tanbihul ghofilin LIMA PESAN LANGIT: MENAKLUKKAN MARAH, MENJAGA AMANAH, DAN MENJAUHI GHIBAH
Para Nabi (tidak merangkap Rasulullah) cara menerima wahyu bermacam-macam, ada yang mendengar suara, dan ada yang bermimpi. Ada seorang dari antara mereka bermimpi (mendapat seruan demikian). Jika kau keluar pagi-pagi, maka pertama yang kau lihat makanlah, yang kedua simpanlah, yang ketiga terimalah (baik-baik), yang keempat janganlah putus asa, dan yang kelima larilah daripadanya. Lalu pada pagi harinya yang dilihat adalah gunung hitam besar, lalu ia berhenti bengong, katanya: seruan makan apa yang kulihat, dan seruan Tuhan pasti benar (membawa manfaat pada manusia), ketika dilakukan, Lalu ia mendekati gunung tersebut dan setelah dekat gunung menjadi beku (mengecil) satu suap, langsung dimakan terasa manis madu, dan membaca: ALHAMDULILLAAH. Dan terus berjalan menemukan bokor emas, seruan (diingat-ingat) simpanlah, lalu ia menggali tanah dan disimpanlah emas itu di dalamnya, tapi ketika ditinggalkan emas itu muncul keluar, terus ditanam lagi hingga berulang 3x, katanya:
Seruan Tuhan sudah aku lakukan, dan ia meneruskan perjalanannya hingga sampai di suatu tempat, ia melihat burung dikejar elang, setelah burung tahu manusia, burung itu berkata: Hai Nabi Allah tolonglah aku, lalu diterimanya dengan baik dan dimasukkan kantongnya, Elang pun berkata: Hai Nabi Allah laparku tiada tertahan sejak pagi, aku memburu mangsaku, dan jangan kau putuskan harapanku dari rezekiku. Ia teringat seruan keempat: Jangan putus asa, lalu berupaya mengatasi masalah tersebut dengan memotong sedikit daging pahanya diberikan elang tadi, hingga terbang. Dan dilepaskanlah burung tadi. Yang kelima ia melihat bangkai busuk baunya, dan larilah ia daripadanya. Kemudian di malamnya ia berdoa: Ya Tuhan, seruanMu sudah kulakukan dan terangkan maksudnya. Jawaban Tuhan lewat mimpinya:
Pertama yang kau makan, adalah “marah” yang semula kelihatan sebesar gunung, namun bisa menjadi kecil manis madu rasanya, jika bersabar dan tabah atau menahannya.
Kedua, amal baik sekalipun disimpan, tetap terlihat (masyarakat).
Ketiga, menerima amanat atau melakukannya dengan sebaikbaiknya, jangan curang atau mengkhianatinya,
Keempat, berupayalah dalam membantu orang yang datang (minta pertolongan) padamu, sekalipun kamu ada urusan pribadi.
Kelima, ghibah, maka hindarilah bergaul dengan manusia yang senang mengungkap kejelekan, kesalahan, atau kelemahan lain.
.......
LIMA PESAN LANGIT: MENAKLUKKAN MARAH, MENJAGA AMANAH, DAN MENJAUHI GHIBAH
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Ringkasan Redaksi Asli
Sebuah kisah hikmah menceritakan seorang Nabi dari kalangan Bani Israil yang menerima wahyu melalui mimpi. Ia diperintah melakukan lima hal dalam perjalanan paginya: memakan yang pertama dilihat, menyimpan yang kedua, menerima yang ketiga dengan baik, tidak memutus harapan yang keempat, dan lari dari yang kelima. Ternyata semua yang tampak secara lahiriah menyimpan makna batin: marah, amal, amanah, pertolongan, dan ghibah. Kisah ini menegaskan bahwa syariat tidak hanya berbicara tentang hukum, tetapi juga penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Intisari Judul
Lima Perintah Ilahi, Lima Penyakit Jiwa, dan Lima Jalan Keselamatan
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada masa para Nabi terdahulu—khususnya dalam tradisi Bani Israil—umat diuji bukan hanya dengan penyimpangan akidah, tetapi juga penyakit hati:
Marah yang tak terkendali
Amal yang ingin disembunyikan namun tetap menuntut keikhlasan
Amanah yang dikhianati
Kepedulian sosial yang menurun
Tradisi ghibah dan fitnah
Kondisi ini mendorong turunnya kisah-kisah pendidikan ruhani melalui perumpamaan agar mudah dipahami oleh manusia lintas generasi.
Sebab Terjadinya Masalah
Masalah timbul ketika akal mendominasi tanpa bimbingan hati, dan nafsu berjalan tanpa kendali iman. Marah membesar seperti gunung, amanah dianggap beban, dan ghibah dianggap hiburan.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan:
Membersihkan hati dari penyakit batin
Menjadikan agama sebagai akhlak hidup, bukan sekadar ritual
Manfaat:
Kedamaian batin
Kepercayaan sosial
Keberkahan hidup
Keselamatan dunia dan akhirat
Dalil Al-Qur’an
Menahan Marah
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Amal Tak Pernah Benar-Benar Tersembunyi
“Jika kamu menampakkan sedekahmu maka itu baik, dan jika kamu menyembunyikannya…”
(QS. Al-Baqarah: 271)
Amanah
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak.”
(QS. An-Nisa: 58)
Menolong Sesama
“Barang siapa meringankan kesulitan seorang mukmin…”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ghibah
“…Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Dalil Hadis
“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan marah.” (HR. Bukhari-Muslim)
“Tunaikan amanah kepada orang yang mempercayaimu.” (HR. Abu Dawud)
Analisis dan Argumentasi
Kisah ini menunjukkan metode pendidikan ilahi berbasis simbol:
Gunung = marah
Emas = amal
Burung & elang = konflik kepentingan
Bangkai = ghibah
Manusia sering gagal bukan karena tidak tahu hukum, tetapi karena tidak mampu menafsirkan hidup dengan hikmah.
Keutamaan dan Hukuman
Di Dunia
Keutamaan: tenang, dipercaya, dicintai
Hukuman: konflik, dijauhi, gelisah
Di Alam Kubur
Hati bersih → kubur lapang
Ghibah & khianat → kubur sempit
Di Hari Kiamat
Amal diterima → timbangan berat
Ghibah → pahala habis dipindahkan
Di Akhirat
Akhlak mulia → dekat Rasulullah
Penyakit hati → jauh dari rahmat
Relevansi Zaman Modern
Teknologi: marah viral di media sosial
Komunikasi: ghibah via grup WA
Transportasi: cepat tapi tanpa empati
Kedokteran: sehat jasad, sakit jiwa
Sosial: krisis amanah publik
Pesan kisah ini justru makin relevan di era digital.
Hikmah
Marah itu bisa dimakan—ditelan, bukan dimuntahkan
Amal tidak perlu diumumkan, tapi pasti dikenang
Amanah lebih berat dari emas
Menolong kadang butuh pengorbanan
Ghibah harus dihindari, bukan dilawan dengan ghibah
Muhasabah & Caranya
Tahan marah 10 detik sebelum bicara
Tanyakan niat sebelum beramal
Jaga janji kecil
Sisihkan waktu menolong
Tinggalkan majelis ghibah
Doa
“Ya Allah, bersihkan hati kami dari marah, khianat, dan ghibah. Jadikan kami hamba-Mu yang amanah dan bermanfaat.”
Nasehat Para Ulama & Sufi
Hasan Al-Bashri: “Akhlak buruk adalah api yang membakar amal.”
Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cinta kepada Allah membuat luka terasa manis.”
Abu Yazid al-Bistami: “Jihad terbesar adalah melawan diri sendiri.”
Junaid al-Baghdadi: “Tasawuf adalah akhlak.”
Al-Hallaj: “Siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.”
Imam al-Ghazali: “Ilmu tanpa akhlak adalah kehancuran.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan jadikan lisanmu musuh hatimu.”
Jalaluddin Rumi: “Luka adalah tempat cahaya masuk.”
Ibnu ‘Arabi: “Hati yang luas mampu menampung perbedaan.”
Ahmad al-Tijani: “Ikhlas adalah kunci semua jalan.”
Testimoni Tokoh
Gus Baha: “Agama itu menenangkan, bukan memancing emosi.”
Ustadz Adi Hidayat: “Amanah adalah tanda iman.”
Buya Yahya: “Lisan adalah pintu keselamatan atau kehancuran.”
Ustadz Abdul Somad: “Banyak dosa lahir dari mulut.”
Buya Arrazy Hasyim: “Tasawuf adalah membersihkan hati, bukan melarikan diri dari dunia.”
Catatan Redaksi
Sebagian kisah dalam tulisan ini termasuk kategori Israiliyat, disajikan sebagai bahan renungan dan pendidikan akhlak, bukan sebagai dalil akidah atau hukum syariat.
Daftar Pustaka Singkat
Al-Qur’an al-Karim
Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
Risalah Qusyairiyah
Tafsir Ibnu Katsir
Kitab Zuhud – Imam Ahmad
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga warisan hikmah agar tetap hidup di tengah zaman yang gaduh.
Jika .
No comments:
Post a Comment