Hubungi Kami

Sunday, January 4, 2026

 riyadus sholihin. 

 Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:


 

خِيارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ ويُحِبُّونَكُمْ، ويُصَلُّونَ علَيْكُم وتُصَلُّونَ عليهم، وشِرارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ويُبْغِضُونَكُمْ، وتَلْعَنُونَهُمْ ويَلْعَنُونَكُمْ 


 

Artinya: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Hadis riwayat Imam Muslim).

......

Tazkiyatun Nufūs: Membersihkan Jiwa Sebelum Memimpin Manusia

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan kepemimpinan yang paling agung, yang memimpin dengan hati yang bersih, jiwa yang suci, dan akhlak yang mulia.

1. Kepemimpinan Berawal dari Jiwa yang Bersih

Dalam pandangan tasawuf, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah ruhani. Siapa yang jiwanya kotor oleh ambisi, rakus terhadap kekuasaan, dan cinta dunia, maka kepemimpinannya akan menjadi sumber kerusakan.

Allah ﷻ berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

(QS. Asy-Syams: 9–10)

Pemimpin yang baik lahir dari jiwa yang ditazkiyah, bukan dari ambisi yang dipelihara.

2. Tidak Rakus terhadap Jabatan

Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan keras:

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan…”

(HR. Al-Bukhari)

Dalam kacamata tasawuf, meminta jabatan adalah tanda ketergantungan hati pada dunia, bukan pada Allah. Orang yang mengejar kekuasaan biasanya akan ditinggalkan pertolongan Allah, karena ia merasa mampu dengan dirinya sendiri.

Imam al-Ghazali رحمه الله berkata:

“Cinta kekuasaan lebih berbahaya daripada cinta harta, karena kekuasaan membuat seseorang merasa seperti tuhan kecil di hadapan manusia.”

3. Amanah: Takut kepada Allah, Bukan kepada Manusia

Pemimpin sejati adalah orang yang takut kepada Allah saat sendirian, bukan hanya saat disorot manusia.

Nabi ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang pemimpin yang curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya surga.”

(HR. Al-Bukhari)

Tasawuf mengajarkan:

➡️ Amanah lahir dari muraqabah (merasa diawasi Allah).

➡️ Pemimpin yang lalai dari muraqabah, akan mudah mengkhianati amanah.

4. Setiap Kepemimpinan Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah tamparan keras bagi jiwa.

Kepemimpinan bukan kehormatan, tapi beban hisab.

Dalam tasawuf dikatakan:

“Semakin tinggi amanah, semakin berat hisabnya di akhirat.”

Maka orang-orang shalih dahulu menangis ketika diangkat menjadi pemimpin, bukan bersorak gembira.

5. Kepemimpinan Harus Diserahkan kepada yang Ahli

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.”

(HR. Al-Bukhari)

Ahli bukan hanya cerdas secara teknis, tetapi juga:

ahli menjaga amanah,

ahli menundukkan hawa nafsu,

ahli dalam agama dan akhlak.

Tasawuf menegaskan:

Ilmu tanpa takwa melahirkan kezaliman.

6. Pemimpin yang Dicintai karena Akhlaknya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian.”

(HR. Muslim)

Cinta rakyat tidak lahir dari pencitraan, tetapi dari:

kejujuran,

keadilan,

kasih sayang,

kesederhanaan.

Pemimpin yang hatinya bersih akan mendoakan rakyatnya, dan doa itulah yang menjadi benteng negeri.

7. Muhasabah untuk Kita Semua

Wahai jiwa…

Sebelum kita menilai pemimpin di luar, nilai dahulu kepemimpinan dalam diri:

Apakah kita amanah pada keluarga?

Apakah kita jujur dalam pekerjaan?

Apakah kita adil dalam bersikap?

Karena dalam tasawuf:

Siapa yang gagal memimpin dirinya, ia akan gagal memimpin orang lain.

Penutup Doa

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ

“Ya Allah, sucikan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya’, lisan kami dari dusta, dan pandangan kami dari pengkhianatan.”

Semoga Allah ﷻ menghadirkan pemimpin-pemimpin yang bersih jiwanya, lurus niatnya, dan adil kepemimpinannya, serta menjadikan kita bagian dari orang-orang yang senantiasa menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nufūs).

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

........


No comments:

Post a Comment