Wednesday, November 17, 2010

Gejala dan Pengobatan Batu Empedu

Gejala dan Pengobatan Batu Empedu


Batu empedu adalah timbunan satu atau lebih batu kecil di kandung empedu. Bila batu empedu berada di kandung empedu, kondisinya disebut kolelitiasis, bila di saluran empedu disebut koledokolitiasis.

Kandung empedu adalah kantung kecil di bawah hati, di sisi kanan perut, yang menyimpan empedu, cairan kuning yang diproduksi oleh hati. Selama makan, kandung empedu berkontraksi dan mengeluarkan empedu yang kemudian mengalir ke usus untuk membantu mencerna lemak.

Besar dan jumlah batu empedu berbeda-beda pada setiap pasien, dari yang hanya sebesar pasir sampai sebesar bola golf. Sebagian besar batu empedu terbentuk dari kolesterol yang mengkristal, sebagian lainnya terbuat dari pigmen empedu (bilirubin) atau campuran keduanya.

Proses pembentukan batu empedu umumnya lambat, dan biasanya tidak menimbulkan rasa sakit atau gejala lainnya.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti batu empedu tidak diketahui. Kemungkinan penyebabnya adalah:

  • empedu mengandung terlalu banyak kolesterol
  • empedu kurang mengandung garam empedu
  • kandung empedu tidak berkontraksi sempurna
  • infeksi
  • gangguan darah (anemia sel sabit).

Batu empedu dua kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada laki-laki dan dapat terjadi pada usia berapa pun, tetapi kejadiannya meningkat seiring usia. Penderita diabetes memiliki risiko yang lebih tinggi mengidap batu empedu, dan masalah kandung empedu lainnya. Kelebihan berat badan juga merupakan faktor risiko yang signifikan untuk batu empedu.

Gejala

Pada kebanyakan kasus, batu empedu tidak menimbulkan gejala atau tanda-tanda. Jika batu empedu mengendap di saluran (koledokolitiasis) dan menyebabkan penyumbatan, tanda-tanda dan gejala berikut dapat dirasakan:

  • Nyeri tiba-tiba di bagian kanan atas perut dan dapat menjalar hingga ke bahu dan punggung.
  • Nyeri biasanya dimulai dalam waktu 30 menit setelah makan makanan berlemak atau berminyak.
  • Nyeri biasanya intens, berat dan konstan, dan dapat berlangsung hingga berjam-jam.
  • Serangan nyeri bisa kambuh (berulang) dalam rentang harian, bulanan atau bahkan tahunan.

Gejala umum lain dari batu empedu adalah:

  • Mual dan muntah.
  • Kembung atau sendawa.
  • Penyakit kuning (kulit dan mata menjadi berwarna kuning).

Pengobatan medis

Pengobatan dalam bentuk apa pun biasanya tidak diperlukan bila batu empedu tidak menimbulkan gejala yang mengganggu.

Obat-obatan jarang diberikan untuk mengobati batu empedu. Pada beberapa kasus di mana operasi tidak dapat dilakukan atau berisiko, obat berbasis asam empedu mungkin diberikan untuk mengencerkan batu empedu yang terbuat dari kolesterol. Namun, obat tersebut hanya efektif untuk batu berukuran kecil dan tidak mencegah pembentukan batu empedu bila pengobatan dihentikan.

Kandung empedu bukanlah organ penting dan bisa dibuang dengan aman. Laparoskopi kolekistostomi, yang menggunakan sayatan kecil, adalah metode pembedahan yang kini paling umum dilakukan untuk membuang kandung empedu. Metode ini mengurangi rasa sakit dan mempersingkat waktu pemulihan dibandingkan dengan operasi bedah terbuka.

Pengobatan alami/herbal

Beberapa ahli herbal menyarankan konsumsi 20 ml minyak zaitun yang dicampur jus lemon setengah butir dua kali sehari untuk menghilangkan batu empedu. Untuk efek pembersihan liver dan sistem limfatik yang lebih kuat, bisa ditambahkan black seed oil (minyak habbatussauda) dalam konsumsi harian. Dimulai dengan 5 ml per hari menjadi 10 ml dan lalu 15 ml bila dampaknya tidak terlalu kuat (terutama bagi orang yang sensitif). Hal ini akan menyebabkan tinja encer untuk beberapa hari, yang merupakan bagian dari proses pembersihan. Konsumsi black seed oil beberapa bulan akan meningkatkan fungsi liver dan organ dalam dan mencegah pembentukan batu empedu baru.

Pencegahan

Risiko pembentukan batu empedu dapat dikurangi dengan menjalani gaya hidup sehat, terutama untuk menjaga berat badan. Menerapkan pola makan yang tidak mengandung banyak lemak jenuh tampaknya juga membantu mengurangi risiko batu ginjal. Sebuah studi epidemiologi selama 14 tahun yang dilakukan Harvard Medical School menunjukkan bahwa orang yang memakan lebih banyak makanan lemak tak jenuh beresiko lebih kecil terkena batu empedu.

Faktor-faktor risiko utama lain seperti usia dan berjenis kelamin wanita jelas tidak dapat diubah.

image: source

Artikel Terkait:

  1. Gejala dan Pencegahan Penyakit Jantung
  2. Mengenal Jenis-jenis Pengobatan Kanker
  3. Gejala dan Penanganan Radang Amandel (Tonsilitis)
  4. Vitamin C Mencegah Penyakit Asam Urat
  5. Manfaat Kopi Bagi Kesehatan

10 Masalah Kehamilan

10 Masalah Kehamilan


Berikut adalah beberapa masalah kesehatan yang dapat terjadi pada kehamilan:10 masalah kehamilan

  • Mual dan muntah. Mual dan muntah dialami oleh 70-85% wanita pada trimester pertama kehamilan. Namun, pada beberapa wanita terus berlanjut hingga sepanjang masa kehamilan. Dalam 90% kasus, mual dan muntah tersebut tidak memerlukan pengobatan. Calon ibu hanya dianjurkan untuk menghindari makanan yang terlalu merangsang/pedas, minum suplemen vitamin dan istirahat yang cukup.
  • Keguguran. Keguguran adalah penghentian kehamilan karena keluarnya janin sebelum waktunya. Pengeluaran janin sebelum usia 20 minggu atau dengan berat di bawah 500 gram dianggap sebagai keguguran. Keguguran terjadi pada 15% kehamilan dan dapat terjadi baik secara spontan maupun karena tindakan.
  • Infeksi saluran kencing. Infeksi saluran kencing terjadi pada 5-9% wanita hamil. Jenis infeksi yang umum terjadi adalah cystitis (radang kandung kemih) dan pyelonephritis (radang ginjal)
  • Trauma (benturan). Trauma adalah benturan fisik yang berpengaruh terhadap janin dan kandungan. Sekitar 6% kehamilan mengalami komplikasi karena trauma.
  • Diabetes mellitus. Kencing manis terjadi pada 4% ibu hamil dan dapat menyebabkan komplikasi kehamilan, antara lain berupa bilirubin tinggi dan hipokalsemi (kalsium rendah). Wanita dengan riwayat keluarga diabetes, berat badan berlebih, dan berusia di atas 25 tahun berisiko mengidap diabetes selama kehamilan.
  • Infeksi streptokokus. Infeksi bakteri ini menjadi banyak menyerang bayi yang baru lahir sehingga menyebabkan sepsis, pneumonia, dan meningitis. Infeksi streptokokus dapat terjadi saat di dalam kandungan maupun pada proses kelahiran. Koloni bakteri streptokokus pada saat kehamilan dapat mengakibatkan keguguran.
  • Pendarahan. Pendarahan biasa terjadi pada paruh kedua kehamilan dan kebanyakan disebabkan oleh gangguan plasenta atau plasenta previa (plasenta menghalangi jalan lahir).
  • Preeklamsia (Hipertensi ibu hamil). Hipertensi dapat terjadi baik sebagai kelanjutan sebelum hamil atau baru setelah minggu ke-20 kehamilan. Tekanan darah dikatakan tinggi bila tekanan sistolik 140 dan diastolik 90. Selain tekanan darah tinggi, preeklamsia juga ditunjukkan oleh adanya proteinuria (protein dalam air seni) dan edema (pembengkakan) pada muka dan badan. Preeklamsia berisiko menyebabkan kematian ibu dan bayi.
  • TORCH (Toxoplasma, Othera, Rubella, Cytomegalo & Herpes virus). Janin yang terinfeksi toxoplasma, rubella dan cytomegallovirus dapat lahir cacat atau meninggal dunia. Herpes simplex adalah penyakit menular seksual yang ditularkan dari ibu ke bayi pada saat proses persalinan.
  • Kehamilan daluwarsa. Masa normal kehamilan adalah 38-42 minggu. Kehamilan dianggap terlalu lama bila telah melewati usia 294 hari atau 42 minggu dari hari terakhir menstruasi. Risiko bagi ibu dan bayi meningkat bila melewati 42 minggu karena semakin besarnya ukuran bayi dan ketidakcukupan dukungan plasenta.


Photo credit: dommi

Artikel Terkait:

  1. Bagaimana Mencegah Keguguran Kandungan
  2. Obat-obatan dan Ibu Hamil
  3. Tiga Trimester Kehamilan
  4. 4 Indikasi Medis Aborsi
  5. Hubungan Seks Saat Hamil, Amankah?

Tiga Trimester Kehamilan

Tiga Trimester Kehamilan


fase-germ-dan-embrio

Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Usia kehamilan sendiri adalah 38 minggu, karena dihitung mulai dari tanggal konsepsi (tanggal bersatunya sperma dengan telur), yang terjadi dua minggu setelahnya.

Dalam dunia kedokteran, proses kehamilan dibagi menjadi tiga fase sesuai dengan pertumbuhan fisik bayi. Masing-masing fase tersebut disebut trimester.
Trimester Pertama (Minggu 0 – 12)

  • Periode Germinal (Minggu 0 – 3)
    • Pembuahan telur oleh sperma terjadi pada minggu ke-2 dari hari pertama menstruasi terakhir.
    • Telur yang sudah dibuahi sperma bergerak dari tuba fallopi dan menempel ke dinding uterus (endometrium).
  • Periode Embrio (Minggu 3 – 8 )
    • Sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai terbentuk.
    • Mata, mulut dan lidah terbentuk. Hati mulai memproduksi sel darah.
    • Janin berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3 cm dengan kepala yang besar
  • Periode Fetus (Minggu 9 – 12)
    • Semua organ penting terus bertumbuh dengan cepat dan saling berkait.
    • Aktivitas otak sangat tinggi.

Trimester kedua (Minggu 12 – 24)periode-fetus

  • Pada minggu ke-18 ultrasongrafi sudah bisa dilakukan untuk mengecek kesempurnaan janin, posisi plasenta dan kemungkinan bayi kembar.
  • Jaringan kuku, kulit dan rambut berkembang dan mengeras pada minggu ke 20 – 21
  • Indera penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi. Kelopak mata sudah dapat membuka dan menutup.
  • Janin (fetus) mulai tampak sebagai sosok manusia dengan panjang 30 cm.

Trimester ketiga (24 -40)

  • Semua organ tumbuh sempurna
  • Janin menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi (‘nendang’, ‘nonjok’) serta periode tidur dan bangun. Masa tidurnya jauh lebih lama dibandingkan masa bangun.
  • Paru-paru berkembang pesat menjadi sempurna.
  • Pada bulan ke-9, janin mengambil posisi kepala di bawah, siap untuk dilahirkan.
  • Berat bayi lahir berkisar antara 3 -3,5 kg dengan panjang 50 cm.


Artikel Terkait:

  1. Obat-obatan dan Ibu Hamil
  2. Tiga Puluh Tahun Bayi Tabung
  3. 10 Masalah Kehamilan
  4. Kesehatan Gigi pada Masa Kehamilan
  5. Bagaimana Mencegah Keguguran Kandungan

Mengapa Sebaiknya Tidak Memilih Operasi Caesar?

Mengapa Sebaiknya Tidak Memilih Operasi Caesar?


Operasi caesar adalah operasi untuk mengeluarkan bayi tanpa melalui liang persalinan (vagina). Dalam operasi tersebut dokter membedah dinding perut dan rahim ibu guna mengeluarkan bayi. Operasi caesar biasanya berlangsung 20-90 menit dan dapat dilakukan baik karena alasan medis maupun non-medis (personal) . Banyak wanita yang tergiur memilih operasi caesar tanpa adanya alasan medis, antara lain karena:

  • Bisa memilih tanggal kelahiran bayi, disesuaikan dengan situasi keluarga atau agar mendapat tanggal lahir “cantik” yang membawa hoki.
  • Berlangsung cepat, berbeda dengan proses persalinan yang bisa memakan waktu lama
  • Tidak menyakitkan dibandingkan persalinan normal (Walaupun kenyataannya seringkali tidak begitu. Hormon endorfin yang banyak dikeluarkan saat persalinan mengurangi rasa sakit karena proses melahirkan. Operasi caesar bisa terasa lebih menyakitkan pasca operasi).
  • Trauma karena proses melahirkan anak pertama yang sulit atau riwayat penganiayaan seksual sebelumnya.
  • Melindungi bagian paling privat dari wanita sehingga tidak tersentuh dan masih seperti belum pernah melahirkan anak.

Namun, dibalik keuntungan tersebut operasi caesar juga memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan.

Bagi bayi:jangan sesar

  • Bayi hasil caesar berpeluang lebih tinggi mengalami gangguan pernafasan (neonatal respiratory distress). Risiko mengidap asma juga lebih besar pada bayi hasil caesar.
  • Risiko bayi terkena pisau bedah.
  • Risiko kelahiran prematur. Seringkali, sulit untuk menghitung umur bayi yang sebenarnya. Bila bayi ternyata masih berumur di bawah 36 bulan maka akan ada risiko karena kelahiran prematur, seperti masalah pernafasan, suhu tubuh dan pencernaan.

Bagi ibu:

  • Kematian. Meskipun jarang terjadi, operasi caesar yang gagal dapat meningkatkan risiko kematian ibu. Di AS, tingkat kematian pada caesar atas kemauan sendiri adalah 5,9 per 100.000 kelahiran, dibandingkan 2,1 pada persalinan normal.
  • Masa pemulihan yang lebih lama, bisa sampai 6 minggu atau lebih.
  • Risiko infeksi pasca pembedahan yang berkisar antara 2-15%. Infeksi terutama pada saluran kencing dan lebih sering terjadi pada ibu yang kegemukan.
  • Frekuensi perdarahan yang lebih tinggi.
  • Risiko mengalami masalah pada plasenta, ruptur kandungan dan pertumbuhan janin di luar rahim (ectopic) pada kehamilan berikutnya.
  • Penundaan pemberian ASI dan jalinan hubungan emosi ibu-anak karena adanya luka operasi dan pengaruh obat bius. Bayi hasil operasi caesar biasanya langsung ditempatkan di ruang observasi.

Mengingat besarnya risiko dibandingkan manfaat yang didapat, operasi caesar memang sebaiknya dihindari–bila masih dimungkinkan. Selain itu, tentu saja karena biayanya juga mahal, jauh lebih besar daripada biaya persalinan normal.

Photo credit: Ant

Artikel Terkait:

  1. Kapan Diperlukan Operasi Caesar?
  2. Tiga Tahap Persalinan Normal
  3. 4 Indikasi Medis Aborsi
  4. 10 Masalah Kehamilan
  5. Sekilas Tentang Histerektomi

Kapan Diperlukan Operasi Caesar?

Kapan Diperlukan Operasi Caesar?


bayi bedah sesarOperasi caesar adalah operasi besar yang mengandung risiko bagi ibu dan bayinya, antara lain karena pengaruh obat bius dan pembedahan itu sendiri. Namun, operasi caesar juga dapat menyelamatkan keduanya saat terjadi komplikasi persalinan. Berikut adalah faktor-faktor penyebab yang mungkin menjadi alasan dilakukannya operasi caesar:

  • Presentasi bokong atau kaki, yaitu bokong atau kaki keluar duluan dibandingkan kepala (terjadi pada 3-4% kasus persalinan). Beberapa dokter dapat memutar janin ke posisi normal, atau bahkan mengeluarkan bayi dari rahim dalam posisi tersebut. Namun, karena risikonya cukup tinggi banyak yang lebih menyarankan caesar.
  • Presentasi pundak (sungsang), yaitu pundak keluar duluan.
  • Pernah menjalani operasi caesar pada persalinan sebelumnya yang belum terlalu lama (di bawah dua tahun). Bila jarak antar persalinan cukup lama, persalinan normal masih bisa disarankan.
  • Bayi raksasa (giant baby), yaitu bayi dengan berat mendekati atau di atas 4,5 kg.
  • Ukuran pinggul ibu terlalu kecil/disposisi kepala panggul.
  • Ari-ari lepas duluan (abruptio placenta), biasanya karena plasenta tidak terletak di rahim bagian atas.
  • Tali plasenta bermasalah atau melilit tubuh bayi sehingga menghalangi pernafasan dan asupan nutrisinya.
  • Placenta previa, yaitu ari-ari menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir.
  • Bayi kembar banyak (lebih dari 2).
  • Kontraksi terlalu lemah atau berhenti.
  • Terjadi pendarahan yang terlalu banyak dan membahayakan calon ibu.
  • Leher rahim (serviks) tidak sepenuhnya terbuka.
  • Bayi memiliki kelainan atau mengalami stress (fetal distress), misalnya terlihat pada denyut jantung yang lemah.
  • Ibu bayi memiliki masalah kesehatan, antara lain hipertensi dan diabetes, yang membutuhkan penanganan intensif.


Photo credit: Mainetransplant

Artikel Terkait:

  1. Mengapa Sebaiknya Tidak Memilih Operasi Caesar?
  2. Tiga Tahap Persalinan Normal
  3. Sekilas Tentang Histerektomi
  4. Hubungan Seks Saat Hamil, Amankah?
  5. Bagaimana Mencegah Keguguran Kandungan

Penyakit Misterius Bernama Lupus

Penyakit Misterius Bernama Lupus


Lupus, nama aneh untuk sebuah penyakit. Kata itu berasal dari bahasa Latin yang berarti serigala, untuk menggambarkan salah satu ciri paling menonjol dari penyakit itu yaitu ruam di pipi yang membuat penampilan seperti serigala. Meskipun demikian, hanya sekitar 30% dari penderita lupus benar-benar memiliki ruam “kupu-kupu” klasik tersebut.

Jenis-jenis lupus

Lupus bukanlah penyakit menular tetapi sebuah bentuk gangguan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan sel tubuh sendiri. Ada empat jenis lupus yang dikenal:

  • Lupus diskoid (kulit). Pasien dengan lupus diskoid memiliki versi penyakit yang terbatas pada kulit, ditandai dengan ruam yang muncul pada wajah, leher, dan kulit kepala, tetapi tidak memengaruhi organ internal.
  • Lupus sistemik (systemic lupus erythematosus, SLE). Pada sekitar 10% pasien lupus diskoid, penyakitnya berevolusi dan berkembang menjadi lupus sistemik yang memengaruhi organ internal tubuh seperti sendi, paru-paru, ginjal, darah, dan jantung. Lupus jenis ini sering ditandai dengan periode suar (ketika penyakit ini aktif) dan periode remisi (ketika penyakit ini tidak aktif). Tidak ada cara untuk memerkirakan berapa lama suar akan berlangsung. Setelah suar awal, beberapa pasien lupus sembuh dan tidak pernah mengalami suar lain, tetapi pada beberapa pasien lain suar datang dan pergi berulang kali selama bertahun-tahun.
  • Lupus karena pengaruh obat. Jenis lupus ini disebabkan oleh reaksi terhadap obat resep tertentu dan menyebabkan gejala sangat mirip lupus sistemik. Obat yang paling sering menimbulkan reaksi lupus adalah obat hipertensi hydralazine dan obat aritmia jantung procainamide, obat TBC Isoniazid, obat jerawat Minocycline dan sekitar 400-an obat lain. Gejala penyakit lupus mereda setelah pasien berhenti mengkonsumsi obat pemicunya.
  • Lupus neonatal. Pada situasi yang jarang terjadi, bayi yang belum lahir dan bayi baru lahir dapat memiliki ruam kulit dan komplikasi lain pada hati dan darahnya karena serangan antibodi dari ibunya. Ruam yang muncul akan memudar dalam enam bulan pertama kehidupan anak.

Gejala awal

Penyakit lupus memiliki banyak manifestasi dan profilnya berbeda pada setiap pasien. Gejala awal yang mungkin dirasakan antara lain:

  • Demam
  • Malaise, atau ketidaknyamanan umum
  • Nyeri persendian
  • Nyeri otot
  • Kelelahan ekstrim

Penyebab dan faktor risiko

Lupus masih merupakan penyakit misterius di kalangan medis. Kecuali lupus yang disebabkan reaksi obat, penyebab pasti penyakit ini tidak diketahui. Perdebatan bahkan masih berlangsung mengenai apakah lupus adalah satu penyakit atau kombinasi dari beberapa penyakit yang berhubungan.

Sekitar 90% penderita lupus adalah perempuan, yang mengindikasikan bahwa penyakit ini mungkin terkait hormon-hormon perempuan. Menstruasi, menopause dan melahirkan dapat memicu timbulnya lupus. Sekitar 80% pasien lupus mengembangkan penyakit ini di usia antara 15 s.d. 45 tahun.

Diagnosis

Manifestasi lupus dapat meniru penyakit autoimun lain, seperti multiple sclerosis dan rheumatoid arthritis (rematik), sehingga sulit untuk didiagnosis. Saat ini tidak ada tes tunggal yang dapat memastikan apakah seseorang terkena penyakit lupus. Diagnosis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan komprehensif yang mempertimbangkan semua gejala dan riwayat penyakit.

American College of Rheumatology menetapkan “Sebelas Kriteria Lupus” untuk membantu dokter mendiagnosis lupus. Empat atau lebih dari kriteria berikut harus hadir untuk membuat diagnosis lupus sistemik:

  1. Ruam malar: ruam berbentuk kupu-kupu di pipi dan hidung
  2. Ruam kulit: bercak merah yang menonjol
  3. Photosensitivity: ruam kulit akibat reaksi terhadap sinar matahari yang tidak biasa
  4. Borok mulut atau hidung: biasanya tanpa rasa sakit
  5. Artritis non-erosif pada dua atau lebih sendi, sehingga terasa bengkak atau lunak.
  6. Gangguan paru dan jantung: peradangan pada selaput sekitar jantung (perikarditis) dan/atau paru-paru (pleuritis)
  7. Gangguan neurologis: kejang-kejang dan/atau psikosis
  8. Gangguan ginjal: protein atau darah yang berlebihan dalam urin (proteinuria/hematuria)
  9. Gangguan hematologi (darah): anemia hemolitik, jumlah sel darah putih atau trombosit rendah
  10. Gangguan imunologi: antibodi terhadap DNA rantai ganda, antibodi terhadap Sm, atau antibodi terhadap cardiolipin
  11. Antinuclear antibody (ANA): hasil tes positif meskipun tidak memakai obat yang dikenal menyebabkan hal itu. Sekitar 95% dari pasien lupus memiliki hasil tes ANA positif.

Penanganan

Perawatan penyakit lupus bertujuan untuk mengurangi peradangan dan menekan sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif. Obat-obatan yang paling umum digunakan untuk lupus adalah NSAID (obat anti-inflamasi non-steroid), obat antimalaria dan steroid. Obat-obatan tersebut dapat diberikan sendiri-sendiri atau dalam kombinasi. Dalam kasus yang parah, obat penekan imun seperti cytoxan, azathioprine dan methotrexate mungkin digunakan.

Artikel Terkait:

  1. Yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Penyakit Rematik
  2. Sekilas Tentang Penyakit Gagal Ginjal
  3. Herpes Zoster: Penyakit Kelanjutan Cacar Air
  4. Multiple Sclerosis: Penyakit yang Aneh
  5. Yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Gangguan Psikosomatik