Hubungi Kami

Saturday, December 27, 2025

884. Memberi Makan, Menanam Surga

 


Memberi Makan, Menanam Surga

Miatu hadisy syarifah

(Karya Syaikh Yusuf An-Nabhani) no. 38.

 اطعم مسلما جائعا, اطعمه الله من ثمار الجنة.  

Siapa yang memberi makan orang Muslim yang lapar, maka Allah memberinya makan dari buah-buahan surga.

........



Memberi Makan, Menanam Surga

Hadis Pokok

قال رسول الله ﷺ:

«أَطْعَمَ مُسْلِمًا جَائِعًا، أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ»

(Mi’atu Hadîts Syarîfah, no. 38)

“Siapa yang memberi makan seorang Muslim yang lapar, maka Allah akan memberinya makan dari buah-buahan surga.”

Pendahuluan: Amal Kecil, Balasan Kekal

Memberi makan orang lapar adalah amal yang terlihat sederhana, namun di sisi Allah nilainya melampaui bayangan manusia. Satu suapan yang kita berikan di dunia, Allah balas dengan jamuan abadi di surga. Amal ini bukan sekadar memberi makanan, tetapi memberi kehidupan, menghidupkan hati, dan menanam akhirat.

Dalil Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”

(QS. Al-Insan: 8)

Allah juga berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik?”

(QS. Al-Baqarah: 245)

Memberi makan orang lapar adalah pinjaman kepada Allah, dan Allah tidak pernah ingkar janji.

Hadis Pendukung

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai manusia, sebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”

(HR. Tirmidzi)

Memberi makan adalah jalan lurus menuju surga.

Hikmah Ruhani: Makanan untuk Tubuh dan Jiwa

Memberi makan orang lapar:

Mengenyangkan perut orang lain

Melembutkan hati pemberi

Menghapus dosa-dosa

Memadamkan api kesombongan

Menumbuhkan rasa diawasi Allah

Nasihat Para Ulama dan Ahlul Ma’rifah

Hasan Al-Bashri

“Sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan saat kita sendiri membutuhkan.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Aku memberi bukan karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena cinta kepada Allah.”

Abu Yazid al-Bistami

“Engkau belum mengenal Allah selama engkau masih kenyang dan tetanggamu lapar.”

Junaid al-Baghdadi

“Tasawuf bukan banyaknya ibadah, tetapi bersihnya hati saat bersama makhluk.”

Al-Hallaj

“Dalam memberi, lenyaplah aku dan tampaklah Dia.”

Imam Al-Ghazali

“Memberi makan adalah ibadah hati sebelum menjadi amal anggota badan.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Barangsiapa memberi makan orang lapar karena Allah, maka Allah akan menjamunya pada hari kiamat.”

Jalaluddin Rumi

“Jangan cari Tuhan di langit, Dia hadir di tangan yang memberi.”

Ibnu ‘Arabi

“Allah menampakkan diri-Nya dalam wajah orang yang membutuhkan.”

Ahmad al-Tijani

“Memberi makan orang lapar lebih cepat mengantarkan ke Allah daripada seribu wirid tanpa adab.”

Muhasabah: Bertanya pada Diri

Renungkan dengan jujur:

Apakah aku makan kenyang sementara orang di sekitarku kelaparan?

Apakah hartaku lebih banyak mengenyangkan nafsu atau menolong hamba Allah?

Apakah aku berharap jamuan surga, tetapi enggan menjamu orang lapar?

Cara Muhasabah Praktis

Setiap selesai makan, niatkan: “Ya Allah, jangan Engkau lupakan aku dari orang-orang yang memberi makan.”

Sisihkan makanan atau uang sebelum nafsu belanja muncul.

Biasakan memberi tanpa diketahui manusia.

Lihat orang lapar sebagai tamu Allah.

Doa

اللهم أطعمنا من ثمار الجنة كما أطعمتنا شرف خدمة عبادك

“Ya Allah, jamulah kami dengan buah-buahan surga sebagaimana Engkau muliakan kami dengan kesempatan melayani hamba-hamba-Mu.”

Ya Allah, lembutkan hati kami, lapangkan tangan kami, dan hidupkan ruh kepedulian dalam diri kami. Jangan Engkau jadikan kami hamba yang kenyang namun lalai.

Aamiin.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk merenungi sabda Nabi ﷺ. Semoga setiap suapan yang kita berikan menjadi cahaya di kubur, penolong di hari kiamat, dan sebab dijamu langsung oleh Allah di surga-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memberi, bukan hanya yang meminta.

........

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai (aksen suroboyoan).

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

( Gue diganti aku, lo diganti njenengan)

......

 nashaihul ibad 2/8.5

Tiga perkara yang mampu menghapus dosa: Pertama, menyempurnakan wudu dalam cuaca yang sangat dingin: Kedua, melangkahkan kaki ke mesjid guna melaksanakan salat: Ketiga, menanti di mesjid untuk melaksanakan salat atau menanti untuk melakukan kebaikan yang lain.

 nashaihul ibad 2/8.4

Tiga perkara yang menaikkan derajat: Pertama, mengucapkan salam antarmuslim, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Kedua, memberi makan kepada tamu dan orang yang lapar. Ketiga, salat Tahajud pada malam hari ketika orang lain tidur lelap.


 nashaihul ibad 2/8.3

Tiga perkara yang mencelakakan, yaitu pertama, kikir yang sangat, yakni tidak menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk-Nya. Yang dimaksud kikir di sini, adalah kikir yang ditaati oleh manusia. Adapun kikir yang berada dalam diri manusia jika tidak ditaati, maka tidak akan mencelakakan, karena kikir itu adalah suatu sifat yang berada dalam diri manusia. Kedua, tidak menuruti keinginan nafsunya: dan ketiga, tidak memandang dirinya lebih sempurna ketimbang orang lain.

........

Berikut naskah motivasi Islami yang utuh, runtut, dan siap dibacakan, berdasarkan Nashā’ihul ‘Ibād (2/8.3), dilengkapi dalil Al-Qur’an dan Hadis, nasihat para ulama dan sufi besar, muhasabah beserta caranya, doa, dan penutup.

Tiga Perkara yang Mencelakakan Hamba

Dalam Nashā’ihul ‘Ibād, para ulama mengingatkan bahwa ada tiga perkara besar yang mencelakakan manusia, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Celaka yang dimaksud bukan sekadar sempit rezeki atau berat hidup, melainkan gelapnya hati, jauh dari Allah, dan terhalangnya keselamatan di akhirat.

1. Kikir yang Ditaati

Yang mencelakakan bukan sekadar adanya sifat kikir dalam diri, karena kikir adalah tabiat manusia. Namun yang membinasakan adalah kikir yang ditaati, yakni ketika seseorang menuruti dorongan kikir sehingga:

Tidak menunaikan hak Allah (zakat, infak, sedekah)

Mengabaikan hak makhluk (keluarga, fakir miskin, tetangga)

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Al-Hasyr: 9)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jauhilah sifat kikir, karena kikir telah membinasakan umat-umat sebelum kalian.”

(HR. Muslim)

📌 Intinya:

Kikir yang dilawan adalah keselamatan, kikir yang dituruti adalah kehancuran.

Nasihat Imam Al-Ghazali:

“Kikir adalah tanda lemahnya keyakinan terhadap jaminan Allah.”

2. Menuruti Nafsu

Perkara kedua yang mencelakakan adalah menuruti keinginan nafsu, bukan sekadar memiliki nafsu. Nafsu adalah ujian, tetapi ketika ia menjadi pemimpin, maka akal dan iman menjadi tawanan.

Allah berfirman:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

(QS. Al-Jatsiyah: 23)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.”

(HR. Al-Baihaqi)

Nasihat Hasan Al-Bashri:

“Orang yang paling mulia adalah yang paling mampu menundukkan nafsunya.”

Nasihat Rabi‘ah al-Adawiyah:

“Aku tidak menyembah Allah karena surga atau takut neraka, tetapi karena Dia memang layak disembah.”

📌 Intinya:

Nafsu yang dikendalikan melahirkan kedewasaan iman, nafsu yang dituruti melahirkan kehinaan ruhani.

3. Merasa Diri Lebih Baik dari Orang Lain

Perkara ketiga yang mencelakakan adalah tidak memandang diri lebih rendah, atau merasa diri lebih sempurna dibanding orang lain. Inilah akar kesombongan yang sering tersembunyi di balik amal.

Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”

(QS. An-Najm: 32)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”

(HR. Muslim)

Nasihat Junaid al-Baghdadi:

“Tawadhu adalah memandang dirimu lebih hina dari setiap makhluk.”

Nasihat Abu Yazid al-Bistami:

“Ketika aku melihat diriku lebih baik dari orang lain, saat itu aku tahu aku telah jatuh.”

📌 Intinya:

Merendahkan diri mengangkat derajat, meninggikan diri menjatuhkan kehormatan.

Hikmah Para Sufi dan Ulama

Al-Hallaj:

“Hijab terbesar antara hamba dan Allah adalah merasa sudah sampai.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

“Barangsiapa melihat kelebihan dirinya, maka ia telah terputus dari pertolongan Allah.”

Jalaluddin Rumi:

“Kerendahan hati adalah tangga menuju cahaya.”

Ibnu ‘Arabi:

“Orang arif memandang semua makhluk lebih dekat kepada Allah daripada dirinya.”

Ahmad al-Tijani:

“Keselamatan ada pada kejujuran menilai diri dan husnuzan kepada orang lain.”

Muhasabah (Introspeksi Diri)

Tanyakan pada hati:

Apakah hartaku lebih banyak kutahan daripada kuberikan?

Apakah keputusanku dipandu iman atau nafsu?

Apakah aku merasa lebih baik dari orang lain karena amal atau ilmu?

Cara Muhasabah Praktis:

Luangkan waktu sebelum tidur

Ingat dosa, bukan jasa

Bandingkan amal dengan nikmat Allah, bukan dengan amal orang lain

Akhiri dengan istighfar dan niat memperbaiki diri

Doa

Allahumma ya Muqallibal qulub, sharrif qulubana ‘an tha‘atil bakhl, wa hawaa an-nafs, wa ‘ujbil amal.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, jauhkanlah hati kami dari kikir yang ditaati, nafsu yang dituruti, dan kesombongan atas amal.

Ya Allah, jadikan kami hamba yang dermawan, rendah hati, dan jujur dalam muhasabah diri.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih ya Allah atas peringatan yang Engkau sampaikan melalui Al-Qur’an, Rasul-Mu, dan lisan para wali serta ulama.

Terima kasih atas nikmat iman, kesempatan bertobat, dan pintu perbaikan yang masih Engkau buka hingga hari ini.

“Cukuplah bagi seorang hamba mengetahui aib dirinya, agar ia selamat.”

Semoga bermanfaat dan menjadi cahaya pengingat bagi hati yang ingin selamat. 🌿

......


 nashaihul ibad 2/8.2


Tiga Perkara Penyelamat dari Siksa Allah

Ada tiga perkara yang akan menyelamatkan manusia dari siksa, yaitu pertama, takut kepada Allah, baik secara sembunyi maupun terbuka di depan umum, takwa secara sembunyi lebih tinggi derajatnya daripada takwa secara terbuka. Kedua, hidup’sederhana dengan tidak melewati batas (haram) dan rela dengan keadaan. Ketiga, berbuat marah dan rela karena Allah swt.

........

Pendahuluan

Keselamatan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, luasnya pengaruh, atau tingginya jabatan. Keselamatan hakiki adalah selamat dari murka dan siksa Allah SWT. Para ulama salaf menegaskan, ada tiga perkara utama yang jika dijaga dengan sungguh-sungguh, akan menjadi perisai bagi seorang hamba di dunia dan akhirat.

1. Takut kepada Allah, Baik Secara Sembunyi Maupun Terang-terangan

Takut kepada Allah (khasy-yah) adalah rasa gentar yang lahir dari pengenalan terhadap keagungan Allah, bukan sekadar rasa takut kosong. Takwa yang paling tinggi nilainya adalah takwa saat tidak ada yang melihat kecuali Allah.

Dalil Al-Qur’an

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya walaupun mereka tidak melihat-Nya, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”

(QS. Al-Mulk: 12)

“Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”

(QS. An-Nazi‘at: 40–41)

Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”

(HR. Tirmidzi)

Makna penting:

Takwa di tempat sepi adalah ukuran keikhlasan. Takwa di depan manusia mudah, tetapi takwa di saat sendiri adalah bukti iman yang hidup.

2. Hidup Sederhana, Tidak Melampaui Batas (Haram), dan Ridha dengan Keadaan

Keselamatan juga lahir dari kezuhudan yang seimbang: mengambil dunia secukupnya tanpa melanggar batas halal dan haram, serta ridha terhadap pembagian Allah.

Dalil Al-Qur’an

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

(QS. Al-A‘raf: 31)

“Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”

(QS. Al-Hadid: 23)

Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya ridha dengan apa yang Allah berikan.”

(HR. Muslim)

Makna penting:

Kesederhanaan menenangkan hati. Kerelaan (ridha) mematikan hasad, keluh kesah, dan kegelisahan dunia.

3. Marah dan Ridha Karena Allah SWT

Seorang mukmin tidak digerakkan oleh hawa nafsu, tetapi oleh keridhaan Allah. Ia marah karena agama Allah dilanggar, dan ia ridha karena Allah ridha.

Dalil Al-Qur’an

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia; Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali ‘Imran: 134)

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah.”

(QS. Al-An‘am: 162)

Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan imannya.”

(HR. Abu Dawud)

Makna penting:

Marah karena ego menghancurkan, marah karena Allah meluruskan. Ridha karena Allah menenangkan, ridha karena nafsu menyesatkan.

Muhasabah (Introspeksi Diri)

Pertanyaan Muhasabah

Apakah aku masih takut bermaksiat saat sendirian?

Apakah aku menerima rezeki Allah dengan ridha atau dengan keluhan?

Apakah amarahku karena kebenaran atau karena harga diri?

Apakah kerelaanku mendekatkan aku kepada Allah atau menjauhkan?

Cara Melakukan Muhasabah

Luangkan waktu sepi setiap hari, terutama sebelum tidur.

Ingat dosa, bukan jasa, agar hati tidak ujub.

Bandingkan diri dengan akhirat, bukan dengan dunia orang lain.

Catat kesalahan hari ini dan niatkan taubat esok hari.

Akhiri muhasabah dengan doa dan istighfar.

Doa

Allahumma inna nas’aluka khasy-yataka fil-ghaibi wasy-syahadah, war-ridha bil-qadha’, wal-qashda fil-ghina wal-faqr, wal-hubba wal-bughdha laka.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi dan terang-terangan, kerelaan terhadap ketetapan-Mu, kesederhanaan dalam kaya dan miskin, serta kecintaan dan kebencian yang hanya karena-Mu.”

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada Allah SWT yang masih memberi kita hati untuk diingatkan, jiwa untuk dibersihkan, dan kesempatan untuk kembali.

Semoga tiga perkara ini menjadi bekal keselamatan, cahaya di kubur, dan penolong di hari kiamat.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

........

Tiga Jurus Selamat dari Siksa Allah


Halo, Assalamu’alaikum, njenengan semua!

Bicara soal selamat, yang beneran bikin kita aman tuh bukan karena duit banyak atau jabatan tinggi. Tapi yang penting: selamat dari murka Allah SWT. Kata para ulama salaf, ada tiga jurus utama biar kita aman dunia-akhirat.


---


1. Takut Sama Allah, Baik Sembunyi-sembunyi Atau Terang-terangan


Takut di sini bukan takut kayak nonton horor, lho. Tapi takut yang muncul karena ngerasa gede banget kuasa Allah. Nah, yang paling level up itu takut pas lagi sendirian, nggak ada yang liat kecuali Allah.


Dalil Al-Qur’an

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya walaupun mereka tidak melihat-Nya, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”

(QS. Al-Mulk: 12)


“Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”

(QS. An-Nazi‘at: 40–41)


Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”

(HR. Tirmidzi)


Intinya gini:

Takwa di tempat sepi itu real ukuran keikhlasan. Takwa di depan orang lain itu gampang, tapi takwa pas sendiri itu baru bukti iman yang hidup.


---


2. Hidup Sederhana, Nggak Ngawur, dan Nerimo


Selamat juga datang dari hidup yang simple: ambil dunia secukupnya, jangan sampai nyerempet haram, dan ikhlas nerima apa yang dikasih Allah.


Dalil Al-Qur’an

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

(QS. Al-A‘raf: 31)


“Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”

(QS. Al-Hadid: 23)


Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya ridha dengan apa yang Allah berikan.”

(HR. Muslim)


Maknanya:

Hidup sederhana bikin hati adem. Nerimo (ridha) bikin kita nggak iri, nggak suka ngeluh, dan nggak gampang gelisah.


---


3. Marah dan Senangnya Cuma Karena Allah


Orang beriman itu geraknya bukan karena nafsu, tapi karena Allah. Marahnya kalau agama Allah dilecehin, senangnya karena Allah ridha.


Dalil Al-Qur’an

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia; Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali ‘Imran: 134)


“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah.”

(QS. Al-An‘am: 162)


Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan imannya.”

(HR. Abu Dawud)


Pokoknya:

Marah karena ego = rusak. Marah karena Allah = ngebenerin. Senang karena Allah = tenang. Senang karena nafsu = nyasar.


---


Muhasabah (Ngeliat Diri Sendiri)


Pertanyaan buat diri sendiri:


1. Aku masih takut maksiat pas lagi sendirian nggak, sih?

2. Aku nerima rezeki dari Allah dengan ikhlas apa malah suka ngeluh?

3. Marahku tadi karena kebenaran apa karena gengsi doang?

4. Senangku nambah deket sama Allah apa malah nyimpang?


Cara muhasabahnya:


· Luangin waktu tenang tiap hari, terutama sebelum tidur.

· Inget dosa-dosa, jangan cuma inget jasa, biar nggak sombong.

· Bandingin diri sama akhirat, bukan sama dunia orang lain.

· Catet salah hari ini, niat taubat besok.

· Tutup muhasabah dengan doa dan istighfar.


---


Doa


Allahumma inna nas’aluka khasy-yataka fil-ghaibi wasy-syahadah, war-ridha bil-qadha’, wal-qashda fil-ghina wal-faqr, wal-hubba wal-bughdha laka.


“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi dan terang-terangan, kerelaan terhadap ketetapan-Mu, kesederhanaan dalam kaya dan miskin, serta kecintaan dan kebencian yang hanya karena-Mu.”


---


Akhir kata:

Alhamdulillah, makasih ya Allah masih dikasih hati buat diingetin, jiwa buat dibersihin, dan kesempatan buat memperbaiki diri. Semoga tiga jurus ini beneran jadi bekal selamat, cahaya di kubur, dan penolong pas hari kiamat nanti.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

 nashaihul ibad 2/8.1

Dari Abdurrahman bin Shakhr, Abi Hurairah r.a., dia berkata: Nabi saw. bersabda:

“Tiga faktor penyelamat, tiga faktor perusak, tiga faktor derajat dan tiga faktor penebus dosa. 

Adapun tiga faktor penyelamat adalah: Takwa kepada Allah di kesepian dan di depan umum, sederhana, baik dalam kefakiran dan kecukupan dan bersikap adil di waktu senang dan marah. 

Tiga faktor perusak adalah: Teramat kikir, menuruti hawa nafsu dan membanggakan diri sendiri. 

Kemudian tiga faktor derajat adalah: Menyebarkan salam, memberi makan dan salat malam ketika orang-orang sedang tidur.

Adapun tiga faktor penebus dosa adalah: Menyempurnakan wudu dalam keadaan cuaca dingin, melangkahkan kaki menuju jamaah salat, menunggu salat berikutnya setelah salat yang dilakukan.”

.........

Buatkan naskah motivasi islami (berdalil qur'an dan hadis) tentang tersebut diatas.

sertakan Muhasabah dan caranya. 

Doa. 

Ucapan terimakasih.



 nashaihul ibad 2/8

8. Tiga Faktor dalam Empat Perkara

Dari Abdurrahman bin Shakhr, Abi Hurairah r.a., dia berkata: Nabi saw. bersabda:


“Tiga faktor penyelamat, tiga faktor perusak, tiga faktor derajat dan tiga faktor penebus dosa. Adapun tiga faktor penyelamat adalah: Takwa kepada Allah di kesepian dan di depan umum, sederhana, baik dalam kefakiran dan kecukupan dan bersikap adil di waktu senang dan marah. Tiga faktor perusak adalah: Teramat kikir, menuruti hawa nafsu dan membanggakan diri sendiri. Kemudian tiga faktor derajat adalah: Menyebarkan salam, memberi makan dan salat malam ketika orang-orang sedang tidur.

Adapun tiga faktor penebus dosa adalah: Menyempurnakan wudu dalam keadaan cuaca dingin, melangkahkan kaki menuju jamaah salat, menunggu salat berikutnya setelah salat yang dilakukan.”


Ada tiga perkara yang akan menyelamatkan manusia dari siksa, yaitu pertama, takut kepada Allah, baik secara sembunyi maupun terbuka di depan umum, takwa secara sembunyi lebih tinggi derajatnya daripada takwa secara terbuka. Kedua, hidup’sederhana dengan tidak melewati batas (haram) dan rela dengan keadaan. Ketiga, berbuat marah dan rela karena Allah swt.

Tiga perkara yang mencelakakan, yaitu pertama, kikir yang sangat, yakni tidak menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk-Nya. Yang dimaksud kikir di sini, adalah kikir yang ditaati oleh manusia. Adapun kikir yang berada dalam diri manusia jika tidak ditaati, maka tidak akan mencelakakan, karena kikir itu adalah suatu sifat yang berada dalam diri manusia. Kedua, tidak menuruti keinginan nafsunya: dan ketiga, tidak memandang dirinya lebih sempurna ketimbang orang lain.


Tiga perkara yang menaikkan derajat: Pertama, mengucapkan salam antarmuslim, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Kedua, memberi makan kepada tamu dan orang yang lapar. Ketiga, salat Tahajud pada malam hari ketika orang lain tidur lelap.

Tiga perkara yang mampu menghapus dosa: Pertama, menyempurnakan wudu dalam cuaca yang sangat dingin: Kedua, melangkahkan kaki ke mesjid guna melaksanakan salat: Ketiga, menanti di mesjid untuk melaksanakan salat atau menanti untuk melakukan kebaikan yang lain.


 nashaihul ibad 2/7

7. Tiga Perkara yang Harus Diperhatikan oleh Orang yang Berakal

Dari Nabi Dawud a.s., beliau berkata: “Telah diwahyukan dalam kitab Zabur sebagai berikut:


“Huk atas orang yang berakal adalah jangan sibuk, melainkan dengan tiga perkara: Menghimpun bekal untuk akhirat, mencari biaya hidup dam mencan kelezatam dengan cara halal.”


Bekal akhurat dihimpun dengan melakukan perbuatan yang saleh, karena biaya hidup di sini meliputi kecukupan pembiayaan untuk sarana ibadah dan kemaslahatan. Adapun dalam mencari sesuatu, maka wajib mencari yang halal dan dengan cara halal pula.

 nashaihul ibad 2/6

Tiupan Nikmat, Pujian dan Tutup Keaiban


Dari Abdullah bin Mas’ud r.a.:


“Banyak orang yang hanyut terbuai kenikmatan, banyak orang yang termakan fitnah oleh pujian dan banyak juga orang yang tertipu oleh tutup keaiban.”


Banyak orang yang lupa daratan karena diberikan banyak kenikmatan. Karena banyak mendapat pujian, orang dapat masuk dalam jaringan fitnah dan bencana. Banyak orang teperdaya dan lupa akhirat, lantaran aib dirinya selalu tertutup.

 nashaihul ibad 2/5

5. Islam, Taat dan Kematian

Dari Ali r.a.:


“Di antara kenikmatan dunia cukuplah untukmu kenikmatan Islam. Di antara kesibukan, cukuplah untukmu kesibukan berbuat taat. Dan di antara pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.”


 Kenikmatan terbesar yang oleh Allah dianugerahkan kepada hamba, adalah pada saat Dia mengeluarkan hamba-Nya dari yang tiada menjadi ada, dari kegelapan kufur menuju cahaya Islam.


Taat kepada Allah merupakan kesibukan yang paling besar. Sesungguhnya maut itu sebuah peringatan yang cukup untuk menjadi pelajaran bagimu. Adapun kematian, adalah nasihat yang paling besar bagi manusia. – 

 nashaihul ibad 2/3

3. Sebagian Akal, Ilmu dan Penghidupan

Dari Umar r.a.:

“Kasih sayang yang baik terhadap manusia adalah setengah akal, kebaikan pertanyaan itu setengah ilmu dan kebaikan pengaturan itu adalah sebagian penghidupan.”

Tentang baiknya kasih sayang, memang sesuai dengan hadis riwayat Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi, dari Jabir bin. Abdullah, sesungguhnya Nabi saw., bersabda: 

“Ramah tamah terhadap manusia adalah sedekah.”

Ramah tamah di sini dapat dengan ucapan maupun perbuatan. Hal itu akan mendatangkan pahala seperti halnya sedekah. Sebagian keramahtamahan Nabi saw. adalah beliau tidak pernah mencela sesuatu makanan, tidak menghardik pelayan dan tidak pernah memukul seorang wanita. Kebalikan dari ramah tamah adalah menjilat atau mengambil muka.

Bertanya dengan baik kepada para ulama, adalah setengah dari ilmu, karena ilmu dapat dihasilkan dari sana. Sedang pengaturan urusan yang baik, yaitu menjalankan urusan dengan mengetahui akibat-akibatnya, adalah sebagian penghidupan, yakni usaha manusia untuk kelangsungan hidupnya. 

890. Jangan Tertipu Oleh Cara Palsu, Raihlah Hakikat Dengan Cara Allah

 


nashaihul ibad 2/2

BAB II: NASIHAT YANG TERDIRI DARI TIGA PERKARA

2. Tiga Perkara yang Tidak Dapat Dicapai dengan Tiga Cara.

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.:

“Tiga perkara tidak dapat dicapai dengan tiga cara: kekayaan tidak tercapai dengan lamunan,.kemudaan tidak tercapai dengan rambut semiran dan sehat tidak tercapai dengan obat-obatan.”

Kekayaan tidak akan berhasil dengan angan-angan, tetapi dengan bagian dari Allah swt. Kemudaan tidak akan dapat diperoleh dengan menyemir rambut dan kesehatan tidak bisa diperoleh dengan obatobatan, tetapi dengan kesembuhan dari Allah swt.

........


Jangan Tertipu Oleh Cara Palsu, Raihlah Hakikat Dengan Cara Allah

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Tiga perkara tidak dapat dicapai dengan tiga cara: kekayaan tidak tercapai dengan lamunan, kemudaan tidak tercapai dengan rambut semiran, dan sehat tidak tercapai dengan obat-obatan.”

Wahai jiwa yang sedang mencari kebahagiaan,

ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan hasil besar lahir dari sebab yang palsu. Barang siapa mengejar tujuan hidup hanya dengan tampilan luar, angan-angan, dan ketergantungan kepada makhluk, maka ia akan pulang dengan kecewa dan kosong.

1. Kekayaan Tidak Dicapai Dengan Lamunan

Berapa banyak manusia miskin bukan karena hartanya sedikit, tetapi karena harapannya hanya di angan-angan. Ia bermimpi kaya, tetapi malas bekerja dan lalai dari tawakal yang benar.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

(QS. An-Najm: 39)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

(HR. Tirmidzi)

Burung tidak duduk menunggu, tetapi terbang, dan hatinya bergantung kepada Allah.

Maka kekayaan bukan hasil lamunan, tetapi bagian dari Allah yang datang bersama usaha dan tawakal.

2. Kemudaan Tidak Dicapai Dengan Semiran Rambut

Wahai manusia, uban bukan musuh, ia adalah utusan akhirat. Menyemir rambut hanya menipu mata, tetapi tidak mengembalikan usia.

Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

“Allah-lah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan setelah kelemahan itu kekuatan, lalu menjadikan setelah kekuatan itu kelemahan dan uban.”

(QS. Ar-Rum: 54)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim beruban satu helai di jalan Allah, kecuali itu menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.”

(HR. Tirmidzi)

Kemudaan bukan soal warna rambut, tetapi ketaatan hati.

Siapa yang taat di masa tua, ia lebih mulia daripada pemuda yang lalai.

3. Kesehatan Tidak Dicapai Dengan Obat-Obatan Semata

Obat hanyalah sebab, bukan penyembuh. Berapa banyak orang minum obat namun tidak sembuh, dan berapa banyak yang sembuh tanpa obat.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkanku.”

(QS. Asy-Syu‘ara: 80)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka obat tidak menyembuhkan dengan sendirinya,

tetapi kesembuhan datang dari Allah, ketika sebab bertemu dengan izin-Nya.

Penutup: Kembalikan Hati Kepada Allah

Wahai saudaraku,

jangan gantungkan hidupmu pada cara yang palsu,

tetapi gantungkanlah pada Rabb yang Maha Benar.

Jangan berharap kaya tanpa usaha dan tawakal

Jangan takut tua, takutlah tidak taat

Jangan bersandar pada obat, sandarlah pada Allah

Karena segala hasil berada di tangan Allah,

dan siapa yang bersandar kepada-Nya, tidak akan dikecewakan.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”

(QS. Ath-Thalaq: 3)

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang melihat hakikat, bukan sekadar tampilan, dan mencari ridha, bukan sekadar hasil dunia.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن 🤲

........

Jangan Tergiur Sama Cara Palsu, Dapetin Makna Sejati dengan Cara Allah


Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:


“Tiga perkara tidak dapat dicapai dengan tiga cara: kekayaan tidak tercapai dengan lamunan, kemudaan tidak tercapai dengan rambut semiran, dan sehat tidak tercapai dengan obat-obatan.”


Hai kamu yang lagi cari bahagia,


coba renungkan: hasil yang worth it nggak bakal datang dari hal-hal yang cuma di permukaan aja. Kalau kita cuma fokus sama penampilan luar, daydreaming, atau bergantung sama orang lain, ujung-ujungnya cuma dapet kecewa dan rasa kosong.


1. Kaya Nggak Datang Cuma dari Lamunan


Banyak banget orang yang sebenarnya miskin bukan karena gak punya duit, tapi karena harapannya cuma numpang lewat di angan-angan doang. Mimpi mau tajir, tapi malas gerak dan lupa sama tawakal yang bener.


Allah Ta‘ala berfirman: وَأَنْلَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS.An-Najm: 39)


Rasulullah ﷺ juga pernah bilang: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal,niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR.Tirmidzi)


Burung aja gak cuma ngadem di sarang nunggu makan datang, tapi dia terbang cari rezeki, hatinya tetep percaya sama Allah.


Jadi, gak ada yang namanya kaya dadakan cuma karena wishful thinking. Rezeki itu datang dari ikhtiar plus tawakal yang full ke Allah.


2. Awet Muda Bukan Cuma Soal Rambut Dihitamin


Sobat, uban itu bukan musuh, lho. Itu kayak reminder halus kalo hidup di dunia ini gak selamanya. Semir rambut mungkin bikin keliatan lebih fresh, tapi nggak bisa putar balik waktu.


Allah berfirman: اللَّهُالَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً “Allah-lah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah,kemudian Dia menjadikan setelah kelemahan itu kekuatan, lalu menjadikan setelah kekuatan itu kelemahan dan uban.” (QS.Ar-Rum: 54)


Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim beruban satu helai di jalan Allah,kecuali itu menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” (HR.Tirmidzi)


Muda itu bukan soal penampilan fisik doang, tapi lebih ke vibe hati yang masih semangat buat taat. Orang yang taat meski udah sepuh, jauh lebih valuable daripada anak muda yang hatinya lalai.


3. Sehat Itu Bukan Cuma Andalkan Obat


Obat tuh cuma perantara, bukan sumber kesembuhan utama. Ada yang minum obat tapi gak kunjung sembuh, ada juga yang sembuh tanpa obat.


Allah Ta‘ala berfirman: وَإِذَا مَرِضْتُفَهُوَ يَشْفِينِ “Dan apabila aku sakit,Dialah (Allah) yang menyembuhkanku.” (QS.Asy-Syu‘ara: 80)


Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)


Jadi, obat gak bisa nyembuhin dengan sendirinya. Kesembuhan yang bener-bener nancep itu datangnya cuma dari Allah, ketika usaha kita ketemu sama izin-Nya.


Kesimpulan: Balikin Fokus ke Allah


Gengs, Jangan sampe hidup kita tersandera sama hal-hal yang cumaskin deep. Tapisandering lah ke Allah, yang Maha Benar.


Jangan berharap kaya tanpa usaha dan tawakal yang effortful. Jangan takut tua,takutlah kalo jadi lupa sama kewajiban. Jangan cuma andalkan obat,yang paling utama itu bersandar sama Allah.


Karena semua hasil akhir ada di tangan-Nya. Dan yang percaya sama Allah, gak akan pernah kecewa.


وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa bertawakal kepada Allah,maka Allah akan mencukupinya.” (QS.Ath-Thalaq: 3)


Semoga Allah bikin kita jadi orang yang bisa liat makna di balik semua hal, bukan cuma kulit luarnya doang. Dan yang kita cari tuh ridha-Nya, bukan sekadar worldly gains.


آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن 🤲

 muktarul ahadis no.2

Timbangan Akhlak dalam Cermin Hati.

Rasulullah ﷺ menanamkan sebuah kaidah agung dalam akhlak:

“Berbuatlah kebaikan dan jauhilah perbuatan buruk. Lihatlah perkataan apa yang engkau senang mendengarnya dari orang-orang kepadamu ketika engkau pergi dari tempat mereka, maka lakukanlah hal itu. Dan lihatlah perkataan yang engkau tidak suka orang-orang mengatakannya kepadamu ketika engkau pergi dari tempat mereka, maka jauhilah hal itu.”

(HR. Al-Jama’ah)

Hadis ini adalah cermin akhlak. Ia mengajarkan bahwa ukuran baik dan buruk bukan sekadar menurut hawa nafsu, tetapi menurut nurani yang jujur dan syariat yang lurus. Apa yang engkau senangi untuk dirimu, itulah yang pantas engkau berikan kepada orang lain. Dan apa yang engkau benci menimpa dirimu, itulah yang wajib engkau jauhi dari orang lain.

Inilah akhlak Islam: adil, empatik, dan bertanggung jawab, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah.

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.”

(QS. An-Nahl: 90)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka kebaikan bukan hanya pada perbuatan fisik, tetapi juga pada lisan, niat, sikap, dan diam kita. Betapa banyak dosa lahir dari ucapan yang tidak kita pikirkan, dan betapa banyak pahala hilang karena kebaikan yang tertahan.

🪞 Muhasabah (Introspeksi Diri)

Tanyakan pada diri kita dengan jujur:

Apakah aku senang jika orang lain berbicara kepadaku seperti caraku berbicara kepada mereka?

Apakah aku ridha jika orang lain menyebut aibku sebagaimana aku menyebut aib mereka?

Apakah aku ingin dikenang dengan kebaikan atau dengan luka?

Jika hari ini aku meninggalkan dunia, ucapan apa yang akan orang katakan tentangku?

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

🧭 Cara Melakukan Muhasabah

Timbang ucapan sebelum keluar

Tanyakan: “Jika aku di posisi dia, apakah aku ridha?”

Biasakan diam yang berpahala

Tidak semua yang benar harus diucapkan, dan tidak semua yang diucapkan membawa kebaikan.

Catat kesalahan harian

Sebelum tidur, ingat kembali ucapan dan perbuatan hari ini, lalu istighfar.

Latih empati dan niat ikhlas

Niatkan setiap kebaikan sebagai ibadah, bukan sekadar kebiasaan.

Perbanyak doa agar lisan dijaga Allah

Karena lisan yang selamat adalah tanda hati yang hidup.

🤲 Doa

Allahumma ihdinā li-ahsani al-akhlaq, lā yahdī li-ahsaniha illā anta.

Waṣrif ‘annā sayyi’ahā, lā yaṣrifu ‘annā sayyi’ahā illā anta.

“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukkannya selain Engkau. Dan palingkanlah kami dari akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkannya selain Engkau.”

(HR. Muslim)

🌸 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih, wahai hati yang masih mau diingatkan.

Terima kasih, wahai jiwa yang masih ingin memperbaiki diri.

Semoga setiap kebaikan yang kita tanam, sekecil apa pun, menjadi saksi yang meringankan hisab kita kelak.

Dan semoga Allah menjadikan kita hamba yang kehadirannya dirindukan, kepergiannya didoakan, dan lisannya membawa keselamatan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

.......

Timbangan Akhlak di Hati Kita


Rasulullah ﷺ punya prinsip hidup yang keren banget:


“Berbuatlah kebaikan dan jauhilah perbuatan buruk. Lihatlah perkataan apa yang engkau senang mendengarnya dari orang-orang kepadamu ketika engkau pergi dari tempat mereka, maka lakukanlah hal itu. Dan lihatlah perkataan yang engkau tidak suka orang-orang mengatakannya kepadamu ketika engkau pergi dari tempat mereka, maka jauhilah hal itu.” (HR. Al-Jama’ah)


Hadis ini tuh kayak cermin buat introspeksi diri. Intinya, standar baik dan buruk tuh bukan cuma ikutin kata hati aja, tapi ikutin nurani yang jujur sama aturan agama. Apa yang lo suka buat diri lo sendiri, itu yang patut lo kasih ke orang lain. Apa yang lo gak mau dirasain, itu juga yang jangan lo kasih ke orang lain.


Inilah akhlak Islam: adil, bisa ngerasain perasaan orang lain, dan tanggung jawab, bukan cuma ke sesama manusia, tapi juga ke Allah.


Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh(kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90)


Dan Rasulullah ﷺ bilang: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)


Jadi, kebaikan tuh nggak cuma soal aksi fisik aja, tapi juga soal omongan, niat, sikap, bahkan saat kita milih untuk diem. Banyak banget dosa yang datang dari ucapan yang nggak dipikir, dan banyak juga pahala yang ilang gara-gara kita nahan buat berbuat baik.


🪞 Momen Cek Diri (Muhasabah)


Tanya ke diri sendiri yang beneran jujur, nih:


· Apa gue seneng kalo orang ngomong ke gue kayak cara gue ngomong ke mereka?

· Apa gue rela kalo orang lain nyebarin aib gue kayak gue nyebarin aib mereka?

· Gue pengen dikenang sebagai orang yang baik, atau yang nyakitin?

· Kalo gue meninggal hari ini, orang bakal ngomongin apa tentang gue?


Rasulullah ﷺ ingetin: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)


🧭 Tips buat Cek Diri


· Timbang dulu sebelum ngomong. Tanya: “Kalo posisi gue dibalik, apa gue bakal rela dengerin ini?”

· Biasain diem yang positif. Nggak semua hal yang bener harus diucapin, dan nggak semua yang diomongin bawa kebaikan.

· Catet kesalahan sehari-hari. Sebelum tidur, inget-inget lagi ucapan dan perbuatan hari ini, terus minta ampun sama Allah.

· Latih empati dan niat yang tulus. Niatin setiap kebaikan sebagai ibadah, bukan cuma jadi kebiasaan doang.

· Banyakin doa biar lidah dijaga Allah. Soalnya, lidah yang terkontrol itu tanda hati yang masih hidup.


🤲 Doa


Allahumma ihdinā li-ahsani al-akhlaq, lā yahdī li-ahsaniha illā anta. Waṣrif ‘annā sayyi’ahā, lā yaṣrifu ‘annā sayyi’ahā illā anta.


“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukkannya selain Engkau. Dan palingkanlah kami dari akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkannya selain Engkau.” (HR. Muslim)


🌸 Ucapan Terima Kasih


Makasih ya, buat hati yang masih mau diingetin. Makasih,buat jiwa yang masih pengen jadi versi terbaik dari dirinya sendiri.


Semoga tiap kebaikan kecil yang kita tanam, bisa jadi saksi yang bikin perhitungan kita nanti lebih mudah.


Dan semoga Allah bikin kita jadi orang yang kehadirannya dirinduin, kepergiannya didoain, dan omongannya bikin orang lain tenang.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn..

..................