Monday, December 20, 2010

HAART Perlambat Penyebaran AIDS


Penulis : Ikarowina Tarigan

HAART Perlambat Penyebaran AIDS

hghbase.com

PENGOBATAN penyakit HIV yang efektif dan meluas, menurut laporan peneliti, bisa membantu mengurangi angka infeksi baru.

Sejak dikenalkannya obat anti-HIV yang dikenal dengan highly active antiretroviral therapy (HAART) pada 1996, jumlah kasus baru infeksi HIV di Canadian Province of British Columbia telah berkurang lebih dari 50 persen.

"Temuan kami menunjukkan hubungan kuat dan signifikan antara peningkatan cakupan HAART, mengurangi beban virus di komunitas, dan penurunan jumlah HIV baru per tahunnya di Candian Province," tutur Profesor Julio Montaner, direktur British Columbia Centre for Excellence in HIV/AIDS, seperti dikutip situs healthday.com, Minggu (18/7).

HAART, terang Montaner, memperlambat perkembangan gejala-gejala HIV/AIDS. Tim peneliti menganalisis data dari Columbia Centre for Disease Control dan menemukan bahwa antara 1996 dan 2009, jumlah orang yang menerima HAART meningkat dari 837 menjadi 5.413 (meningkat 547 persen) dan jumlah kasus HIV baru menurun dari 702 menjadi 338 per tahun (menurun 52 persen).

Kasus HIV baru turun sebanyak 30 persen antara 1996 dan 2000, menurun dua persen antara 2001 dan 2003, dan turun lagi sebanyak 17 persen antara 2004 dan 2009. Pedoman pengobatan yang berkembang memicu peningkatan penggunaan HAART pada 1996 hingga 2000 dan 2004 hingga 2009.

Penurunan kasus HIV baru terbesar (hampir 50 persen) terjadi antara 1996 dan 2009 di kalangan pengguna obat injeksi.

Peneliti juga menemukan, angka penyakit menular seksual dan infeksi hepatitis C selama tahun terakhir studi meningkat. Hal ini, terang peneliti, mengindikasikan bahwa penurunan kasus baru HIV tidak turut serta mengurangi perilaku seksual berisiko terkait penyebaran HIV.

"Temuan kami mendukung manfaat penggunaan HAART dalam panduan medis yang ada sekarang untuk mengurangi penyebaran HIV dan menyediakan metode pencegahan HIV dan pengobatan dikotomi, sebagaimana dianjurkan oleh program PBB mengenai HIV/AIDS sebagai bagian dari strategi pencegahan kombinasi," papar peneliti. (IK/OL-06)

Benlysta, Terobosan Baru Pengobatan Lupus


Penulis : prita daneswari

Benlysta Terobosan Baru Pengobatan Lupus

healthlifeandstuff.com

DEWAN penasihat Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) telah merekomendasikan sebuah obat baru bagi penanganan penyakit lupus. Ini merupakan obat pertama yang dinilai mampu mengatasi penyakit itu semenjak 50 tahun lalu.

Salah seorang juru bicara FDA mengatakan dewan tersebut telah mengadakan voting dan hasilnya, obat bernama Benlysta yang telah melalui uji coba terapi yang dikembangkan Human Genome Sciences dan GlaxoSmithKline pun disetujui penggunaannya. Selanjutnya, pemasaran resmi Benlysta akan diputuskan Desember 2010.

Lima juta orang di dunia kini mengidap lupus. Ras Asia dan kulit hitam lebih rentan terhadap penyakit ini ketimbang mereka yang berkulit putih. "Kami sangat senang dapat mengabarkan bahwa Benlysta telah lulus uji coba dan menjadi obat pertama bagi penyembuha lupus," kata Sandra Raymond, Presiden Yayasan Lupus di Amerika.

Sebenarnya,sebelum ini juga ada beberapa upaya pengobatan terhadap lupus, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang pada umumnya menyerang perempuan pada usia subur. Gejala penyakit ini biasanya berupa badan panas, sendi bengkak, ruam pada kulit, dan kerusakan pada ginjal, paru-paru atau sistem syaraf pusat. (Pri/OL-06)

Sunitinib Harapan Baru Penderita Kanker Pankreas


Penulis : prita daneswari

Sunitinib Harapan Baru Penderita Kanker Pankreas

ecvv.com

PASIEN kanker pankreas kini memiliki harapan baru dengan hadirnya obat yang bisa menggandakan kesempatan mereka untuk bertahan hidup. Obat bernama Sunitinib ini merupakan obat pertama yang diresmikan sebagai perawatan bagi tumor pankreas neuroendokrin (NET).

Pemerintah Eropa akhirnya menyetujui penggunaan sunitinib untuk penyakit tersebut setelah hasil uji coba menunjukkan bahwa obat ini mempu meningkatkan kesempatan hidup pasien dari 5,5 bulan menjadi 11,4 bulan tanpa disertai gejala buruk.

Data lengkap tentang keberlangsungan hidup pasien secara keseluruhan memang belum tersedia. Namun, sejauh ini, pasien yang meminum sunitinib terbukti mampu bertahan hidup lebih lama jika dibandingkan mereka yang diberikan plasebo.

Penyakit NET berkembang di dalam sel islet yang memproduksi insulin di pankreas. Penyakit ini pada umumnya menyerang mereka yang berusia antara 40 dan 60 tahun.

Dr Juan Valle, onkologi medis di Universitas Manchester dan Christie dari NHS Foundation Trust menuturkan, "Setelah selama bertahun-tahun ini menganalisis perawatan terbaik bagi NET, akhirnya kami menemukan bahwa sunitinib mampu memberikan harapan bagi pasien yang hidup dengan penyakit NET yang memang sulit untuk disembuhkan ini."

Sunitinib, beredar di pasar obat Eropa dengan nama merek Sutent dan sebelumnya memang dikenal sebagai obat kanker ginjal stadium lanjut. (Pri/OL-06)