Hubungi Kami

Monday, January 5, 2026

 Akhir dari Sayidina Ali Bin Abi Thalib R.A

Banyak yang menyangka bahwa pembunuh Ali bin Abi Thalib RA adalah seorang fasik yang jauh dari agama. Namun, kenyataan sejarah justru lebih mengejutkan dan mengerikan. Ia adalah Ibnu Muljam, seorang ahli ibadah, zuhud, dan pembaca Al-Qur’an yang tekun.

Dahulu, Umar bin Khattab RA pernah mengirimnya ke Mesir atas permintaan gubernur ‘Amr bin al-‘Ash RA yang membutuhkan pengajar Al-Qur'an. Umar bahkan berkata:

 "إني قد آثرتك بعبد الرحمن بن ملجم على نفسي"

"Aku lebih mendahulukanmu dengan mengirim Abdurrahman bin Muljam padahal aku membutuhkannya (di Madinah)."

Bayangkan, seorang Khalifah sekelas Umar bin Khattab memuji kualitas bacaan dan kedalaman ilmu Ibnu Muljam. Namun, ilmu yang tidak diiringi dengan hidayah hati justru menjadi bumerang.

Ibnu Muljam yang awalnya adalah pendukung setia Ali bin Abi Thalib, perlahan tergelincir ke dalam pemahaman kaku Khawarij. Ia menganggap Ali—sang pintu ilmu dan menantu Rasulullah SAW—telah keluar dari syariat karena melakukan diplomasi manusia dalam perang.

Lalu, pada subuh yang kelam di Kufah, ia melancarkan aksinya. Sambil mengayunkan pedang beracunnya ke arah dahi Ali bin Abi Thalib, ia dengan penuh keyakinan membaca ayat:

 وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207)

Betapa tragisnya, sebuah ayat yang mulia digunakan sebagai pembenaran untuk menumpahkan darah sosok yang paling dicintai Rasulullah SAW. Dengan membunuh Ali, ia merasa sedang beribadah kepada Allah, padahal ia sedang melakukan dosa paling besar di masanya.

Jauh sebelum tragedi ini terjadi, Rasulullah SAW telah memperingatkan Ali akan datangnya sosok ini. Beliau bersabda kepada Ali RA:


أَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَضْرِبُكَ عَلَى هَذِهِ - وَأَشَارَ إِلَى يافوخه - حَتَّى تَبْتَلَّ مِنْهَا هَذِهِ - وَأَشَارَ إِلَى لِحْيَتِهِ


"Orang yang paling celaka dari generasi kemudian adalah dia yang memukulmu di bagian ini (menunjuk ubun-ubun), hingga darahnya membasahi ini (menunjuk janggut Ali)." (HR. Ahmad & Al-Hakim)

Bahkan saat hendak dieksekusi (qishas), kesombongan spiritualnya tetap tampak. Ia meminta agar tubuhnya dipotong perlahan agar ia bisa merasakan "nikmatnya" disiksa di jalan Allah. Ia benar-benar yakin dirinya berada di atas kebenaran.

Kisah Ibnu Muljam mengajarkan kita bahwa dahi yang hitam karena sujud dan lisan yang basah dengan Al-Qur'an tidaklah cukup jika hati dipenuhi dengan kesombongan dan kebencian kepada sesama mukmin

.........

Ketika Ibadah Tidak Melahirkan Hidayah Hati

Mukadimah

Segala puji bagi Allah ﷻ yang mensucikan hati siapa yang Dia kehendaki, dan menyesatkan siapa yang berpaling dari cahaya-Nya meskipun lisannya basah oleh ayat-ayat-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga akhir zaman.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

kisah wafatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. bukan hanya sejarah berdarah, tetapi cermin besar bagi tazkiyatun nufūs—penyucian jiwa—bahwa ibadah tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi bencana.

1. Ilmu dan Ibadah Tidak Otomatis Menyelamatkan

Ibnu Muljam bukan orang awam.

Ia dikenal sebagai ahli ibadah, zuhud, dan pembaca Al-Qur’an. Bahkan Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah memujinya dan mengutusnya sebagai pengajar Al-Qur’an.

Namun Allah ﷻ mengingatkan:

كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

“Seperti keledai yang membawa kitab-kitab.”

(QS. Al-Jumu‘ah: 5)

Ilmu yang tidak masuk ke hati, tidak melahirkan adab, tidak menumbuhkan kasih sayang, hanya menjadi beban, bukan petunjuk.

Rasulullah ﷺ bersabda:

رُبَّ قَارِئٍ لِلْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ يَلْعَنُهُ

“Betapa banyak orang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an justru melaknatnya.”

(HR. Thabrani – makna shahih)

2. Bahaya Kesombongan Spiritual

Ibnu Muljam membunuh Ali r.a. dengan keyakinan sedang beribadah, bahkan membaca ayat Al-Qur’an sebagai pembenaran. Inilah kesombongan paling berbahaya:

merasa paling benar atas nama agama.

Allah ﷻ berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”

(QS. An-Najm: 32)

Kesombongan iblis lahir dari ibadah panjang,

dan kesesatan Khawarij lahir dari ibadah tanpa rahmat.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang Khawarij:

“Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka.”

(HR. Bukhari & Muslim)

3. Cinta Dunia Bisa Tersembunyi di Balik Jubah Zuhud

Ibnu Muljam merasa sedang “mengorbankan diri demi Allah”, padahal sejatinya ia mengorbankan akal sehat dan kasih sayang demi fanatisme.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا

“Katakanlah, apakah akan Kami beritakan kepadamu tentang orang yang paling merugi amalnya?”

(QS. Al-Kahfi: 103)

Mereka merasa paling ikhlas,

namun ikhlas tanpa ilmu dan adab adalah kesesatan yang indah di mata pelakunya.

4. Ali r.a.: Teladan Hati yang Suci

Berbeda dengan pembunuhnya, Ali bin Abi Thalib r.a. wafat dalam keadaan:

memaafkan,

melarang balas dendam berlebihan,

dan menjaga keadilan bahkan terhadap musuhnya.

Inilah buah tazkiyatun nufūs sejati.

Allah ﷻ berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.”

(QS. Ali ‘Imran: 134)

5. Inti Tazkiyatun Nufūs dari Tragedi Ini

Saudaraku,

hitamnya dahi karena sujud bukan jaminan bersihnya hati,

panjangnya bacaan bukan tanda lurusnya jalan,

jika masih ada:

kebencian kepada sesama mukmin,

mudah mengkafirkan,

merasa paling suci,

dan keras tanpa rahmat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)

Penutup (Muhasabah Jiwa)

Mari kita bertanya pada diri sendiri:

Apakah ibadah kita melahirkan tawadhu‘ atau justru merasa lebih mulia dari orang lain?

Apakah Al-Qur’an membuat kita lembut atau keras?

Apakah semangat agama kita mendekatkan atau memecah belah?

Karena jalan ke neraka terkadang dipenuhi ayat-ayat yang disalahpahami,

sedangkan jalan ke surga dipenuhi hati yang tunduk dan penuh rahmat.

Ringkasan Redaksi Asli

Ibnu Muljam, pembunuh Sayyidina Ali r.a., bukan orang fasik, melainkan ahli ibadah dan penghafal Al-Qur’an yang pernah dipuji Umar bin Khattab r.a. Namun ia tergelincir dalam pemahaman Khawarij yang kaku, merasa paling benar, dan membunuh Ali r.a. dengan keyakinan sedang beribadah, bahkan membaca ayat Al-Qur’an sebagai pembenaran. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan Ali tentang pembunuhnya. Kisah ini mengajarkan bahwa ibadah lahiriah tanpa penyucian hati melahirkan kesombongan spiritual dan dosa besar.

.........

Oke, siap! Ini dia cerita tragedi wafatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, tapi dikemas pakai bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan. Cekidot! 

 

*** 

 

**Akhir Kisah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib R.A: Pas Ibadah Gak Bikin Hati Ngalir Hidayah** 

 

Banyak banget yang nyangka kalau pembunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA itu orang jahat banget yang jauh dari agama. Tapi, fakta sejarahnya justru bikin kita kaget dan merinding, guys. Pelakunya adalah **Ibnu Muljam**, seorang ahli ibadah, zuhud (alias hidupnya sederhana dan enggak duniawi), plus hafal Al-Qur'an dan rajin bacanya! Kok bisa? 

 

Dulu, bahkan Khalifah Umar bin Khattab RA pernah ngirim dia ke Mesir karena diminta sama gubernur ‘Amr bin al-‘Ash RA yang butuh pengajar Al-Qur'an. Saking hebatnya, Umar sampai bilang: 

 

"إني قد آثرتك بعبد الرحمن بن ملجم على نفسي" 

"Aku lebih mendahulukanmu dengan mengirim Abdurrahman bin Muljam padahal aku membutuhkannya (di Madinah)." 

 

Bayangin aja, Khalifah sekelas Umar bin Khattab aja muji banget kemampuan bacaan dan ilmunya Ibnu Muljam. Tapi, emang bener ya, ilmu yang enggak diiringi hidayah hati itu bisa jadi bumerang. 

 

Awalnya, Ibnu Muljam itu pendukung setia banget sama Sayyidina Ali. Tapi, pelan-pelan dia nyasar ke pemahaman Khawarij yang kaku. Dia sampai nganggep Ali—yang notabene pintunya ilmu dan menantu Rasulullah SAW—udah melenceng dari syariat gara-gara berdiplomasi pas perang. 

 

Nah, di subuh yang gelap di Kufah, dia melancarkan aksinya. Sambil ngacungin pedang beracunnya ke jidat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dia dengan pede banget baca ayat: 

 

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ 

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207) 

 

Duh, tragis banget kan? Ayat semulia itu malah dijadiin pembenaran buat ngebunuh orang yang paling dicintai Rasulullah SAW. Dengan ngebunuh Ali, dia ngerasa lagi ibadah ke Allah, padahal dia lagi ngelakuin dosa paling gede di zamannya. 

 

Jauh sebelum kejadian ini, Rasulullah SAW udah pernah ngasih *warning* ke Ali soal bakal datengnya orang ini. Beliau bersabda kepada Ali RA: 

 

أَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَضْرِبُكَ عَلَى هَذِهِ - وَأَشَارَ إِلَى يافوخه - حَتَّى تَبْتَلَّ مِنْهَا هَذِهِ - وَأَشَارَ إِلَى لِحْيَتِهِ 

"Orang yang paling celaka dari generasi kemudian adalah dia yang memukulmu di bagian ini (menunjuk ubun-ubun), hingga darahnya membasahi ini (menunjuk janggut Ali)." (HR. Ahmad & Al-Hakim) 

 

Bahkan pas mau dieksekusi (dikasih hukuman mati setimpal), kesombongan spiritualnya tetep aja keliatan. Dia minta badannya dipotong pelan-pelan biar dia bisa ngerasain "nikmatnya" disiksa di jalan Allah. Dia bener-bener yakin kalau dia itu paling benar. 

 

Kisah Ibnu Muljam ini ngajarin kita kalau dahi yang item karena sujud dan lisan yang basah sama Al-Qur'an itu enggak cukup lho, kalau hati masih penuh sama kesombongan dan benci ke sesama mukmin. 

 

*** 

 

**Ibadah Banyak, Tapi Hati Keras Kayak Batu?** 

 

Saudaraku yang dirahmati Allah, 

 

Kisah wafatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. ini bukan cuma sejarah berdarah, tapi juga jadi cermin gede banget buat *tazkiyatun nufūs*—penyucian jiwa. Ini nunjukkin kalau ibadah tanpa kerendahan hati itu bisa banget jadi bencana. 

 

**1. Ilmu dan Ibadah Enggak Otomatis Bikin Selamat** 

 

Ibnu Muljam itu bukan orang sembarangan. Dia dikenal sebagai ahli ibadah, zuhud, dan sering baca Al-Qur'an. Bahkan Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah muji dia dan ngutus dia jadi pengajar Al-Qur'an. 

 

Tapi Allah ﷻ ngingetin kita: 

 

كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا 

“Seperti keledai yang membawa kitab-kitab.” (QS. Al-Jumu‘ah: 5) 

 

Ilmu yang enggak masuk ke hati, enggak ngajarin kita adab, dan enggak numbuhin kasih sayang, ya cuma jadi beban aja, bukan petunjuk. 

 

Rasulullah ﷺ bersabda: 

 

رُبَّ قَارِئٍ لِلْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ يَلْعَنُهُ 

“Betapa banyak orang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an justru melaknatnya.” (HR. Thabrani – makna shahih) 

 

**2. Bahaya Kesombongan Spiritual** 

 

Ibnu Muljam ngebunuh Ali r.a. dengan keyakinan kalau dia lagi ibadah, bahkan dia baca ayat Al-Qur'an buat jadi pembenaran. Nah, ini nih kesombongan yang paling bahaya: **ngerasa paling bener atas nama agama**. 

 

Allah ﷻ berfirman: 

 

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى 

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) 

 

Iblis aja jadi sombong gara-gara ibadah yang panjang, dan kesesatan Khawarij itu lahir dari ibadah yang enggak ada rahmatnya. 

 

Rasulullah ﷺ bersabda tentang Khawarij: 

 

“Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka.” (HR. Bukhari & Muslim) 

 

**3. Cinta Dunia Bisa Ngumpet di Balik Jubah Zuhud** 

 

Ibnu Muljam ngerasa lagi "ngorbanin diri demi Allah", padahal sejatinya dia ngorbanin akal sehat dan kasih sayang demi fanatisme doang. 

 

Allah ﷻ berfirman: 

 

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا 

“Katakanlah, apakah akan Kami beritakan kepadamu tentang orang yang paling merugi amalnya?” (QS. Al-Kahfi: 103) 

 

Mereka ngerasa paling ikhlas, tapi ikhlas tanpa ilmu dan adab itu cuma kesesatan yang keliatan indah di mata pelakunya. 

 

**4. Ali r.a.: Contoh Hati yang Bersih** 

 

Beda banget sama pembunuhnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. wafat dalam keadaan: 

 

*   **Pemaaf** 

*   **Ngelarang balas dendam berlebihan** 

*   **Ngelindungin keadilan bahkan buat musuhnya** 

 

Ini dia nih buah dari *tazkiyatun nufūs* yang sejati. 

 

Allah ﷻ berfirman: 

 

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ 

“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 134) 

 

**5. Inti *Tazkiyatun Nufūs* dari Tragedi Ini** 

 

Saudaraku, dahi yang item karena sujud itu bukan jaminan hati bersih. Bacaan Al-Qur'an yang panjang juga bukan tanda jalan kita udah lurus. Apalagi kalau masih ada: 

 

*   Benci ke sesama mukmin 

*   Gampang banget ngafir-ngafirin 

*   Ngerasa paling suci 

*   Dan keras tanpa rahmat 

 

Rasulullah ﷺ bersabda: 

 

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim) 

 

**Penutup (Ngaca Diri)** 

 

Yuk, kita sama-sama ngaca diri: 

 

*   Ibadah kita ini bikin kita rendah hati atau malah ngerasa lebih mulia dari orang lain? 

*   Al-Qur'an bikin kita jadi lembut atau malah keras? 

*   Semangat agama kita ini bikin kita deketan atau malah pecah belah? 

 

Karena jalan ke neraka itu kadang dipenuhi ayat-ayat yang salah paham, sedangkan jalan ke surga itu dipenuhi hati yang tunduk dan penuh rahmat. 

 

--- 


No comments:

Post a Comment