Monday, December 8, 2025



ORANG-ORANG YANG TIDAK MENJAUHKAN DIRI DARI GHIBAH

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Aslinya

Tulisan ini mengulas bahaya ghibah (menggunjing), akar persoalan di masa lalu dan masa kini, hukum serta ancamannya menurut Qur’an dan Hadis, ditambah analisis sosial–teknologi masa modern. Kolom ini juga memberikan hikmah, muhasabah, langkah penyembuhan, doa, dan nasihat para tokoh tasawuf klasik.


Latar Belakang Masalah di J zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, ghibah banyak terjadi karena majelis-majelis perbincangan kabilah. Informasi mudah menyebar tanpa verifikasi. Sebagian orang menganggap membicarakan aib orang sebagai hiburan atau tradisi loyalitas kabilah—padahal Islam datang memeranginya.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Hati dipenuhi iri dan dengki.
  2. Syahwat berbicara: ingin tampak hebat dengan merendahkan orang lain.
  3. Lalai bahwa setiap kata dicatat malaikat.
  4. Lingkungan yang menjadikan ghibah sebagai budaya.
  5. Kemajuan teknologi yang memudahkan fitnah dan ghibah digital.

Intisari Judul

Ghibah adalah penyakit lisan dan hati yang merusak kehormatan manusia dan memadamkan cahaya amal.


Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan bahwa kehormatan muslim adalah suci.
  • Menjelaskan urgensi menjauhi ghibah secara individu dan sosial.
  • Mengajak pembaca bermuhasabah dan memperbaiki lisan.
  • Menjadi panduan praktis mengendalikan ghibah di era digital.

Dalil Al-Qur’an

  1. QS. Al-Hujurat: 12
    "Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kalian memakan daging saudara kalian yang telah mati?”

  2. QS. An-Nur: 19
    "Sungguh, orang-orang yang suka tersebarnya keburukan di tengah orang beriman, bagi mereka azab yang pedih..."


Hadis Nabi ﷺ

  • “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim)
  • “Ghibah adalah engkau menyebut sesuatu tentang saudaramu yang ia benci.” (HR. Muslim)

Analisis dan Argumentasi

1. Dampak di Dunia

  • Hilangnya keberkahan hidup.
  • Hati menjadi gelap, penuh prasangka.
  • Mengundang permusuhan, retaknya hubungan sosial.

2. Hukuman di Alam Kubur

Para ulama menyebutkan: pelaku ghibah disiksa dengan menggaruk wajah dan dada dengan kuku tembaga (HR. Abu Dawud). Ini sebagai peringatan keras, bukan untuk memastikan bentuk konkrit siksa.

3. Hukuman di Hari Kiamat

  • Amal diserahkan kepada orang yang digibahi sebagai bentuk qishash amal.
  • Jika amal habis, dosa orang yang digibahi dipindahkan kepadanya.

4. Hukuman di Akhirat

  • Terhalang dari rahmat Allah.
  • Wajah menghitam sebagai simbol kehinaan (isyarat dari ayat-ayat ancaman).

Relevansi di Era Teknologi Modern

  1. Teknologi Komunikasi:
    Ghibah kini terjadi lewat WhatsApp, komentar media sosial, konten gosip, dan forward pesan tanpa verifikasi.

  2. Transportasi dan mobilitas:
    Perjalanan jauh bersama menjadi ajang ghibah tanpa disadari.

  3. Kedokteran dan psikologi:
    Ghibah menyebabkan stres, kecemasan, dan keretakan hubungan serta mengganggu kesehatan mental.

  4. Sosial masyarakat:
    Budaya “viralisasi” aib orang menjadi bentuk ghibah terbesar di zaman ini.


Hikmah

  • Ghibah merusak hati seperti karat merusak besi.
  • Menjaga lisan adalah menjaga kehormatan diri.
  • Setiap kata memiliki dampak spiritual yang kembali kepada penuturnya.

Muhasabah

Tanyakan pada diri sendiri:

  • Sudahkah lidahku menjadi sebab keselamatan orang lain?
  • Atau justru aku menjadikan nama orang lain sebagai santapan lisanku?
  • Apakah aku senang melihat aib orang lebih dari aib sendiri?

Cara Menjauh dari Ghibah

  1. Diam ketika tidak punya kebaikan untuk diucapkan.
  2. Alihkan pembicaraan dengan bijak.
  3. Bela orang yang digibahi.
  4. Ingat akibat ghibah di akhirat.
  5. Mengingatkan teman dengan lembut.
  6. Perbanyak zikir dan membaca Qur’an agar hati lembut.

Doa

“Ya Allah, bersihkan lisanku dari keburukan, sucikan hatiku dari dengki, dan karuniakan aku kemampuan berkata yang benar, baik, dan bermanfaat. Amin.”


Nasehat Para Ulama

  • Hasan al-Bashri: “Ghibah lebih merusak agama seseorang daripada penyakit merusak tubuhnya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Lidah yang sibuk mengingat Allah tidak sempat menyakiti manusia.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Aibmu sendiri cukup untuk disibukkan.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Orang yang mengenal Allah, lisannya menjadi penjaga hatinya.”
  • Al-Hallaj: “Siapa yang melihat Allah dalam setiap hamba, ia takut menggunjing hamba.”
  • Imam al-Ghazali: “Ghibah adalah buah dari hati yang sakit.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan buka aib orang, karena Allah menutup aibmu setiap hari.”
  • Jalaluddin Rumi: “Biarkan kata-kata yang keluar darimu menjadi cahaya.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap kata adalah doa; pilihlah yang membawa rahmat.”
  • Ahmad al-Tijani: “Lidah yang suci adalah ciri ahli Allah.”

Daftar Pustaka

  • Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  • Al-Adzkar – Imam Nawawi
  • Tafsir Ibn Katsir
  • Riyadhus Shalihin
  • Kitab Al-Fawaid – Ibnu Qayyim
  • Nashaih al-‘Ibad – Imam Nawawi al-Bantani

Testimoni Ulama Indonesia

  • Gus Baha’: “Ghibah itu tandanya hati tidak sibuk dengan Allah.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Setiap kata yang keluar akan kita pertanggungjawabkan—termasuk di ruang digital.”
  • Buya Yahya: “Menjaga lisan lebih berat daripada menjaga shalat.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Ghibah itu sedekah pahala kepada orang yang kita benci.”
  • Buya Arrazy Hasyim: “Sumber ghibah adalah hati yang belum selesai dengan dirinya.”

Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung hadirnya bacaan moral dan spiritual untuk menjaga kebersihan hati umat.


Catatan Redaksi

Jika ada kisah dalam redaksi yang tergolong Israiliyat, maka ia hanya disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah.


Jika Anda ingin versi lebih panjang, lebih tegas, atau siap cetak PDF, saya siap membuatkan.


No comments: