Hubungi Kami

Tuesday, December 14, 2010

Mengapa Anak Autis Tak Mau Dipeluk?

Mengapa Anak Autis Tak Mau Dipeluk?

Email Cetak PDF

TEMPO Interaktif, Chicago - Sebuah cacat pada otak ternyata menjelaskan mengapa banyak anak autis menghindar ketika disentuh atau dipeluk -bahkan oleh orangtua mereka sendiri. Penelitian ini telah menunjukkan, ada masalah yang mempengaruhi individu dengan Sindrom Fragile X yang rentan, dan terkenal sebagai gen penyebab autisme dan pewaris keterbelakangan mental.

Para ilmuwan menemukan Fragile X hasil dari pengembangan penundaan sensorik korteks, daerah otak yang merespons untuk disentuh. Efek domino ini dipicu oleh penundaan yang menyebabkan bagian dari otak menjadi salah. Fragile X disebabkan oleh mutasi gen di kromosom X wanita yang mempengaruhi pembangunan sinapsis, sebagai poin vital hubungan antara sel saraf.

Karena anak laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, mereka sangat dipengaruhi oleh sindrom ini dibandingkan anak perempuan. Perempuan memiliki dua kromosom X, sehingga tak terlalu bermasalah jika ada yang rusak. Sampai batas tertentu dapat dikompensasikan oleh yang lain. Anak laki-laki umumnya lebih mungkin rentan berkembang autis dibandingkan anak perempuan.

"Ada periode kritis selama perkembangan akhir ketika otak sangat rentan dan berubah dengan cepat," kata pemimpin studi Dr Anis Contractor, dari Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago. "Semua elemen ini berkembang cepat dan dikoordinasikan sehingga otak menjadi saluran kabel yang benar dan karena itu fungsinya benar."

Contractor mengatakan, anak dengan sindrom ini akan menderita dengan masalah "taktik pembelaan diri" dan akhirnya menjadi cemas dan menarik diri secara sosial. "Mereka tidak bisa menatap mata orang, mereka tidak akan memeluk orang tua mereka, dan mereka sangat peka terhadap sentuhan dan bunyi. Semua ini menyebabkan kecemasan bagi keluarga dan teman-temannya dan juga untuk penderita Fragile X itu sendiri. Sekarang pertama kali kita memiliki pemahaman tentang apa yang tidak beres di dalam otak."

PRESS ASSOCIATION| NUR HARYANTO

Menelusuri Gangguan Spektrum Autistik

Menelusuri Gangguan Spektrum Autistik

Email Cetak PDF

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ke mana pun pergi, sendok plastik selalu ada dalam genggaman Sue Ruben, 7 tahun. Barang itu bagai belahan jiwa yang membuat Ruben merasa nyaman. Apabila lupa atau sengaja ditinggal oleh ibunya, Ruben bakal ngamuk tanpa alasan jelas. Kebiasaan itu berlanjut hingga usianya bertambah. Di usia 4 tahun, Ruben bertendensi mengalami gangguan spektrum autistik alias autisme. Setelah pemeriksaan Inteligensi Question, saat usia 7 tahun, ternyata kemampuannya cuma setara anak berusia dua tahun.

Untuk mempermudah interaksi, pada usia 13 tahun Ruben menggunakan facilitated communication--berkomunikasi dengan menunjuk huruf dan mengetik. Dari situ didapati kalau bakatnya begitu luar biasa. Dia pun berhasil masuk sekolah menengah atas dan meneruskan kuliahnya di Whittier College, California. Saat ini usianya 26 tahun dan ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif sebesar 3,67.

"Ruben adalah contoh bagaimana orang-orang di sekitar individu autistik memahami cara berpikir dan gaya belajar mereka," kata psikolog Universitas Indonesia, Dr Adriana Soekandar Ginanjar, setelah melakukan orasi ilmiah Dies Natalis Fakultas Psikologi UI ke-56 bertajuk "Presumption of Competence: Perspektif Positif dalam Memahami Autisme" di Auditorium Fakultas Psikologi, Depok, Selasa lalu.

Sebagai psikolog yang memiliki anak autis, psikolog yang akrab disapa Ina ini telah melewati beberapa tahapan dalam upaya memahami autistik. Hingga akhirnya ia berkeyakinan bahwa penanganan anak autis mesti difokuskan pada pengenalan dan pengembangan potensi mereka. "Masing-masing anak itu memiliki kemampuan menonjol di bidang tertentu," kata ibu dua anak ini. Di samping itu, interaksi dan proses belajar mereka juga perlu didasari empati, agar terjalin hubungan yang dilandasi percaya, aman, dan saling menghargai. Ina menyebutkan, unsur-unsur ini penting untuk membantu perkembangan emosi dan interaksi sosial mereka.

Ina menyatakan sebetulnya anak autis tahu apa yang mau mereka lakukan. Namun, untuk merealisasikannya, bagi mereka hal itu bukanlah tugas sederhana. Sebab, mereka sulit mengkoordinasi gerakan dan mengungkapkan pikiran secara verbal. "Kalau (mereka)haus, tidak ada yang tahu karena (mereka) tidak bisa menyampaikannya kepada orang lain," ujar Ina. Akibatnya, mereka menjadi tantrum--marah, ngamuk, serta menangis. Malahan, Ina mengakui, pada fase awal menangani anaknya, Atmarazka Ginanjar (Aska), kini berusia 15 tahun, dia sangat kewalahan.

Otak anak autis memang berbeda dari anak normal. Abnormalitas ini meliputi perbedaan struktur otak, sehingga menyebabkan gangguan fungsi integrasi sensorik. Yaitu kemampuan untuk mengorganisasi dan memproses masukan sensorik, serta meresponsnya secara tepat. Disfungsi sensorik ini berdampak besar bagi perkembangan aspek kognitif, emosi, dan kemampuan interaksi sosialnya.

Dalam disertasi psikolog kelahiran 9 Mei 1964 ini yang berjudul Memahami Spektrum Autistik Secara Holistik, terpapar teori executive functioning dari Ozonoff (dalam Jordan, 1999; Frith, 2003), yang menjelaskan bahwa kesulitan anak autis itu karena ketidakmampuan fungsi eksekutifnya. Mereka tidak bisa melakukan sejumlah tugas bersamaan, lalu kerap berpindah-pindah fokus perhatiannya serta respons sering kali yang tidak tepat.

Namun, dalam orasi, istri Agi Ginanjar ini mengingatkan, meski sulit bicara, anak autis adalah individu yang mampu berpikir mengenai diri dan kehidupannya. Mereka juga memiliki potensi kreatif yang dapat tersalurkan jika memperoleh bantuan yang tepat dan kesempatan mengembangkan diri. "Sebab itu, orang tua harus mendapat informasi yang benar dalam menangani anak autis," ia mengungkapkan. Mereka harus diperkenalkan pada musik, seni, bahkan teknologi. Bahkan kini Azka sudah mahir berselancar di dunia maya.

Nah, pertanyaannya, apakah autis itu dapat disembuhkan? Ina mengatakan bahwa gangguan spektrum ini akan terus terbawa sampai dewasa. Tetapi jika kadarnya ringan, terapi bisa dilakukan dengan sederhana. Lain halnya dengan penanganan pada gangguan yang berat. "Namun, kami tetap bisa gali bakatnya di mana," ia menegaskan. Lihat saja contoh nyata, Oscar Yura Dompas, penyandang autis yang menjadi sarjana bahasa Inggris Universitas Katolik Atmajaya. Bahkan dia berhasil menulis buku Autistic Journey pada 2005. Artinya, tidak harus sembuh total, yang penting adalah perkembangan gradual pada orang pengidap autistik.

Dari data statistik Amerika Serikat 2006, sekitar satu dari 166 anak yang lahir tergolong dalam spektrum autistik. Di Indonesia, jumlah anak autis berkembang pesat. Paling tidak terlihat dari semakin banyaknya pusat terapi anak autis, isu di media massa, dan penyelenggaraan seminar-seminar. Namun, belum ada data resmi dari pemerintah tentang jumlahnya. Yang jelas, kata psikolog berkacamata itu, prevalensi autistik antara lelaki dan perempuan adalah empat banding satu.

Trik Penanganan
- Harus melibatkan bidang medis, psikologi, dan pendidikan.
- Jangan mengarahkan anak autistik menjadi anak normal.
- Jangan memberi label abnormal karena berdampak pada perkembangan psikologis.
- Orang tua harus mengenal dunia autistik secara mendalam.
- Gali dan kembangkan potensi mereka.
- Pandang autistik sebagai perbedaan, bukan abnormalitas.
HERU TRIYONO 

Terapi Makanan

administrator Terapi Diet pada Gangguan AutismeSampai saat ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme. Seperti diketahui gejala yang timbul pada anak dengan gangguan autisme sangat bervariasi, oleh karena itu terapinya sangat individual tergantung keadaan dan gejala yang timbul, tidak bisa diseragamkan. Namun akan sulit sekali membuat pedoman diet yang sifatnya sangat individual. Perlu diperhatikan bahwa anak dengan gangguan autisme umumnya sangat alergi terhadap beberapa makanan. Pengalaman dan perhatian orangtua dalam mengatur makanan dan mengamati gejala yang timbul akibat makanan tertentu sangat bermanfaat dalam terapi selanjutnya. Terapi diet disesuaikan dengan gejala utama yang timbul pada anak. Berikut beberapa contoh diet anak autisme. 1. Diet tanpa gluten dan tanpa kaseinBerbagai diet sering direkomendasikan untuk anak dengan gangguan autisme. Pada umumnya, orangtua mulai dengan diet tanpa gluten dan kasein, yang berarti menghindari makanan dan minuman yang mengandung gluten dan kasein.Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga “rumput” seperti gandung/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan sejenis, sedangkan kasein adalah protein susu. Pada orang sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan masalah yang serius/memicu timbulnya gejala. Pada umumnya, diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten. Beberapa contoh resep masakan yang terdapat pada situs Autis.info ini diutamakan pada menu diet tanpa gluten dan tanpa kasein. Bila anak ternyata ada gangguan lain, maka tinggal menyesuaikan resep masakan tersebut dengan mengganti bahan makanan yang dianjurkan. Perbaikan/penurunan gejala autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 1-3 minggu. Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan, berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti sebelumnya.Makanan yang dihindari adalah : Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-kue, cake, biscuit, kue kering, pizza, macaroni, spageti, tepung bumbu, dan sebagainya. Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya. Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya misalnya, es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan campuran susu. Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, nugget, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi terhadap jamur karena pembuatan tempe menggunakan fermentasi ragi. Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng.Makanan yang dianjurkan adalah : Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya. Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacang-kacangan lainnya. Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagainya. Buah-buahan segar seperti anggur, apel, papaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya.
2. Diet anti-yeast/ragi/jamurDiet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi jamur/yeast. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pertumbuhan jamur erat kaitannya dengan gula, maka makanan yang diberikan tanpa menggunakan gula, yeast, dan jamur.Makanan yang perlu dihindari adalah :Roti, pastry, biscuit, kue-kue dan makanan sejenis roti, yang menggunakan gula dan yeast. Semua jenis keju. Daging, ikan atau ayam olahan seperti daging asap, sosis, hotdog, kornet, dan lain-lain. Macam-macam saus (saus tomat, saus cabai), bumbu/rempah, mustard, monosodium glutamate, macam-macam kecap, macam-macam acar (timun, bawang, zaitun) atau makanan yang menggunakan cuka, mayonnaise, atau salad dressing. Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang, dan lain-lain. Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain. Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis. Sisa makanan juga tidak boleh diberikan karena jamur dapat tumbuh dengan cepat pada sisa makanan tersebut, kecuali disimpan dalam lemari es.Makanan tersebut dianjurkan untuk dihindari 1-2 minggu. Setelah itu, untuk mencobanya biasanya diberikan satu per satu. Bila tidak menimbulkan gejala, berarti dapat dikonsumsi.Makanan yang dianjurkan adalah :Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepaung yang bukan tepung terigu. Makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, udang dan hasil laut lain yang segar. Makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almod, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur. Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lain-lain. Buah-buahan segar dalam jumlah terbatas.
3. Diet untuk alergi dan inteloransi makananAnak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering menimbulkan alergi adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat, gandum/terigu, dan bias lebih banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan, pertama-tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus dihindarkan. Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak, makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit.
Cara mengatur makanan secara umumBerikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari. Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat disbanding gula/sukrosa. Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng. Cukup mengonsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari. Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet). Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitmin C, seng, dan magnesium). Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya. Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan. Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar. Sumber : Terapi Makanan Anak Dengan Gangguan Autisme
Penulis : Tuti Soenardi, Susirah Soetardjo
Penerbit : PT. Penerbitan Sarana Bobo

Terapi Wicara

Terapi Wicara

Email Cetak PDF
Terapis Wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau ganguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak. Terapis Wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi; dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus.

Ganguan Komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders (ASD):
Bersifat: (1) Verbal; (2) Non-Verbal; (3) Kombinasi.

Area bantuan dan Terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara:

  1. Untuk Organ Bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, maka
    Terapis Wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan Oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.
  2. Untuk Artikulasi atau Pengucapan:
    Artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena karena adanya gangguan, Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation). Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/r; omission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apu; distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular.
  3. Untuk Bahasa: Aktifitas-aktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah:
    1. Phonology (bahasa bunyi);
    2. Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata;
    3. Morphology (perubahan pada kata),
    4. Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa;
    5. Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks yang lebih luas),
    6. Metalinguistics (Bagaimana cara bekerja nya suatu Bahasa) dan;
    7. Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).
  4. Suara: Gangguan pada suara adalah Penyimpangandari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpangan-penyimpangan lainnya dari atribut-atribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin, atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.
  5. Pendengaran: Bila keadaan diikut sertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan Terapi yang dapat diberikan: (1) Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait; (2) Terapi; Penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi;

PERAN KHUSUS dari Terapi wicara adalah mengajarkan suatu cara untuk ber KOMUNIKASI:

  1. Berbicara:
    Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional. (Termasuk bahasa reseptif/ ekspresif – kata benda, kata kerja, kemampuan memulai pembicaraan, dll).
  2. Penggunaan Alat Bantu (Augmentative Communication): Gambar atau symbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa; (1) : penggunaan Alat Bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal); (2) Alat Bantu itu sendiri sebagai bahasa bagi yang memang NON-Verbal.

Dimana Terapis Wicara Bekerja:

  1. Dirumah Sakit: Pada bagian Rehabilitasi, biasanya bekerjasama dengan dokter rehabilitasi bersama tim rehabilitasi lainnya (dokter, psikolog, physioterapis dan Terapis Okupasi).
  2. Disekolah Biasa: Tidak Umum di Indonesia. Pada bagian Penerimaan siswa baru, biasanya bekerjasama dengan guru, psikolog dan konselor. Menangani permasalah keterlambatan berbahasa dan berbicara pada tahap sekolah, dan memantau dari awal murid-murid dengan kesulitan atau gangguan berbicara tetapi masih dapat ditangani dengan pemberian terapi pada tahap sekolah biasa.
  3. Disekolah Luar Biasa: Pada bagian Terapi wicara, bekerjasama dengan guru dan professional lainnya pada sekolah tersebut. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi
  4. Pada Klinik Rehabilitasi: Praktek dibawah pengawasan dokter, biasanya dengan tim rehabilitasi lainnya,
  5. Praktek Perorangan: Praktek sendiri berdasarkan rujukan, bekerjasama melalui networking. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi.
  6. Home Visit: Mendatangi rumah pasien untuk pelayanan-pelayanan diatas dikarenakan ketidakmungkinan untuk pasien tersebut berpergian ataupun dengan perjanjian.

Evi Sabir-Gitawan BSc. Speech & Language Pathologist

Terapi Perilaku

Terapi Perilaku

Email Cetak PDF

Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan.
Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA).

Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan.

Secara lebih teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai A-B-C; yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti dengan C (consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis. Melalui gaya pengajarannya yang terstruktur, anak autis kemudian memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan olehnya sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku tersebut diharapkan cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence (konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan.

Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Terapi ini umumnya mendapatkan hasil yang signifikan bila dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.