui makanan, dan diedarkan ke seluruh tubuh. Kemudian gula akan masuk ke sel-sel tubuh, misalnya jantung, ginjal, otot, dan sebagainya. Oleh sel-sel tubuh, gula ini digunakan sebagai sumber energi.
Itu yang terjadi pada orang normal. Pada penderita diabetes, khususnya DM tipe 2, pintu tempat gula masuk ke dalam sel (glucose transporter) rusak, sehingga gula tidak bisa masuk secara optimal. Kalau gula tidak bisa masuk ke dalam sel, maka gula akan menumpuk di dalam peredaran darah. Ketika dicek, kadar gula darahnya pun tinggi.
Karena sel tubuh tidak mendapat makanan, lama-lama akan kelaparan. “Kalau kelaparan, lama-lama ia akan rusak. Karena itu, ada penderita diabetes yang terkena penyakit jantung, karena otot jantung tidak mendapat gula secara cukup. Ada juga yang harus cuci darah, karena sel-sel ginjal tidak mendapat gula yang cukup. Ada juga yang kakinya harus diamputasi, karena sel-sel ototnya tidak mendapat gula yang cukup pada saat infeksi. Ini yang disebut komplikasi,” jelas dokter yang juga aktif di Pusat Diabetes dan Lipid Jakarta, Divisi Metabolik Endokrin UI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
Jaga Gaya Hidup
Ada 4 tipe diabetes mellitus. Tipe 1 biasanya pada anak-anak (genetik). Tubuhnya memang tidak punya insulin. DM tipe 2 adalah DM seperti yang dijelaskan di atas. DM tipe 3 adalah diabetes gestational yang biasa terjadi pada ibu hamil, dan tipe 4 adalah diabetes karena penyebab lain, misalnya karena obat, karena penyakit, dan sebagainya.
Yang paling banyak diderita adalah DM tipe 2 dan kecenderungannya terus meningkat. Survei tahun 1982 menunjukkan, angka penderita diabetes di Jakarta sekitar 2,8 persen dari jumlah penduduk. Tahun 90-an naik menjadi 5,8 persen, dan tahun 2006 melonjak menjadi 12, 8 persen. “Artinya, 1 di antara 8 orang di Jakarta terkena diabetes. Yang pre diabetes (akan menjadi diabetes) pun banyak, sekitar 30 persen, dan suatu saat bisa "kecemplung" menjadi diabetes,” kata Dante.
Untuk mengetahui penyakit DM, perlu diperiksa kadar gula darahnya. Dikatakan menderita DM bila kadar gula darah puasanya > 126 mg/dL atau kadar gula darah setelah puasa > 200 mg/dL.
Banyak hal yang menjadi penyebab. Yang utama adalah gaya hidup (lifestyle), obesitas yang semakin banyak, pola hidup instan yang dianggap modern, dan yang paling penting adalah kultur untuk melakukan pemeriksaan berkala yang jarang.
Diabetes berkaitan dengan faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik dianggap tidak bisa dimodifikasi, sementara faktor lingkungan bisa. “Jadi, kalau orang sudah punya faktor genetik, yang harus dijaga adalah faktor lingkungannya. Misalnya, menjalani lifestyle yang baik, aktivitas fisik yang baik, istirahat cukup, makan yang tidak banyak mengandung lemak, dan sebagainya.”
Jika setelah menjaga faktor lingkungan, tetap menjadi diabetes juga karena faktor genetik, maka pencegahannya adalah dengan melakukan cek gula darah secara teratur, serta mengenali tanda-tanda diabetes. Tanda diabetes yang khusus ada 3 P, yaitu polydipsi (banyak minum), poliphagi (banyak makan), dan polyuri (banyak kencing pada malam hari), ditambah rasa lemas dan penurunan berat badan.
Sementara tanda-tanda tidak khas antara lain kesemutan, pandangan kabur, gigi goyang, difungsi ereksi. Seringkali pasien datang bukan karena pemeriksaan gula darah, melainkan karena gejala yang tidak khas tadi.
Waspadai Komplikasi
Mengobati diabetes tidak cukup hanya dengan menurunkan gula yang ada di dalam darah, tetapi juga bagaimana caranya membuat gula bisa masuk kembali ke dalam sel-sel tubuh supaya sel-sel tubuh tadi tidak rusak.
Diabetes tidak bisa sembuh dan akan ada seumur hidup. “Tetapi yang lebih penting, misalnya, tetap diabetes tapi tidak terkena serangan jantung karena metabolisme di dalam sel otot jantung dikelola dengan baik. Tak perlu harus diamputasi, tak perlu harus cuci darah, dan sebagainya. Jadi, tidak cuma menurunkan angka gula darah, melainkan mengontrol komplikasi yang ada pada diabetes,” kata Dante.
Tidak ada pasien diabetes yang gula darahnya tidak bisa dikontrol. Kalau diketahui lebih dini dan diobati dengan baik, maka komplikasinya pun akan bisa diatasi. "Orang diabetes bisa tetap punya umur sama dengan orang sehat, asal komplikasinya dikontrol atau terkendali.”
Berisiko Terkena DM
Pahami dan simak siapa saja yang berisiko terkena DM, berdasarkan ciri-cirinya. Ingat, pencegahan lebih baik daripada mengobati.
Berusia di atas 45 tahun
Kegemukan (Indeks Massa Tubuh di atas 23 kg/m2)
Darah tinggi/hipertensi
Dislipidemia (Kolesterol HDL <> 250 mg/dL)
Riwayat melahirkan bayi dengan berat > 4000 gr
Riwayat DM pada keluarga (keturunan)
Riwayat gangguan toleransi glukosa
(Nova/Hasto Prianggoro)
Kolesterol Ditakuti, tetapi Dibutuhkan
JAKARTA, KOMPAS.com - Gaya hidup tidak sehat telah menjadikan kolesterol sebagai musuh manusia. Padahal, zat ini besar manfaatnya untuk otak dan hati, serta jaringan saraf yang ada dalam tubuh manusia. Bahkan, kolesterol berperan dalam pembentukan hormon seks.
Mendengar kata kolesterol, pikiran kita sebagian besar pasti terarah kepada penyakit pencabut nyawa seperti penyakit jantung, stroke, dan sebagainya. Opini tersebut semakin terbentuk oleh banyaknya iklan-iklan produk makanan yang memberi iming-iming “bebas kolesterol”.
Ekspose secara berlebihan tersebut, memberi kesan bahwa kolesterol merupakan musuh besar bagi kesehatan manusia. Benarkah kolesterol berbahaya?
Ditilik dari sejarahnya, kolesterol memang memberi catatan buruk bagi dunia medis. Pada tahun 1908, para ahli telah menemukan bahwa hewan percobaan yang diberi makan daging, susu berlemak, dan telur secara berlebihan akan mengalami endapan lemak pada dinding arteri (saluran darah).
Hal tersebut menyebabkan saluran darah menjadi lebih sempit, disebut sebagai aterosklerosis. Proses tersebut berlangsung sangat lama dan merupakan cikal-bakal penyakit stroke dan serangan jantung. Pada tahun 1913, beberapa ahli merumuskan bahwa endapan lemak tersebut adalah kolesterol.
Pada tahun 1916, Cornelius de Langen, seorang dokter asal Belanda yang ketika itu berkerja di Indonesia, menemukan bahwa jumlah penduduk asli Indonesia yang menderita sakit jantung lebih rendah dibanding orang Belanda yang tinggal di Indonesia.
Ia membuat spekulasi bahwa kandungan kolesterol yang rendah di kalangan orang Indonesia disebabkan pola makan yang lebih banyak mengandung unsur tumbuhan, ketimbang orang Belanda yang lebih menyukai daging dan makanan hewani lainnya.
Pada akhir Perang Dunia II, para ahli riset di Skandinavia menemukan fakta bahwa kematian akibat penyakit jantung turun drastis selama peperangan. Hal tersebut disebabkan menurunnya konsumsi daging, susu, dan telur.
Saat ini para ilmuwan menemukan fakta bahwa orang yang menderita sakit jantung, pada umumnya mempunyai kadar kolesterol yang lebih tinggi dibanding orang yang sehat.
Di negara-negara maju yang konsumsi kolesterolnya tinggi (seperti Amerika Serikat), penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama kematian. Laporan American Heart Association (AHA) menyebutkan bahwa lebih dari 100 juta orang dewasa di AS mempunyai kadar kolesterol di atas rata-rata, dan 40 juta di antaranya mempunyai kadar kolesterol sangat tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke mencapai 500.000 orang setiap tahun.
Pada tahun 1976, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa pengapuran jantung akibat kolesterol telah dialami seseorang sejak berusia 20 tahun. Pengapuran tersebut semakin menebal 3 persen setiap tahunnya.
Melihat fakta-fakta di atas, tidak heran, banyak orang mengidentikkan kolesterol sebagai sesuatu yang berbahaya bagi kesehatan manusia meskipun pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Tulisan ini akan memberikan informasi yang berimbang tentang dampak positif dan negatif kolesterol.
Terbentuk di dalam Tubuh
Apakah kolesterol itu sebenarnya? Kolesterol merupakan produk khas hasil metabolisme hewan. Kolesterol hanya terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan seperti daging, ikan, telur, susu, otak, dan jeroan. Dilihat dari struktur kimianya, kolesterol merupakan kelompok steroid, yaitu suatu zat yang termasuk ke dalam golongan lipid.
Pada manusia, kolesterol dapat disintesis sendiri di dalam tubuh, yaitu di bagian hati, korteks, adrenal, kulit, usus, testis, lambung, otot, jaringan adiposa, dan otak. Sekitar 17 persen dari berat kering otak terdiri atas kolesterol. Dengan demikian, tanpa kolesterol, struktur otak tidak mungkin terbentuk dengan sempurna.
Meskipun dianggap berbahaya, kolesterol tetap dibutuhkan oleh tubuh. Manusia rata-rata membutuhkan 1.100 miligram kolesterol per hari untuk memelihara dinding sel dan fungsi fisiologis lain. Dari jumlah tersebut 25-40 persen (200-300 mg) secara normal berasal dari makanan dan selebihnya disintesis oleh tubuh.
Jika jumlah kolesterol di dalam tubuh kurang, sintesis kolesterol di dalam hati dan usus meningkat untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan organ lain. Sebaliknya, jika jumlah kolesterol di dalam makanan meningkat, sintesis kolesterol di dalam hati dan usus menurun.
Meskipun tubuh dapat mensintesis kebutuhan kolesterol, kolesterol yang berasal dari makanan memegang peran penting karena merupakan sterol utama di dalam tubuh manusia, serta komponen permukaan sel dan membran intraselular.
Penelitian pada tikus menunjukkan, jika hanya terdapat 0,05 persen kolesterol dalam makanan, 70-80 persen kolesterol tubuh akan disintesis di hati, usus halus, dan kelenjar adrenal. Jika kandungan kolesterol dalam makanan naik menjadi 2 persen, biosintesis kolsterol di dalam tubuh menurun menjadi 10-30 persen.
Kolesterol dibutuhkan tubuh antara lain dalam sintesis asam empedu yang diperlukan untuk proses pencernaan lemak atau minyak, sintesis vitamin D, dan sebagai komponen membran sel. Kolesterol mempunyai peran sangat penting dalam tubuh karena tidak hanya pembentuk membran sel, tetapi juga pelopor biosintesis umum lain, termasuk hormon seks dan asam empedu.
Kolesterol merupakan prekursor dari pengeluaran asam empedu yang disintesis dalam hati dan berfungsi untuk menyerap trigliserida (triasilogliserol) dan vitamin larut lemak dari makanan, serta sebagai prekursor dari hormon steorid, estrogen, dan testoteron.
Peran lain kolesterol, yaitu membantu sel saraf menjalankan fungsinya. Bila tanpa kolesterol, koordinasi gerak tubuh dan kemampuan berbicara akan terganggu.
Jenis Kolesterol
Bila tubuh dalam keadaan sehat dan konsumsi makanan normal, tubuh cenderung mempertahankan keseimbangan kolesterol. Kolesterol yang diasup dan disintesis tubuh diubah menjadi jaringan, hormon, dan vitamin yang kemudian beredar ke dalam tubuh melalui darah.
Kolesterol tidak dapat larut dalam darah. Agar dapat diangkut dalam aliran darah, kolesterol bersama lemak-lemak lain (trigliserida dan fosfolipid) harus berikatan dengan protein untuk membentuk senyawa yang larut, yaitu lipoprotein.
Kilomikron merupakan lipoprotein yang mengangkut lemak menuju ke hati. Dalam hati, ikatan lemak tersebut akan diuraikan, sehingga terbentuk kembali unsur lemak. Asam lemak yang terbentuk akan dipakai sebagai sumber energi atau bila jumlahnya berlebih akan disimpan dalam jaringan lemak.
Bila asupan kolesterol tidak mencukupi, sel hati akan memproduksinya. Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL (low density lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukannya, termasuk ke sel otot jantung, otak, dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (high density lipoprotein) untuk dibawa ke hati yang selanjutnya akan diuraikan dan dibuang ke dalam kantung empedu sebagai asam empedu.
LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL, sehingga ia akan mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B (apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak jahat karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah.
LDL merupakan pembawa kolesterol terbanyak, yaitu sekitar 60 persen dari kolesterol total plasma. Meskipun sering disebut sebagai kolesterol jahat, LDL mempunyai peran penting, yaitu membawa sterol ke jaringan perifer dan digunakan untuk konstruksi membran atau untuk pembentukan hormon steroid.
HDL adalah partikel lipoprotein yang padat dan kecil, disintetis dalam hati maupun usus. HDL sering disebut sebagai lemak baik karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Hal tersebut diduga merupakan mekanisme utama HDL dalam melindungi pembuluh darah terhadap terjadinya aterosklerosis.
Lemak baik ini dapat menghilangkan kolesterol dari sel busa pada luka ateroklerosis atau melindungi LDL dari modifikasi oksidasi. Rendahnya kadar HDL di dalam plasma akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Protein utama yang membentuk HDL adalah Apo-A (apolipoprotein).
HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan kepadatan tinggi atau lebih berat. @
Prof. DR. Made Astawan
Dosen Departemen Teknologi
Pangan Dan Gizi-IPB
Daun Sukun Pelindung Jantung
JAKARTA, KOMPAS.com — Sukun, yang dalam bahasa Inggris disebut bread fruit, buahnya lebih banyak dikenal sebagai penganan yang digoreng atau dijadikan tepung sukun yang bisa dioleh menjadi mi atau roti. Padahal, tanaman sukun (Artocarpus altilis) sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obat pencegah penyakit jantung.
Secara tradisional, daun sukun telah dipakai untuk mengobati penyakit hati, inflamasi, jantung, dan ginjal. Sementara itu, di Taiwan, akar dan batang tanaman sukun dimanfaatkan untuk menyembuhkan sirosis (kanker hati).
Upaya penelitian dan pengembangan sukun sebagai obat telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebelumnya, sukun lebih banyak diteliti untuk penyakit diabetes. Baru pada tahun 2004 sukun mulai dilirik untuk penyakit kardiovaskular.
"Sukun memiliki flavonoid yang khas," kata Dr Tjandrawati Mozef, peneliti dari LIPI yang giat meneliti sukun untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Tjandra menjelaskan, uji khasiat terhadap ekstrak daun sukun menunjukkan efek penurunan kadar kolesterol darah dan akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta pada mencit di laboratorium. Studi in vitro juga menyimpulkan, ekstrak daun sukun efektif melindungi jantung dari serangan iskemik akut.
Uji toksisitas menunjukkan tidak ditemukannya efek samping toksik pada hewan uji, tidak memengaruhi fungsi jantung, ginjal dan hati, maupun profil hematologi.
"Kita tinggal melakukan uji klinis untuk pengembangan obat baru. Bila ini berhasil, diharapkan akan dihasilkan obat pencegah penyakit kardiovaskular yang lebih murah dan terjangkau masyarakat," kata Tjandrawati ketika menyampaikan penelitiannya dalam acara seminar yang diadakan Badan Litbang Kementerian Kesehatan di Jakarta.