Sunday, April 5, 2026

1009. Tawadhu’ Mengangkat Derajat, Sombong Meruntuhkan Martabat.

Bismillahirahmanirrahim.

Ahad, 5 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, ada oleh oleh shubuhan dari masjid Al Abror  nyantri bareng ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Tanbihul Ghafilin (karya Abul Laits as-Samarqandi) , Edisi 1009:

---

BAB 19 Tentang Sombong.

Nabi  tengah makan daging kering (dendeng) di nampan (talam) sambil duduk bertekuk lutut (hal itu terjadi di rumah ‘Aisyah), lalu masuklah seorang wanita buruk omongannya, katanya: “Lihatlah orang itu duduknya seperti sahaya (hamba), Jawab beliau  : Betul, sejak lama hal itu kualami, baik duduk atau makanku. Lalu beliau mempersilahkan makan. Tetapi jawabnya: Tidak, kecuali kau suapi dengan tanganmu, Beliau memenuhi permintaannya, tapi kata wanita itu: Tidak, kecuali jika kau suapi aku dengan mulutmu (seperti burung memberi makan anaknya), kebetulan beliau tengah makan daging yang berotot, lalu dikeluarkan dan diberikan wanita itu, dan ketika makanan itu masuk dalam perut, tiba-tiba ia merasa malu, sampai tidak dapat melihat orang dan tidak mendengar lagi ia berkata keji hingga matinya.

Kunci harta kekayaan bumi dipercayakan kepadaku, lalu aku ditawari: Pilih menjadi Hamba dan Nabi ataukah manjadi Nabi dan Raja, lalu isyarat Jibril kepadaku agar aku tawadlu (pilih) menjadi Hamba dan Nabi, kemudian isyarat itu kupenuhi (menjadi Hamba dan Nabi) dan kelak manusia pertama keluar dari bumi adalah aku dan yang pertama pula dalam memberi syafaat. (HR. Hasan).

Barangsiapa tawadlu’ karena khusyuk, maka Allah meninggikan derajatnya di hari Kiamat, sebaliknya Barangsiapa membanggakan diri, maka Allah merendahkannya di hari Kiamat (Ibnu Mas’ud).

.........

Wa’alaikumussalām warahmatullāhi wabarakātuh.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Tawadhu’ Mengangkat Derajat, Sombong Meruntuhkan Martabat

Bismillahirahmanirrahim.

Ahad, 5 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, ada oleh oleh shubuhan dari masjid Al Abror  nyantri bareng ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Tanbihul Ghafilin (karya Abul Laits as-Samarqandi) , Edisi 1009:

 Bab 19 Tentang Sombong.

Dalam kisah yang dinukil oleh dalam Tanbīhul Ghāfilīn, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ makan dengan duduk bertekuk lutut seperti seorang hamba. Ketika seorang wanita mencela cara duduk beliau, Nabi ﷺ menjawab dengan penuh ketenangan bahwa sejak lama beliau memang demikian—sebagai hamba Allah.

Beliau ditawari dua pilihan: menjadi Nabi dan Raja, atau Nabi dan Hamba. Dengan isyarat , beliau memilih menjadi Nabi dan Hamba.

Inilah puncak tasawuf: memilih kehinaan di hadapan manusia demi kemuliaan di sisi Allah.


I. Landasan Al-Qur’an dan Hadis

Allah ﷻ berfirman:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…”
(QS. Al-Furqan: 63)

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. An-Nisa: 36)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Ibnu Mas’ud r.a. berkata:

“Barangsiapa tawadhu’ karena khusyuk kepada Allah, Allah akan meninggikan derajatnya di hari kiamat. Dan barangsiapa menyombongkan diri, Allah akan merendahkannya di hari kiamat.”


II. Analisis dan Argumentasi Tasawuf

Dalam perspektif tasawuf, sombong (kibr) adalah penyakit hati paling berbahaya karena:

  1. Ia menutup pintu ma’rifat.
    Hati yang penuh keakuan tidak bisa dipenuhi cahaya Allah.
  2. Ia adalah sifat Iblis.
    Iblis enggan sujud karena merasa lebih mulia (QS. Al-A’raf: 12).
  3. Ia menghancurkan amal.
    Amal lahir bisa banyak, tapi jika batin merasa lebih tinggi dari orang lain, nilainya gugur.

Sebaliknya, tawadhu’ adalah pengakuan hakiki bahwa:

  • Semua nikmat berasal dari Allah.
  • Kita tidak punya daya kecuali dengan-Nya.
  • Manusia sama-sama hamba.

Para sufi berkata:

“Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”
Artinya, ketika sadar diri penuh kekurangan, ia tidak akan sempat menyombongkan diri.


III. Motivasi dan Muhasabah

✦ Tanda-tanda Sombong dalam Diri:

  • Sulit menerima nasihat.
  • Senang dipuji, marah saat dikritik.
  • Merasa paling benar.
  • Enggan duduk bersama orang kecil atau miskin.

✦ Cara Muhasabah:

  1. Ingat asal kita dari tanah.
  2. Ingat akhir kita menjadi tanah.
  3. Ziarah kubur untuk melembutkan hati.
  4. Perbanyak istighfar.
  5. Duduk bersama fakir miskin.
  6. Latih diri menerima kritik tanpa membela diri.

Amalan sederhana:

  • Biasakan duduk di tempat yang tidak menonjol.
  • Jangan menolak undangan orang kecil.
  • Makan bersama orang yang sederhana.

IV. Hikmah, Tujuan dan Manfaat Tawadhu’

1. Di Dunia:

  • Dicintai manusia.
  • Hatinya tenang.
  • Dihormati tanpa meminta dihormati.
  • Dijaga Allah dari permusuhan.

2. Di Alam Kubur:

  • Kuburnya lapang karena hati lapang.
  • Dijauhkan dari kesempitan akibat kesombongan.

3. Di Hari Kiamat:

  • Diangkat derajatnya.
  • Mendapat naungan rahmat Allah.
  • Dekat dengan syafaat Nabi ﷺ.

4. Di Akhirat:

  • Masuk surga dengan wajah berseri.
  • Mendapat kemuliaan yang hakiki.

V. Kemuliaan dan Kehinaan

Tawadhu’ Sombong
Rendah di dunia Tinggi di dunia
Tinggi di akhirat Rendah di akhirat
Dicintai Allah Dimurkai Allah
Dekat surga Dekat neraka

Hakikatnya, orang sombong sedang menggali lubang kehinaan untuk dirinya sendiri.


VI. Renungan Tasawuf

Rasulullah ﷺ—manusia paling mulia—memilih menjadi hamba.

Kita ini siapa?

Jika Nabi saja memilih kehambaan, maka kebanggaan kita pada jabatan, harta, ilmu, atau keturunan adalah tanda belum mengenal diri.

Sombong itu bukan hanya berdiri dengan dada tegak.
Sombong itu adalah hati yang merasa “aku lebih”.


VII. Doa

Allāhumma innā na‘ūdzu bika min kibrin wa ‘ujbin wa riya’.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesombongan, dari bangga diri, dan dari riya.

Allāhumma aj‘alnā min ‘ibādika al-mukhbitīn, al-mutawādhi‘īn.
Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang tunduk dan rendah hati.

Allāhumma lā taj‘al fidz-dzāti syai’an yufsid ‘amalnā.
Ya Allah, jangan Engkau sisakan dalam diri kami sesuatu yang merusak amal kami.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Penutup

Semoga oleh-oleh Shubuh ini menjadi cermin bagi hati kita.
Semoga kita lebih sibuk memperbaiki diri daripada mengukur orang lain.

Terima kasih kepada para penikmat ilmu yang senantiasa hadir menuntut cahaya.
Semoga majelis ini menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

.......


---


Judul: Rendah Hati Bikin Naik Kelas, Sombong Bikin Merosot Martabat


Bismillahirrahmanirrahim.


Halo para sesepuh dan penikmat ilmu yang kece abadinya.


Ahad, 5 April 2026


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Selamat pagi, njenengan semua. Kali ini aku mau sharing oleh-oleh subuh dari masjid Al Abror, ngaji santai bareng Ustadz A. Zubaidi. Beliau ngupas tipis-tipis kitab Tanbihul Ghafilin (karya Abul Laits as-Samarqandi), edisi 1009, bab 19 tentang sombong.


Begini ceritanya, ada kisah keren dari kitab Tanbīhul Ghāfilīn. Rasulullah ﷺ itu kalau makan caranya duduk mleyot ala orang biasa, kayak abdi dalem. Terus ada seorang ibu yang nyeletuk, "Kok cara duduknya begitu, Yah?" Dengan santuy, Nabi ﷺ jawab, "Memang sejak dulu aku begini—sebagai hamba Allah."


Nabi ﷺ waktu itu ditawari dua pilihan: jadi Nabi sekaligus Raja, atau jadi Nabi sekaligus Hamba. Dengan isyarat, beliau milih jadi Nabi dan Hamba.


Nah, itu puncaknya spiritual: milih kelihatan rendah di mata manusia, tapi mulia di sisi Allah.


---


I. Dalil dari Al-Qur'an dan Hadis (teks asli tetap)


Allah ﷻ berfirman:


“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan: 63)


Dan firman-Nya:


“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)


Ibnu Mas’ud r.a. bilang:


“Barangsiapa tawadhu’ karena khusyuk kepada Allah, Allah akan meninggikan derajatnya di hari kiamat. Dan barangsiapa menyombongkan diri, Allah akan merendahkannya di hari kiamat.”


---


II. Bahasan ala Santai dari Kacamata Tasawuf


Dalam dunia tasawuf, sombong (kibr) itu penyakit hati paling bahaya, alasannya:


· Bikin hati keras, jadi susah deket sama Allah.

· Itu gaya iblis, kan? Iblis gak mau sujud karena merasa lebih hebat (QS. Al-A'raf: 12).

· Amal sebanyak apapun bisa ilang kalau hati merasa paling unggul.


Sebaliknya, tawadhu’ itu sadar bahwa semua nikmat dari Allah. Kita nggak punya daya apa-apa tanpa-Nya. Kata para sufi:


“Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”


Artinya, kalau kita sadar diri punya banyak kekurangan, nggak sempet deh buat sombong.


---


III. Cek Yuk, Siapa Tahu Kita Lagi Sombong?


Tanda-tanda sombong yang sering gak kita sadari:


· Susah banget dikasih masukan.

· Dikit-dikit minta pujian, dikritik sedikit langsung bete.

· Merasa paling bener sendiri.

· Males kumpul sama orang biasa atau yang sederhana.


Tips mehong (mahalan) buat muhasabah diri:


· Ingat asal kita dari tanah.

· Ingat ujung-ujungnya juga balik ke tanah.

· Sering-sering ziarah kubur biar luluh hatinya.

· Perbanyak istigfar.

· Suka duduk-duduk bareng yang kurang mampu.

· Latihan terima kritik tanpa bela diri.


Amalan simpel yang bisa dicoba:


· Biasakan duduk di pojok, gak usah di depan terus.

· Jangan nolak undangan orang kecil.

· Makan bareng dengan yang sederhana.


---


IV. Asyiknya Tawadhu' (Manfaatnya Keren Banget)


1. Di dunia:


· Banyak yang sayang.

· Hati adem ayem.

· Dihormati tanpa minta dihormati.

· Dijaga Allah dari musuh-musuhan.


2. Di alam kubur:


· Kuburnya lega, karena hatinya lapang.

· Aman dari sempitnya kubur gara-gara sombong.


3. Di hari kiamat:


· Derajat diangkat tinggi.

· Dapat naungan rahmat Allah.

· Dekat sama syafaat Nabi ﷺ.


4. Di akhirat:


· Masuk surga dengan muka sumringah.

· Dapat kemuliaan sejati.


---


V. Perbandingan Singkat: Rendah Hati vs Sombong


Tawadhu’ (Rendah hati) Sombong

Di dunia rendah Di dunia tinggi

Di akhirat tinggi Di akhirat rendah

Dicintai Allah Dimurkai Allah

Dekat surga Dekat neraka


Intinya, orang sombong itu lagi menggali lubang buat dirinya sendiri.


---


VI. Renungan Santuy Tapi Dalam


Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia sejagat, milih jadi hamba. Nah, kita ini siapa? Kalau Nabi aja milih jadi abdi, masa kita masih merasa paling hebat karena jabatan, harta, ilmu, atau silsilah keluarga?


Sombong itu bukan cuma soal badan tegap atau jalan jingkrak-jingkrak. Sombong itu di hati: ada rasa "aku lebih" dari yang lain.


---


VII. Doa Singkat


Allāhumma innā na‘ūdzu bika min kibrin wa ‘ujbin wa riya’.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sombong, bangga diri, dan pamer.


Allāhumma aj‘alnā min ‘ibādika al-mukhbitīn, al-mutawādhi‘īn.

Ya Allah, jadikan kami hamba-Mu yang tunduk dan rendah hati.


Allāhumma lā taj‘al fidz-dzāti syai’an yufsid ‘amalnā.

Ya Allah, jangan sisakan dalam diri kami sesuatu yang merusak amal kami.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


---


Penutup (Gaya Gaul Hormat)


Semoga oleh-oleh subuh ini bisa jadi cermin buat kita semua. Semoga kita lebih asyik memperbaiki diri sendiri daripada sibuk ngukur-ngukur orang lain.


Makasih banyak buat para penikmat ilmu yang selalu setia ikut ngaji. Semoga majelis ini jadi saksi kebaikan kita di sisi Allah.

......



No comments: