Wednesday, November 5, 2025

ADIK YANG BERTAUBAT DAN KAKAK YANG INGKAR

 



🕌 ADIK YANG BERTAUBAT DAN KAKAK YANG INGKAR

(Kisah Taubat di Zaman Malik bin Dinar)
Penulis: M. Djoko Ekasanu



Ada dua bersaudara, kakak dan adik, yang berkepercayaan Majusi pada zaman Malik bin Dinar.    Mereka    berdua menyembah api. Si kakak telah menyembah api selama 73 tahun sedangkan si adik telah menyembahnya selama 35 tahun.

Si adik berkata, “Kakak! Kemarilah! Mari kita coba apakah api yang kita sembah itu akan memuliakan kita atau membakar kita sebagaimana api membakar benda-benda lain yang tidak menyembahnya. Kalau api memuliakan kita maka kita tetap akan menyembahnya. Tetapi apabila api membakar kita, maka kita tidak akan menyembahnya lagi.”

Si kakak menjawab “Baiklah. Aku setuju.”

Kemudian si kakak dan si adik menyalakan api.

“Kakak! Kamu dulu yang meletakkan tangan di atas api atau aku dulu?” tanya si adik.

“Kamu dulu saja!” jawab si kakak.

Kemudian si adik pun meletakkan tangannya di atas api dan ternyata api membakar jari-jarinya.

“Aaah,” teriak si adik kesakitan sambil segera menjauhkan tangannya dari atas api.

“Hai api! Aku telah menyembahmu selama 35 tahun dan kamu telah membuatku sakit terbakar!” seru si adik.

Si adik melanjutkan, “Hai kakak! Mari kita menyembah Tuhan Yang Esa yang apabila kita berbuat dosa dan meninggalkan perintah-Nya selama misalnya 500 tahun maka Dia akan mengampuni dan memaafkan kita dengan kita melakukan ketaatan sebentar saja dan meminta ampun sekali saja.”

Kemudian si kakak setuju dengan ajakan si adik.

Si adik berkata, “Kakak! Mari kita pergi menemui seseorang yang bisa memberikan petunjuk kepada kita pada jalan yang lurus dan mengajari kita agama Islam.”

Setelah itu, mereka bersama-sama sepakat untuk menemui Malik bin Dinar agar menuntun mereka masuk Islam. Kemudian mereka pergi menuju Malik bin Dinar dan menemuinya. Setelah sampai di tempat Malik bin Dinar berada, mereka mendapatinya tengah berada di daerah datar Bashrah sedang berada di perkumpulan orang- orang sambil memberikan nasehat kepada mereka. Banyak sekali    orang-orang yang berkumpul di majlis nasehatnya.

Ketika si kakak dan si adik melihat Malik bin Dinar, si kakak berkata kepada si adik:

“Aku telah berubah pikiran. Aku tidak akan masuk Islam karena sebagian besar usiaku telah aku habiskan untuk menyembah api. Andai aku masuk Islam dan masuk ke dalam agama Muhammad, maka para keluarga dan para tetanggaku akan mencelaku. Menyembah api lebih baik bagiku daripada menerima celaan mereka.”

“Jangan kakak! Celaan mereka bisa hilang tetapi menyembah api tidak bisa hilang,” pinta si adik.


Tetapi si kakak tetep saja tidak memperdulikan omongan si adik.


“Ya sudah! Kembali sana dengan kepercayaanmu menyembah api. Kamu adalah orang yang celaka dan anak dari orang celaka pula. Sungguh orang yang celaka di dunia dan akhirat!” kata si adik kepada si kakak.


Kemudian si kakak kembali tidak jadi menemui Malik bin Dinar dan tidak jadi masuk Islam.


Sementara itu, si adik bersama istri    dan    anak-anaknya mendatangi Malik bin Dinar.


Mereka ikut berkumpul bersama orang-orang. Mereka duduk hingga Malik bin Dinar selesai dari pengajiannya. Kemudian si adik itu berdiri dan menceritakan kisahnya. Ia meminta Malik bin Dinar menuntun dirinya dan keluarganya untuk masuk Islam. Mendengar permintaannya, Malik bin Dinar pun menuntunnya dan keluarganya masuk Islam. Akhirnya mereka semua masuk Islam. Orang-orang pun menangis karena sangat senang dan terharu.


Beberapa saat kemudian, si adik hendak pulang. Tetapi Malik bin Dinar berkata:


“Duduklah sebentar! Aku hendak mengumpulkan harta bersama santri-santriku untukmu.”


“Aku tidak ingin menjual agamaku dengan harta dunia,” jawab si adik.


Kemudian si adik dan keluarganya kembali dan memasuki suatu bangunan- bangunan sepi. Di sana mereka menemukan sebuah rumah kosong. Mereka menempatinya.


Pagi hari kemudian, si istri berkata kepadanya:


“Pergilah ke pasar! Carilah pekerjaan! Belilah makanan dengan upah kerjamu!”


 Kemudian si adik bergegas dan pergi ke pasar mencari pekerjaan. Tetapi tak ada lowongan kerja sama sekali.



“Baiklah kalau tidak ada kerjaan yang aku dapati, aku akan bekerja kepada Allah,” kata si adik dalam hatinya.


Kemudian si adik masuk ke masjid yang sudah tidak terpakai dan sholat di sana karena Allah sampai malam. Kemudian ia kembali ke keluarga dengan tangan kosong.


“Apakah hari ini kamu tidak mendapati sesuatu yang bisa dimakan?” tanya istri.


“Wahai Istriku! Aku sudah bekerja kepada Malik dan ia belum menggajiku. Barangkali ia akan menggajiku besok,” jelas si adik.


(Kata Malik yang dimaksud oleh si adik adalah Allah Yang Maha Merajai. Sedangkan si istri memahami kata malik sebagai orang yang mempekerjakan buruh).


Akhirnya    mereka    semua semalaman istirahat dengan kondisi lapar.


Pada pagi hari berikutnya, si adik keluar menuju pasar dan mencari pekerjaan. Tetapi ia lagi- lagi tidak mendapati pekerjaan seperti    hari    sebelumnya.


 Kemudian ia memutuskan untuk sholat lagi di masjid yang sama sampai malam. Kemudian ia kembali ke keluarga dengan tangan kosong.


“Apakah hari ini kamu juga tidak mendapati sesuatu yang bisa di makan?” tanya istri.


“Wahai Istriku! Aku sudah bekerja kepada Malik yang sama seperti kemarin dan ia belum menggajiku. Barangkali ia akan menggajiku besok,” jelas si adik.

Hari besoknya adalah hari Jumat. Akhirnya    mereka    semua semalaman istirahat dengan kondisi lapar.


Pada hari berikutnya, yaitu hari Jumat, si adik pergi lagi ke pasar mencari pekerjaan. Tetapi seperti hari-hari sebelumnya, ia lagi-lagi tidak mendapati pekerjaan. Akhirnya ia pergi ke masjid yang sama dan melaksanakan sholat dua rakaat. Setelah selesai sholat, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa:


“Wahai    Tuhanku!    Wahai Pemimpinku! Wahai Gustiku! Engkau telah memuliakanku dengan masuk Islam. Engkau telah mengenakanku mahkota dengan mahkota Islam. Engkau telah memberiku petunjuk dengan petunjuk Islam. Oleh karena itu dengan kemuliaan Islam yang telah Engkau rizkikan kepadaku, dan dengan kemuliaan hari yang penuh berkah yang merupakan hari agung di sisi-Mu, yaitu hari Jumat, aku meminta kepada-Mu agar menghilangkan kesulitanku dalam menafkahi keluarga dan agar memberiku rizki dari arah- arah yang tidak aku sangka- sangka. Demi Allah! Aku malu dengan keluargaku dan anak- anakku dan aku takut mereka akan keluar dari Islam karena kondisi mereka seperti ini.”


Kemudian si adik berdiri dan khusyuk melaksanakan sholat dua rakaat. Setelah setengah hari terlewati, si adik pergi menuju sholat Jumat.


Sementara itu, si istri dan anak-anaknya merasa sangat lapar. Tiba-tiba ada seorang laki- laki datang di depan pintu rumah dimana mereka tinggal. Laki-laki itu mengetuk pintu. Kemudian si istri membukakannya. Sesaat setelah membuka pintui, ia melihat laki-laki yang ganteng dengan membawa suatu wadah emas yang tertutup kain yang ditenun dengan emas pula. Laki- laki itu berkata;


“Ambillah wadah ini! Dan katakan kepada suamimu kalau ini adalah upah pekerjaannya selama dua hari sebelumnya. Katakan kepadanya pula untuk lebih bekerja keras, karena kami akan mengupahinya, terutama pada hari ini, yaitu hari Jumat, karena bekerja sedikit di hari ini di sisi Allah Yang Maha Merajai dan Perkasa adalah pekerjaan yang besar.”


Kemudian si istri pun menerima wadah emas itu. Ketika ia buka, ternyata di dalamnya terdapat 1000 dinar. Kemudian ia mengambil satu dinar dan pergi ke tempat penukaran uang. Saat itu, pemilik toko penukaran uang adalah seorang Nasrani. Sesampai di toko, si istri memberikan satu dinar kepada pemilik toko. Satu dinar itu di timbang dan ternyata timbangannya lebih dari satu mitsqol sampai dua mitsqol. Kemudian si pemilik toko melihat ukiran uang dinar itu. Ia tahu kalau uang dinar itu adalah berasal dari hadiah akhirat.


“Darimana kamu mendapatkan uang dinar ini?” tanya si pemilik toko.


Kemudian si istri menceritakan kisahnya saat diberi wadah emas berisi uang dinar itu kepada si pemilik toko.


“Tuntun aku masuk Islam,” pinta si pemilik toko.


Kemudian si pemilik toko pun masuk Islam dan memberi 10 dirham kepada si istri.


“Infakkan 10 dirham ini! Jika sudah habis, maka beritahu aku!” pinta si pemilik toko kepada si istri.


Sementara itu, si adik selesai dari sholatnya. Ia pun kembali menemui keluarganya dengan tangan kosong. Sebelum menemui mereka, ia mengambil kain dan mengisinya dengan debu.



“Kalau istriku menanyakan apa bungkusan kain ini maka aku akan menjawab kalau bungkusan ini adalah gandum,” kata si adik dalam hatinya.


Ketika si adik telah masuk ke sekitar    bangunan-bangunan kosong, ia melihat rumahnya. Tiba-tiba, dari dalam rumahnya, ia telah melihat telah dipersiapkan tikar dan ia mencium bau makanan. Ia pun meletakkan kain berisi debu itu di dekat pintu rumahnya agar istrinya tidak tahu.


Kemudian si adik bertanya kepada istrinya tentang apa yang telah terjadi dan tentang makanan yang tiba-tiba sudah ada di rumah. Kemudian si istri bercerita kepada si adik, suaminya, tentang semua yang telah terjadi. Kemudian si adik bersujud bersyukur kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.


“Apa yang kamu bawa di dalam kain itu?” tanya si istri kepada suaminya.


“Tidak perlu ditanyakan!” jawab si suami.


Kemudian si istri pergi mendekati pintu dan membuka kain. Tiba- tiba debu yang sebelumnya di dalam kain telah berubah menjadi gandum dengan izin Allah Ta’ala. Melihat kejadian itu, si suami bersujud bersyukur kepada Allah dan beribadah kepada-Nya sampai ia dicabut nyawanya oleh Allah Ta’ala.


Al-Faqih semoga Allah merahmatinya berkata “Angkatlah kedua tangan kalian dan ucapkan, ‘Dengan kemuliaan hari Jumat, ampunilah kami dan dosa-dosa kami! Hilangkanlah kesusahan- kesusahan kami!’ karena si adik ini ketika berdoa kepada Allah dan meminta kepada-Nya adalah dengan menggunakan kata-kata ‘dengan perantara kemuliaan Jumat (Bihurmatil Jumat)’ hingga Allah memenuhi kebutuhannya dan memberinya rizki dari arah- arah yang tidak ia sangka-sangka. Begitu juga dengan kita, ketika berdoa pada hari Jumat, maka kita sebaiknya mengucapkan kata-kata ‘dengan perantara kemuliaan Jumat (Bihurmatil Jumat).’ Barangkali    semoga    Allah memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita karena sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Tuhan Yang Maha Mulia”.



Ringkasan Redaksi Aslinya

Kisah ini berasal dari masa tabi’in, di zaman Malik bin Dinar — seorang ulama besar dan ahli zuhud di Bashrah.
Diceritakan dua bersaudara Majusi yang menyembah api selama puluhan tahun. Si adik kemudian tersadar setelah api yang disembahnya membakar tangannya. Ia lalu mengajak kakaknya masuk Islam, namun sang kakak menolak karena takut celaan manusia. Si adik akhirnya menemui Malik bin Dinar dan masuk Islam bersama keluarganya.
Mereka hidup miskin, tetapi bersabar dan tetap berdoa. Karena keikhlasannya, Allah menurunkan rezeki dari arah yang tidak disangka — bahkan menyebabkan orang lain masuk Islam.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa itu, masih banyak masyarakat di wilayah Persia dan sekitarnya yang memeluk agama Majusi (penyembah api). Mereka meyakini api sebagai simbol kehidupan dan kekuatan.
Islam mulai tersebar ke wilayah tersebut melalui para tabi’in dan ulama zuhud seperti Malik bin Dinar, yang berdakwah dengan keteladanan, bukan kekuasaan.
Kisah ini menggambarkan benturan antara keyakinan lama dan hidayah Islam, antara takut celaan manusia dan harapan ampunan Allah.


Sebab Terjadinya Masalah

Masalah muncul karena:

  1. Kesalahan Aqidah: Keyakinan bahwa api adalah sumber kekuatan dan layak disembah.
  2. Ketakutan terhadap celaan manusia: Kakak menolak Islam karena malu pada masyarakatnya.
  3. Ujian keimanan dan rezeki: Setelah masuk Islam, adik diuji dengan kemiskinan dan kesabaran.

Intisari Judul

Adik yang Bertaubat dan Kakak yang Ingkar” adalah simbol dua kondisi manusia:

  • Satu sadar dan tunduk pada kebenaran walau terlambat.
  • Satu lagi menolak kebenaran karena gengsi dan takut kehilangan dunia.

Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan manusia bahwa hidayah adalah karunia Allah, bukan hasil warisan atau status.
  • Menunjukkan keutamaan sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian hidup.
  • Mengajak masyarakat modern agar tidak menyembah “api zaman kini”, yakni hawa nafsu, materi, dan popularitas.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. QS. Az-Zumar: 53

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

2. QS. At-Talaq: 2–3

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.”

3. Hadis Riwayat Tirmidzi:

“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”


Analisis dan Argumentasi

Kisah ini menegaskan prinsip Tauhid, Taubat, dan Tawakal.
Api adalah simbol kekuatan dunia, sedangkan Allah adalah sumber segala kekuatan.
Dalam konteks modern, “penyembahan api” dapat diartikan sebagai ketergantungan terhadap teknologi, kekayaan, atau kekuasaan yang melupakan Allah.
Namun, teknologi dan kemajuan — bila diiringi niat ibadah — justru menjadi ladang pahala.
Tugas manusia bukan menolak kemajuan, tetapi memasukkan nilai tauhid dalam setiap kemajuan.


Keutamaan-keutamaannya

  1. Keutamaan Taubat: Dihapusnya dosa seumur hidup.
  2. Keutamaan Tawakal: Mendapat rezeki tanpa sangka.
  3. Keutamaan Hari Jumat: Doa mudah dikabulkan.
  4. Keutamaan Ikhlas: Menjadi sebab hidayah bagi orang lain.

Relevansi dengan Dunia Modern

  1. Teknologi: Umat Islam kini diuji bukan oleh api, tapi oleh layar gadget dan data digital. Apakah kita menyembahnya atau menjadikannya sarana dakwah?
  2. Komunikasi: Kemudahan komunikasi harus menjadi alat menyebarkan kebenaran, bukan fitnah.
  3. Transportasi dan Kedokteran: Kecanggihan ini menegaskan tanda-tanda kekuasaan Allah atas ilmu.
  4. Kehidupan Sosial: Masyarakat modern membutuhkan keteladanan kesabaran dan doa, bukan hanya materi.

Hikmah

  • Hidayah Allah tidak mengenal usia.
  • Kesulitan bukan tanda murka Allah, tapi jalan menuju kedekatan.
  • Doa di hari Jumat dan dalam keadaan lapar adalah doa yang paling jujur.
  • Orang yang sabar dan tawakal akan menjadi sebab datangnya hidayah bagi orang lain.

Muhasabah dan Caranya

  1. Meninggalkan penyembahan dunia modern: Harta, jabatan, dan popularitas.
  2. Melatih diri bersyukur atas rezeki kecil.
  3. Berdoa dengan kalimat: “Bihurmatil Jumu‘ah, ya Allah, ampuni kami dan berilah kami rezeki dari arah yang tak disangka.”
  4. Mendekatlah pada ulama dan majlis dzikir sebagaimana si adik mendatangi Malik bin Dinar.

Doa

Allahumma, ya Fattahul ‘Alim, bukakanlah bagi kami pintu-pintu rezeki yang halal dan berkah. Jadikanlah kami hamba-Mu yang bersyukur dalam kesempitan dan tawakal dalam ujian. Dengan kemuliaan hari Jumat, ampunilah dosa-dosa kami, dan tuntunlah kami dalam cahaya hidayah-Mu. Āmīn.


Nasehat Para Sufi Besar

  • Hasan al-Bashri: “Taubatlah dari dosa sebelum ajal memutuskan harapanmu.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka, tapi karena cinta kepada-Mu.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Jalan menuju Allah adalah meninggalkan dirimu sendiri.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tawakal adalah keheningan hati terhadap keputusan Allah.”
  • Al-Hallaj: “Barang siapa mengenal Allah, ia akan hancur dalam cinta-Nya.”
  • Imam al-Ghazali: “Sabar adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Tinggalkan keluhanmu, maka Allah akan cukupkanmu.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ketika kau kehilangan segalanya, di situlah kau akan menemukan Allah.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Hamba sejati tidak memandang sebab, hanya melihat Sang Musabbib.”
  • Ahmad al-Tijani: “Rezeki itu datang bukan dari usahamu, tapi dari rahmat Allah yang meliputi segalanya.”

Daftar Pustaka

  1. Hilyatul Auliya’ – Abu Nu’aim al-Ashbahani
  2. Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  3. Qushayriyyah Risalah – Imam al-Qushayri
  4. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Tafsir Ibnu Katsir
  6. Sirah Tabi‘in – Ibn Sa‘d
  7. Al-Minhaj – Imam Nawawi

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Hidayah itu bukan urusan logika, tapi kejernihan hati. Seperti adik yang bertaubat, ia mendahulukan rasa di atas gengsi.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Kisah ini adalah tafsir nyata dari ayat wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib — rezeki datang tanpa diduga.”
  • Buya Yahya: “Orang yang sabar dalam kelaparan akan disuapi Allah dengan rezeki yang penuh barakah.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Jangan takut hinaan manusia jika sedang menuju Allah. Dunia akan menertawakan, tapi surga menunggu.”

Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para ulama, guru ruhani, dan pembaca yang senantiasa meneladani kisah-kisah hikmah zaman dahulu untuk memperkuat iman di zaman modern ini.
Semoga kisah ini menjadi cermin taubat dan sumber inspirasi bagi setiap hati yang rindu kepada Allah.


Apakah Anda ingin saya lanjutkan versi ini menjadi layout artikel koran siap cetak (PDF) — dengan kolom “Renungan Jumat”, foto latar masjid, dan kutipan ayat di sisi kanan halaman?


No comments: